Chapter 60
Ketika Swi Cu meronta namun suaminya menotok dan melumpuhkan dia, maka pedang kembali direbut dan Beng Tan menghadapi Wi Hong dengan perasaan berapi-api.
"Wi Hong, tak kusangka sedemikian keji dan culas hatimu. Kau menculik anak dan menukar bayi kami. Dan setelah kini kau datang lagi, maka keributan dan keonaran lagi-lagi kau buat. Hm, aku tak dapat membiarkan ini dan tak akan mengampunimu. Kau kutangkap dan harus dihukum. Ke mana anak kami itu dan kau apakan dia!"
"Hi-hik, aku tak tahu!"
Wi Hong berkelebat dan cepat bersembunyi di balik punggung putranya. Ia diam-diam gentar dan masih sangsi apakah Giam Liong mampu menghadapi pendekar itu, karena kepandaian Beng Tan sungguh hebat sekali. Tapi ketika Beng Tan bergerak hendak menyambar dan menangkap lengannya, Giam Liong bergerak dan menangkis lengan ayahnya itu.
"Maaf, kau tak dapat mengganggu ibu di sini, Ayah. Kalau Ibu bersalah menukar bayi, maka akulah yang bertanggung jawab."
*Dukk!*
Beng Tan tergetar mundur untuk kedua kalinya, merasakan tangkisan putranya yang kuat. Giam Liong memang hampir setingkat dengannya. Karena anak itu mempelajari warisan *sinkang* di sumur tua—pelajaran yang ternyata berasal dari ayah kandungnya sendiri—Beng Tan menjadi pucat melihat kekuatan putranya yang semakin hebat.
"Hm, kau membela ibumu, Giam Liong? Apa maksud kata-katamu dengan bertanggung jawab itu? Dan kau sekarang berani melawan aku?"
"Maaf," pemuda itu merah padam, sama seperti sang ayah. Ia merasa bingung di samping marah karena dia dan ibunya sudah dihina habis-habisan oleh Swi Cu. "Aku bertanggung jawab artinya akan menebus kesalahan Ibu, Ayah. Yakni akan mencari dan mendapatkan puteramu itu. Aku tahu siapa yang mengambil!"
"Mengambil?" Beng Tan terkejut. "Jadi... jadi puteraku jatuh ke tangan orang lain?"
"Benar."
"Keparat! Siapa itu?"
"Jangan diberi tahu!" Wi Hong tiba-tiba berseru. Ia melompat berdiri di samping putranya, terkekeh, mulai percaya bahwa putranya dapat menghadapi pendekar ini. "Kalau dia tak mau menyebutkan siapa dan di mana pembunuh ayahmu itu, maka tak usah kita memberitahunya, Liong-ji. Hutang satu bayar satu, hutang dua bayar dua!"
Giam Liong tertegun, sadar. Ketika dia mengangguk dan merasa ucapan ibunya benar, Beng Tan menggeram dan wajahnya semakin merah. Pendekar itu berkilat memandang Wi Hong.
"Hm, kalau begitu aku tak akan peduli lagi. Kau menukar dan menculik anakku, mempermainkan dan kini mengajak putramu memusuhi aku. Baik, kau majulah, Giam Liong. Aku akan menghadapimu sebelum membekuk ibumu. Keluarkan semua kepandaian yang pernah kau dapatkan dariku!"
Pemuda itu terkejut. Bentakan dan kata-kata ayahnya ini menyadarkan sekaligus membuatnya tertegun. Ayahnya mengejek dan berkata bahwa kepandaian yang didapat akan dikeluarkannya untuk menghadapi ayahnya itu, jadi seperti murid melawan guru. Dan karena kata-kata itu menyiratkan ejekan bahwa dia tak berbudi, membalas air susu dengan tuba, maka Giam Liong tertegun dan sejenak tak mampu menjawab, diam tak berbuat apa-apa.
Namun ibunya yang melengking dan tertawa nyaring tiba-tiba berseru, mengingatkan dia akan musuh atau pembunuh ayah kandungnya.
