Chapter 67
Darah dagingnya tak dapat ditukar dengan apa pun, sekalipun dengan kedudukan tinggi.
Ketika Wi Hong mengelak dan menangkis, Golok Maut membentur pedang di tangan sumoinya. Swi Cu melempar tubuh, bergulingan, lalu menyambar pedang lain karena pedangnya telah putus. Namun, sebelum wanita itu menerjang, tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan berdiri menghadang.
"Ibu..."
"Aku bukan ibumu!"
"Baiklah, dengar, Bibi. Aku tak ingin kalian saling serang lagi untuk urusan ini. Han Han, putramu, akan kubawa kemari sebagai pengganti dan obat kecewamu. Aku tahu dia dibawa seseorang dan aku akan mencari orang itu. Kau tak perlu lagi marah-marah."
"Enak saja kau bicara! Ibumu menukar dan menculik anak, harus kudiamkan dan tak boleh marah-marah? Eh, mati pun menghadapi dirimu aku tak takut, Giam Liong, meskipun kau sudah lihai dan pintar sekarang!"
"Tunggu...!"
Giam Liong mengelak dari serangan lawannya, namun tiba-tiba mendengar ibunya terkekeh dan berkelebat menghadapi Swi Cu.
"Tak usah panjang lebar. Serahkan dia kepadaku, Liong-ji. Dan kau mundurlah!"
Giam Liong membentak dan menyambar ibunya, lalu tiba-tiba menotok dan merampas Golok Maut yang hampir saja mengenai leher Swi Cu.
"Ibu tak usah ikut campur dan diam saja di situ. Biar aku yang membereskan..."
Dess! Wi Hong roboh, sementara Swi Cu mencelat. Tiba-tiba Giam Liong berdiri dengan muka merah, berhadapan dengan ayah angkatnya yang terbelalak dan mengeluh lemah memanggil-manggil istrinya.
"Ayah, apakah Bibi tak dapat kau beri tahu? Apakah kau tak dapat membujuknya agar tidak menyerang lagi? Aku berjanji akan mengembalikan dan membawa putramu kemari, Ayah. Dan ini sudah di luar pertaruhan!"
Beng Tan batuk-batuk. Melihat dan mendengar kata-kata Giam Liong, memang dia harus meredakan kemarahan istrinya. Dia tahu bahwa tidak mungkin seorang ibu bisa menahan marah setelah diperlakukan seperti itu; anaknya diculik dan kini dibawa orang lain yang tidak mereka ketahui siapa. Namun, karena Giam Liong tampil sebagai pemenang dan pihaknya sebagai yang kalah, Beng Tan—sebagai seorang gagah yang tak mungkin menjilat janji—membungkuk dan mencengkeram istrinya.
"Niocu, jangan buat aku malu. Kalau kau ingin menyerangnya lagi, lebih baik bunuhlah aku dulu, tikam dadaku ini!"
Ketika istrinya menangis dan gemetar, pendekar ini menghadapi Giam Liong kembali dengan suara penuh sesal dan berat. "Lihat, aku sudah mengendalikan istriku, Giam Liong. Kami tak akan menyerangmu lagi. Terima kasih kalau kau berjanji untuk membawa dan mengembalikan putraku. Tapi bolehkah kutanya berapa lama janji yang kau berikan itu?"
Giam Liong tertegun. "Kira-kira enam bulan. Tapi paling lama satu tahun."
"Bagus, aku lega melihat Bibi tak bersikap nekat lagi, Ayah. Dan terima kasih pemberitahuanmu tentang musuh besarku itu. Aku akan pergi, dan maaf untuk semua kejadian tak menyenangkan ini!"
Namun, ketika Giam Liong berbalik dan melihat Pedang Matahari berada di tangan ibunya setelah Golok Maut dirampas, pemuda itu tertegun. Ia cepat melangkah menghampiri ibunya dan mengulurkan lengan.
"Ibu, pedang ini bukan milik kita. Berikan dan biarkan kita kembalikan kepada Ayah!"
Sang ibu mengelak dan membentak. Ketika Giam Liong melihat ibunya berdiri tegak, sang ibu berkata, "Liong-ji, musuh yang kalah adalah taklukan kita. Pedang ini juga menjadi milik kita, tak usah diserahkan dan biar untukmu!"
"Hm, tidak," sang putra menggeleng, tak dapat menerima permintaan ibunya. "Musuh ini bukan musuh kita, Ibu. Jelek-jelek dia adalah ayahku, Beng Tan. Tidak, berikan kepadaku dan biar kukembalikan kepada pemiliknya!"
Ketika Giam Liong berkelebat dan menyambar pedang itu, Wi Hong mengelak, tetapi jari pemuda itu sudah menotok pergelangan tangannya. Wi Hong tak dapat mempertahankan miliknya lagi, ia berteriak dan pedang sudah berpindah ke tangan anaknya.
"Jangan diberikan!" wanita itu menjerit marah dan penasaran. "Kalau kau yang kalah, tak mungkin Golok Maut tak dirampasnya, Giam Liong. Serahkan kepada Ibu dan jangan diberikan kepada musuhmu itu!"
