Chapter 54
Baru setelah pada hari ketiga ibunya memasuki sebuah lembah dan mendaki tebing yang terjal, hujan berhenti. Han Han tertegun melihat rambut ibunya merah seperti darah.
"Ibu, rambutmu itu...!" sang anak terkejut, membelalakkan mata.
"Kenapa merah seperti darah? Kau memakai getah apa?"
"Getah?" Sang ibu juga tertegun, mengibaskan rambutnya ke muka. "Ah, aku tak memakai getah apa-apa, Liong-ji. Dan kau, eh... rambutmu pun semerah darah!"
Han Han terkejut berseru tertahan. Dia meraba rambutnya itu, dan tiba-tiba saja air hujan yang membasahi rambutnya sudah merah seperti darah. Dilurut dan dikeringkan, tetap saja air itu berwarna merah. Ketika Han Han tertegun karena rambutnya juga semerah darah, persis rambut ibunya, sang ibu mengeluh dan terhuyung bersandar ke tebing.
"Liong-ji, agaknya dosa atau kutukan Giam-to menyertai dirimu pula. Hati-hatilah, aku jadi takut!"
"Giam-to (Golok Maut)? Benda apakah itu, Ibu? Senjata apakah?"
"Itulah senjata mendiang ayahmu. Aku ke sini karena hendak memberikan golok itu kepadamu. Tahukah kau di mana kita sekarang?"
"Tidak."
"Inilah Lembah Iblis. Di sinilah dulu ayahmu terbunuh!"
Ketika Han Han tertegun karena ibunya menangis lagi di lembah atau tebing yang menyeramkan itu, seekor gagak hitam tiba-tiba berkaok di udara.
"Gaok, gaok...!" Han Han meremang.
Dia menoleh dan memandang ke segala penjuru. Mereka sudah berada di tempat yang tinggi, dan tiba-tiba Han Han terkejut melihat belasan tengkorak di balik batu hitam. Tadi dari bawah benda itu tak tampak, tapi kini terlihat jelas. Han Han terbelalak saat menyadari bahwa di sekitar lembah ternyata terdapat ratusan atau ribuan tengkorak yang berserakan, seolah di tempat itu pernah terjadi pembantaian atau perang besar-besaran.
"Ibu, tengkorak-tengkorak itu..." Han Han menunjuk. "Apakah penghuni Lembah Iblis?"
"Itulah korban-korban ayahmu," sang ibu menerangkan, tiba-tiba tersenyum dengan mata berseri. "Di sini ayahmu dikeroyok ribuan pasukan, Liong-ji. Tapi separuh dari mereka dibabat dan dibunuh. Namun, karena ayahmu sebelumnya sudah terluka dan musuh amat licik serta tak tahu malu, ayahmu akhirnya menjadi korban dan mereka mengiring roh ayahmu ke alam baka!"
"Itu pasukan kerajaan? Ayah yang membunuh?"
"Benar, ayahmu dikejar-kejar, anakku. Tapi ayahmu amat gagah dan luar biasa sekali. Kalau sebelumnya dia tidak terluka, jangan harap Kedok Hitam mampu membunuhnya!"
"Hm, ceritakan itu di sini," Han Han tiba-tiba berkerotok, mengepal tinju. "Coba ceritakan kenapa Ayah dikejar-kejar pasukan kerajaan, Ibu. Dan kenapa Kedok Hitam memusuhinya? Apa yang terjadi di balik semuanya ini?"
"Kedok Hitam adalah antek Coa-ong-ya!"
"Ah, Coa-ong-ya?" Han Han terkejut, teringat bahwa Ji-mo dan Twa-mo juga pernah menyebut-nyebut nama itu! "Siapa Coa-ong-ya ini, Ibu? Dan kenapa memusuhi Ayah?"
"Dia penipu dan pendusta. Dia adalah manusia yang tak dapat dipercaya di seantero jagat!"
"Ceritakanlah kepadaku, kenapa Ayah bermusuhan dengannya!"
"Kau tak ingin menengok makam ayahmu dulu? Kita sudah di sini, Liong-ji. Inilah tempat tinggal ayahmu dulu. Sebaiknya kita ke sana dan bersujudlah di depan makam ayahmu!"
"Ayah ada di sini?"
"Ya, berikut peninggalan-peninggalannya. Aku menyimpan kitab dan Golok Mautnya di sini. Sekarang, itu untukmu!"
Ketika Han Han mengangguk dengan perasaan berdebar, ibunya menariknya untuk berkelebat lebih ke atas. Mereka belum tiba di puncak meskipun sudah berada di tempat yang tinggi. Han Han merah mukanya mendengar cerita ibunya tadi, bahwa ayahnya dibunuh dan dirajam di sini. Saat mereka tiba di atas tebing, Han Han tergetar melihat tiga gundukan tanah kuburan. Ia heran dan kaget mengapa ada tiga.
"Ibu, mana makam Ayah? Kenapa ada tiga?"
Namun, sang ibu sudah terisak. Wi Hong menubruk dan menjatuhkan diri berlutut di makam yang paling kanan. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Tiga makam itu sudah ditumbuhi rumput ilalang, namun sekali cabut, makam yang ditubruknya itu sudah bersih. Ketika ibunya menangis menggerung-gerung, Han Han sadar itulah makam ayahnya.
"Hauw-ko, inilah anak kita itu. Kubawa dia ke sini. Ah, semoga dendam kita terlaksana, Hauw-ko. Doakan kami berdua dapat membunuh orang yang membunuhmu!" Wi Hong menggapai, "Liong-ji, inilah makam ayahmu. Cepat berlutut dan beri hormat!"
Han Han menggigil. Dia jatuh menekuk lutut di samping ibunya. Makam itu penuh lumut, tapi di batu nisannya tertulis huruf-huruf tebal yang menyatakan bahwa itulah makam Si Golok Maut, Sin Hauw. Jadi, dia bermarga Sin!
Han Han bercucuran air mata melihat makam yang merana dan bersahaja itu. Ibunya menuntut, "Liong-ji, berkatalah bahwa kau telah menengok makam ayahmu. Katakan bahwa kau akan menuntut balas dan memotongnya melebihi anjing. Katakan bahwa kau tak akan berhenti sebelum menemukan si Kedok Hitam itu!"
Han Han tak dapat menahan diri. Diingatkan akan kematian ayahnya, muka pemuda ini menjadi merah dan giginya berkerotuk. Dia bersumpah di makam ayahnya bahwa dia akan menuntut balas. Dendam kematian ayahnya tak akan dibiarkan begitu saja.
Wi Hong melompat bangun dan menyeringai. "Bagus, kita sama-sama mencari pembunuh ayahmu, Liong-ji. Dan sekarang, terimalah ini!"
Wi Hong meloncat dan menarik sesuatu dari balik makam. Sebuah benda berkilat mendesing dan menyilaukan mata. Han Han terkejut karena ibunya membabat ke arah sebatang pohon. Pohon itu roboh, bukan karena terkena senjata, melainkan karena angin sambaran golok tersebut. Terdengar suara ledakan sebelum pohon itu berdebum roboh.
"Hi-hik, inilah Golok Penghisap Darah, Liong-ji. Golok maut milik ayahmu!"
Han Han tertegun dan menggidik melihat sinar putih di golok itu. Sebagai putra seorang jago pedang ternama, ia segera tahu bahwa golok di tangan ibunya bukanlah senjata sembarangan. Tajamnya tak kalah ampuh dengan Pek-jit-kiam (Pedang Matahari) milik ayahnya yang tersohor di dunia kang-ouw.
Tiba-tiba, Wi Hong meloncat ke arah semak. "Ngik!" Seekor kelinci yang meloncat keluar dari kerimbunan rumput alang-alang tiba-tiba terpenggal menjadi dua.
"Hi-hik, lihat, anakku. Darah kelinci itu sama sekali tak membasahi badan golok ini. Lihatlah!"
Han Han terkejut. Darah kelinci yang memuncrat keluar sama sekali tak mengotori golok itu; begitu melekat, darah tersebut langsung terhisap kering, seolah disedot oleh roh di dalam golok yang kemudian mengepul lalu lenyap.
Han Han merinding mengetahui alasan mengapa mendiang ayahnya disebut Si Golok Maut. Ibunya mengangkat golok itu tinggi-tinggi. "Liong-ji, bersumpahlah bahwa dengan golok ini kau akan membunuh si Kedok Hitam. Jangan biarkan darahnya terhirup kering sebelum ibumu mencuci rambutnya dengan darah si jahanam!"
Han Han menekuk lutut. Di langit, petir meledak menggelegar. Saat Han Han bersumpah dengan lantang, dua kilatan api keluar dari Golok Maut. "Klap-cess!"
Kilatan api itu meluncur dari badan golok dan masuk ke tubuh Han Han. Pemuda ini merasa seperti disengat listrik, namun ternyata tidak apa-apa, kecuali kulit tubuhnya yang tiba-tiba merah membara.
Wi Hong tertawa girang. "Itu tandanya Golok Maut menerima puteraku, bersatu dan telah memasukkan 'roh'-nya ke tubuhmu!" Wanita itu berlutut dan menyembah ke atas. "Mo-bin-lo, terima kasih. Kau telah menerima puteraku. Bimbing dan tuntunlah dia agar dapat membunuh pembunuh ayahnya!"
"Ha-ha!" Di langit tiba-tiba muncul bayangan hitam raksasa. "Aku paling cocok dengan laki-laki, Hujin. Kalau puteramu menerima perintahmu, maka golok itu tentu akan menghirup darah lawan... dar!"
Bayangan itu lenyap, Wi Hong terpelanting, namun ia malah tertawa berseri, menganggap kejadian tadi sebagai berkah. Han Han tertegun. "Ibu, siapa Mo-bin-lo itu?"
"Pencipta atau pemilik pertama golok di tanganmu itu. Tokoh luar biasa yang kini hidup di alam lain!"
Han Han semakin bingung namun tertarik. Ia meminta ibunya menceritakan segalanya, sambil menatap dua gundukan tanah makam yang lain di hadapannya.