"Tak perlu ragu. Kau membela dan melindungi ibumu, Liong-ji. Beng Tan ini hanya ayah angkat dan bukan apa-apa. Kalau dia pernah memberi budi, maka itu adalah wajar karena dia merampas dan merebut kedudukan ibumu sebagai ketua di sini. Nah, budinya itu sudah sepadan dengan apa yang ia peroleh di sini. Kau berhutang budi kepadanya, tapi ia pun berhutang banyak kebaikan kepadaku. Impas!"
Giam Liong tertegun. Akhirnya dia sadar bahwa kata-kata ibunya pun ada benarnya. Penderitaan ibunya seolah sebagai "pembayaran budi" kepada ayah angkatnya ini. Sebab, kalau ibunya ada dan tinggal di situ, tak mungkin Beng Tan dapat menjadi ketua. Laki-laki itu duduk karena ketidakmampuan ibunya pula, karena waktu itu ibunya gila dan terganggu jiwanya.
Ketika dia menggigit bibir karena mau tak mau harus menghadapi ayahnya ini—ayah sekaligus guru yang telah menurunkan semua kepandaiannya—Giam Liong berlutut dan mencium tanah, sekali lagi memberi hormat.
"Ayah, tak ingin rasanya aku bertanding denganmu. Tapi karena aku membela dan melindungi ibu kandungku, maka kalau kau mau menangkapnya, terpaksa aku tak dapat membiarkan. Aku telah berjanji untuk menebus dan membayar kesalahan Ibu dengan menculik anakmu itu. Dan kalau kini kau tak mau memberi tahu siapa pembunuh ayahku, maka dapat kuanggap kau hendak melindungi dan membelanya. Baik, silakan maju, Ayah. Dan boleh kau bunuh aku kalau bisa. Aku telah bertekad untuk mencari pembunuh ayahku, baik kau memberitahunya atau tidak!"
Beng Tan tergetar. Dua pasang mata mereka yang bentrok dan saling beradu pandang membuat dia menyaksikan tekad dan kebulatan hati pemuda itu. Mata Giam Liong mencorong; melihat mata ini seperti melihat mata mendiang Si Golok Maut, Sin Hauw.
Sebenarnya ada kekaguman di hati pendekar ini melihat wajah dan sikap Giam Liong. Pemuda itu memang gagah dan jantan, mata dan gerak-geriknya telah menunjukkan hal itu, sama seperti mendiang ayahnya yang juga gagah dan jantan—perwira sebagai seorang laki-laki namun sayang kelewat ganas karena dendamnya yang setinggi langit.
Ngeri melihat sorot mata Giam Liong ketika membicarakan pembunuh ayahnya, mata yang berkilat dan mencorong berbahaya, maka Beng Tan teringat ketika dua puluh tahun yang lalu dia juga berhadapan dengan ayah pemuda ini, Sin Hauw si Golok Maut. Seperti itulah sikap dan sorot mata mendiang Sin Hauw. Sekali mempunyai keputusan, tak akan sudah sebelum terlaksana, biarpun untuk itu darah dan nyawa sendiri dikorbankan.
Maka ketika pandang mata, sikap, dan kata-kata Giam Liong persis ayahnya, mata yang bersorot buas dan penuh kebencian, maka Beng Tan bergidik membayangkan apa yang akan terjadi. Diam-diam, pendekar ini menekan rasa ngerinya. Diakui atau tidak, sebenarnya tak ada kemarahan atau kebencian kepada bekas putranya ini. Bahkan, dia merasa sayang dan kasih kepada pemuda itu. Giam Liong adalah pemuda pendiam dan penurut, juga amat rajin berlatih hingga dalam beberapa tahun saja sudah hampir menyamainya, hal yang mengagumkan hatinya.
Tapi begitu diketahui bahwa pemuda ini bukan putera kandungnya, Beng Tan menjadi kecewa dan marah berat, bukan kepada pemuda itu melainkan kepada Wi Hong. Ah, Wi Hong sungguh biang penyakit. Kalau tidak ditangkap atau dihukum, tentu bakal membuat onar. Tapi karena menangkap wanita itu harus berhadapan dengan puteranya ini, pemuda yang telah dididik dan bahkan mendapat warisan dari mendiang ayahnya sendiri, maka Beng Tan diam-diam sangsi apakah dapat dia mengalahkan pemuda itu.
Dari sorot mata dan sikap Giam Liong, pendekar ini dapat merasakan adanya semacam kekuatan dahsyat pada *sinkang* bekas putranya ini. Dua kali adu tenaga tadi telah menunjukkan itu. Giam Liong sekarang sungguh berbeda dengan Giam Liong beberapa waktu yang lalu, sebelum meninggalkan Hek-yan-pang. Sadar bahwa selama itu tentu pemuda itu terus tekun berlatih dan mempelajari warisan kitab kecil yang didapat dari sumur tua, maka Beng Tan tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh.
Hm, jangan-jangan dia akan berhadapan seperti ketika dengan mendiang Si Golok Maut dahulu. Pertandingan yang dahsyat dan tak ada yang kalah atau menang. Tapi karena dia sekarang bertambah tua sementara pemuda ini adalah anak muda yang sedang hebat-hebatnya, penuh vitalitas dan tenaga, maka Beng Tan ragu apakah dia mampu menghadapi pemuda ini.
Namun, Beng Tan adalah seorang jago yang bernama besar. Setelah Golok Maut tiada, diakui atau tidak, dialah orang terlihai saat itu. Dunia kang-ouw mengakuinya. Karena lawan sudah siap di depannya dan untuk menangkap Wi Hong harus merobohkan pemuda itu, bekas putra yang kini akan bertarung membela kepentingan masing-masing, maka pendekar itu bergerak dan sudah memasang kuda-kuda.
"Majulah!" sang ayah menantang. "Lama kita tidak bertanding, Giam Liong. Mari kesempatan ini kau isi dengan mengeluarkan semua kepandaianmu!"
Giam Liong bangkit berdiri. Setelah berlutut dan mencium tanah, dia menganggap tak perlu sungkan lagi. Dia sudah minta maaf dan tentu saja dia tak akan membiarkan ibu kandungnya ditangkap. Ayahnya itu pasti akan menghukum ibunya dengan keras, apalagi Swi Cu, bibi atau bekas ibunya itu pula.
Maka ketika sang ayah berdiri menantang dan kuda-kuda yang dipakai ayahnya adalah kuda-kuda bersudut—satu kaki ditekuk ke depan sementara pinggang ke atas tegak lurus, satu sikap bertahan sekaligus menyerang—maka Giam Liong menarik napas dan memasang kuda-kuda sejajar. Dua lengan diangkat sementara lengan yang satu ditarik ke dalam dengan kedua kaki bengkok ke depan, satu pasangan kuda-kuda yang menandingi kuda-kuda bersudut!
"Ayah saja yang memulai," pemuda itu berkata, tenang namun matanya mencorong lebih kuat. Sikap dan kata-katanya membuat anak murid merinding karena terasa begitu dingin dan beku. "Aku mengalah tiga jurus, Ayah. Setelah itu baru membalas!"
"Hm, kau yang datang, kau yang harus mulai lebih dulu!"
"Tapi Ayah adalah orang yang lebih tua, harus kuhormati lebih dulu!"
"Tidak, aku tuan rumah, Giam Liong. Kali ini kau adalah tamu. Majulah, dan jangan banyak bicara!"
Tetapi ketika Giam Liong hendak bergerak dan menyerang, pasangan kuda-kuda sudah siap berubah, tiba-tiba Wi Hong berkelebat dan melengking ke depan.
"Tunggu!" wanita itu berseru. "Kalah-menang harus ditentukan taruhan, Beng Tan. Sebelum dilanjutkan sebaiknya kalian masing-masing sama berjanji. Siapa yang kalah dialah yang harus menurut kepada yang menang. Dan aku hanya mengharap kau memberi tahu siapa pembunuh suamiku itu!"
"Betul," Giam Liong terkejut, sadar. "Bertanding tanpa memberi tahu keinginan masing-masing adalah percuma, Ayah. Aku hanya ingin tahu siapa dan di mana pembunuh ayahku itu, kalau kau kalah. Tapi kalau kau menang, terserah apa yang akan kau minta!"
"Hm," Beng Tan berpikir, juga terkejut.