Namun Giam Liong tak peduli. Ibunya bergerak hendak merebut lagi, tetapi pemuda ini sudah menotoknya hingga roboh. Apa boleh buat, ibunya terpaksa dilumpuhkan. Ketika Wi Hong memekik dan memaki dengan umpatan yang pedas, pemuda itu bergerak ke arah ayah angkatnya dan menyerahkan Pedang Matahari.
"Ini bukan milik kami, kukembalikan kepada Ayah. Semoga Ayah menerimanya dan sekarang kami pergi!"
Ketika Beng Tan melongo menerima pedang dengan perasaan campur aduk, Giam Liong memutar tubuhnya dan menyambar ibunya. Di sana wanita itu memaki-maki, namun Giam Liong tak membebaskan totokannya. Jika dibebaskan, tentu ibunya akan mengamuk, minimal menyerang Beng Tan dan merebut kembali Pedang Matahari itu.
Saat pemuda ini melangkah lebar meninggalkan orang tua angkatnya, dipandang seluruh murid Hek-yan-pang dengan gentar dan kagum, Giam Liong tiba di tepi pulau dan menendang sepotong papan. Papan itu terlempar masuk ke telaga. Giam Liong berjungkir balik dan melayang turun di atas papan itu dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Ketika pemuda itu menggerakkan tangan kiri—karena tangan kanan masih memanggul ibunya yang berteriak-teriak tak dihiraukan—ia meluncur dan menyeberangi telaga dengan cepat, seolah berjalan di air.
"Anak yang hebat, pemuda yang mengagumkan!" Beng Tan tak terasa memuji, matanya terbelalak mengikuti gerak-gerik bekas anak angkatnya itu. Murid-murid lain pun mengangguk kagum, memandang dengan sorot mata takjub hingga Giam Liong menghilang di seberang sana.
Namun, begitu pemuda itu lenyap, tiba-tiba Beng Tan batuk-batuk dan roboh pingsan. Pendekar itu terpukul oleh kenyataan pahit yang harus diterimanya. Dia kalah oleh bekas anak didiknya sendiri dalam pertarungan mati-hidup. Karena bekas anak didiknya itu adalah keturunan Si Golok Maut—lawan paling lihai sebelum dia berhadapan dengan pemuda itu—Beng Tan tak kuat menahan guncangan.
Ada dua hal yang menyebabkan pendekar ini tumbang. Pertama, luka dalamnya yang untung saja cepat diobati oleh Giam Liong. Kedua, dia terguncang karena mengetahui Giam Liong bukan anak kandungnya. Tadi, saat marah kepada Giam Liong, dia belum merasakan sesak itu. Namun, begitu pemuda itu pergi, kekecewaan dan penyesalan hebat melanda dirinya karena telah mewariskan ilmu-ilmunya kepada keturunan Si Golok Maut.
Swi Cu menjerit dan menyambar suaminya. Melihat wajah pucat dan suaminya sukar bernapas, wanita itu melolong dan cepat menolongnya. Ki Bi dan murid lainnya segera membantu membawa masuk ketua mereka. Di kamar, Beng Tan mendapat perawatan intensif. Swi Cu dan murid-muridnya menyalurkan sinkang untuk memberi pertolongan hingga Beng Tan sadar, namun wajah sang pendekar masih pucat, gemetar, dan menggigil.
"Kalian pergilah, biarkan istriku sendiri!" Beng Tan mengusir murid-muridnya. Dia tak enak melihat Ki Bi dan murid wanita lainnya di situ karena teringat kejadian lama. Ketika Ki Bi menyingkir dengan muka merah, Beng Tan bersandar dan minta didudukkan.
"Aku hanya ingin menerima sinkang darimu. Yang lain, tak usah sajalah!"
"Tapi lukamu berat, suamiku. Semakin banyak sinkang memasuki tubuhmu, tentu semakin baik!"
"Tapi mereka murid-murid wanita semua, mana aku mau? Tidak, hanya kau yang boleh, Cu-moi. Selebihnya, biar di luar dan menjaga!"
Swi Cu menangis. Ia merasa terharu dan menciumi suaminya. "Baiklah, aku akan membantumu. Biarlah kita sama-sama duduk berhadapan, tapi sinkangku tentu tak sebanyak yang kauinginkan. Pertolonganku tentu lama!"
"Tak apa. Suruh murid-murid kita mencari ramuan obat dan menggodoknya. Lukaku memang berat, paling tidak enam sampai dua belas bulan baru sembuh betul. Sudahlah, kita mulai, Niocu. Aku tak berani banyak bicara... uhh!"
Beng Tan batuk dan menyeringai kesakitan. Swi Cu menutup mulut dan mereka mulai bersila. Swi Cu memberi sinkang, namun wanita itu tidak bisa berkonsentrasi baik karena masih menyimpan dendam atas perbuatan sucinya dan Giam Liong, keturunan Sin Hauw, tokoh ganas yang dulu pernah membuat Hek-yan-pang diobrak-abrik. Namun, ketika dia menguatkan hati dan sang suami berbisik agar pikirannya tak melantur, nyonya itu mulai menarik perhatiannya untuk mengobati suami tercinta. Beng Tan menelan obat-obatan di samping aliran sinkang tersebut, sementara anak-anak murid berjaga di luar, membisikkan nama Giam Liong yang kini menjadi perbincangan menarik.