Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 66

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 66

"Bocah siluman, jangan sentuh suamiku!" seru wanita itu sambil mengayunkan pedang yang menyambar ke arah punggung Giam Liong.

Swi Cu mendelik melihat Giam Liong, kemarahannya meledak hingga ke ubun-ubun. Namun, ketika wanita itu berkelebat dan pedangnya menusuk Giam Liong dengan cepat dan penuh amarah, tiba-tiba muncul bayangan lain yang langsung menangkis serangan tersebut.

"Swi Cu, jangan bermain curang!" Sang nyonya terkejut.

Dari samping, menyambar secercah sinar putih berhawa dingin yang menahan serta menangkis serangan pedangnya. Ketika terdengar suara nyaring dan pedangnya putus, Swi Cu terkejut hingga tubuhnya terlempar dan terguling. Wi Hong sudah berdiri di sana dengan Golok Maut di tangan, matanya berapi-api.

"Berani kau menyerang puteraku, maka kau mampus. Majulah jika ingin kucincang!" Swi Cu tertegun.

Nyonya itu terkejut karena Wi Hong, sucinya, telah menghadang dengan Golok Maut, senjata yang ampuhnya menggila. Namun, karena wanita ini bukan penakut, ia justru semakin marah. Ia menyambar dan mencabut pedang seorang anak murid lain, lalu melengking keras sembari menerjang lagi.

"Boleh, mari kita bertanding seribu jurus, Suci. Biarpun Golok Maut ada di tangan, aku tak gentar!"

"Sing! Sing!" Pedang itu berkelebat menyambar lawannya, disusul pukulan-pukulan Ang-in-kang. Wi Hong mendengus melayani sumoinya.

Karena sumoinya memainkan Pek-jit Kiam-sut dan Silat Pedang Matahari yang merupakan andalan Beng Tan, si jago pedang, Wi Hong pun sibuk berkelebat mengimbangi lawan. Golok Maut mendesing dan membabat, namun Swi Cu tak mau beradu keras. Pedang di tangannya jelas akan kalah, sehingga wanita itu mengandalkan kecepatan dan kepandaian untuk merobohkan lawan.

Wi Hong terkejut karena sumoinya bukan lagi sosok yang dulu; Swi Cu kini adalah istri seorang jago pedang. Senjata di tangan wanita itu bergerak naik turun dan bergulung-gulung mengelilingi lawan. Wi Hong mengandalkan keampuhan golok, dan hal ini menyelamatkannya. Swi Cu sering menarik pulang tusukannya yang bertubi-tubi saat dicegat golok di tangan sucinya. Karena masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, pertandingan itu menjadi cepat dan imbang.

Ki Bi dan yang lain menonton dengan tegang. Sulit bagi murid tertua Hek-yan-pang ini untuk membantu salah satu pihak. Wi Hong adalah ketua lama, sedangkan Swi Cu adalah istri ketua baru sekaligus sumoi dari ketua lama itu. Karena masing-masing merupakan atasannya, Ki Bi tidak berani bergerak. Anak-anak murid yang lain pun berdiri terpaku menyaksikan pertempuran sengit tersebut, di mana pedang di tangan Swi Cu bergulung naik turun namun selalu ditarik pulang saat berhadapan dengan Golok Maut.

Wi Hong mencoba membalas, namun kepandaian sumoinya ternyata lebih tinggi. Maklum, di samping ilmu silat Hek-yan-pang, wanita itu juga menerima kepandaian dari suaminya, yakni Silat Pedang Matahari atau Pek-jit Kiam-sut.

Ketika golok berkali-kali mengenai angin kosong karena Swi Cu berkelit atau berjungkir balik, Giam Liong yang tidak tahu apa-apa sedang memusatkan perhatian untuk menolong ayahnya hingga mencapai titik optimal. Pemuda itu bercucuran keringat dan merasa lelah setelah pertarungan mati-matian tadi. Ayah angkatnya memang luar biasa dan mengagumkan. Ketika setengah dari sinkang pemuda ini masuk ke tubuh ayahnya, wajah yang tadinya pucat dan kebiru-biruan itu mulai memerah. Setengah jam kemudian, Beng Tan sadar dan membuka matanya.

Giam Liong pun berhenti dan membuka mata. Saat ayahnya bergerak duduk menggigil, batuk-batuk, pendekar itu melihat Giam Liong yang mandi keringat.

"Kau... kau menolongku?" Giam Liong mengangguk tanpa menjawab.

Pemuda itu tersenyum pahit sementara sang ayah tertegun. Beng Tan merasa seluruh tubuhnya sakit, tapi sesak di dada tak lagi mengganggu. Itulah berkat pertolongan anaknya ini, anak—atau bekas anak—yang tadi bertanding dan hendak dibunuhnya. Ketika pendekar itu bangkit dengan tubuh bergetar dan Giam Liong juga berdiri, pendekar itu mencengkeram bahu pemuda tersebut dan membentak geram.

"Giam Liong, kenapa kau tidak membunuhku? Kenapa kau malah menolong aku?"

"Maaf, aku tak dapat membunuhmu, Ayah. Dan aku pun menyesal akan ini..."

"Tapi aku bukan ayahmu, kau bukan keturunanku!"

"Benar, tapi kau telah mendidik dan membesarkan aku, Ayah. Dan aku bukanlah seorang manusia yang tidak tahu budi!"

Beng Tan tertegun, melihat bahwa pemuda ini bukanlah orang kejam. Giam Liong melepaskan cengkeraman ayah angkatnya lalu menoleh. "Lihat, ibuku dan Ibu Swi Cu bertanding. Aku tak ingin mereka sama-sama terluka. Kalau Ayah masih teringat janji, aku akan melerainya dan setelah itu pergi. Terserah Ayah apakah mau memberitahu pembunuh ayah kandungku atau tidak!"

Beng Tan terkejut. Pemuda itu bergerak dan berkelebat ke tengah-tengah pertempuran. Wi Hong dan Swi Cu sama-sama naik pitam dan bertanding semakin sengit. Saling maki dan tusuk sudah terjadi puluhan kali. Namun, ketika Giam Liong bergerak dan membentak kedua wanita itu, tangannya menampar dan mengibas kedua senjata tersebut hingga Wi Hong terhuyung, sementara Swi Cu mencelat meski pedangnya sempat menggores lengan pemuda itu.

"Mundur!"

Swi Cu terlempar bergulingan sebelum meloncat bangun. Memang Giam Liong belum pulih seluruhnya dan sinkangnya tinggal separuh setelah diberikan kepada ayah angkatnya. Saat menangkis pedang Swi Cu, ia masih juga tergores. Karena Wi Hong menarik goloknya dan sang putra tidak terluka parah, dua wanita itu berhadapan kembali. Swi Cu melotot dan siap menerjang lagi.

"Tahan!" pemuda itu berseru. "Kami akan segera meninggalkan tempat ini, Ibu. Tak usah saling serang."

"Aku bukan ibumu!" Swi Cu memekik. "Aku tak punya anak seperti kau, Giam Liong. Kau bunuh pun aku tak apa!"

Namun, Beng Tan bergerak menangkap istrinya. Pendekar itu berdiri di depan istrinya sembari menggigil. "Dia benar," katanya. "Urusan ini tak perlu diperpanjang, Niocu. Aku sudah kalah dan kita harus tahu diri!"

"Bagus!" Wi Hong tertawa, berkelebat, dan berdiri di depan putranya. "Kalau begitu, sebutkan siapa pembunuh suamiku itu, Beng Tan. Di mana dia berada dan siapa itu si Kedok Hitam!"

"Aku tak dapat menerangkan jauh," jawab Beng Tan dingin. "Silakan kau cari sendiri dan ketahui siapa musuhmu itu."

"Eh, kau ingkar janji?"

"Aku tidak ingkar, Wi Hong!" Beng Tan membentak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku tak mau menerangkan siapa laki-laki itu. Aku hanya mau menerangkan di mana kira-kira ia berada!"

"Benar," Giam Liong mengangguk, mendahului ibunya. "Inipun cukup, Ibu. Kalau Ayah tak mau menerangkan siapa dia, tentu ada sesuatu yang menyulitkan Ayah bicara. Aku sudah cukup puas mengetahui di mana kira-kira si Kedok Hitam itu berada, asal Ayah tidak menghubunginya dan menyuruh dia menyingkir!"

"Aku bukan komplotan!" Beng Tan membentak, wajahnya memerah mendengar tuduhan itu. "Jangan menuduh aku seperti itu, Giam Liong. Aku tak serendah itu untuk bergaul dengan orang jahat!"

"Bagus, kalau begitu sebutkan di mana dia!" Wi Hong yang terkekeh mendahului putranya. "Kami ingin segera mencari dan menangkapnya, Beng Tan. Sebutkan di mana dia dan hati-hati kalau kau bohong!"

"Aku hanya dapat mengira-ngira dia ada di mana, yakni di kota raja. Kalau kalian ingin mencari dan mendapatkannya, temuilah di sana."

"Di kota raja? Di bagian mana?" Wi Hong tertegun, menatap sang pendekar dengan pandangan tajam.

"Aku hanya dapat menerangkan begitu saja, tepatnya di istana. Nah, bohong atau tidak, terserah kalian. Mudah-mudahan orang yang kalian cari masih tetap ada di sana!"

Beng Tan memandang dingin, lalu menekan dada yang terasa sesak. Terlalu banyak bicara membuat luka dalamnya kembali terasa, ia merasa pusing. Giam Liong memahami itu dan menarik ibunya. Karena keterangan sudah didapat, Giam Liong membungkuk.

"Baiklah, terima kasih, Ayah. Dan maaf atas semua yang terjadi ini. Aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu."

"Dan kalian tak memberitahu di mana anak kandungku?" Swi Cu melengking gusar, hendak maju lagi tapi ditahan suaminya yang kembali batuk-batuk.

Swi Cu marah besar, namun terpaksa menahan diri karena suaminya tiba-tiba limbung. Giam Liong mengerutkan kening karena tidak tahu di mana keberadaan pemuda itu selain dibawa Yang Im Cinjin. Tiba-tiba ibunya terkekeh, "Swi Cu, tadi sudah dikatakan bahwa pihak yang kalah harus tunduk kepada yang menang. Kami tentunya tak perlu memberitahu di mana anakmu itu. Bukankah kalian kalah dan tak perlu banyak menuntut? Diberi hidup pun kalian masih untung, tak usah bertanya-tanya!"

"Tapi kau sudah mendapatkan anakmu, kau licik!"

"Hm, dan kau pun mendapatkan kedudukan di sini, Swi Cu. Kita sudah adil dengan kejadian ini. Aku dan Giam Liong tak akan mendepak kalian untuk memimpin partai!"

"Aku tak peduli kedudukan! Puteraku jauh lebih berharga daripada kedudukan. Serahkan atau kau mampus!"

Swi Cu menerjang lagi, marah besar karena sucinya bicara begitu enak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment