Chapter 64
Namun, ketika dari sebelah kiri terdengar dengungan dan Golok Maut berkelebat menyilaukan mata, tak kalah dengan Pedang Matahari di tangan Beng Tan, terdengar benturan nyaring disusul muncratnya bunga-bunga api ke udara.
"Cranggg!" Luar biasa dan hebat sekali adu senjata itu.
Giam Liong dengan cepat dan amat mengagumkan menangkis serangan ayahnya. Gerakannya cepat bagai kilat karena pemuda itu melakukan jurus yang disebut Matahari Menyambar Bianglala, tepat membentur pedang ayahnya hingga keduanya terhuyung mundur.
Ketika Wi Hong menyumpal telinganya karena benturan itu amat nyaring dan memekakkan, Beng Tan berkelebat lagi sambil membentak, hendak menusuk atau membacok lawannya. Gerakannya cepat dan ganas, segera Pedang Matahari bercuitan mencari darah. Lengah sekejap, tentu lawannya terluka.
Namun, karena Giam Liong terus bergerak mengikuti bayangan ayahnya yang naik turun dan bergulung-gulung, hingga akhirnya lenyap berkelebatan mengandalkan ginkangnya, pemuda itu pun berseru nyaring untuk mengimbangi gerakan sang ayah.
"Cring-crangg!" Bunga api kembali berpijar.
Golok dan pedang akhirnya sering bertemu karena keduanya beradu cepat. Tusuk-menusuk dan bacok-membacok silih berganti hingga benturan kian nyaring memekakkan telinga. Lelatu bunga api memuncrat kian lebar hingga Wi Hong dan yang lain harus menyingkir. Dua orang itu sudah berkelebatan bagai bayangan biru dan hitam.
Ketika pertandingan meningkat cepat hingga tubuh keduanya tak tampak lagi, masing-masing saling belit dan gubat, Wi Hong maupun Swi Cu tak dapat membedakan lagi mana pemuda itu dan mana Beng Tan.
"Hati-hati!" Wi Hong berseru memberi semangat. "Jangan lengah dan waspadalah, Liong-ji. Sekali kau mati, ibumu pun menyusul!"
Giam Liong terbakar. Dia memainkan Silat Pedang Matahari namun bersenjatakan golok. Kitab-kitab ayahnya telah diberikan kepadanya namun belum sempat dipelajari secara mendalam. Dia baru membaca selembar dua lembar, dan itu tak cukup untuk menandingi ayah angkatnya ini. Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan ayahnya harus diimbangi dengan Pek-jit Kiam-sut pula, meskipun dia bersenjata golok, bukan pedang.
Karena golok di tangan lama-lama terasa biasa seperti mencekal pedang, Giam Liong mulai mengingat-ingat gambar atau jurus dari warisan kitab ayahnya. Aneh sekali, tiba-tiba Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan sudah bercampur dengan Im-kan To-hoat (Silat Golok dari Akhirat), meskipun masih sedikit-sedikit.
"Cring-crangg!" Beng Tan terkejut. Pedangnya terpental karena ada semacam tenaga tolak besar dari golok Giam Liong. Pemuda itu menggetarkan golok dan meliuk-liukkannya dua kali. Gaya atau serangan itu bukan berasal dari jurus-jurus Pek-jit Kiam-sut, membuat Beng Tan tertegun. Namun, ketika dia menyerang lagi dan lawannya memainkan jurus-jurus aneh—setengah golok, setengah pedang—sadarlah Beng Tan bahwa bekas putranya itu sedang menciptakan ilmu baru!
"Keparat!" Beng Tan melengking, menggetarkan anak-anak murid di situ. "Mampus dan robohlah, Giam Liong. Terima pedang ini!"
"Singgg!" Sebuah jurus dari silat Pedang Matahari yang disebut Toankim (Potong Kemala Patahkan Emas) tiba-tiba menyambar dan membabat Giam Liong dari atas ke bawah, ditekuk setengah jalan, lalu tiba-tiba mencuat dari bawah ke atas. Hebat dan ganasnya bukan main, Giam Liong sampai terkejut. Namun, karena pemuda itu mengenal jurus tersebut, dia membuang pinggang ke kiri dan goloknya menyendok dari bawah, menangkis sekaligus mematahkan gerakan pedang yang mencuat berbahaya itu.
"Cranggg!" Beng Tan bengong. Dia melihat gerakan luar biasa tadi, dan gerak "menyendok" yang diperlihatkan Giam Liong sungguh belum pernah dilihatnya dimainkan jago pedang ataupun golok. Senjata di tangan Giam Liong akhirnya bergerak luar biasa dengan cara menyendok, menyapu, bahkan mengiris atau mengedut.
Ketika golok di tangan pemuda itu bergerak datar seperti orang menyisir, Beng Tan kaget. Semua gerakan itu membuatnya bingung dan kacau, hingga tiba-tiba saja Pek-jit Kiam-sut yang dimainkannya pecah dan berantakan.
"Aiihhhh!" Beng Tan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Pendekar itu mengeluarkan suara panjang, menunjukkan kekagetannya sekaligus rasa penasarannya yang hebat. Pedang di tangannya "mati" di tengah jalan karena sering dicegat atau didahului gerakan-gerakan aneh yang diperlihatkan Giam Liong.
Pemuda itu kiranya sedang mengembangkan silat pedang dan golok dengan gabungan dari Pek-jit Kiam-sut serta sedikit ingatan tentang warisan mendiang ayahnya, Silat Golok Maut. Ketika gerakan golok melengkung, lurus, mengedut, atau menyisir, Beng Tan yang baru pertama kali menghadapi silat seaneh itu akhirnya keteter dan terdesak. Gulungan pedangnya menciut ditekan oleh gerakan golok yang melengkung lebar.
"Keparat!" Pendekar itu hampir berteriak. "Kau lihai dan luar biasa, Giam Liong. Tapi aku pun mempunyai simpanan yang belum kukeluarkan!"
Ketua Hek-yan-pang ini membentak serta menerjang lagi, berusaha membobol lengkungan sinar golok. "Crang-cring!" Namun, Giam Liong yang mulai menemukan "resep" baru untuk menundukkan Pek-jit Kiam-sut ternyata encer otaknya. Dengan jurus-jurus yang berubah-ubah hingga ayahnya bingung, pemuda ini tetap menggencet gulungan pedang ayahnya. Golok terus menyambar-nyambar dengan gerakan menyisir, menyendok, dan kini ditambah dengan gerakan menggarpu, yakni mencocohkan golok seperti garpu mencocoh segumpal daging.
Beng Tan menjadi kacau dan akhirnya berteriak; pelipis kirinya berdarah, kena!
Ketika pendekar itu terkejut namun Giam Liong juga tertegun karena serangannya berhasil, Beng Tan tiba-tiba melengking. Dengan satu jurus Pekcing (Pedang Matahari Mencabut Nyawa) yang merupakan serangan adu jiwa, pendekar itu menubruk. Pedang di tangan kanannya menusuk tenggorokan, sementara tangan kirinya menghantam dengan pukulan Pek-lui-ciang (Pukulan Petir).
"Ayah!" Giam Liong tak sempat lagi mengeluarkan seruan.
Beng Tan tak peduli lagi; dia penasaran dan bingung oleh ilmu silat Giam Liong yang merupakan paduan silat pedang dan silat golok. Wi Hong yang terbelalak menyaksikan pertandingan itu mengeluarkan teriakan kaget, namun Giam Liong sudah menancapkan kedua kaki dengan kokoh di tanah sementara goloknya berkelebat menyambut pedang lawan, dan tangan kirinya menangkis dengan Pukulan Petir.
"Crang-dess!"
Wi Hong dan Swi Cu terpelanting. Benturan pedang dengan golok luar biasa nyaring hingga dua wanita itu silau. Sedetik mereka kehilangan pandangan karena bunga api yang muncrat ke udara demikian banyaknya. Pijarannya memancarkan hawa panas hingga sejenak mata terasa buta.
Ketika benturan Pek-lui-ciang mengeluarkan suara dahsyat dan bumi seolah diguncang gajah, berderak dan menggelegar, dua wanita itu terpelanting dan sama-sama berteriak keras. Sisa anak murid yang menonton pun tak ada yang tahan; dentuman itu membuat mereka menjerit, roboh, dan pingsan.
Beng Tan melakukan serangan mengadu jiwa, hingga golok dan pedang yang bertemu di udara tiba-tiba melekat, sementara Giam Liong dengan bekas ayahnya telah membenamkan kaki dalam mengadu Pukulan Petir tadi.
"Bless!" Ayah dan anak sama-sama terbelalak lebar. Pukulan Beng Tan telah diterima dan keduanya kini saling bertempelan lengan, senjata mereka juga saling melekat. Tampaklah adu tenaga yang menegangkan di sini.
Giam Liong mengeluh karena pukulan ayahnya kuat luar biasa, dikerahkan sepenuh tenaga, dan dia pun harus mengerahkan segenap kekuatannya. Dari dua lengan mereka mengepul uap merah dan putih yang berbaur menjadi satu. Masing-masing bertahan dan mendesak yang lain hingga terdengar letupan-letupan ketika dua senjata itu mencoba menindih satu sama lain. Golok Maut dan Pedang Matahari tiba-tiba saling hisap dan tarik-menarik.
Keduanya tegang. Masing-masing bersitegang karena ketika pedang dan golok saling tarik-menarik, mereka menjadi bingung. Tadi mereka saling mendorong, tapi kini malah harus menjaga senjata masing-masing. Golok Maut dan Pedang Matahari berkutat sama kuat. Pemiliknya merasakan tenaga hisap yang luar biasa hingga dipaksa mengeluarkan tenaga ekstra agar tidak terebut oleh yang lain.
Tangan kiri mereka masih saling dorong dalam pengerahan tenaga Pek-lui-kang, membuat wajah mereka tiba-tiba terbakar dan merah seperti dimasukkan ke dalam tungku api.
"Ayah, aku tak dapat membunuhmu. Kendorkanlah tenagamu!"
"Tidak, kau atau aku yang mati, Giam Liong. Aku bukan menghadapimu sebagai bekas putraku, melainkan seolah dengan mendiang ayahmu sendiri. Kau Si Golok Maut!"
"Tapi... tapi aku tak ingin seperti ini. Kau sudah terluka!"
"Hm, luka di pelipis tak sepedih luka di hatiku, Giam Liong. Kalau kau mau menarik niatmu untuk membalas dendam, maka aku akan mengurangi tenagaku. Katakan, mau atau tidak!"
"Ah, kau mau mengurungkan niatku? Tidak, aku telah bersumpah, Ayah."