Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 57

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 57

"Aku tak suka menjadi ketua."

"Sudah cukup aku sebagai putra seorang ketua!"

"Tapi kau berhak akan kedudukan itu, sebagai puteraku!"

"Hm, sama saja, Ibu. Sebagai puteramu atau putra Ayah Beng Tan yang telah mendidik dan membesarkan aku, maka kuanggap tak ada masalah. Sekarang aku hanya ingin bicara tentang si Kedok Hitam itu, bukan urusan ketua perkumpulan!"

"Baik, kalau begitu kita ke sana, Liong-ji. Sama saja bagiku!"

"Ibu berjanji?"

"Eh, kau mengikat ibumu dengan janji. Kalau mereka tak macam-macam, tentu aku juga tak akan macam-macam, Liong-ji. Ayo berangkat dan kita temui mereka!"

"Nanti dulu!" Han Han menahan lengan ibunya. "Kita pamit dulu kepada Ayah, dan aku juga ingin bersembahyang di makam guru-guru Ayahku itu!"

Ketika sang ibu tertegun dan sadar, Wi Hong tersenyum. Wanita itu mengangguk dan menahan langkah kakinya. Han Han sudah berlutut dan bersoja di depan makam ayahnya. Mulut putranya komat-kamit, dan Wi Hong mendengar janji atau sumpah ulangan putranya. Ketika Han Han berdiri dan berlutut di makam yang lain, makam dari suami istri Sin-liong Hap Bu Kok, di sini Han Han memohon doa restu.

"Aku mohon Locianpwe memberikan restu di alam sana. Semoga aku dapat mencari dan membunuh pembunuh ayahku!"

"Bagus!" Wi Hong terkekeh. "Dan aku juga pamit kepada ayahmu, Liong-ji. Ayo berangkat dan sekarang kita bebas!"

Han Han disentak dan disambar. Sekarang dia membiarkan, dan ibunya sudah terbang menuruni bukit. Han Han menarik napas panjang. Ayah dan ibunya di sana tentu bakal terkejut. Rahasia tentang dirinya sudah terbuka. Dia ternyata keturunan Si Golok Maut; pantas wajahnya begitu mirip!

Ketika Han Han berdebar membayangkan bahwa ayah atau ibunya di sana bakal terkejut, entah apa yang terjadi, ibu kandungnya ini malah terkekeh-kekeh dan justru gembira. Wi Hong mengalami kegembiraan luar biasa bertemu dengan anak kandungnya ini. Kehebatan dan kesaktian Han Han telah dilihatnya. Ah, siasatnya dulu berhasil. Anaknya ini telah mewarisi seluruh kepandaian Beng Tan. Dan teringat bahwa Han Han telah memegang Golok Maut, senjata warisan ayahnya, maka Wi Hong girang bukan main karena hal itu membuat anaknya seolah harimau tumbuh sayap!

Han Han sendiri tak berpikir sampai ke situ. Pemuda itu berkerut kening dan sering diam kalau tidak ditegur. Ibunya tak peduli dan tertawa-tawa, tak menghiraukan degup kencang jantung putranya setelah mereka kian dekat saja dengan Hek-yan-pang. Maklumlah, mereka sudah meninggalkan Lembah Iblis dua hari dua malam, berarti mereka semakin dekat saja dengan tempat tujuan itu.

Ketika tak lama kemudian mereka sampai juga ke sana, tepat di saat matahari terbenam, Han Han mengajak ibunya beristirahat.

"Kenapa?" ibunya tertegun. "Jauh-jauh kita datang, Liong-ji. Dan mereka sudah di ambang mata!"

"Hm, aku tak suka malam-malam begini. Aku ingin kita datang secara gagah, bukan di malam gelap. Kalau Ibu turut kata-kataku, maka kita istirahat di hutan ini saja dan besok pagi-pagi baru ke sana."

"Ah, baiklah. Dan mari kutunjukkan gua di mana dulu aku menukar dirimu dengan bayi Swi Cu, hi-hik!"

Wi Hong tak membantah, tertawa, dan menuruti kata-kata putranya. Han Han mengerutkan kening. Ibunya berkelebat menuju ke tengah hutan, membelok, dan akhirnya menguak sebuah tanaman perdu. Muncul sebuah lubang; itulah gua di mana dulu ibunya menukar anak antara dirinya dengan putra ayahnya, Beng Tan. Han Han, atau yang sebenarnya bernama Giam Liong ini, menyatukan alisnya yang tebal, tampak tak begitu gembira.

"Lihat, inilah gua itu, Liong-ji. Dan aku berhasil mengecoh mereka semua hingga tertipu. Hi-hik, kau telah mewarisi kepandaian si Pedang Matahari dan itu berarti kau lebih hebat dari mendiang ayahmu sendiri!"

"Hm, inikah kiranya?" Han Han menoleh ke sana-sini. "Tersembunyi dan rapat sekali, Ibu. Meskipun aku sebenarnya tak memuji perbuatanmu itu."

"Eh, kau menyalahkan ibumu?"

"Maaf, aku tidak menyalahkan, tapi sekadar kurang suka saja. Aku jadi tak enak karena sudah mewarisi kepandaian ayahku, Beng Tan!"

"Itu yang kuharap, aku tak dapat menggemblengmu sendiri. Kau menyesal, Liong-ji?"

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba terisak; kiranya dia telah melukai perasaan ibunya itu. Sang ibu akhirnya menangis dan berkata bahwa tanpa begitu, tak mungkin mereka dapat membalas dendam. Si Kedok Hitam amatlah lihai dan setelah Golok Maut binasa, maka Beng Tan itulah satu-satunya orang yang dapat mengalahkan. Ketika ibunya terisak dan berkata bahwa kepandaiannya sendiri amat rendah hingga tak dapat dipakai mendidik sang putra, Han Han sadar dan cepat memeluk ibunya.

"Aku menyesal, tapi bukan karena itu melainkan karena telah melukai perasaan Ibu. Baiklah, aku minta maaf, Ibu. Apa yang kau lakukan betapapun adalah untuk kepentingan diriku juga, maksud Ibu untuk membalas dendam kematian Ayah. Aku tak akan mengulangi kata-kata itu lagi dan harap Ibu tidak..."

Wi Hong girang. Setelah Han Han tidak menyalahkannya dan dapat menerima apa yang dia lakukan, maka mereka memasuki gua itu. Han Han menarik ibunya ketika sang ibu hendak masuk begitu saja; maklumlah, dia mendengar desis perlahan dari dua ekor ular yang sedang merayap hati-hati. Ketika Han Han menjentikkan kuku jarinya dan dua ekor ular itu jatuh, menggeliat, dan roboh dengan kepala pecah, Wi Hong terkejut karena itulah dua ekor ular merah yang amat beracun.

"Ang-tok-coa (Ular Racun Merah)!" serunya.

"Benar, dan mungkin di dalam masih ada ular-ular yang lain, Ibu. Biar kusapu mereka kalau ada... wut!"

Han Han mengibaskan ujung lengan bajunya. Gua tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh karena seperti angin topan saja mendadak kibasan atau kebutan ujung lengan baju pemuda itu menyapu ke dalam. Ketika terdengar suara "tepak-tepok" dan puluhan ular jatuh, hancur, dan binasa di dinding, Han Han menyalakan obor. Wi Hong ngeri melihat banyaknya ular-ular merah yang ada di situ!

"Luar biasa, untung ada kau!"

"Hm, aku mendengar gerak dan desis mereka, Ibu. Kau tak mendengar karena rupanya sedang bersedih tadi."

"Ah, tapi betapapun kau lihai. Hanya dengan menggerakkan lengan baju saja maka puluhan ular rontok binasa!"

"Sudahlah, kita masuk, Ibu, dan beristirahat di dalam," Han Han masuk, obor di tangan sudah siap dan Wi Hong mengikuti putranya itu dari belakang. Wanita ini menjulurkan lidah karena kalau sampai dia dikeroyok puluhan ular merah yang beracun dan amat berbisa, tentu berbahaya juga. Dia tadi tak mendengar karena betul sedang merasa sedih, kecewa oleh kata-kata putranya tadi. Namun begitu bangkai ular itu terbang keluar, malam itu mereka beristirahat dengan tenang, dan diam-diam Wi Hong kagum akan kepandaian putranya ini.

Pagi itu dapat dibayangkan betapa kaget, heran, serta tercengangnya anggota-anggota Hek-yan-pang. Perkumpulan yang dikelilingi danau dan menjadi semacam pusat pemerintahan kecil bagi markas Walet Hitam itu melihat kedatangan Han Han dan ibunya. Han Han berjalan tenang dan mulamula mereka tentu saja harus melewati perkampungan murid-murid lelaki yang berjaga di luar. Perkampungan atau rumah-rumah di sekitar danau itu memang sebagai benteng atau tameng sebelum tamu memasuki pusat markasnya yang berada di tengah pulau.

Han Han datang dengan sikapnya yang tenang dan wajahnya yang dingin serta beku seperti biasa; mulamula disambut gembira oleh anak murid Hek-yan-pang. Beberapa di antaranya menjatuhkan diri berlutut karena, jelek-jelek Han Han adalah putra ketua, jadi tentu saja pimpinan di situ. Tapi ketika mereka melihat kedatangan Wi Hong, dan ibu serta anak yang sama-sama berambut kemerahan seperti beroles darah, semua tertegun dan ngeri. Apalagi Han Han tak menunjukkan senyumnya, dingin di balik bayang-bayang caping Si Golok Maut!

"Han-kongcu datang... Han-kongcu datang! Beri tahu kepada pangcu dan hu-jin!"

Semua tiba-tiba berlarian. Mereka menyambut, tapi segera menyibak ketika Wi Hong mengibas. Wanita itu masih benci karena Hek-yan-pang sekarang sudah dipenuhi murid lelaki. Ketika mereka berpelantingan dan tentu saja berteriak kaget, Han Han menahan lengan ibunya untuk tidak berbuat kejam.

"Kita tak perlu mengganggu mereka. Mari terus ke tengah pulau dan menghadap Ayah!"

Anak-anak murid ribut. Han Han sudah menuju danau dan sebuah perahu tiba-tiba meluncur cepat; penumpangnya menoleh dan menggigil memandangnya. Itulah anak murid Hek-yan-pang yang akan memberi laporan. Mereka tentu kecut melihat ibunya bersamanya, karena dulu ibunya pernah menghajar murid-murid lelaki ini. Ketika Han Han menyambar dan melepaskan sebuah perahu yang banyak tertambat di situ, Han Han mengajak ibunya untuk meloncat naik.

"Mari, kita ke pulau. Dan Ibu tak usah menunjukkan pedang itu!"

Han Han membenamkan Golok Mautnya, tak ingin membuat geger, tapi ibunya terkekeh dan malah memperlihatkan gagang pedang di belakang punggung. Pamer. Sikapnya seperti orang yang bahkan menantang! Ketika Han Han tak dapat berbuat apa-apa dan mengayuh perahunya cepat sekali, maka perahu tiba-tiba mencelat dan terbang membelah permukaan air danau!

"Clap-clap!" perahu meluncur cepat.

"Jangan membuat ribut, Ibu. Ingat janjimu!"

"Hi-hik!" Wi Hong terkekeh, tak menjawab permintaan putranya. "Lihat mereka terbirit-birit, Liong-ji. Ah, ingin kususul mereka dan menjungkirbalikkan perahunya ke air. Ayo, cepat susul. Ibu ingin menenggelamkan mereka!"

"Hm, tidak," Han Han tentu saja tak mau. "Kita bukan berurusan dengan para murid, Ibu, melainkan ingin menghadap Ayah dan Ibu Swi Cu. Pegang pinggiran perahu erat-erat karena aku akan terbang!"

Wi Hong terpekik. Perahu mendadak melesat ke atas dan tidak lagi menyentuh permukaan air. Han Han mengangkat perahunya tinggi-tinggi hingga perahu itu tak lagi meluncur di air.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment