Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 69

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 69

Ketika ledakan dahsyat memekakkan tempat itu dan sinar putih bertemu ombak setinggi gunung, ombak-ombak tersebut membeku dan "berdiri" seperti bukit es.

Han Han berkelebatan, menerima ombak-ombak lainnya, membentak, dan mengeluarkan pukulan Im-nya yang dahsyat. Ketika gunung-gunung atau bukit es muncul susul-menyusul, dengan cepat dan luar biasa Han Han telah mengubah puluhan ombak Laut Selatan menjadi gunung atau bukit es yang baru.

"Ha-ha, bagus. Luar biasa sekali. Buatlah seratus gunung di sekitar tempat ini, muridku. Bentengi dinding karang ini dengan gunung-gunung es!"

Han Han tak berhenti dan terus bergerak. Pemuda itu berkelebatan dari satu gunung es ke gunung es yang lain, menghantam atau menyambut ombak-ombak setinggi bukit untuk dibekukan. Ketika tak lama kemudian seratus gunung telah dibuat dan tempat itu penuh dengan bukit-bukit beku, Han Han telah mengubah air menjadi batu. Yang Im Cinjin tertawa tergelak melihat kehebatan muridnya, yang kini berhenti dan berdiri gagah di sebuah bukit es bagaikan seekor rajawali sakti.

"Luar biasa!" kakek itu berseru. "Kepandaianku benar-benar telah kauwarisi dengan baik, Han Han. Tapi coba cairkan bukit-bukit itu dan kembalikan mereka kepada asalnya!"

"Baik," Han Han berkelebat turun. Kedua lengannya tiba-tiba berkerotok dan berubah merah marong bagaikan api. "Aku akan mengeluarkan tenaga Yang (panas), Suhu. Coba lihat apakah ini pun sudah sempurna... blarr!"

Pemuda itu membalik dan menghantam bukit di depannya, yakni air samudra yang beku. Begitu sinar merah menyambar dan mengeluarkan ledakan dahsyat bagaikan petir, tiba-tiba bukit es itu ambyar dan rontok berguguran. Selanjutnya, Han Han berkelebatan lagi, menyambar dari satu gunung es ke gunung yang lain, menghantam atau menyentuhkan kedua lengannya yang merah marong itu kepada bukit-bukit ciptaan. Ketika bukit-bukit itu berguguran dan air yang beku mencair lagi, samudra kembali bergolak, bukit-bukit itu lenyap, dan Han Han beterbangan di atas permukaan Laut Selatan.

"Ha-ha, menakjubkan dan luar biasa!" Yang Im Cinjin memuji dan bertepuk tangan. "Pukulan panasmu pun sudah nyaris menyamai aku, Han Han. Ah, luar biasa dan menakjubkan!"

Ketika debur atau hantaman ombak kembali terdengar, Han Han telah memecahkan gunung-gunung es itu. Pemuda ini bergerak naik-turun di antara bukit-bukit ombak yang menyerangnya. Laut Selatan kembali bergolak setelah tadi sejenak didiamkan pemuda ini. Han Han telah "menjinakkan" mereka dengan mengubahnya sebagai bukit-bukit es. Itulah pukulan Im-kang atau Dingin yang luar biasa, kini ia menunjukkan pukulan Yang-kang atau Panas yang tak kalah hebatnya.

Ketika Laut Selatan mengamuk namun Han Han berseliweran naik-turun, Yang Im Cinjin berkelebat dan turun tangan menghadapi muridnya sendiri. "Bagus, sekarang Pinto (aku) yang maju. Awas, tahan pukulan!"

Han Han terkejut. Gurunya menyambar bagaikan siluman dan tahu-tahu sudah bergerak di atas lautan pula, tidak menginjak air melainkan beterbangan seperti bersayap, menyerang, dan menyambarnya bagaikan garuda mematuk-matuk. Gurunya itu telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi; dengan beterbangan seperti burung, gurunya melakukan tamparan-tamparan dahsyat. Dingin dan panas silih berganti hingga ombak laut pun sering berubah-ubah, sebentar beku, sebentar cair.

Ketika Han Han terkejut namun girang, ia mengelak dan menangkis, maka guru dan murid itu pun bertanding di atas lautan.

"Ha-ha, bagus, Han Han. Balas Pinto dan coba terima ini... dess!"

Han Han berjungkir balik. Gurunya melakukan dorongan dahsyat dan ia menerima, jatuh, tapi menahan dengan pukulan dingin pula. Ketika gurunya terdorong tapi ia terpental, ombak membeku dan dijadikan tempat berpijak, maka Yang Im Cinjin sudah mengubah pukulannya dan menyerang kembali.

"Yang ini... blarr!"

Han Han dipaksa bergerak cepat, membentak, dan menangkis pukulan gurunya itu. Ledakan bagaikan halilintar memecahkan gendang telinga. Yang Im Cinjin bergerak dan menyerang lagi dengan cepat dan bertubi-tubi. Dentuman atau suara menggelegar silih berganti mengisi hiruk-pikuk Laut Selatan. Ketika dua bayangan putih saling sambar dan masing-masing saling desak atau dorong, tampaklah bahwa Han Han mampu mengimbangi gurunya, meskipun tak mampu mendesak karena gurunya juga mampu bertahan.

"Bagus... bagus!" gurunya terkekeh-kekeh. "Cepat dan luar biasa sekali kemajuanmu, Han Han. Ah, Pinto sekarang mulai lelah... des-dess!"

Sang tosu tampak terdorong, kalah muda dan kalah usia, tapi tiba-tiba ia membalas dengan sebuah sapuan kaki. Han Han tak menduga dan roboh terlempar. Ketika mereka kembali bertanding dan Yang Im Cinjin berseri-seri, tertawa, dan memuji-muji muridnya, tak terasa tiga jam lebih mereka bertanding hingga sang tosu mandi keringat.

"Cukup!" akhirnya seruan itu menghentikan keduanya. "Pinto sudah puas melihat kemajuanmu, Han Han. Kepandaianmu sudah benar-benar menyamai Pinto!"

Ketika tosu itu berjungkir balik dan hinggap di gua-gua hitam, mengebut, dan mengusap tubuhnya yang mandi keringat, Han Han juga meloncat berjungkir balik dan berdiri gagah di batu karang di atas gurunya, mandi peluh dan merasa gembira tapi tak selelah gurunya.

"Apakah Teecu benar-benar tak memalukan, Suhu?"

"Ha-ha, tidak, justru kau mengagumkan. Lima belas tahun berlatih ternyata telah sanggup mengubah dirimu seperti ini. Ah, Pinto kagum, Han Han. Kau luar biasa dan hebat sekali!"

Ketika tosu itu berkelebat naik dan berdiri di depan muridnya, Han Han tersenyum dan menjatuhkan diri berlutut. "Ini berkat jerih payah Suhu. Kalau Suhu tidak mendidik atau menggemblengku, tak mungkin aku bisa begini. Terima kasih, Suhu. Ini semua berkat budimu!"

"Ah, bangunlah," sang guru berseri. "Tak ada budi atau jasa baik, Han Han. Semua ini adalah atas kehendak Yang Mahakuasa. Bangkitlah, Pinto ingin berbicara sesuatu denganmu."

Lalu ketika muridnya bangkit berdiri dan berseri-seri, Im Yang Cinjin juga berseri dan gembira. Kakek itu memandang muridnya lagi. "Beberapa hari ini kulihat kau sering memandang keluar. Apakah ada sesuatu yang sedang kaupikirkan, Han Han? Ayolah, aku menangkap sesuatu darimu!"

Han Han tiba-tiba berkerut kening. Dipandang dan ditanya seperti itu, mendadak saja wajah kegembiraannya lenyap. Sang guru tersenyum lebar, tapi sorot mata gurunya memancarkan hal lain, seolah ada sesuatu yang juga ingin dikatakan gurunya. Ketika Han Han tertegun dan tak segera menjawab, gurunya menarik napas dan tiba-tiba kakek itu melayang turun lalu berseru, "Mari masuk ke gua, kita bicara di dalam."

Han Han terkejut. Melihat gurunya turun dan berkelebat ke dalam gua, tiba-tiba ia pun mengikuti. Gurunya rupanya juga hendak berkata sesuatu sementara ia pun juga memiliki ganjalan. Pucuk dicinta ulam tiba, gurunya hendak bicara.

Maka, ketika Han Han berkelebat dan turun memasuki gua, dua orang itu lenyap dari atas batu karang. Di sana Im Yang Cinjin sudah bersila menunggu muridnya. Sikapnya tampak tenang, namun sorot matanya serius, hal yang justru membuat Han Han tergetar.

"Duduklah, dan katakan apa yang menjadi ganjalan," Han Han terkejut karena gurunya seolah telah lebih dulu tahu. "Pinto melihat gerak-gerikmu yang aneh pada hari-hari belakangan ini, Han Han. Dan kebetulan Pinto juga mau bicara padamu. Barangkali, pembicaraan kita sama!"

"Hm," Han Han menunduk, duduk bersila di depan gurunya, kening berkerut. "Kau rupanya tahu sebelum kuberitahu, Suhu. Agaknya tak perlu Teecu bicara karena Suhu sudah menangkapnya!"

"Tidak, jangan begitu," sang tosu mengebutkan lengan bajunya. "Pinto juga manusia biasa, Han Han, bisa keliru atau salah. Daripada mendahului yang belum tentu benar, lebih baik kau bicara apa yang selama ini kaupikirkan. Kau selalu memandang keluar Gua Siluman!"

"Betul," Han Han tak menyembunyikan rahasianya lagi. "Teecu merasakan sesuatu yang lain daripada yang lain, Suhu. Teecu seolah tertarik oleh sesuatu di luar yang selama ini belum Teecu ketahui."

"Maksudmu?"

"Maaf, Teecu... Teecu tak berani bicara!"

"Hm, tak berani bicara bukan sikap yang selama ini kuajarkan, Han Han. Pinto tak pernah mengajarimu untuk menyimpan atau menyembunyikan rahasia. Kau harus jujur dan bicara benar, atau justru Pinto akan salah paham kepadamu dan menduga yang tidak-tidak!"

"Maafkan Teecu..." Han Han tiba-tiba menarik napas dalam-dalam. "Teecu ingin bertanya sesuatu, Suhu, tetapi khawatir Suhu marah atau tersinggung!"

"Siancai, Pinto tak pernah marah untuk hal-hal yang benar. Kalau kau ingin bicara, silakan bicara, jangan dipendam!"

"Suhu tak akan marah?"

"Sudah kubilang tak akan marah untuk hal-hal yang benar, Han Han. Pinto juga akan bicara padamu akan sesuatu!"

"Baiklah, kalau begitu maaf. Teecu akan bicara..."

Ketika Han Han membetulkan letak kakinya dan bersila tegak, muka menghadap gurunya, pertanyaan yang pertama kali keluar adalah apakah gurunya itu pernah menikah.

"Maaf, Teecu hanya bertanya saja, Suhu. Apakah Suhu pernah menikah dan punya anak?"

"Siancai, pertanyaanmu mencengangkan. Tapi tidak apa. Pinto jawab bahwa Pinto belum pernah menikah karena Pinto adalah pertapa! Kenapa kautanyakan ini dan adakah itu kaitannya dengan perasaan yang mengganjal di hatimu?"

"Benar," Han Han berdebar, girang karena gurunya tak marah. "Teecu menanyakan ini karena ada rentetannya, Suhu, yakni apakah benar kadang-kadang Suhu menganggap Teecu sebagai anak, di samping murid?"

"Hm!" sang tosu mengurut jenggot, bersinar-sinar, terkejut tapi juga heran akan pertanyaan muridnya itu. Tapi ketika Im Yang Cinjin tersenyum dan tertawa ramah, wajahnya benar-benar tidak menampakkan rasa marah. Ia justru menegur muridnya itu, "Aneh. Apa kaitannya semua itu dengan pertanyaanmu, Han Han?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment