Chapter 59
"Tapi kalau kau datang dengan berita tentang Han Han menjadi Giam Liong dan itu bukanlah anak kami, maka kau sungguh keji!"
"Hi-hik, tak perlu marah," Wi Hong terkekeh dengan santai, tak takut kepada Beng Tan karena dia tahu kepandaian putranya sendiri. Han Han atau Giam Liong tadi telah mampu menunjukkan kelihaian yang meyakinkan saat menangkis serangan Beng Tan hingga laki-laki itu terdorong.
"Aku akan bicara baik-baik, Beng Tan. Kalau kau terima syukur, tidak diterimapun tak apa. Aku hendak bicara tentang kisah belasan tahun yang lalu, ketika aku datang ke sini..."
"Hm, penculikan anak itu?"
"Benar, kau cerdas."
"Dan kau menukar bayi-bayi itu?"
"Ah, hi-hik. Kau luar biasa, Beng Tan. Belum diberi tahu sudah tahu lebih dulu. Ah, kau mengagumkan!"
Saat Wi Hong terkekeh kagum akan pendekar berotak cerdas itu, Swi Cu melengking. Ia tiba-tiba mencabut pedangnya untuk menusuk, langsung menyerang Wi Hong.
"Kalau begitu kau terkutuk, keji! Kau menukar anak dan mempermainkan aku. Dan untuk dosa ini, aku tak dapat memberi ampun... Singg!"
Pedang yang bergerak bagai awan putih tiba-tiba menyambar dan sudah mendekati tenggorokan Wi Hong. Wanita itu terkejut dan mengelak. Namun, Swi Cu sekarang bukanlah Swi Cu yang dulu, yang masih menjadi sumoinya dengan kepandaian khusus dari warisan Hek-yan-pang. Begitu mengelak dan mundur, Swi Cu tiba-tiba menebaskan pedangnya ke bawah dengan jurus Pek-jit Kiam-hiap atau silat Pedang Matahari. Senjatanya sekonyong-konyong sudah mendekati Wi Hong lagi, kali ini menuju lambung.
"Aihhh... Tranggg!" Wi Hong terpaksa mencabut pedangnya untuk menangkis. Dikejar dan diberondong dua jurus beruntun yang begitu cepat, Wi Hong tak dapat keluar dari kepungan. Muka dan belakang sudah penuh dengan bayang-bayang pedang. Namun, ketika ia terpelanting dan berteriak kaget, Han Han sudah berkelebat dan menghadang di depan ibu kandungnya.
"Maaf, harap Ibu Swi Cu tidak menyerang lagi."
"Terkutuk!" Swi Cu melengking dan bahkan menerjang Han Han. "Kalau kau bukan anakku, malah kebetulan sekali, bocah. Gara-gara ibumu, aku jadi menderita!"
Pedang yang menusuk ke arah mata tiba-tiba dikelit dan ditampar oleh Han Han. Pemuda ini bukanlah Wi Hong; ia tahu jurus-jurus berikutnya. Dengan sinkang yang lebih kuat, pedang di tangan Swi Cu seketika mencelat dan terlepas. Saat Swi Cu terpekik dan mundur terhuyung karena marah, Han Han memungut dan mengembalikan pedang itu kepada ibunya—atau sebenarnya bibinya, karena Swi Cu adalah sumoi dari ibu kandungnya.
"Maaf," ujar Han Han atau yang sekarang bernama Giam Liong dengan wajah sedih. "Aku tak ingin menimbulkan keributan, Ibu. Aku datang hanya untuk berurusan dengan Ayah, bertanya tentang siapa pembunuh ayah kandungku."
"Keparat, jangan panggil kami Ayah dan Ibu!" Swi Cu membentak, menyambar pedangnya, dan menusuk lagi. "Kalau kau anak Sin Hauw, maka pantas kau berdarah dingin, Giam Liong. Kiranya kau anak pembunuh itu dan bukan anak suamiku!"
Giam Liong mengelak dan kembali menampar hingga pedang Swi Cu jatuh untuk kedua kalinya. Ia terbelalak mendengar Swi Cu menyebut ayahnya seorang pembunuh. Hal itu membuatnya marah. Beng Tan segera bergerak menangkap istrinya dan menyambar pedang tersebut. Laki-laki itu berdiri dengan muka gelap, pandang matanya mulai mencorong menakutkan.
"Giam Liong! Jangan menghina istriku kalau betul ingin berurusan denganku. Nah, katakan, apalagi maumu selain itu!"
Giam Liong, keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, berdiri tegak berhadapan dengan mantan ayahnya itu. Agak sukar bagi Giam Liong untuk mengubah sebutan karena sudah terbiasa bertahun-tahun memanggil mereka Ayah dan Ibu. Namun, karena Swi Cu memakinya sebagai anak pembunuh, ia berlutut sebelum menumpahkan kemarahannya.
