Chapter 68
Pemuda itu bukan lagi dipandang sebagai bekas putra pangcu mereka, melainkan memiliki "nilai lebih", yakni sebagai putra atau keturunan Si Golok Maut.
Karena nama Golok Maut sudah dikenal dan kegemparan yang dibuatnya mengguncang dunia kang-ouw, diam-diam anak murid Hek-yan-pang menyimpan bayangan ngeri tentang pemuda itu. Sepak terjang pemuda ini tentu akan lebih hebat daripada ayahnya. Mengingat ketua mereka kalah di tangan pemuda itu, yang telah mewarisi pula kitab-kitab mendiang ayah kandungnya, murid-murid Hek-yan-pang bergidik, kagum, sekaligus ngeri membayangkan Giam Liong.
Ketua mereka terkenal sebagai pendekar kelas wahid yang tak tertandingi. Namun, fakta bahwa hari itu ia pecundang dan kalah oleh Giam Liong membuat para murid bergidik dan ngeri saat teringat pemuda itu. Apalagi, pemuda tersebut membawa Golok Penghisap Darah, Golok Maut!
Ketika mereka gentar dan saling berbisik, Beng Tan yang sudah seminggu mendapat pengobatan tiba-tiba berkata kepada istrinya bahwa ia ingin pergi.
"Apa? Kau gila? Dalam keadaan belum sembuh benar?"
"Hm, aku cukup sehat. Asal tidak bertanding lagi dengan pemuda itu, tentu aku kuat untuk bepergian seperti biasa. Kau tinggallah di sini, Niocu, aku mau pergi mendinginkan hati, juga untuk keperluan lain."
"Kau mau ke mana? Keperluan apa?"
"Mencari anak kita itu. Aku juga ingin menemukannya sendiri."
Saat Beng Tan menarik napas dengan wajah masygul dan muram, sang istri bergerak dan mencengkeram bahunya. "Aku ikut!" seruan itu mengejutkan suaminya. "Aku juga tak mau tinggal di sini kalau kau pergi!"
"Ikut? Ah!" Beng Tan melepaskan bahunya dan menggeleng. "Jangan, Niocu. Kau harus menjaga di sini mewakili aku!"
"Ada Ki Bi di sini!" sang istri berseru mengingatkan. "Dan ada adik-adik seperguruannya pula yang dapat mewakili kita. Kalau kau pergi, aku juga pergi, tak mau sendiri!"
Beng Tan tertegun. Istrinya sudah berkata lantang, dan tidak mungkin ia mendebat lagi. Semakin didebat, tentu istrinya semakin berang; salah-salah mereka bisa saling cekcok. Ketika Beng Tan mengangguk dan menghela napas, ia tidak punya pilihan lain selain menerima keputusan itu. Ia berdiri dan masuk ke kamar.
"Baiklah, kita siapkan buntalan kita. Mari pergi."
Para murid terkejut. Ki Bi tertegun ketika dipanggil dan mendengar keinginan sang pangcu, ia bengong, namun segera mengangguk menerima perintah. Hari itu juga Beng Tan meninggalkan markas untuk mencari anaknya yang hilang. Suami istri itu berangkat dengan kondisi Beng Tan yang agak terhuyung, meskipun luka-lukanya belum benar-benar sembuh.
"Harap Pangcu hati-hati. Maafkan kami hanya dapat mengantar sampai di luar telaga."
"Tak apa, ini pun cukup, Ki Bi. Pulanglah, dan urus pekerjaan sehari-hari seperti biasa."
Begitu Beng Tan bergerak dan menyambar istrinya, lalu berkelebat pergi, Ki Bi dan anak-anak murid yang lain terpaku. Mereka tahu kesedihan, wajah murung, serta gejolak perasaan di hati ketua mereka. Setelah sang ketua lenyap dan Ki Bi bersama anak murid kembali, Swi Cu bertanya kepada suaminya ke mana mereka menuju.
"Tak ada lain, kita cari di kota raja. Sekalian melihat atau mendengar sepak terjang Giam Liong!"
"Ke kota raja? Mencari... mencari Kedok Hitam itu?"
"Bukan dia, Istriku. Tapi barangkali melalui dia kita dapat menemukan anak kandung kita itu. Marilah!"
Beng Tan mempercepat langkahnya. Sang istri yang sempat tertegun pucat segera menyusul. Mereka terbang keluar masuk hutan, menyelinap, atau melompati jurang curam dengan gerakan secepat siluman. Dilihat sepintas, jago pedang ini seolah sembuh total; tak ada yang tahu bahwa ia beberapa kali menahan sakit saat terpaksa mengeluarkan tenaga berlebihan, seperti mendaki atau berlari kelewat cepat. Ketika suami istri itu terbang menuju utara ke kota raja, Giam Liong dan ibunya mungkin sudah membuat gempar di istana.
Mari kita tengok dahulu suatu tempat di Laut Selatan (Lam-hai). Kita tinggalkan masalah Giam Liong maupun Beng Tan dan istrinya. Mari kita kunjungi suatu ceruk atau gua di bawah dinding terjal Laut Selatan. Jauh dari keramaian dunia, tampak sederetan gua yang angker dan gelap di bawah dinding terjal pantai selatan. Dilihat dari atas, tak ada yang tahu bahwa terdapat sekumpulan gua di situ. Hanya jika orang turun dan berani merayap ke bawah dari ketinggian beratus-ratus meter, barulah mereka akan tahu keberadaan deretan gua hitam ini.
Tak ada jalan masuk ke situ kecuali melalui dinding terjal yang berlumut dan tampaknya tak pernah dijamah manusia. Karena sederetan gua hitam ini kelihatan sunyi dan angker, hanya burung atau walet yang tahu, maka pantas jika orang menyebut tempat ini sebagai Gua Siluman.
Ombak yang menderu menghantam dinding karang memang tampaknya tidak mungkin ditinggali manusia. Tempat itu pantas disebut sebagai tempat siluman karena hanya makhluk halus yang mungkin sanggup tinggal di sana. Gua-gua hitam yang berjajar itu memang pas untuk tempat tinggal siluman. Namun, ketika sesosok bayangan putih muncul dan keluar dari salah satu gua itu, orang akan tertegun.
Silumankah dia? Hantu yang sedang mencari hawa segar? Jika dilihat oleh nelayan atau orang penakut yang sudah terbiasa dengan cerita menyeramkan, mungkin begitu jawabannya. Namun, jika orang mau melihat dari dekat tanpa rasa takut, mereka akan tertegun melihat sosok ini: seorang berwajah tampan dengan pakaian sederhana dari bahan blacu yang dijahit tangan, amat bersahaja!
Siapakah dia? Inilah Han Han, putra atau murid Im Yang Cinjin yang sakti!
Pagi itu ia muncul untuk mulai berlatih. Kedua jari tangannya digerakkan ke bawah, dan jari-jari yang berkerotok itu tiba-tiba mengeluarkan dua sinar berbeda: satu putih, satu kebiruan. Han Han sedang melemaskan diri dengan pukulan Imkun (Pukulan Sakti Im Yang). Ketika jari-jarinya semakin berkerotok dan sinar kebiruan serta putih di kedua lengannya semakin terang, melebar, dan menyilaukan mata, pemuda ini mendadak bergerak terjun ke bawah, menyambut debur ombak yang menghantam dinding karang.
"Haiiiitttt!" Pekik panjang itu menggetarkan seluruh pantai samudra.
Dinding karang serasa berderak saat kedua lengan Han Han menyambar ke bawah, menampar gulungan ombak setinggi rumah. Sinar biru dan putih itu bercuitan dahsyat, menggelegar menghantam ombak hingga air setinggi rumah yang menghajar dinding karang itu tiba-tiba tertahan, ambyar, dan tertolak balik.
"Byarrr!" Han Han berjungkir balik turun di tempat yang kosong. Air tak sampai ke sana karena pukulan Han Han menghajar bukit ombak tersebut hingga meluncur turun dengan tenang. Namun, karena ombak di belakangnya menyusul, Han Han melejit dan meloncat tinggi ke atas untuk kembali menggerakkan kedua tangannya.
"Byar-byarr!" Han Han mulai berkelebatan.
Pemuda ini terus berlatih karena ombak yang dihajar terpental balik, sementara ombak di belakangnya terus mendorong dan menyerang lagi. Gulungan air setinggi bukit sudah biasa menghantam dinding karang ini. Karena Han Han harus menahan atau mementalkan mereka tanpa membuat tempat pijakannya basah, pemuda itu melengking dan memukul ke depan, menghalau bukit-bukit ombak yang kian ganas. Ombak-ombak itu rupanya seolah marah karena pekerjaannya diganggu.
Han Han diserang, dan pemuda itu berkelebatan sambil memukulkan kedua lengannya. Ketika sinar biru dan putih berkeredepan menyilaukan mata dan tubuh pemuda itu tidak lagi menginjak tanah, muncul sesosok bayangan lain di muka gua: seorang tosu berpakaian putih yang berseri-seri, tertawa melihat perbuatan pemuda itu.
"Bagus, hebat, dan bagus pukulanmu, Han Han. Tapi sekarang, kerahkan tenaga Im-kang dan bekukan bukit ombak itu!"
Han Han menoleh. Ia tidak terkejut melihat seruan kakek itu. Itulah gurunya, Im Yang Cinjin atau Yang Im Cinjin, kakek sakti yang muncul untuk melihat latihannya. Ketika kakek itu berseru sementara sebuah bukit ombak kembali menyerang, menggulung, dan hendak membungkus tubuhnya, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan bentakan dahsyat. Kedua lengannya tiba-tiba memutih berkilauan bagai salju.
"Klap!"
Guntur serasa memekakkan telinga. Ledakan dahsyat keluar dari tangan pemuda itu, menyambar ombak setinggi bukit. Hawa dingin menyambar, dan aneh sekali, ombak itu tidak lagi ambyar melainkan membeku seperti bukit es!
"Bagus!" Yang Im Cinjin terkekeh-kekeh. "Lakukan lagi, Han Han. Pukul dan buat yang lain-lain juga begitu!"
Han Han membentak lagi. Gulungan ombak di belakang bukit es yang sudah beku itu mengamuk marah. Pemuda itu berkelebat, dan kembali dua sinar putih meluncur dari tangannya. Hawa dingin yang membekukan tulang menyambut gulungan ombak yang lain.