Chapter 56
Namun, karena Coa-ongya rupanya sadar bahwa golok itu tak boleh disimpan oleh orang yang sudah berkeluarga—karena Coa-ongya bukan laki-laki lajang—maka senjata itu dikembalikan atau setengah dikembalikan ketika dirampas suaminya.
"Banyak penderitaan dan siksaan yang dialami ayahmu. Kalau Bu-beng Sian-su tidak muncul dan menyelamatkan ayahmu, barangkali dari dulu ayahmu sudah binasa!"
"Bu-beng Sian-su?" Han Han tertegun dan mengerutkan kening. "Siapa orang ini, Ibu? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya?"
"Hm, kakek itu adalah kakek dewa yang amat luar biasa, Liong-ji. Kepandaian dan dirinya seperti dongeng. Aku sendiri belum pernah melihatnya dan memang kakek ini dikenal hanya sebagai tokoh dongeng!"
"Kalau begitu dia tidak ada?"
"Tidak, dia ada. Tapi sekarang barangkali sudah tidak ada. Kakek itu adalah kakek dewa dan berkat pertolongannya-lah maka ayahmu dapat hidup dan membalas dendam, meskipun belum semuanya!"
"Hm, dan aku baru kali ini mendengar nama Bu-beng Sian-su. Apakah Ayah Beng Tan tidak tahu, Ibu?"
"Apa?" sang ibu tiba-tiba melonjak. "Pek-jit Kiam-sut yang dia punyai itu justru dari kakek ini, Liong-ji. Kalau tidak, tak mungkin Beng Tan dapat menandingi ayahmu!"
Han Han terkejut. "Kalau begitu, dia murid kakek dewa itu?"
"Benar, tapi Bu-beng Sian-su sendiri tak menganggapnya sebagai murid. Artinya, Beng Tan hanya mewarisi satu-dua ilmunya saja, tapi itu sudah membuat dia tanpa tanding di dunia kang-ouw, setingkat ayahmu!"
Han Han terkejut. Kalau ayahnya di Hek-yan-pang sudah seperti itu, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan saktinya kakek dewa Bu-beng Sian-su. Hanya dengan satu-dua ilmunya saja, ayahnya di Hek-yan-pang menjadi tanpa tanding. Namun, teringat bahwa ayahnya, Si Golok Maut, dikatakan dapat ditandingi oleh Beng Tan, Han Han ingin tahu siapakah sebenarnya di antara mereka yang lebih unggul.
"Tak ada yang unggul!" ibunya memberi tahu. "Dua-duanya sama hebat dan dua-duanya sama sakti. Kalau ayahmu menang dengan Golok Penghisap Darah ini, maka ayahmu di Hek-yan-pang itu juga memiliki Pedang Matahari yang mampu menandingi Golok Maut. Keduanya pernah bertempur tiga hari tiga malam dan tak ada yang menang atau kalah. Seri!"
"Hm," mata Han Han berkilat. "Kalau begitu, mendiang ayah merupakan orang yang luar biasa, Ibu. Dia jago tanpa tanding yang berdiri seimbang dengan Ayah Beng Tan!"
"Memang benar, dua-duanya sama hebat. Tapi karena ayahmu luka-luka dikeroyok pengawal istana yang tangguh ketika membunuh Ci-ongya dan keluarganya, maka dia melarikan diri dan dikejar-kejar di Lembah Iblis ini. Dan saat itu datang tantangan Beng Tan. Mereka sebenarnya hendak menentukan siapa jago yang sejati karena keduanya sama-sama masih penasaran. Tapi ketika Beng Tan datang ke sini, tiba-tiba saja meluruk barisan besar itu mengepung ayahmu, ada lima ribu orang!"
Han Han menggigil. "Lima ribu orang? Hanya untuk menghadapi ayah seorang?"
"Benar, dan pihak istana amat licik, Anakku. Mereka tahu bahwa ayahmu luka-luka dan tak memberi kesempatan untuk menyembuhkan diri. Dan yang penting, datang di saat menghadapi tantangan dengan ayahmu, Beng Tan!"
"Dan Ayah Beng Tan bisa disangka berbuat curang, mendatangkan pasukan kerajaan!"
"Memang begitu, tapi kami semua akhirnya tahu. Beng Tan sendiri akhirnya mengamuk dan marah-marah kepada orang-orang itu, namun terlambat. Ayahmu yang sudah kepayahan dan menderita luka-luka akhirnya terbunuh dan binasa di tangan Kedok Hitam!"
"Hm!" Mata Han Han mencorong, menggeram bagai seekor harimau terluka. "Aku akan membuat perhitungan dengan orang ini, Ibu. Dan aku bersumpah tak mau berhenti kalau belum membunuhnya!"
"Benar, dan kita juga telah bersumpah. Aku tak akan menyanggul rambutku kalau belum mencucinya dengan darahnya. Aku ingin keramas dengan darah si jahanam itu!"
"Dan di mana kita bisa mencari jejaknya? Dan siapa sebenarnya si Kedok Hitam ini?"
"Dia misterius, Liong-ji, Ibu juga tak tahu. Tapi ada dua orang yang dapat dimintai keterangan!"
"Hm, siapa mereka?"
"Bukan lain Coa-ongya sendiri. Tapi, hmm, Ibu ragu. Tak mungkin dia mau memberi tahu. Pergi ke sana bagiku terlalu berbahaya. Para pelindung atau pembantu pangeran itu terlalu kuat, jumlahnya juga banyak!"
"Aku tak takut!" Han Han berkilat, penuh keberanian. "Tapi siapa orang kedua itu, Ibu?"
"Bukan lain Ayah Beng Tan. Dialah yang dapat dimintai keterangan dan ini kupikir lebih mudah!"
"Ayah Beng Tan?" Han Han terbelalak, terkejut, tak menyangka bahwa ayahnya itulah yang dimaksud. Berarti, dia harus kembali ke Hek-yan-pang!
Namun ketika dia tertegun dan terkejut, ibunya tertawa. Tiba-tiba ibunya itu sudah melompat bangun dan berseru, "Ya, Ayahmu Beng Tan itulah yang dapat dimintai jawabannya, Liong-ji. Dia tahu siapa si Kedok Hitam karena dulu mereka pernah bertempur. Ayo, kita ke sana dan tanya dia!"
"Tapi aku pergi meninggalkan mereka!" Han Han tiba-tiba berseru, pucat, bangkit berdiri pula. "Aku telah dimusuhi mereka, Ibu. Mereka.... mereka tak suka kepadaku!"
"Apa?" Wi Hong terbelalak. "Kau dimusuhi? Berani mereka berbuat kurang ajar seperti itu? Eh, justru kuingin datang ke sana, Liong-ji. Biar kudamprat dan kusemprot mereka mentang-mentang kau bukan anak kandungnya! Apakah Swi Cu tahu kau bukan puteranya?"
"Tidak, belum.... tapi..." Han Han susah menjawab, masygul. "Aku tak ingin ke sana, Ibu. Ayah dan Ibu Swi Cu telah menyakiti hatiku."
"Apa yang terjadi, ceritakan! Biar kupertaruhkan nyawaku untukmu, puteraku seorang!"
Han Han terharu. Tiba-tiba saja dia melihat ibunya ini seperti seekor induk ayam yang siap bertarung, atau barangkali seperti seekor harimau betina yang akan diganggu anaknya. Siap menerkam dan mengadu jiwa! Dan ketika Han Han terharu dan menitikkan air mata—sikap itu belum pernah diperlihatkan ibunya di Hek-yan-pang seperti ibu kandungnya ini—maka Wi Hong memeluk dan menyambar puteranya itu.
"Liong-ji, katakan kepada Ibu. Apa yang mereka lakukan dan kenapa kau pergi dari sana. Apakah Beng Tan memakimu atau menghinamu di luar batas?"
"Tidak," Han Han tiba-tiba menangis, naik sedu-sedannya. "Ayah.... Ayah baik-baik saja kepadaku, Ibu. Tapi Ibu Swi Cu.... dia.... dia benci kepadaku!"
"Apa yang menjadi sebabnya?"
"Karena aku memakai caping ini, juga karena kebetulan aku menemukan sebuah kitab pelajaran sinkang yang jatuh di sumur tua." Han Han lalu menceritakan persoalannya, didengar ibunya dan Wi Hong terbelalak memandang sang putra terkasih. Baru sekarang dia sadar akan caping yang dipakai putranya itu dan baru sekarang dia mendusin bahwa caping ini memang mirip benar dengan caping suaminya. Han Han memang mirip mendiang Si Golok Maut, putranya itu bagai pinang dibelah dua. Maklumlah, mereka ayah dan anak kandung!
Dan ketika Han Han selesai bercerita sementara sang ibu melotot dan merah padam, maka Wi Hong membanting kaki dan berseru gusar, "Keparat si Swi Cu itu. Akan kuhajar dia. Baik, kita ke sana, Liong-ji. Dan akan kulabrak dia sebagai wanita tak tahu diri. Ayo, tak usah di sini lagi dan kita sikat mereka itu!"
"Nanti dulu," Han Han terkejut, menyambar dan mencekal lengan ibunya itu. "Jangan terburu-buru, Ibu. Sekarang aku tahu apa yang menjadi sebab. Agaknya, Ibu Swi Cu telah tahu bahwa aku bukan putra kandungnya. Itulah sebabnya mengapa ia tak begitu kasih kepadaku. Ah, kita jangan gegabah karena betapapun mereka menggembleng dan telah melepas budi kepadaku!"
"Tak ada budi!" sang ibu membentak. "Mereka dapat tinggal di Hek-yan-pang atas kemalanganku, Liong-ji. Kalau aku tidak begini dan dulu tidak terguncang jiwaku, tak mungkin mereka dapat menguasai Hek-yan-pang. Aku terpukul oleh kematian ayahmu. Sekarang aku sudah sadar dan akan merebut kekuasaan di sana. Ayo, kaulah yang berhak dan duduk sebagai ketua!"
"Tidak!" Han Han terpekik, melihat ibunya menyambar dan membawanya lari turun gunung. "Tunggu dulu, Ibu. Dengarkan kata-kataku. Aku tak mau menjadi ketua, aku ingin bebas. Tunggu!"
Dan ketika Han Han melepaskan diri dan memberontak dari pegangan ibunya, Wi Hong terhuyung dan melotot memandang putranya itu, yang cepat-cepat menangkap dan mengeluh kembali.
"Maaf.... maaf, Ibu. Aku tak bermaksud kasar kepadamu. Aku ingin bicara." Dan ketika Han Han duduk dan mengajak ibunya duduk pula, menahan gejolak hati, maka Han Han sudah menjelaskan bahwa tak usah sejauh itu mereka marah-marah kepada ayah ibunya di sana.
"Sekarang aku tahu kenapa Ibu Swi Cu tak suka kepadaku. Wajahku mirip Ayah, dan memang pernah kudengar mereka cekcok tentang aku. Ah, firasat Ibu Swi Cu tajam dan benar. Agaknya dia tahu bahwa aku bukan anaknya, tak memiliki getaran tali kasih sebagaimana layaknya seorang putra dengan ibu kandungnya. Hm, ini menyakitkan hatiku, Ibu. Tapi aku sekarang telah bertemu denganmu, Ibu kandungku. Ayah dan Ibu Swi Cu telah mendidik dan membesarkan aku. Kalau sekarang Ibu marah-marah dan mau merebut kekuasaan di sana, terus terang aku tak setuju. Tapi kalau Ibu mau datang tentang pertanyaan si Kedok Hitam, musuh kita itu, aku setuju. Apakah Ibu berjanji bahwa tak akan membuat ribut selain urusan ini?"
"Kau tak ingin menduduki kursi ketua di sana?"
"Hm, meskipun Ayah Beng Tan tahu aku bukan anak kandungnya, pasti kedudukan itu diberikannya kepadaku juga, Ibu. Kalau sudah waktunya. Tapi aku tak suka menerima tampuk pimpinan. Ayah Beng Tan sudah cukup bijaksana dan Hek-yan-pang di bawah pimpinannya sudah cukup maju dan disegani, aku tak ingin kedudukan. Kalau Ibu mau bicara tentang itu, terus terang aku tak suka."
"Tapi aku ketua Hek-yan-pang, aku ketua aslinya. Aku masih mempunyai hak, dapat kutuntut!"
"Itu dulu, Ibu. Tapi setelah itu Ibu tak pernah muncul lagi. Ibu dalam keadaan terguncang, gila. Kalau Ibu Swi Cu tidak turun tangan dan cepat-cepat membenahi, tentu Hek-yan-pang sudah bubar atau hancur."
"Jadi kau tak mau menjadi ketua?"
"Ah, aku tak suka itu, Ibu. Hek-yan-pang di bawah pimpinan Ayah Beng Tan tetap berwibawa dan bahkan maju. Aku tak ingin kedudukan."