Chapter 62
Angin kencang mulai ditambah dengan tamparan-tamparan pedang. *Kiam-ciang* atau Tangan Pedang pendekar ini mulai dikeluarkan. Ketika bunyi bercuitan terdengar mengiringi pukulan menderu, maka *Kim-kang-ciang* tertahan dan Giam Liong tak dapat mendesak ayahnya.
"Hm, hebat!" pemuda itu penasaran dan terkejut. "Kau sungguh manusia jempolan, Ayah. Tak bohong kalau kau disebut pendekar nomor satu!"
Beng Tan mendengus. Pendekar ini tak mau melayani, dan *Kiam-ciang* di tangannya terus bercuitan menyambar-nyambar. Ternyata dengan itu dia dapat menahan *Kim-kang-ciang*. Pukulan sinar emas itu dapat dibelah dan dibuyarkannya; akibatnya Giam Liong tertegun dan memuji kagum. Bekas ayahnya ini memang hebat.
Tapi ketika lawannya itu bergerak semakin cepat dan Tangan Pedang mulai mencicit serta mendesing—tangan itu berubah seolah sebatang pedang pusaka sendiri—maka Giam Liong berseru keras, berjungkir balik, dan meloncat tinggi.
"Crat!" Tanah di bawahnya memuncratkan lelatu api.
Wi Hong terpekik, sementara anak-anak murid berteriak ngeri. Mereka melihat Giam Liong nyaris terlambat dan disambar Tangan Pedang itu, yang mulai berkilauan dan berkilat bagai sebatang pedang. Ketika Giam Liong melayang turun namun dikejar dan disambar bacokan ayahnya, Giam Liong mengerahkan Tangan Pedangnya pula dan... terdengarlah suara seperti dua batang pedang beradu.
"Cranggg!" Orang-orang merasa tertegun. Giam Liong mengeluarkan kepandaian yang sama dengan ayahnya karena hanya dengan Tangan Pedang itulah dia mampu mengimbangi sang ayah. Guru dan murid benar-benar bertemu, dan pendekar itu tertegun. Namun, ketika pendekar itu mendengus dan menyerang lagi, *Kiam-ciang* dihadapi dengan *Kiam-ciang*, maka suara *crang-cring* memekakkan telinga dan dua orang itu bergerak semakin cepat.
"Keluarkan lagi kepandaian ayahmu!" Beng Tan menantang, tertawa dan yakin dapat menahan bekas putranya ini. "Kau tak dapat mengalahkan aku, Giam Liong. Menyerahlah dan buang keinginanmu untuk membalas dendam!"
Si pemuda merah padam. Giam Liong marah, namun bekas ayahnya itu benar-benar dapat menahan dirinya. Bahkan, dia akhirnya terdesak karena sepasang lengan ayahnya bergerak-gerak dengan *Kiam-ciang* dan bercuitan menyambar-nyambar. Dalam hal ini dia kalah matang, tapi pemuda itu tidaklah menyerah begitu saja.
Ketika suatu kali dia tergetar mundur dan tangan kiri ayahnya menyambar serta membabat pundaknya, tiba-tiba Giam Liong mengubah gerakan. Dengan satu kaki terangkat ke atas, tiba-tiba dia membalas dan menggempur ayahnya itu.
"Dess!" Beng Tan mencelat kaget. Tangan Pedang disambut jurus yang aneh dan satu kaki Giam Liong menancap di dalam bumi. Aneh dan mengejutkan, tiba-tiba pukulan pemuda itu bertambah dahsyat seolah mendapat bantuan siluman, menggetarkan dan membuat pendekar itu mencelat!
Ketika Beng Tan terguling-guling dan pucat melompat bangun, Giam Liong masih berdiri dengan satu kaki di atas kaki yang lain, tegak dan tak bergeming.
"Kim-kee-kang (Ilmu Ayam Emas)!" sang pendekar terkejut, membelalakkan mata lebar-lebar dan segera teringat ketika dulu dia juga pernah menghadapi gempuran macam ini, bukan dari siapa-siapa melainkan dari mendiang Si Golok Maut, Sin Hauw.
*Kim-kee-kang* akan menjadi demikian ampuh dan hebatnya kalau satu kaki sudah terbenam di bumi. Kaki itu akan menjadi demikian kuat dan seolah dipantek saja; akibatnya kekuatan itu tersalur dan dia dulu juga pernah terbanting. Kini, hal itu terjadi dengan Giam Liong, anak Si Golok Maut!
Ketika pendekar itu tertegun, menjublak, pucat dan merah berganti-ganti, Giam Liong menurunkan kakinya dan berseru, "Menyerahlah, sekarang kau kalah, Ayah. Inilah kepandaian dari mendiang orang tuaku seperti yang kau minta. Memang benar, *Kim-kee-kang*!"
Ketika pendekar itu mendelik dan marah, menggeram, tiba-tiba dia berteriak menggetarkan dan menerjang lagi. "Aku belum kalah. Aku juga masih mempunyai ilmu yang lain, Giam Liong. Hati-hatilah!"
Secercah cahaya putih yang meledak dan menyambar tiba-tiba turun dan menghantam Giam Liong. Itulah *Pek-lui-ciang* (Tangan Kilat) yang hebatnya bukan alang-kepalang, datang menyambar dari atas dan Giam Liong terkejut melihat itu. Apa boleh buat, terpaksa dia mengangkat satu kakinya lagi untuk menyambut pukulan itu. *Pek-lui-ciang* memiliki inti kekuatan dari atas, sementara *Kim-kee-kang* dari bawah; jadi, seolah bumi dengan kekuatan langit.
Ketika Giam Liong terkejut tapi tak dapat berpikir panjang, ayahnya sudah berkelebat dan terbang di udara, melepas *Pek-lui-ciang*. Maka, pemuda itu membenamkan kakinya semakin kokoh dan seluruh kekuatan bumi ditarik untuk menyambut pukulan Tangan Petir itu.
"Blarrr!" Hebat dan luar biasa apa yang terjadi kali ini. Giam Liong mengeluh dan kakinya melesak, amblas dan terbenam semakin ke bawah. Ketika dua pukulan itu beradu dan sinar putih memecah di udara, anak-anak murid menjerit. Gelegar atau suara benturan dahsyat yang terjadi itu membuat Wi Hong terpelanting, sementara anak-anak murid yang lain terbanting pingsan!
Kejadian selanjutnya tak dapat diikuti anak-anak murid lagi karena dengan marah dan geramnya, pendekar itu sudah melepas pukulan-pukulan *Pek-lui-ciang*. Giam Liong menerima dan menahan, mengerikan sekali, melesak dan semakin melesak ke bawah hingga tak lama kemudian kedua lututnya sudah terbenam!
Ketika Wi Hong menjerit-jerit karena putranya bertahan, Beng Tan yang menyerang dan melepas pukulan bertubi-tubi akhirnya juga menderita karena lawan semakin kokoh saja, meskipun terbenam dan tak dapat membalas. Karena pengerahan *Pek-lui-ciang* terlampau melewati batas, Swi Cu yang tertotok dan akhirnya dapat membebaskan dirinya melihat suaminya itu terhuyung dan roboh terduduk, tak mampu membinasakan Giam Liong!
"Oouhh...!" Swi Cu melenting dan meloncat bangun. Suaminya mandi keringat dan batuk-batuk, Giam Liong juga basah kuyup namun pemuda itu jelas tak sepayah lawannya. Beng Tan jatuh terduduk dan kehabisan tenaga, kalah kuat karena kalah muda.
Ketika pendekar itu bersila dan memejamkan mata, Wi Hong berkelebat dan menyambar putranya. Giam Liong ditarik dan jatuh pula terduduk, merasakan gempuran-gempuran *Pek-lui-ciang* yang amat dahsyatnya!
"Aku ingin minum..." pemuda itu merintih dan merasakan tenggorokannya yang serasa kering terbakar. "Ambilkan aku air, Ibu, dan biarkan aku beristirahat...."
Murid-murid Hek-yan-pang gempar. Mereka yang tadi bersembunyi dan menonton di luar pagar tak sampai mencelat pingsan oleh benturan-benturan dahsyat itu, meskipun mereka juga menderita karena getaran suara pukulan itu seolah-olah menghentak jantung mereka. Mereka duduk, bersila, dan tak berani menonton lagi karena harus memusatkan konsentrasi pada keselamatan diri sendiri.
Namun, begitu Swi Cu memekik dan Wi Hong juga menjerit menyambar putranya, pertandingan berhenti. Mereka bangkit berdiri dan alangkah ngeri serta gentarnya melihat teman-teman mereka yang lain sudah bergelimpangan dan pingsan dengan darah mengucur di mulut atau telinga.
"Cepat angkat dan bawa mereka menjauh. Jangan lagi di sini!" Ki Bi, murid utama Hek-yan-pang, muncul dan berkelebat.
Tadi wanita ini tidak ada di pulau karena sedang pergi ke kota berbelanja. Memang tidak semua murid utama ada di situ saat Giam Liong dan ibunya datang. Maka begitu Ki Bi mendengar dan melihat itu, diberi tahu bahwa bekas ketua lama dan Han-kong-cu muncul, Ki Bi masih belum tahu bahwa Han Han adalah Giam Liong, putra mendiang Si Golok Maut. Wanita itu terbelalak, terheran-heran, serta kaget bagaimana Giam Liong sampai bertanding dengan ayahnya, digempur, dan habis-habisan bertahan.
Namun, karena Ki Bi pernah menaruh hati kepada Beng Tan dan melihat pendekar itu jatuh terduduk, Ki Bi menjadi gelisah. Maka setelah menyuruh anak-anak murid menjauh, segera wanita ini berkelebat membantu Swi Cu yang menolong suaminya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Pangcu marah-marah dan hendak membunuh putra sendiri!"
"Keparat, dia bukan putraku, Ki Bi. Anak itu adalah Giam Liong, putra Si Golok Maut Sin Hauw!"
"Giam Liong... Han-kong-cu..."
"Dia bukan Han Han, dia anak wanita itu. Suciku itulah yang menukarnya di waktu bayi dan kini datang untuk membuat onar!"
Ketika Ki Bi tertegun dan bingung, seorang anak murid segera mendekati dan berbisik menceritakan asal mulanya. Ki Bi terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Jadi... jadi...."
"Benar," anak murid itu mengangguk, pucat dan tak berani bicara keras. "Han-kong-cu dibawa bekas ketua lama, Toa-ci. Dan pemuda yang kita sangka Han-kong-cu ini ternyata putra ketua lama. Dia Sin-kong-cu (tuan muda Sin), keturunan Si Golok Maut Sin Hauw. Bayi itu dulu ditukar!"
Wajah Ki Bi berubah. Segera dia mengerti dan duduk persoalan itu membuat mukanya pucat. Ki Bi memandang dua orang di depan sana, Wi Hong berlutut dan memberi minum putranya. Namun, ketika wanita itu tertegun dan pucat, tak tahu apa yang harus dilakukan, tiba-tiba Beng Tan sudah bangkit berdiri dan gemetar berpegangan pundak istrinya, geram memandang Giam Liong, mencabut *Pek-jit-kiam*, pedang yang menggetarkan itu!
"Giam Liong, pertandingan belum selesai. Satu di antara kita belum roboh. Majulah, dan kita selesaikan pertandingan ini!"
Giam Liong tergetar. Setelah diberi minum dan meneguk air dingin, tiba-tiba tenggorokannya serasa segar kembali. Tenaganya pulih dan diam-diam pemuda itu memandang bekas ayahnya. Gempuran-gempuran *Pek-lui-ciang* yang demikian dahsyat dan menggetarkan hampir saja tak dapat ditahan. Untung, *sinkang* di tubuhnya kuat. Itulah berkat latihan telanjang bulat sambil berjungkir balik!
Ketika ayahnya bangkit berdiri tapi Giam Liong terkejut karena ayahnya mencabut pedang yang mengerikan itu—Pedang Matahari yang membuat nama ayahnya terangkat tinggi dan ditakuti orang—maka pemuda itu berdetak dan merasa agaknya pertandingan puncak harus dimulai!
"Bangkitlah!" ayahnya kembali menantang.