Chapter 61
Namun, ketika dia belum menjawab, tiba-tiba istrinya melengking.
"Suamiku, tak perlu menuruti semua omongan itu. Kalau kau kalah, biarlah mereka membunuh kita. Tapi kalau mereka kalah, kitalah yang akan membunuhnya!"
"Hm!" Beng Tan menggeleng, tak setuju. "Bunuh-membunuh adalah pekerjaan yang tak kusukai, Niocu. Kalau aku kalah dan mau dibunuh, terserah. Tapi kalau aku menang, aku hanya meminta mereka tak meneruskan niatnya dan memberi tahu di mana anak kita itu! Bagaimana?"
"Tidak, aku tak setuju. Lebih baik kita mampus atau mereka!"
"Hi-hik!" Wi Hong terkekeh, meloncat dan kembali ke dekat putranya, melihat Swi Cu mau menggagalkan maksudnya. "Suamimu sudah bicara, Swi Cu. Dan aku menerima. Kalau kau menganggap suamimu bukan seorang penjilat ludah, tantangannya kupenuhi. Aku siap menggagalkan maksudku bertanya tentang pembunuh itu kalau pihakku kalah, tapi kalau pihak kalian yang kalah, maka suamimu harus memberi tahu siapa dan di mana pembunuh itu!"
"Aku tak dapat menerangkan siapa pembunuh ini, kecuali di mana kira-kira ia berada. Kalau kau bertanya siapa dia, terus terang tak dapat kukatakan!" Beng Tan menukas, bersinar dan marah karena merasa dirinya direndahkan.
Wi Hong seolah menganggapnya sebagai pihak yang pasti kalah, demikian percaya kepada putranya sendiri dan tentu saja pendekar itu merah mukanya. Tapi mengingat bahwa Giam Liong mendapatkan sebagian besar ilmu-ilmunya darinya—hal yang agak menenangkan pendekar ini—maka dia menjawab sambil mengingatkan lawan. Dia tak mau memberi tahu siapa sebenarnya si Kedok Hitam itu kecuali di mana kira-kira ia berada, karena ia memang tak ingin memberi tahu siapa si Kedok Hitam itu, semata untuk menjaga agar tidak terjadi keonaran atau banjir darah lagi.
Tapi Wi Hong yang terkekeh dan mengejek kepadanya berkata bahwa itu pun tak apa. "Jangan sombong. Di dunia ini ada dua orang yang dapat kutanya, Beng Tan, bukan hanya dirimu saja. Kalau kau tak mau, maka aku sudah memberi tahu kepada putraku untuk ke kota raja, bertanya kepada Coa-ongya!"
Beng Tan terkejut. Perubahan wajah yang tampak jelas tiba-tiba membuat pendekar itu surut selangkah, kata-kata lawan membuatnya berdetak, kaget. Tapi ketika dia dapat menenangkan guncangan dirinya lagi dan berdiri tegak, muka sudah biasa, maka mata pendekar itu berkilat dan menutup pembicaraan.
"Baik, kalau begitu tak perlu banyak mulut, Wi Hong. Kenapa kau ke sini dan tidak ke Coa-ongya? Tentu kau takut menghadapi banyak orang dan merasa dapat menguasai aku. Majulah, suruh putramu mulai!"
Wi Hong tertawa. Setelah Beng Tan menyetujui maksud hatinya dan taruhan itu dapat dibuat—yang kalah harus tunduk kepada yang menang—maka harapan untuk mengetahui siapa dan di mana pembunuh suaminya itu dapat dilacak. Dia akan memulai ini bersama putranya. Pergi ke istana pun dia tak takut, asal bersama putranya yang lihai itu.
Dan ketika dia mundur dan menepuk pundak putranya agar maju dan mulai menyerang, Giam Liong diam-diam tertegun dan terkejut. Tak ada maksud di hatinya untuk menggagalkan atau membatalkan mencari si pembunuh itu. Dia akan berusaha sampai titik darah terakhir untuk menemukan si Kedok Hitam. Dia sudah bersumpah! Tapi karena ibunya sudah menyatakan janji dan itu tak dapat ditarik lagi, diam-diam pemuda ini menyesali kesembronoan ibunya. Maka, Giam Liong bertekad untuk memenangkan pertandingan.
Apa boleh buat, dia harus mengalahkan ayahnya itu. Bukan karena ambisi, melainkan semata agar dapat mencari pembunuh ayah kandungnya. Ayahnya inilah orang yang paling tahu siapa pembunuh itu, orang yang hanya dikenal sebagai si Kedok Hitam. Dan ketika Giam Liong tak dapat mundur selain maju dan harus menang, keberingasan dan tekadnya tak dapat dicegah, maka muka pemuda itu pun menjadi merah sementara rambut di atas kepalanya berkilat-kilat seperti api yang membara!
"Baiklah, kita mulai, Ayah. Dan cabut senjatamu agar kita segera menyelesaikan persoalan ini!"
"Tidak, kau saja yang mencabut senjatamu, Giam Liong. Pinjam pedang ibumu kalau kau tidak membawa!" Beng Tan berkata, tak tahu Golok Maut yang disembunyikan di balik punggung pemuda itu. Giam Liong menyimpannya di balik bajunya yang kerombyong, longgar, dan besar hingga tak dapat dilihat ayahnya itu, apalagi dia selalu berhadapan dengan laki-laki ini hingga punggungnya terlindung.
Dan ketika Giam Liong tersenyum dan menggeleng, tak akan mencabut senjata sebelum diperlukan, maka dia mengerotokkan buku-buku jari untuk menyerang tanpa senjata, kedua lengan pun tiba-tiba memerah seperti terbakar.
"Aku akan menyerang tanpa senjata, Ayah. Kalau aku tak dapat merobohkanmu, maka senjata baru kucabut belakangan. Awas, aku mulai!" Giam Liong yang berkelebat dan mendorong ibunya agar menyingkir jauh, tiba-tiba berseru dan melepas pukulan pertama.
Beng Tan menanti dan pendekar itu terkejut karena tiba-tiba berkesiur angin panas yang menyambar dirinya, bukan sekadar panas, melainkan juga beserta uap merah. Itulah Angin-kang, Pukulan Awan Merah!
Dan ketika pendekar ini berkelit namun angin pukulan itu terus menyambar dan mengikuti, maka apa boleh buat pendekar itu harus menangkis dan menggerakkan tangannya.
"Duk!"
Anak-anak murid terpelanting. Bumi bergetar demikian kerasnya karena baik Beng Tan maupun Giam Liong sama-sama menambah tenaganya. Tadi dalam dua kali pukulan mereka sudah merasakan hebatnya tenaga lawan, kini menambah dan bermaksud mencapai kemenangan lebih dulu, tapi masing-masing pihak ternyata berpikiran sama.
Beng Tan juga ingin memenangkan pertandingan itu dan ketika melihat uap merah, dia sudah cepat menambah dan mengerahkan sinkangnya. Tak tahunya, Giam Liong juga menambah kekuatannya hingga begitu bertemu, tiba-tiba tanah tergetar dan terguncang keras. Wi Hong sendiri sampai terpeleset dan hampir terjatuh!
Dan ketika wanita itu terpekik namun dua orang itu sudah saling membentak dan bergebrak lebih jauh, maka Giam Liong berkelebat mengelilingi ayahnya sambil melepas pukulan-pukulan Awan Merah. Lawan tak mau diam dan pendekar ini pun membalas dan berkelebatan pula. Dan ketika masing-masing pihak melihat bahwa yang lain ingin mencapai kemenangan dan bergerak secepat mungkin, maka mereka mengerahkan ginkang dan akhirnya lenyap berputaran bagai angin puyuh!
"Bagus!" Beng Tan memuji. "Kepandaianmu bertambah maju, Giam Liong. Kau semakin hebat tapi belum tentu dapat mengalahkan aku!"
"Hm, aku akan berusaha. Mati hidup demi mendiang orang tuaku, Ayah. Kalau kau tak mau mengalah, barangkali kau harus membunuhku!"
Keduanya sudah bertanding cepat. Beng Tan tak dapat berbicara lagi karena pukulan-pukulan putranya semakin cepat. Uap merah di tangan Giam Liong semakin tebal dan panas, anak-anak murid terpaksa menjauh karena dari jarak beberapa tombak saja tubuh mereka serasa terbakar, bahkan ada yang mulai melepuh! Dan ketika angin menderu-deru dan Wi Hong sendiri tak kuat menahan hawa panas itu, maka wanita ini menjauhkan diri karena Beng Tan juga mengeluarkan Angin-kang untuk menandingi bekas putranya itu.
"Duk-dukk!"
Pertandingan menjadi hebat. Dua orang itu akhirnya lenyap merupakan bayang-bayang hitam dan biru. Pendekar itu mengenakan pakaian biru di mana bayangannya ini berkelebatan mengimbangi bayangan lawan. Giam Liong berbaju hitam dan bayangan biru serta hitam berganti-ganti. Mereka saling desak, namun bayangan biru kewalahan. Giam Liong mulai mengeluarkan pula warisan sinkang dari kitab kecil di sumur tua, yakni pelajaran Kim-kang-ciang atau Pukulan Tangan Emas. Dan karena pemuda itu berganti-ganti mengeluarkan dua pukulan berbahaya, Kim-kang-ciang akhirnya menyorotkan sinar emas di mana Beng Tan menjadi silau. Pendekar itu terkejut karena dia terdesak!
"Keparat!" pendekar itu memaki. "Kau telah hafal pelajaran mendiang ayahmu, Giam Liong. Kau menggabung dengan Angin-kang untuk mengalahkan aku. Ini Kim-kang-ciang!"
"Benar," Giam Liong berseri. "Meskipun kau merobek dan menghancurkan kitab itu, namun isinya telah kuhafal, Ayah. Betapapun, aku ingin maju dan mengalahkanmu!"
"Tak mungkin, kita belum bergebrak sepenuhnya. Aku belum mengeluarkan pedangku..."
"Duk-plak!"
Beng Tan yang mengeluh dan terlempar ke belakang tiba-tiba bersuara keras karena digencet Kim-kang-ciang sekaligus Angin-kang. Dia sendiri hanya mengandalkan Angin-kang dan itu kalah kuat. Bekas putranya benar-benar lihai dan pendekar itu terkejut. Dan ketika dua pukulan menyambarnya dari depan karena Giam Liong mendorongkan dua tangannya sekaligus—yang kiri dengan Kim-kang-ciang sedang yang kanan dengan Angin-kang—maka sinar emas dari Kim-kang-ciang menyilaukan pendekar itu di mana dia akhirnya terbanting dan terlempar bergulingan.
"Maaf," Giam Liong mengejar, berkelebat memburu ayahnya itu. "Kau menyerahlah, Ayah. Kita sudahi pertandingan ini!"
"Jangan sombong!" sang ayah membentak, bergulingan sambil mendorong kedua tangannya dari bawah, menyambut atau menolak dua pukulan putranya.
Dan ketika suara berdentam mengguncangkan tempat itu dan Giam Liong terhuyung mundur, maka sang ayah sudah bergulingan meloncat bangun.
"Majulah!" wajah pendekar itu pucat. "Aku belum kalah, Giam Liong. Sinkangmu hebat sekali namun pertandingan belum selesai!"
"Aku tahu," Giam Liong kagum, ragu dan tak segera menyerang. "Kau pun hebat, Ayah. Seranglah dan mulailah dulu... wut!"
Sang ayah tak menanti omongan itu habis, membentak dan berkelebat melepas pukulan dan Giam Liong mengelak. Dan ketika ayahnya mengejar dan memburu, maka terpaksa dia menangkis dan ayahnya lagi-lagi terpental.
"Keparat!" Beng Tan mulai marah, menggigil mendengar kekeh Wi Hong. "Aku harus menghajarmu, Giam Liong. Cabut senjatamu dan kita mainkan Pek-jit Kiam-sut (Silat Pedang Matahari)!"
"Aku belum merasa perlu," Giam Liong menjawab, tenang, mulai yakin akan kemenangannya. "Kalau kau ingin mencabut, silakan cabut, Ayah. Aku akan menandingimu kalau..."
"Sombong, kau mulai congkak!" dan sang pendekar yang kembali membentak dan menyerang pemuda ini lalu mengeluarkan ilmu-ilmu lain.