Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 65

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 65

"Daripada membatalkan mencari si pembunuh itu, lebih baik aku mati!" Ketika Giam Liong membentak dan merasakan desakan ayahnya, Beng Tan menambah dan mencuri kesempatan untuk mendesak lawan. Giam Liong yang terdorong dan miring ke belakang tiba-tiba mengempos semangat serta menambah tenaganya karena ayahnya sudah hampir mendesak.

Percakapan yang mereka lakukan tadi sudah mengurangi sedikit tenaga pemuda ini. Maka, begitu dia membentak dan memandang ayahnya dengan marah, Beng Tan menghadapi perlawanan tangguh di mana desakannya tertahan dan pendekar itu tiba-tiba merasa dorongan yang amat kuat dilancarkan putranya.

"Robohlah!" Namun, Giam Liong tak bergeming. Ayahnya membentak marah, namun terkejut karena tangan kirinya tiba-tiba serasa menembus sesuatu yang dingin. *Pek-lui-kang* yang sama-sama mereka keluarkan tiba-tiba diganti oleh Giam Liong; bukan lagi tenaga panas, melainkan dingin, dan mulailah Giam Liong mengeluarkan hawa sakti dari pelajaran kitab kecil.

*Im-kang* atau tenaga dingin dikerahkan, hawa panas dari ayahnya diredam, mencair, dan tiba-tiba membeku. Beng Tan tersentak karena tangan kirinya mendadak kaku dan menggigil. Ketika pendekar itu ingin menambah tenaga namun sudah habis karena seluruh kekuatan telah dikerahkan, hawa dingin menembus dan mulai menyusupi seluruh tubuhnya hingga tulang-tulangnya berkerotok.

"Kau... kau sudah mahir ilmu ayahmu, Giam Liong. Kau hebat dan mengagumkan sekali!"

"Maaf," Giam Liong tak berani banyak menjawab. "Kau pun hebat, Ayah. Tapi aku harus mengalahkanmu!" Ketika tenaga dingin diubah lagi menjadi panas dan sang ayah belum sempat memperbaiki diri, Beng Tan berteriak karena tubuhnya tiba-tiba serasa terbakar, disentak, dan mendelik. Tiba-tiba hawa panas itu berubah lagi menjadi dingin, begitu seterusnya.

Karena pendekar ini hanya memiliki tenaga *Pek-lui-ciang*—sementara *Ang-in-kang* masih di bawah *Pek-lui-ciang*—maka begitu diubah-ubah, wajah pendekar itu menjadi pucat dan merah berganti-ganti. Ia bertahan, namun pedang di tangan kanannya pun mendadak diserang hawa sakti *Im-kang* (dingin). Ketika ditahan, Giam Liong sudah menggantinya dengan tenaga *Yang-kang* (panas).

Ketika pendekar itu terkejut karena dua hawa sakti menggencet berganti-ganti, tubuhnya tertunduk dan... "Huak!" Pedang di tangan pun tak dapat ditahan. Beng Tan melesak semakin dalam dan Golok Maut tiba-tiba menghisap serta menarik lepas Pedang Mataharinya. Sang jago tua tak dapat mempertahankan diri dan roboh terduduk, mukanya pucat pasi.

Ketika darah kembali terlontak karena Beng Tan tetap bertahan dan tak mau menyerah—ingin binasa dalam pukulan terakhir—Swi Cu menjerit dan berkelebat menghantam Giam Liong. "Jangan bunuh suamiku!"

Giam Liong terkejut. Saat itu dia harus menekan ayah angkatnya ini karena meskipun jatuh terduduk, ayahnya masih melakukan perlawanan kuat. Sekali dia mengurangi tenaga, tentu pukulan ayahnya akan menghantam, berikut pukulannya sendiri yang membalik. Maka, ketika Swi Cu tiba-tiba menyerang sementara perhatiannya terpusat ke depan, bagian belakang tentu saja tak dijaga. Swi Cu menghantamnya telak, tapi pukulan itu justru menambah kekuatannya untuk menghantam suaminya juga.

"Jangan...!" Seruan itu terlambat. Beng Tan terbelalak melihat perbuatan istrinya. Dikira menolong, tak tahunya malah mencelakakan diri sendiri. Ketika pukulan mendarat dan Giam Liong tersuruk, punggung dan sebagian pundaknya terpukul berat, Beng Tan seketika roboh, tapi Swi Cu sendiri juga terlempar karena tenaga sakti lawannya bergerak dan menjaga tuannya.

"Bress!" Nyonya itu jatuh pingsan. Swi Cu tak tahu bahwa perbuatannya betul-betul berbahaya. Giam Liong sebagai penerima pukulan justru akan menyalurkan pukulan itu kepada Beng Tan, meskipun Giam Liong juga menderita karena pemuda itu melontarkan darah segar dan terluka, mengingat segenap *sin-kang*-nya sedang dipakai untuk menghadapi ayah angkatnya. Maka, begitu ayahnya roboh dan Giam Liong juga ambruk ke depan, menimpa tubuh ayahnya, golok di tangan terlepas dan dua senjata tajam itu jatuh berkerontang dalam posisi masih saling hisap.

"Keparat!" Wi Hong berteriak gusar. Wanita itu tak menyangka tindakan Swi Cu. Dia sendiri sedang mengamati jalannya pertandingan dengan jantung berdebar. Mula-mula ia pucat dan khawatir karena dua orang itu sama kuat, bahkan putranya tampak terdesak tapi segera dapat memperbaiki diri. Dan ketika putranya balas mendesak dan Beng Tan pucat pasi serta tak kuat bertahan, Wi Hong berseri-seri karena segera melihat bahwa pertandingan itu akan dimenangkan putranya, meskipun lama.

Sedikit tetapi pasti putranya di atas angin, apalagi setelah uap putih dan dingin menyelimuti wajah putranya, bergeser, dan membungkus pula tubuh Beng Tan. Ketika benar saja pendekar itu terduduk namun alot melakukan perlawanan, Wi Hong marah dan gemas melihat itu. Maka, wanita ini kaget ketika Swi Cu tiba-tiba berteriak dan menyerang putranya. Dalam keadaan seperti itu, sesungguhnya amatlah berbahaya bila putranya dibokong.

Wi Hong tak menyangka bahwa Swi Cu akan melakukan itu. Ketika putranya melontarkan darah dan jatuh menimpa ayah angkatnya, Wi Hong berkelebat dan berteriak gelisah. Wanita itu sudah menarik putranya, sementara Ki Bi dan anak-anak murid yang lain guncang menolong Swi Cu dan Beng Tan.

"Keparat, jahanam terkutuk!" Wi Hong menyambar dan menolong putranya. Giam Liong roboh lemas namun tidak pingsan, lain dengan Beng Tan yang terluka berat oleh pukulan dalam. Ketika wanita itu menotok dan memeluk putranya sambil menangis, Giam Liong meminta dibantu duduk untuk menolong.

"Aku tak apa-apa, Ibu tak usah khawatir. Tapi... tapi tolonglah Ayah dan juga Ibu Swi Cu...."

"Apa? Kau minta aku menolong mereka itu? Bedebah, justru aku akan membunuhnya, Liong-ji, terutama Swi Cu. Dia berbuat curang dan akan membunuhmu!" Ketika wanita itu bergerak dan akan meninggalkan Giam Liong, pemuda itu menyambar dan mencekal lengan ibunya.

"Ibu tak perlu mengingat ini. Itu adalah bukti kecintaan Ibu Swi Cu kepada suaminya. Pukulannya tak apa-apa bagiku, Ibu, tenaga *sin-kang*-nya tak sekuat *sin-kang*-ku. Kau tolonglah dia atau Ayah, aku akan menyembuhkan diriku dulu. Kalau Ibu sampai membunuh mereka, maka aku tak akan mau lagi bersamamu!"

"Giam Liong!" Namun pemuda itu sudah memejamkan mata. Wi Hong terbelalak dan terhenyak mendengar kata-kata putranya. Kalau saja dia tak diancam begitu, barangkali dia akan menghajar Swi Cu, bahkan mungkin membunuhnya. Tapi ketika Giam Liong berkata bahwa pemuda itu tak akan mau bersamanya jika ibunya membunuh, Wi Hong tertegun namun akhirnya membanting kaki dengan marah.

"Baiklah, aku tak akan membunuh mereka, Liong-ji. Tapi aku juga tak mau menolong!" Sambil duduk menemani putranya yang bersila dan memejamkan mata, Wi Hong menyambar atau memungut dua senjata ampuh di tanah. Golok Maut dan Pedang Matahari masih saling tempel dengan lekat. Ia menarik namun gagal. Terbelalaklah wanita itu karena dua senjata itu seolah suami-istri atau musuh bebuyutan, tak akan meninggalkan yang lain meskipun ditarik dengan keras.

Ketika ia jengkel dan membanting dua senjata itu nyaring ke tanah, tiba-tiba Pedang Matahari dan Golok Maut lepas sendiri. "Eh, sialan. Ditarik dan dibetot tak mau, tiba-tiba dibanting malah mau! Macam apa kalian ini, senjata-senjata sialan? Memangnya minta kupukul-pukul ke tanah?" Wi Hong menyambar dan memungut lagi dua senjata luar biasa itu. Dari Golok Maut memancar hawa dingin sementara dari Pedang Matahari memancar hawa panas; wanita itu berkerut kening.

Tak lama kemudian putranya membuka mata. Giam Liong bangkit berdiri memandang sekeliling, melihat kerumunan anak-anak murid Hek-yan-pang yang menolong ketua dan istrinya.

"Eh, Ibu tak menolong mereka?"

"Kau sudah selesai?" Sang ibu terbelalak, meloncat bangun, bukannya menjawab melainkan malah bertanya. "Bagus, kalau begitu bawa pedang dan golok ini, Liong-ji. Atau selesaikan musuhmu daripada kelak membuatmu dibuntuti pembalasan!"

Giam Liong tertegun. Bukannya menerima, tiba-tiba ia berkelebat dan malah mendekati ayah dan ibu angkatnya itu. Ki Bi dan lain-lain menolong, namun Beng Tan dan istrinya belum juga siuman, terutama Beng Tan, ketua Hek-yan-pang yang pucat dan kebiruan wajahnya itu. Ketika Giam Liong bergerak dan mendorong kerumunan orang-orang itu lalu berlutut, pemuda ini sudah memeriksa dan cepat mengeluarkan beberapa pil hijau.

"Berikan ini kepada Ibu Swi Cu dan biarkan aku menolong Ayahku ini!" Ki Bi dan murid-murid tertua menyingkir. Tadinya mereka waswas dan khawatir jangan-jangan pemuda itu akan membunuh Beng Tan. Mereka bersiap-siap, tapi Giam Liong ternyata benar-benar menolong ayah angkatnya itu dengan bersila dan menyalurkan *sin-kang*-nya di punggung sang ayah.

Ketika pemuda itu meramkan mata dan melakukan pengobatan, Ki Bi lega karena ketua mereka tak diganggu. Swi Cu ditolong dan sudah dijejali obat pemberian Giam Liong. Tak lama kemudian wanita itu pun sadar. Luka yang diderita Swi Cu tak seberat suaminya. Beng Tan mengalami luka dalam parah dan keadaan pendekar itu benar-benar berbahaya. Paling tidak, kalau dia sembuh, mungkin pendekar itu perlu beristirahat setahun.

Begitu Swi Cu sadar dan membuka mata, kerumunan anak-anak murid membuatnya kaget. Nyonya itu teringat dan beringas meloncat bangun. "Mana bocah setan itu!"

Ki Bi terkejut. Istri ketuanya itu membentak dan langsung mendorong mereka, melihat Giam Liong yang sedang bersila menolong ayah angkatnya. Ketika wanita itu tertegun namun Swi Cu melengking marah melihat Giam Liong, tiba-tiba ia menerjang dan mencabut pedangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment