Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 58

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 58

Setiap kali perahu jatuh atau turun kembali, Han Han memukulkan dayungnya ke bawah. Air danau memuncrat tinggi dan embusan angin dari pukulan pemuda itu membawa perahu tersebut meluncur layaknya siluman.

Ketika perahu Han Han menyusul dan melewati perahu para murid, mereka hanya bisa terbelalak dan bengong menyaksikan keajaiban tersebut. Tak lama kemudian, Han Han telah mendarat dan menjatuhkan perahunya dengan tenang di tepi pulau.

"Han-kongcu datang... ah, Han-kongcu datang!"

Sama seperti di luar tadi, Han Han disambut dengan teriakan dan seruan keras. Hanya saja, jika di luar tadi yang berseru adalah murid-murid lelaki, di sini semuanya adalah perempuan. Mereka adalah para penjaga atau murid yang bertugas di sana. Tentu saja, melihat perahu Han Han yang seolah terbang melewati perahu murid-murid lelaki membuat mereka terkejut dan membelalakkan mata.

Namun, begitu mereka mengenali sosok Han Han yang berambut merah darah, para murid wanita yang awalnya kagum itu segera berseru kegirangan. Kegembiraan mereka terhenti seketika saat melihat Wi Hong, wanita di samping Han Han. Awalnya mereka tidak mengenalinya karena Wi Hong pun berambut merah darah, persis seperti anaknya.

Sedetik mereka menyangka kedua orang itu gila karena mengecat rambut. Namun, ketika menyadari bahwa Han Han bukanlah pemuda yang suka bermain-main dan mengetahui identitas wanita itu sebagai bekas pangcu (ketua) lama, beberapa murid segera berkelebat melarikan diri. Mereka yang tidak sempat bersembunyi langsung berlutut dengan gemetar.

"Pangcu...!" seruan lirih itu menyembunyikan ketakutan.

"Selamat datang dan semoga sehat selalu!"

"Siapa kau?" Wi Hong tidak mengingat mereka dan langsung menendang. "Memanggilku pangcu tapi malah hormat kepada orang lain. Minggir dan enyahlah!"

Tiga orang terlempar, mendarat dengan bunyi berdebuk, dan mengaduh. Han Han dengan cepat memegang lengan ibunya. Di sana, sang ibu tiba-tiba tampak beringas dan tak kuasa menahan diri. Mata Wi Hong bersinar dan berkilat-kilat bagai harimau haus darah. Han Han mengingatkan ibunya untuk tidak membuat keributan jika tidak ingin ia pergi dan membatalkan niat menemui Beng Tan.

Ketika Wi Hong terkejut, sadar, dan bertemu pandang dengan mata putranya, wanita itu menahan diri lalu mengangguk. "Baik, hi-hik. Aku hanya melempar mereka, Liong-ji, tidak membunuh. Lihat, mereka tidak apa-apa dan bangun berdiri!"

Benar saja, tiga murid Hek-yan-pang itu bangun berdiri dengan terhuyung-huyung. Mereka ingin melarikan diri, namun kembali berlutut karena Wi Hong memandang mereka penuh ancaman. Namun, karena Han Han mencengkeram lengan ibunya dan segera membawa sang ibu melintas dengan cepat, para murid itu merasa lega. Mereka segera bangkit dan melarikan diri.

"Celaka, kongcu datang bersama ketua yang lama. Pergi, cepat menyingkir!"

Kegemparan terjadi di tengah pulau itu. Mereka sudah melihat Wi Hong dan tidak berani bertemu muka. Mereka heran bagaimana bekas ketua lama itu bisa datang bersama Han Han.

Tak pelak, keributan pun terjadi. Wi Hong selalu begitu! Ketika Han Han melihat murid-murid berlarian ke tengah pulau, Beng Tan—yang mendapat laporan—segera bertindak. Pagi itu, pendekar tersebut sedang asyik minum kopi pemberian istrinya. Kopi kental yang terasa pahit manis itu terasa lezat dinikmati saat pagi masih dingin. Namun, begitu belasan murid muncul dan langsung berlutut, berseru bahwa Wi Hong dan putranya datang, pendekar ini tertegun dan bangkit berdiri.

"Apa? Wi Hong? Bersama Han Han?"

"Be... benar!" sahut para murid dengan tubuh menggigil. "Han-kongcu datang bersama bekas ketua lama, pangcu. Mohon pangcu menemuinya karena kami ditendang dan dilempar-lempar!"

Saat itu, berkelebat bayangan Swi Cu. Nyonya cantik itu mendengar keributan dan hendak bertanya, namun tiba-tiba ia melihat belasan murid yang tampak pucat dan ketakutan. Ia membentak dan bertanya apa yang terjadi.

"Ada apa ribut-ribut? Kenapa semua meluruk ke sini seperti kedatangan harimau siluman!"

"Sabar," sang suami bergerak dan mencekal lengan istrinya. "Han Han datang, niocu. Tapi bersama seseorang."

"Han Han? Bocah tak tahu diri itu? Kenapa datang setelah minggat beberapa minggu? Biarkan saja, aku ingin mencekik batang lehernya!"

"Eh!" sang suami terkejut dan membentak istrinya. "Jangan begitu, niocu. Tak baik berkata begitu di depan banyak murid. Han Han adalah anak kita. Betapapun, dia harus kita sambut dan tidak perlu marah-marah!"

"Hm, dan siapa seseorang itu? Apakah anak itu akan..."

"Sabar, Han Han tak akan membuat onar. Tapi orang yang datang bersamanya, hmm... kita harus hati-hati."

"Siapa dia?"

"Wi Hong..."

"Apa?" Sang istri tersentak dan melepaskan cekalan suaminya. "Suci Wi Hong? Dia datang bersama Han Han? Mau apa?"

"Sabar," sang suami berkelebat dan kembali mencekal lengan istrinya. "Dia datang, niocu. Lihat, itu mereka!"

Ketika Swi Cu memandang ke depan, ia tertegun melihat Han Han datang bersama sucinya yang terkekeh-kekeh sambil mendorong murid-murid ke pinggir. Swi Cu dan suaminya terbelalak melihat rambut Han Han yang kemerah-merahan. Rambut putranya itu tampak seperti darah. Mereka semakin terkejut karena Wi Hong pun memiliki rambut berwarna sama. Mata mereka yang tajam segera mengetahui bahwa rambut itu bukanlah hasil pengecatan, melainkan memang berwarna merah seperti berminyak darah.

Ketika Han Han sudah dekat dan membungkuk memberi hormat kepada ayah dan ibunya, ia menyatakan maaf dan salam pertemuan.

"Aku datang bersama ibu, harap ayah baik-baik saja."

"Apa?" Beng Tan terkejut dan mengerutkan kening. "Ibu? Kau tahu siapa yang kau ajak ini, Han Han? Dan dari mana kau? Kenapa meninggalkan kami tanpa izin?"

"Maaf," Han Han menyahut. "Aku pergi karena sikapmu juga, ayah. Kau memusuhi dan tidak menyukaiku seperti Ibu Swi Cu. Aku tak tahan, pergi, tapi akhirnya kembali untuk bertanya siapa pembunuh ayah kandungku!"

"Plak!" Beng Tan menggetarkan jari dan berkelebat mencengkeram leher baju anaknya. "Apa kau bilang, Han Han? Ayah kandung? Pembunuh ayah kandung?"

"Hi-hik!" Wi Hong, yang sedari tadi terkekeh, kini menyergap maju. "Tak usah heran dan tak usah bingung, Beng Tan. Hari ini rahasia besar hendak kubuka. Han Han bukanlah anakmu, dia puteraku, Giam Liong, Sin Giam Liong!"

"Wut!" Beng Tan berkelebat menyambar Wi Hong dan melepaskan cengkeramannya pada Han Han. "Apa kau bilang, Wi Hong? Rahasia besar? Han Han puteramu? Kau gila?"

"Lepaskan!" Wi Hong membentak dan menendang lawan. "Kita bicara baik-baik, Beng Tan. Dia adalah Giam Liong, bukannya Han Han. Anak ini adalah benar anakku, putra yang kulahirkan dari kasih sayang Sin Hauw!"

Wi Hong bergerak mendampingi Han Han, bersiap melindungi sekaligus waspada terhadap serangan. Ia memandang ketua Hek-yan-pang itu dengan sorot mata berapi-api. "Ini adalah benar Giam Liong, anakku. Lihat wajah dan gerak-geriknya, lihat sikap dan pandang matanya. Apakah pantas sebagai puteramu? Dia adalah anakku, Beng Tan. Bocah yang kulahirkan dulu itu. Ini bukan Han Han melainkan Giam Liong!"

"Bohong, dusta!" Beng Tan merah padam dan membentak Wi Hong karena tak dapat mengendalikan amarahnya. "Kau membuat onar, Wi Hong. Dari dulu sampai sekarang tak jera mencari permusuhan. Kau harus ditangkap dan dibuang jauh-jauh!"

Beng Tan berkelebat menyambar wanita itu dengan jari-jari yang berderak penuh hawa marah. Wi Hong terkejut dan mengelak, namun serangan itu terlalu cepat. Jari-jari Beng Tan menyambar pundaknya dan siap menembus daging.

Han Han terkejut melihat kemarahan ayahnya. Itu adalah Tiat-kang atau Tenaga Besi yang akan menghancurkan pundak ibunya. Maka, ketika ibunya berteriak dan ayahnya tampak beringas, Han Han melompat maju menangkis sambil berseru keras agar ayahnya mundur.

"Maaf, harap ayah mundur... duk!"

Dua lengan yang beradu sama kuat itu menggetarkan Beng Tan yang terdorong selangkah, begitu pula Han Han yang merasakan betapa kuatnya tenaga ayahnya. Saat Han Han berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam, ia membungkuk.

"Ayah tak perlu menyerang ibu kandungku. Apa yang dikata adalah benar. Aku... aku putra kandung dari ayahku, Si Golok Maut. Aku keturunan keluarga Sin!"

Beng Tan terbelalak merah padam. Swi Cu melengking dan berkelebat maju, siap menggempur untuk membela suaminya. Namun, ketika Beng Tan mencekal lengannya agar mundur, Wi Hong terkekeh dan memandang suaminya.

"Swi Cu, tak perlu naik pitam. Ini adalah benar anakku sendiri, Giam Liong. Maksud kedatangan kami ialah hendak bertanya kepada suamimu siapa pembunuh suamiku dulu!"

"Keparat, bedebah terkutuk!" Swi Cu membentak, tak kuasa menahan diri. "Kau tak tahu malu dan mencari keributan, suci. Kedatanganmu tidak membawa maksud baik. Sekarang ceritakan bagaimana itu semua terjadi dan di mana anakku, Han...!"

"Benar," geram Beng Tan sembari menahan marah. "Kedatanganmu aneh dan menusuk perasaan, Wi Hong. Kalau kau datang untuk merebut kedudukan ketua, barangkali tak perlu panjang lebar, kuserahkan kepadamu kalau murid-murid setuju."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment