Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 70

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 70

"Dan apakah perlu Pinto jawab?"

"Teecu merasa perlu, karena diam-diam Teecu juga merasa aneh!"

"Siancai, aku yang seharusnya bicara aneh, tapi kau malah yang merasakan serupa. Baiklah, apa keanehanmu itu, Han Han? Dan kenapa kau merasa aneh?"

"Suhu menyatakan tidak menikah, tapi mempunyai anak seperti Teecu. Suhu menganggap Teecu sebagai murid, tapi acap kali kasih sayang Suhu seperti ayah terhadap anaknya. Apakah ini bukan aneh, Suhu? Bagaimana Teecu tidak akan merasa bingung jika Suhu tak pernah beristri tetapi mempunyai anak seperti Teecu?"

"Ha-ha!" tawa tosu itu meledak tak dapat ditahan. Sekarang dia tahu apa tujuan dan ke mana arah kata-kata Han Han ini. "Kau bingung karena memendamnya sendirian, Han Han. Kau merasa tak mengerti dan aneh karena selama ini kau tak pernah membicarakannya dengan aku. Baiklah, Pinto katakan bahwa semua perasaanmu itu salah; bahwa kau benar-benar bukan anak Pinto, melainkan murid. Tapi karena Pinto juga menyayangimu sebagai anak sendiri, seperti yang kaurasakan, maka itu tidak aneh karena cinta atau kasih sayang dapat timbul di mana saja, untuk siapa saja!"

"Jadi, Teecu bukan anak?"

"Bukan, mana mungkin. Pinto adalah seorang pertapa, Han Han, selamanya belum pernah menikah. Dan kalau kau sudah bertanya tentang ini, maka kebetulan Pinto juga akan bicara yang serupa. Hm, dengarlah!"

Ketika si tosu duduk berseri dan memandang wajah muridnya itu, Han Han tampak serius mendengarkan dengan saksama. Im Yang Cinjin menarik napas dalam-dalam.

"Keadaan ini memang harus kauketahui; rahasia sudah sepatutnya dibuka. Dan karena kau sudah memulai pertanyaan itu, maka Pinto juga akan bicara tentang dirimu!"

Han Han berdebar, telinganya bergerak ke atas seperti kelinci yang siap mendengarkan sesuatu.

"Kau belum tahu siapa dirimu sebenarnya, bukan?" sang guru bertanya, dijawab gelengan kepala.

"Bagus, Pinto juga tidak tahu, Han Han. Kau dan aku sebenarnya sama-sama tidak tahu siapa dan dari mana kau ini!"

"Apa?" Han Han kaget. "Suhu tak tahu siapa atau dari mana Teecu ini? Apakah Teecu muncul begitu saja di atas bumi?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tapi kalau dikatakan Pinto tak tahu sama sekali dari mana dirimu, maka hal itu juga tidak benar, Han Han. Maksud Pinto adalah Pinto tidak tahu siapa ayah ibumu!"

"Kalau begitu, bagaimana Suhu dapat mengambil Teecu?"

"Aku menemukan dirimu ketika dibuang seorang wanita berotak miring. Kamu dilempar di rumput kering ketika wanita itu hendak mencarikan makanan untukmu."

"Ah, siapa wanita ini, Suhu?"

"Dengarlah, sabar dulu," tosu itu tampak menghela napas mengenang peristiwa hampir dua puluh tahun yang lalu. "Ya, waktu itu Pinto sedang bepergian. Kebetulan saja kalau Pinto bertemu dengan wanita ini. Dialah yang membawa dirimu dan meninggalkanmu di tepi hutan. Kau menangis terus-terusan waktu itu, menarik perhatian Pinto yang segera datang. Ketika Pinto melihat bahwa kau di tangan wanita itu, yang menamparmu dan menyuruhmu diam, rupanya wanita itu sadar bahwa kau lapar. Wanita itu lalu pergi mencari pisang untukmu. Tapi karena kau menangis melengking-lengking dan semut menggigiti tubuhmu, maka Pinto tak tahan dan segera mengangkatmu. Dan tak lama kemudian wanita itu datang..."

"Lalu bagaimana, Suhu? Apakah dia wanita biasa atau orang persilatan?"

Im Yang Cinjin tersenyum. Pertanyaan muridnya itu amat bernafsu dan Han Han seketika sadar, lalu merasa malu. Namun, ketika tosu ini mengangguk dan menjentikkan kukunya mengusir seekor semut merah, dia berkata, "Dia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita lihai. Tapi karena saat itu agaknya dia terganggu jiwanya dan menderita tekanan batin berat, maka Pinto menyelamatkanmu dari tangannya."

"Siapa wanita ini, dari mana asalnya?"

"Pinto tak tahu namanya, Han Han, tapi Pinto tahu dari..."

"Dari mana dia!" Han Han bersemangat. "Apakah kau tahu ilmu silatnya, Suhu? Dan apakah wanita itu musuh orang tuaku?"

"Aku tak tahu, kurang begitu jelas. Tapi karena dia membawamu dan mau mencarikan makanan untukmu, tentunya wanita itu bukan musuh, meskipun entah bagaimana dia bisa gila dan tertawa-tawa sepanjang jalan."

"Kalau begitu siapa dia, coba Suhu sebutkan!"

"Dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo..."

"Hek-yan Tai-bo? Siapa dia ini, Suhu? Kenapa aku tak mendengar namanya?"

"Hm, nenek ini sudah meninggal, Han Han. Pinto memang belum pernah menceritakan nama ini kepadamu. Dia adalah pewaris Hek-yan-pang, guru atau nenek guru dari ketua sekarang yang entah siapa."

"Ah, begitukah? Dan wanita gila itu?"

"Pinto tak tahu, kecuali bahwa dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo itu. Kalau kau ingin tahu, tentu saja kau harus mencari atau menemukan wanita ini kalau dia masih hidup..."

"Hm, Teecu akan mencarinya, Suhu. Dan Teecu akan menyelidiki bagaimana Teecu sampai di tangannya. Tapi kalau dia sudah tiada, tentunya Teecu akan ke Hek-yan-pang saja menyelidiki itu! Tahukah Suhu di mana markas perkumpulan ini?"

Im Yang Cinjin tersenyum. "Tampaknya ini yang membuatmu akhir-akhir ini melamun. Hm, tentu saja Pinto tahu di mana markas itu, Han Han. Justru Pinto memang akan menyuruhmu pergi untuk mencari tahu! Sudah waktunya kau meninggalkan Guha Siluman, sudah waktunya pula Pinto melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti untuk menggemblengmu. Apakah kau sudah siap untuk meninggalkan guha?"

Han Han terkejut. Tiba-tiba saja dia terbelalak memandang suhunya. Suhunya sudah berkata bahwa dia memang harus meninggalkan Guha Siluman, meninggalkan pula gurunya yang akan melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti. Ketika Han Han tertegun dan sadar, matanya tiba-tiba berair. Dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

"Suhu, tidak kusangkal bahwa aku memang ingin meninggalkan tempat ini. Tidak kusangkal bahwa Teecu ingin tahu tentang keadaan diri Teecu. Tapi Teecu tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, Suhu. Teecu ingin pergi bersama-sama dengan Suhu, bukan sendirian!"

"Hm, sudah tiba waktunya perpisahan," Im Yang Cinjin terharu dan mengusap-usap rambut muridnya. Han Han menangis ditahan-tahan.

"Tak perlu mencucurkan air mata karena ada pertemuan, pasti ada perpisahan, Han Han. Kalau kau menangis dan mengguguk seperti ini, justru Pinto yang menjadi malu. Tenanglah, dan bersikaplah ksatria!"

Han Han hampir tak kuat. Setelah tangan gurunya menyentuh kepalanya, seluruh getaran cinta kasih itu terasa benar, kuat, dan mencekam. Han Han menubruk dan memeluk suhunya. Ketika dia mengguguk dan tak menghiraukan kata-kata gurunya, menangis seperti anak kecil, Im Yang Cinjin memejamkan mata karena dua titik air mata akhirnya runtuh juga. Namun, tosu ini akhirnya melepaskan tangannya. Han Han diminta diam dan ditiuplah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment