Chapter 55
"Makam siapa lagi itu?"
"Ah, itu makam mendiang suhu dan subo ayahmu, suami istri sakti Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li (Dewi Giok Hijau) yang gagah perkasa!"
"Mereka juga tewas di sini?"
"Ya, tewas bersama, Liong-ji. Sampyuh. Ah, aku harus menceritakan ini!" Ketika Wi Hong bingung harus mulai dari mana, ia melipat kakinya dan menyuruh anaknya mendengar baik-baik.
Han Han terbelalak mendengar semuanya dan tampak bingung. Terlalu banyak cerita yang disimpan ibunya, mulai dari mendiang ayahnya sampai ke Golok Maut atau Golok Penghisap Darah. Ketika mendengar kisah tentang suhu dan subo mendiang ayahnya—Sin-liong Hap Bu Kok atau si Naga Sakti dan Dewi Giok Hijau—serta tentang Mo-bin-Io, Han Han terkejut karena kisah-kisah itu belum pernah ia dengar di Hek-yan-pang.
"Baiklah, Ibu, silakan mulai. Sebaiknya urut saja dari Ayah dahulu, baru setelah itu yang lain-lain!"
"Baik, dengarlah, Liong-ji. Kau tampaknya tak pernah diberi tahu oleh ayahmu, Beng Tan, atau ibumu, Swi Cu!"
"Mereka memang tak pernah bercerita, semuanya hanya sekilas dan samar-samar."
"Hm, tak apa. Aku tahu bahwa mereka tak suka kepadaku, juga kepada mendiang ayahmu!" Saat Wi Hong mulai bercerita dengan berapi-api, ia menjelaskan sebab-musabab kematian suaminya serta dendam yang berekor panjang. Betapa suaminya ditipu dan dijebak Coa-ongya, hingga keluarga suaminya berantakan dan terbunuh satu per satu.
Ketika Han Han bertanya mengapa hal itu terjadi, ibunya menerangkan, "Kakekmu, ayah dari mendiang ayahmu, adalah pembela Chu Wen, tokoh yang dianggap pemberontak oleh Coa-ongya dan kaisar sekarang. Karena banyak orang bebas berpendapat dan mendukung pimpinannya masing-masing, saudara sepupu kakekmu yang membantu Coa-ongya—dan akhirnya menjadi jenderal—berulang kali membujuk namun gagal meraih kakekmu itu. Orang itu, Kwi-goanswe, diperalat dan menjadi begundal pangeran dari keluarga Coa ini. Kakekmu menolak. Keluarga Sin tahu bahwa Coa-ongya adalah pangeran yang pendusta. Karena saudara sepupu kakekmu itu marah dan gagal membujuk, ia secara curang membunuh saudaranya sendiri hanya karena dengki dan dendam!"
"Hm, jadi mulainya dari dukung-mendukung pimpinan," Han Han mengangguk. "Lalu bagaimana, Ibu?"
"Kwi-goanswe berusaha membujuk istri dan anak-anak keluarga Sin!"
"Ah, apakah mereka tak tahu bahwa kepala keluarganya dibunuh Kwi-goanswe?"
"Mula-mula tak tahu, karena istri kakekmu, Sin-hujin atau nenekmu, memegang teguh rahasia karena hubungan kekeluargaan mereka sebenarnya dekat. Tapi ketika anak laki-lakinya tahu dan mulai menaruh dendam karena Kwi-goanswe membunuh ayahnya, Kwi-goanswe menjadi khawatir dan akhirnya mengejar-ngejar anak ini!"
"Dan anak itu pasti Ayah!"
"Benar. Kwi-goanswe semakin ketakutan setelah seorang kakek lihai menolong dan menyelamatkan ayahmu dari rencana pembunuhan Kwi-goanswe!"
"Dua orang suami istri itu, Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li?"
"Bukan. Mereka itu guru nomor dua dari ayahmu, Liong-ji. Guru pertamanya adalah Hwa-liong Lo-kai. Kakek ini sahabat Sin-liong Hap Bu Kok dan kebetulan mereka sama-sama pembela Chu Wen!"
"Lalu bagaimana Ayah bisa menjadi murid suami istri sakti itu?"
"Hwa-liong Lo-kai terbunuh, Liong-ji, dikeroyok oleh Kwi-goanswe dan ratusan pasukannya. Jenderal itu mengejar ayahmu yang sudah menjadi murid kakek ini karena khawatir ayahmu menuntut balas. Ketika Hwa-liong Lo-kai binasa, suami istri sakti itu muncul—karena mereka sahabat pengemis tua ini—ayahmu kemudian diambil dan digembleng oleh mereka."
"Ayahmu bagaikan harimau tumbuh sayap, Liong-ji. Sin-liong Hap Bu Kok dan istrinya adalah orang pilih tanding yang tak ada duanya di dunia kang-ouw. Sayang, karena mereka sering cekcok dan meninggalkan Chu Wen, laki-laki itu terbunuh dan pengikutnya tercerai-berai!"
"Cekcok? Suami istri cekcok?" Han Han heran.
"Ibu tak tahu, tapi mungkin pengaruh Golok Maut itu!" Han Han terkejut. Ibunya tampak ngeri memandang golok yang diterima Han Han. Golok itu memiliki gagang dari tulang harimau yang mengilap. Orang tidak akan merasa seram sebelum golok dicabut, karena begitu dicabut, akan keluar cahaya menyeramkan dan hawa dingin memenuhi udara. Seolah golok itu setiap kali dicabut harus meminum darah.
Ibunya menjelaskan bahwa golok itu tak cocok untuk suami istri. "Ada kutukan di golok ini; pemegangnya tak boleh suami istri. Golok ini ingin berteman dengan laki-laki lajang, jejaka murni. Wanita atau gadis tak cocok dengan golok ini. Itulah sebabnya aku tak pernah membawanya karena golok itu seakan menolak jika dipakai wanita!"
"Maksud Ibu, golok ini tidak suka berdekatan dengan wanita?"
"Ya, jejaka murni. Sebab sekali tidak murni, tuah golok itu akan bicara! Karena itu hati-hatilah. Jangan dekati wanita lain, Liong-ji. Apalagi kalau kau membawa Golok Maut itu. Bisa terkena malapetaka!"
"Lalu bagaimana kisah Ayah selanjutnya? Apakah Kwi-goanswe tidak berhasil dibunuh?"
"Akhirnya jenderal itu bersama anaknya berhasil dibunuh. Tapi ayahmu mengalami malapetaka lain. Coa-ongya sebenarnya hanya diperalat oleh Ci-ongya—mereka bersaudara dengan kaisar sekarang—sehingga kekuasaan mereka sangat besar. Pangeran itu memang biang penyakit, tapi pembunuh ayahmu adalah si Kedok Hitam!"
"Aku pasti mencari laki-laki ini. Kemudian?"
"Coa-ongya kemudian mengejar-ngejar dan ingin merangkul ayahmu. Ia ingin memperkuat diri dengan merangkul bekas pengikut Chu Wen yang lihai-lihai. Selain itu, Coa-ongya juga ingin memiliki Golok Maut ini. Ia ingin membujuk ayahmu untuk bergabung, namun ayahmu menolak karena Kwi-goanswe telah membunuh ayahnya. Saat itulah Coa-ongya menggunakan segala akal dan ayahmu terjebak!"
Wi Hong berhenti, menangis, lalu mengepal tinju sembari menceritakan kelicikan Coa-ongya yang menangkap dan merampas Golok Maut tersebut.