Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 63

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 63

"Kalahkan aku dan kita tentukan pertandingan akhir, Giam Liong. Cabut senjatamu dan hadapi senjataku. Tentukan kalah menang dengan senjata!" Pedang Matahari mencorong berkilat-kilat.

Giam Liong terkejut karena ayahnya itu sudah sampai pada taraf kemarahan puncak. Ayahnya ingin mengajaknya bertanding lagi setelah tadi tidak mampu merobohkannya, meskipun dia sendiri berada pada pihak yang terdesak dan tertekan.

Namun, karena teringat budi dan kebaikan yang banyak ia terima dari bekas ayah angkatnya ini, Giam Liong merasa ngeri akan akibatnya nanti. Dengan tubuh tergetar dan menggigil, ia menjawab, "Ayah, apakah tak sebaiknya kita sama-sama melihat keadaan? Bukankah kau tak dapat merobohkan aku? Mengapa kau tidak menyerah saja? Aku tak sanggup menghadapimu dengan senjata, Ayah. Aku takut harus melukaimu dan lebih baik kita sudahi saja pertandingan ini!"

"Aku belum kalah, kau pun tak dapat merobohkan aku! Tidak, perjanjian sudah dibuat, Giam Liong. Cabut senjatamu dan aku yakin akan dapat mengalahkan dirimu, meskipun barangkali terpaksa membunuhmu. Kau rupanya takut melihat Pek-jit-kiam!"

"Takut?" Giam Liong menggeleng. "Tidak, Ayah, aku tak perlu takut. Justru aku khawatir kau akan kalah dengan cara yang menyakitkan!"

"Apa maksudmu?" Beng Tan membentak, terbakar amarah. "Tak perlu kau mengkhawatirkan aku, bocah. Aku dapat melindungi diriku, dan justru kaulah yang rupanya takut menghadapi pedangku. Menyerahlah sebelum aku melukai atau membunuhmu!"

"Hm!" Mata Giam Liong berkilat. Ayahnya sudah mulai membakarnya pula, tanpa mengetahui keberadaan Golok Penghisap Darah yang disembunyikan di punggungnya. Ayahnya tentu tidak akan menyangka kalau dia membawa senjata itu, Golok Maut yang bertuah. Ketika ibunya melengking dan membentak marah karena omongan Beng Tan yang dinilai merendahkan, ibunya bergerak dan menepuk punggungnya.

"Liong-ji, jangan biarkan singa ompong itu menghinamu lagi. Cabut Golok Mautmu dan tunjukkan kepada dia!"

Apa boleh buat, Giam Liong mencabut senjatanya. Begitu sinar putih berkeredep menyilaukan mata, menandingi sinar perak di tangan Beng Tan, hawa dingin muncul berbarengan dengan dicabutnya golok itu, Golok Penghisap Darah, atau Giam-to (Golok Maut).

"Golok Maut...!" Beng Tan dan yang lain-lain berteriak tertahan. Ki Bi dan para murid senior lainnya segera mengenal golok di tangan Giam Liong. Hawa dingin dan pancaran yang menyeramkan timbul dari golok itu, seketika menyerang orang-orang di situ. Baru dicabut saja, sinar seramnya tampak, menggetarkan dan menusuk tulang.

Ketika Beng Tan berseru kaget dan yang lain tertegun pucat, Wi Hong terkekeh nyaring. "Lihat," wanita itu berseri-seri. "Golok Maut ada di tangan anakku, Beng Tan. Kalau kau menganggapnya takut, maka kau salah. Pedang Matahari akan ditandingi senjata di tangan putraku ini, sama seperti dulu kau bertanding dengan mendiang suamiku. Tapi karena putraku menang muda dan menang tenaga, maka kau tentu tak dapat mengalahkannya dan lebih baik menyerah saja secara baik-baik. Golok dan warisan kitab telah kuserahkan kepadanya. Tidak dapat membunuhmu sekarang, tentu setahun atau dua tahun lagi dapat. Nah, terserah kau mau bertanding atau tidak!"

Beng Tan pucat. Kalau Golok Penghisap Darah ada di tangan Giam Liong, maka ini sama halnya dengan berhadapan dengan mendiang si Golok Maut sendiri. Wi Hong telah berkata bahwa golok dan warisan kitab mendiang suaminya sudah diberikan kepada putranya itu, berarti Giam Liong akan menjadi hebat karena mewarisi dua kepandaian sekaligus: Ilmu Pedang Matahari (Pek-jit Kiam-sut) dan Ilmu Golok Maut.

Ah, itu benar-benar berbahaya sekali. Giam Liong bagaikan harimau yang tumbuh sayap. Karena pemuda itu berada di bawah bujukan ibunya yang penuh dengki dan dendam, pendekar ini tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Tentu pemuda itu akan lebih hebat dari mendiang ayahnya dulu, lebih ganas dan buas!

Karena khawatir dunia kang-ouw akan guncang oleh kemunculan si Golok Maut dalam sosok putranya yang lebih muda dan gagah, timbul keinginan Beng Tan untuk membunuh pemuda ini. Giam Liong belum lama meninggalkan Hek-yan-pang, yang berarti belum lama pula bertemu dengan ibu kandungnya. Karena perjumpaan itu belum lama, pemuda itu tentu belum sepenuhnya mewarisi kepandaian mendiang ayahnya, Im-kan To-hoat (Silat Golok dari Akhirat). Maka, sinar mata Beng Tan mencorong ketika nafsu membunuhnya tiba-tiba muncul.

"Hm!" Siapa pun yang melihat sinar mata pendekar itu seketika tergetar mundur; nafsu membunuh berkilat berbahaya. "Sekarang aku tak lagi memandangmu sebagai bekas putraku, Giam Liong, melainkan sebagai seorang calon pembuat ribut yang besar. Kau telah dibujuk ibumu untuk tenggelam dalam dendam. Kau telah dipenuhi hawa iblis untuk mencari dan menuntut pembunuh mendiang ayahmu. Tapi karena sikap dan perbuatanmu di luar batas kewajaran, dan ibumu menjejalimu dengan dendam dan dengki, aku terpaksa membunuhmu untuk mencegah adanya keributan yang akan kau timbulkan. Golok Maut ada di tanganmu, baik. Dua puluh tahun yang lalu aku juga pernah menantang mendiang ayahmu yang keburu tewas. Majulah, kita lihat siapa yang roboh, anak muda. Kau atau aku, karena sekarang bukan sekadar pertandingan biasa; aku melihat ancaman bahaya muncul dalam dirimu sebagai calon pembunuh yang berbahaya!"

Giam Liong mundur. Sikap dan sinar mata ayahnya yang berkilat penuh nafsu membunuh membuatnya terkejut. Tadi bekas ayahnya itu juga marah, tapi tidak ada kilatan berbahaya seperti itu. Seolah-olah dia adalah seekor ular yang harus dibasmi atau harimau kelaparan yang akan dibantai. Tersinggung karena disebut sebagai calon pembunuh—padahal baginya mencari pembunuh mendiang ayahnya adalah hal yang wajar—Giam Liong pun memandang bekas ayahnya itu dengan tajam.

"Ayah, kau telah menyebut-nyebut mendiang orang tuaku, juga tantangan yang tak pernah terlaksana karena orang tuaku tewas terbunuh. Kalau sekarang kau ingin bertanding dan menganggap ini adalah pertandingan dua puluh tahun yang lalu yang tak sempat dikerjakan ayahku, biarlah aku sebagai putranya meneruskan dan menerima tantanganmu. Kau telah mencabut Pek-jit-kiam, dan aku dengan senjata warisan ayahku dulu. Majulah, aku tak takut, dan maaf kalau senjata di tanganku membeset atau melukai tubuhmu nanti!"

"Bagus, luka atau mati bukan apa-apa bagi seorang ksatria, Giam Liong. Kalau golokmu dapat melukai kulitku, tentunya pedangku juga dapat melukai dirimu. Majulah, kita tentukan pertandingan akhir!"

Giam Liong bergerak. Ayah angkatnya itu juga bergerak. Wi Hong maupun Swi Cu sama-sama terbelalak. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, yang berhadapan adalah sepasang kekasih—karena Swi Cu belum menikah sementara mendiang Golok Maut Sin Hauw masih berpacaran dengan Wi Hong—sekarang laki-laki yang akan bertanding itu merupakan suami dan anak. Keduanya sama melekat dan agaknya justru lebih kuat daripada sekadar kekasih. Ketika dua jago itu sudah berhadapan dan akan menggerakkan senjata masing-masing, pedang dan golok saling mengintai, Wi Hong terisak mencium putranya sebelum mundur.

"Hati-hati, lawanmu akan membunuhmu, Liong-ji. Kalau kau sampai tewas, maka aku juga akan mengadu jiwa dengannya!"

"Tenanglah," Giam Liong mendorong ibunya dengan lembut, lalu mengeraskan hati. "Ayah hendak bertanding mati-matian, Ibu. Kalau dia menghalangi niatku dan ingin membunuhku, boleh dia coba, tapi aku pasti akan bertahan sekuat tenaga. Lebih baik mati di sini daripada gagal menuntut pembunuh ayahku!"

"Baik, hati-hati, Anakku. Ibu siap di sampingmu dan akan membelamu dengan tetesan darah terakhir pula!"

Giam Liong terharu. Sikap dan kata-kata ibunya ini membangkitkan semangat dan ketetapan hatinya. Tekadnya sudah bulat untuk menandingi bekas ayahnya itu bukan lagi dengan tangan kosong, melainkan dengan senjata ampuh yang tajamnya menggiriskan. Golok Maut maupun Pedang Matahari sama-sama tajam luar biasa; masing-masing pernah diadu dan tak ada yang rusak ataupun patah. Dulu mendiang Golok Maut Sin Hauw sudah pernah mengadu jiwa dengan ketua Hek-yan-pang ini.

Kini, ketika masing-masing berhadapan kembali dengan Golok Maut dipegang Giam Liong, keturunan Sin Hauw, Beng Tan yang sudah bersiap segera membentuk pembukaan gaya serangan dengan mengangkat pedang di atas kening.

"Majulah," tantangannya mengobarkan api. "Mati dan serahkan jiwamu kepadaku, Giam Liong. Daripada membiarkan ancaman bahaya mengguncang dunia kang-ouw, lebih baik kau binasa di tanganku!"

"Silakan Ayah yang mulai," Giam Liong merunduk, golok di tangan bergetar penuh hawa dingin. "Mati di tanganmu pun tak apa, Ayah. Hitung-hitung pembalas budi yang pernah kau limpahkan!"

"Hm, tak ada budi atau hutang kebaikan. Ibumu telah memberi tahu bahwa semuanya sudah impas!"

"Baik, majulah, Ayah. Aku bertahan!"

Ketika Giam Liong menggoyang golok dan mengobat-abitkannya dua kali, gagang golok dipegang seperti gagang pedang. Beng Tan menggeram melihat pemuda itu siap dengan jurus pembukaan Pek-jit Kiam-sut pula, Silat Pedang Matahari.

"Kau tak memiliki pembukaan lain? Kau ingin mengeluarkan kepandaian yang pernah kau pelajari dari aku?"

"Kelak tak akan kugunakan lagi, Ayah, bila aku telah mewarisi ilmu silat golok dari mendiang orang tuaku. Majulah, cukup kita bicara!"

Beng Tan membentak. Tubuh pendekar itu sekonyong-konyong berkelebat dan Pedang Matahari bergerak menyilaukan mata. Sinar putih berkeredep, dan bagai harimau kelaparan, ketua Hek-yan-pang ini menerkam korbannya. Pedang menyambar dan tahu-tahu lurus menusuk tenggorokan, cepat dan luar biasa, hingga pedang sudah menyentuh kulit!

Wi Hong berteriak melihat kecepatan pedang itu, kaget karena putranya tidak kelihatan menghindar, entah tak sempat atau memang sengaja menunggu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment