Chapter 53
"Apakah tanda ini tak cukup bagimu, Anakku? Apakah aku bukan ibumu? Kau adalah puteraku. Kau adalah anak yang dulu kulahirkan itu!" Ketika tangis dan sedu-sedan meledak di sana, Han Han terkesima. Wanita itu sudah menubruknya dan merapatkan kembali pipa celana itu.
"Liong-ji... Liong-ji, kau anakku. Akulah ibumu. Ah, bertahun-tahun aku memendam rindu, Nak. Bertahun-tahun aku menjadi gila karena ulah orang-orang jahat. Ah, kita sudah bertemu lagi. Ayo sembahyang di makam ayahmu sebagai rasa syukur!"
"Nanti dulu!" Han Han tiba-tiba meloncat dan berseru, menggigil, seluruh mukanya merah padam. "Ceritakan dulu secara lengkap bagaimana semuanya ini bisa terjadi, Ibu. Dan kalau begitu, di mana anak Ibu Swi Cu?"
"Kau... kau sudah mempercayaiku sebagai ibumu?" Wi Hong berseri-seri, tak menghiraukan pertanyaan anaknya itu. "Ah, panggil sekali lagi seperti itu, Liong-ji. Panggil aku sebagai ibu karena betapa rinduku disebut seperti itu!"
"Ibu..."
"Ooohhhhh....!" Wi Hong mengeluarkan keluhan panjang, mirip suara kucing yang bertemu anaknya. Ia tiba-tiba menubruk dan merangkul putranya ini lagi, tertawa dan menangis, dan Han Han berkali-kali diciumi. Wi Hong tak memedulikan gerakan anaknya yang meronta, ia terus memeluknya dengan erat. Ketika anaknya disuruh memanggilnya lagi sebagai ibu berkali-kali, Han Han roboh dan tersedu di pelukan ibunya.
"Ibu... oh, Ibu!"
Anak dan ibu bertangisan. Han Han merasakan kebahagiaan yang luar biasa besarnya yang tak dapat ditahan lagi. Ia lemas dan roboh di pelukan ibunya. Pelukan dan ciuman ibunya begitu penuh kasih sayang dan menggetarkan. Namun, ketika ibunya menangis dan tertawa, Han Han khawatir ibunya akan kambuh gilanya. Ia menekan semua gejolak hatinya dan melepaskan diri, mendorong ibunya dengan lembut sementara sebuah kecupan masih mendarat di keningnya.
"Liong-ji, kau anakku. Kau benar-benar anakku. Ah, hi-hik. Matipun seketika ini aku juga mau, Nak. Ah, penderitaan ibumu yang bertahun-tahun tiba-tiba saja seolah lenyap begitu bertemu dirimu. Kita harus sembahyang dan mengucap syukur di makam ayahmu!"
"Hm, kita harus mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan," Han Han membetulkan sambil menarik napas dalam. "Aku harap kau tidak apa-apa lagi, Ibu. Aku harap kau sehat lahir batin!"
"Eh!" Sang ibu terkejut, seketika menghentikan tangis dan tawanya. "Kau maksudkan ibumu tidak waras? Gila, kau telah menyembuhkan aku, Liong-ji. Aku sudah tidak gila lagi. Lihat!"
Sang ibu mengibaskan rambut dan menyanggulnya kembali dengan cepat dan lincah, hingga akhirnya berubah menjadi Wi Hong yang cantik, jelita, waras, dan anggun. Han Han terpesona memandang wajah ibunya. Bola mata itu memang sudah tidak berputar-putar lagi. Ibunya betul-betul telah sembuh. Ketika Han Han tersenyum dan mengangguk lega, ibunya bertanya apakah ia masih cantik.
"Lihat, pandang ibumu baik-baik, Nak. Apakah aku masih cantik atau tidak? Kalau aku sudah begini, kurasa tak ada orang gila yang memperhatikan atau merawat tubuhnya lagi. Tapi aku akan melakukan itu, semata menunjukkan kepadamu bahwa aku masih ibumu yang waras!"
Han Han terharu. "Ibu sungguh cantik," ucap pemuda itu. "Dan tak heran kalau Ayah sampai jatuh cinta. Hm, aku tadi hanya khawatir saja, Ibu, maafkan. Tapi aku percaya bahwa kau sudah tak apa-apa lagi. Bagaimana sekarang, dapatkah Ibu menceritakan secara lengkap kisah ini?"
"Tentu, mari, Liong-ji. Duduk dan dengarkanlah!" Ketika Han Han mulai terbiasa dengan sebutan itu—meski awalnya merasa aneh dan janggal karena berganti nama dengan begitu cepat—ia duduk dan mendengarkan kata-kata ibunya. Jemari ibunya memegang dan meremas tangannya dengan lembut, tidak melepaskannya barang sedetik pun.
"Nah, aku akan bercerita tentang peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Barangkali kau tahu bahwa waktu itu aku menyerbu Hek-yan-pang!"
"Hm, Ayah dan Bibi Swi Cu hanya bercerita secara samar-samar saja. Aku juga mendengarnya, tapi kurang jelas."
"Baik, aku yang akan menjelaskannya, Liong-ji. Dan boleh kau tanya ini kepada Beng Tan, ayah keduamu itu!"
Han Han mendengarkan dengan kening berkerut karena hubungannya dengan orang tua di Hek-yan-pang terasa mengganjal. Sang ibu menceritakan betapa ia menyerbu dan sengaja mencari gara-gara untuk menukarkan anaknya, karena Swi Cu juga mempunyai anak laki-laki. Ketika Hek-yan-pang geger karena anak Swi Cu diculik, Wi Hong melarikan diri ke hutan, dan di situlah ia menukarkan anaknya.
"Nanti dulu," Han Han memotong. "Apakah maksud tujuan Ibu memang hendak menukar anak? Apakah Ibu waktu itu sudah mendengar bahwa Bibi Swi Cu sudah mempunyai anak?"
"Hm, waktu itu belum," sang ibu mengangguk-angguk. "Semula aku datang untuk menyemprot sumoiku itu, Liong-ji. Karena Swi Cu adalah adik seperguruanku. Aku datang untuk menegur, di samping karena perasaan rinduku kepadanya. Tapi ketika aku menyelinap dan memasuki kamarnya, ternyata di situ aku melihat anaknya, maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk menukar bayi!"
"Hm, begitukah? Kenapa?"
"Ah, aku ingin membalas dendam ayahmu, Liong-ji. Karena itulah aku lakukan itu!"
"Aku belum mengerti," Han Han mengerutkan kening. "Apa maksudmu ini, Ibu? Kenapa aku harus kau tukar?"
"Bodoh!" ibunya mendamprat. "Di dunia ini yang dapat menandingi Pek-jit-kiam Ju Beng Tan belum ada, Liong-ji. Kalau aku menaruhmu di sana dan Swi Cu serta suaminya menganggap dirimu sebagai anak mereka, maka otomatis seluruh kepandaian laki-laki itu akan diturunkan kepadamu. Aku sendiri merasa tak sanggup menggemblengmu, kepandaianku masih rendah. Kau lihat sendiri betapa tadi aku dibuat jatuh bangun oleh dua kakek jahanam itu!"
"Hm!" Han Han terkejut. "Jadi itukah maksud Ibu? Jadi Ibu sengaja menaruhku di sana agar mewarisi kepandaian Ayah Beng Tan?"
"Benar, karena hanya Beng Tan itulah yang dapat kuharap, Liong-ji. Dan sekarang rencanaku berhasil. Kau dapat mengalahkan dua kakek jahanam tadi dengan mudah!"
"Tapi di mana putra mereka sendiri? Dan kenapa Ibu tak pernah menengokku di Hek-yan-pang?"
"Ah," Wi Hong tiba-tiba menangis. "Aku tak akan datang kalau kau belum dewasa, Liong-ji. Tapi sekali dua pernah juga aku ke sana, namun Hek-yan-pang sudah dijaga ketat. Ibu tak dapat masuk!"
"Hm, dan anak yang kau tukar itu?"
"Dia... dia dibawa seorang kakek sakti. Sejak itu aku menderita lagi dan terlunta-lunta sepanjang hidup!"
"Nasibmu menyedihkan," Han Han tiba-tiba memeluk ibunya. "Dan ceritakan padaku tentang ayahku itu, Ibu. Bagaimana dia terbunuh dan siapa pembunuhnya!"
"Inilah yang kutunggu!" sang ibu melompat bangun, matanya berapi-api. "Kau harus membalas kematian ayahmu itu, Liong-ji. Karena dia mati dengan cara yang mengerikan sekali. Pembunuhnya adalah si Kedok Hitam. Tapi aku tak tahu siapa orang ini, kecuali kelihaiannya yang luar biasa!"
"Hm!" Han Han mulai terbakar. "Coba Ibu ceritakan tentang ayahku itu. Bagaimana kematiannya."
"Dia dipotong-potong. Tubuhnya dirajam!"
"Apa?"
"Benar!" sang ibu tiba-tiba histeris. "Ayahmu dibunuh dengan cara yang keji sekali, Liong-ji. Kedok Hitam itu memotong-motong tubuhnya seperti anjing. Orang itu harus dibunuh melebihi anjing. Aku akan menghirup darahnya kelak kalau kau dapat membunuhnya!"
Han Han meremang. Ia melihat ibunya berteriak dan melengking tinggi, suaranya mirip lolong serigala saat menceritakan kebiadaban musuh. Ketika sang ibu bercerita betapa pembunuhnya amat keji dan tak kenal kasihan, Han Han berdiri dan menghantam roboh sebuah batu di sisi kirinya.
"Sumpah demi Ayah, akan kucari dan kubunuh jahanam itu. Akan kubeset dan kukuliti tubuhnya. Ah, aku tak mau hidup berdua dengannya di bumi ini, Ibu. Sumpah demi para dewa bahwa hari ini aku hanya akan makan nasi dan air putih saja!"
Bress! Batu di samping Han Han itu mengeluarkan suara gemuruh, meledak, dan hancur. Han Han mengeluarkan sumpahnya untuk tidak menikmati daging atau sayur, begitu juga minuman kecuali air putih saja. Langit mendadak gelap dan terdengar suara petir, tanda sumpah Han Han disaksikan iblis atau para dewa. Han Han terduduk dan ibunya menangis memeluk putranya.
Han Han telah mendengar kekejaman musuh terhadap ayahnya. Tubuh ayahnya katanya dipotong-potong dan dicacah. Ketika ibunya menangis tersedu-sedu dan mereka berdua terbakar oleh dendam, mendadak Wi Hong meledakkan rambutnya dan rambut yang sudah disanggul itu tiba-tiba diurai lagi.
"Dan aku juga bersumpah!" wanita itu memekik. "Aku tak mau menyanggul rambutku sebelum dicuci dengan darah jahanam itu, Anakku. Biarlah sumpahku ini didengar para dewa dan kita berdua sama-sama menuntut balas... Dar!"
Di langit terdengar dua kali ledakan petir. Wi Hong terhuyung dan jatuh terduduk. Awan mendung tiba-tiba semakin tebal. Ketika ibu dan anak itu terkejut melihatnya, sekonyong-konyong hujan turun dengan amat lebatnya.
"Ibu, kita harus berteduh. Sumpah kita telah didengar para dewa!"
"Tidak!" sang ibu meloncat bangun. "Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, Liong-ji, peninggalan ayahmu. Mari ikut dan kita ke sana!"
Ketika Wi Hong menyambar anaknya dan diajak berkelebat, hujan segera membasahi mereka. Han Han tertegun tapi tak menolak. Mereka terus berlari menuju ke selatan. Aneh, hujan itu mengikuti mereka pula. Ketika ibunya mengajak keluar hutan dan Han Han terpaksa menahan pertanyaannya tentang anak laki-laki yang ditukar ibunya—karena ibunya belum memberi tahu siapa kakek sakti itu—dua hari dua malam mereka basah kuyup ditimpa air hujan.