"Maaf, Ayah," pemuda itu masih belum bisa mengubah sebutan. "Kalau aku datang membuat ribut, sudilah dimaafkan. Aku dan Ibu datang bukan untuk mengacau, melainkan bertanya siapa pembunuh ayahku. Kalau aku sudah mendapat keterangan, tentu akan segera pergi."
"Begitu enak?" Swi Cu melengking, hendak menerjang, tapi dicekal suaminya.
"Ibumu menculik anakku, Giam Liong. Dan dia harus mempertemukan aku dengan anakku itu. Kalau tidak, kalian berdua harus binasa di sini!"
"Hi-hik!" Wi Hong tertawa nyaring. "Jangan sombong dan mentang-mentang, Swi Cu. Jelek-jelek aku adalah sucimu, orang yang lebih tua darimu. Kalau kau mau menangkap atau membunuh aku, kutanya apa kesalahanku!"
"Kau sudah tidak gila?" Swi Cu melotot. Ia memperhatikan bahwa sucinya ini memang waras dan dapat bicara baik.
Namun, Wi Hong yang mendelik dan gusar lalu melompat dengan berkacak pinggang. "Apa, gila? Kaulah yang edan, Swi Cu! Melihat saudara bernasib malang malah galang-gulung dan kawin dengan laki-laki yang merampas kedudukanku sebagai ketua. Kaulah yang tidak waras, kaulah yang tidak berotak! Kalau aku tidak bertemu putraku ini, barangkali aku tetap gila dan tak tahu kegilaanmu yang lebih parah karena membiarkan sucinya menderita dan menangis sendirian!"
"Hm, aku tak peduli kepadamu!" Swi Cu membentak, sakit hati karena sucinya telah mempermainkannya dengan menukar bayi. "Kau menderita dan sengsara adalah atas kesalahanmu sendiri, suci. Kalau kau tidak melanggar dan menyalahi peraturan partai, tentunya kau tak akan melahirkan anak haram jadah ini! Siapa suruh kau menyerahkan kehormatan kepada Golok Maut si pembunuh itu? Siapa suruh kau bermain cinta hingga melahirkan anak tak berbudi ini? Tapi karena kau gila dan sengaja melanggar peraturan partai, maka kau kena hukumannya. Itu salahmu, bukan salahku!"
"Apa?" Wi Hong terbelalak. "Kau menghina dan merendahkan aku sedemikian rupa? Kau memaki putraku sebagai anak haram?"
"Kenapa tidak?" Swi Cu sudah terlanjur dibakar kemarahan hebat atas hilangnya anaknya. "Di samping rendah dan memalukan, ternyata kau culas, suci. Menukar anak dan memberikan anak jadahmu kepada kami. Sekarang, setelah besar, tiba-tiba kau datang bersamanya seperti seekor harimau yang hendak menerkam majikan yang memberinya makan bertahun-tahun!"
"Aiihhhhh....!" Lengkingan yang menggetarkan itu membuat murid-murid Hek-yan-pang terpelanting. Mereka terjengkang oleh suara Wi Hong yang dilandasi khikang sepenuh tenaga.
Wi Hong pucat dan merah berganti-ganti mendengar makian itu. Mereka saling tuduh, sementara Giam Liong yang mendengarkan sampai menggigil dan gemertak giginya. Di depan banyak orang, Swi Cu telah menghinanya sebagai anak haram jadah. Betapa menyakitkan hal itu!
Saat Wi Hong bergerak menerjang, Giam Liong memperhatikan dengan mata bagai harimau yang marah, namun ia masih mengendalikan diri karena melihat Beng Tan bersiap melindungi istrinya. Beng Tan sempat mengguncang lengan istrinya agar tidak mengeluarkan kata-kata tajam lagi, tetapi karena istrinya sudah terlanjur marah besar, ia membiarkan saja.
Ketika Wi Hong menyambar, ia terbang bagai elang yang buas. Pedangnya menusuk dan bergerak tujuh kali, padahal Swi Cu tak bersenjata. "Bret-bret-bret!" Swi Cu terpekik dan membanting tubuh bergulingan. Wi Hong mengejar dan mencaci maki, pedangnya menikam bertubi-tubi. Lima kali Swi Cu kalah cepat mengelak hingga baju dan sebagian kulitnya tertusuk.
Saat Swi Cu kewalahan dan Wi Hong menggetarkan ujung pedangnya seperti hendak mencincang, Beng Tan tiba-tiba membentak dan melepaskan pukulan jarak jauh.
"Mundur!"
Wi Hong terpelanting dan menjerit. Saat ia melempar tubuh menjauh, Swi Cu meloncat bangun dan segera merebut pedang dari tangan suaminya.
"Kubunuh jahanam ini! Biar kubunuh dia!"
"Tidak, tahan!" Beng Tan membentak, menahan istrinya.