Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 71

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 71

Ubun-ubun muridnya disentuh untuk memberi kekuatan. Ketika Han Han mampu mengendalikan diri dan tangisnya tinggal isak kecil, ia menutupi muka, tidak berani memandang wajah gurunya.

"Suhu, lebih baik teecu tidak usah meninggalkan Gua Siluman. Teecu ingin tetap menemani Suhu di sini!"

"Hm, bodoh!" Im Yang Cinjin tertawa, lebih dulu mampu menguasai hatinya. "Kau seperti anak ayam kehilangan induknya. Kau tak bakal dewasa dan mampu mandiri. Tidak, justru pinto tak ingin lagi diganggu olehmu. Tugas pinto sudah selesai, semua ilmu pinto telah kau warisi. Pinto ingin menyendiri dan bertapa lagi, justru karena itulah pinto ingin kau meninggalkan Gua Siluman. Kau harus mengisi masa mudamu dengan pengalaman, dan pengalaman yang paling baik adalah keluar dari gua ini."

Im Yang Cinjin melanjutkan, "Tanpa pertanyaan tentang ayah ibumu pun, pinto pasti akan menyuruhmu pergi. Tak baik seorang pemuda tinggal di sini seumur hidup. Kau tak dapat melaksanakan tugas pendekar dengan terus berdiam di sini. Kau tak dapat menolong si lemah dan si kecil bila hanya mengurung diri, padahal semua ilmu dan nasihat telah kuberikan. Karena itu, berangkatlah, Han Han. Sudah tiba waktunya untuk turun gunung!"

Han Han menangis dan menggigit bibir. Jika gurunya sudah bicara begitu, percuma saja membujuknya. Han Han sudah terbiasa hidup bertahun-tahun dengan gurunya, dan budi baik serta jasa gurunya sangat besar. Ketika gurunya berkata bahwa tanpa persoalan dirinya pun dia memang akan disuruh pergi, Han Han tiba-tiba tersedak dan terisak.

Im Yang Cinjin menepuk-nepuk punggung muridnya. Han Han belum pernah mengalami gejolak batin seperti ini, dan hal itu pun belum pernah diajarkan. Namun, ketika Im Yang Cinjin menyalurkan hawa hangat yang naik ke kepala, perasaan gundah itu perlahan lenyap. Han Han dapat menguasai dirinya lagi.

"Tak ada pertemuan tanpa perpisahan. Bersiap dan laksanakan tugasmu, Han Han. Ambil buntalanmu dan pergilah!"

Han Han menggigit bibir kuat-kuat. Meskipun tak menangis lagi, setitik dua air matanya masih jatuh. Perpisahan itu dirasanya sangat berat. Namun, setelah menguatkan hati, Han Han bangkit terhuyung dan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang.

Saat Han Han berlutut dan menggigil di depan gurunya, Im Yang Cinjin tampak tersenyum haru. Kakek itu diam-diam kagum karena muridnya sudah mampu menguatkan hati dengan mengeraskan dagu.

"Kau sudah siap?"

"Sudah."

"Baiklah, berangkat dan hati-hatilah, muridku. Doaku besertamu. Ingat, kau harus membantu yang lemah melawan yang kuat dan kejam. Tugas pendekar terletak di pundakmu. Cari dan temukan siapa orang tuamu."

"Suhu belum memberi tahu ciri-ciri wanita yang membawaku itu. Bagaimana rupanya dan apa lagi lainnya?"

"Ah, tak sukar. Dia cantik dan rambutnya terurai. Berpakaian merah dan membawa sebatang pedang. Ilmunya, Ang-in Kiam-sut (Silat Pedang Awan Merah), cukup berbahaya, meskipun tak perlu kau takuti."

"Terima kasih, dan selamat tinggal, Suhu. Teecu harap akan segera dapat mencari orang tua teecu dan kembali ke sini."

"Baiklah, hati-hati. Pinto tak dapat mengantar karena pinto juga akan segera bersamadhi. Doa dan restu pinto bersamamu!"

Han Han mencium kaki gurunya. Saat memberi hormat, hampir saja tangisnya meledak lagi. Untunglah, pemuda itu menguatkan batin dan menarik napas dalam-dalam. Ada nasihat bahwa bila seseorang sedang diguncang emosi, sebaiknya cepat-cepat mengalihkan perhatian pada napas. Ketika Han Han melakukan itu dan kedukaannya mereda, gurunya mengangguk dan tiba-tiba mendorongnya hingga ia mencelat.

"Pergilah, sampai bertemu lagi, muridku. Jaga diri baik-baik dan panggil pinto dengan ilmu batin jika kau benar-benar memerlukannya."

Han Han terlempar dan berjungkir balik. Saat gurunya mengibaskan lengan baju, serangkum angin kuat mengangkatnya hingga ia terlempar keluar gua. Namun, Han Han berseru keras dan mengebutkan lengan bajunya, lalu mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu, tangan mengembang ke samping seperti garuda yang akan terbang.

"Ha-ha, bagus, muridku. Pergunakan sekarang Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang ke Langit)!"

Han Han berseri-seri. Lupa pada perpisahan itu, ia melengking dan melempar tubuh ke atas. Kali ini, pemuda itu bergerak lurus dengan tangan terpentang lebar. Dia menjejakkan kaki untuk melesat naik seperti burung yang terbang tinggi, kaki merapat sementara lengan menekan ke bawah. Angin yang amat kuat mementalkannya, membuat pemuda itu meluncur tinggi sekali.

Ketika Gua Siluman sudah ada di bawah dan Han Han hinggap di tebing, ia berseru keras dan menjejakkan kakinya lagi. Gerakan itu diulang hingga sebentar kemudian ia sudah jauh di bawah gua. Jejakan kakinya luar biasa enteng hingga sekali tekan mampu membuatnya mencelat sekitar sepuluh sampai dua puluh meter.

Bukan main! Ketika ia hinggap di sana, debur ombak laut selatan hampir tak terdengar lagi. Gua Siluman sudah tak kelihatan karena kecil, jauh sekali.

"Suhu, selamat tinggal. Sampai jumpa lagi!"

"Ha-ha, sampai jumpa lagi, Han Han. Ingat semua nasihatku dan lakukanlah tugas luhur di dunia kang-ouw!"

Han Han sudah berkelebat. Setelah sampai di puncak tebing, tempat tinggalnya sudah tidak terlihat lagi. Itulah demonstrasi khikang atau ilmu suara yang dipertunjukkan suhunya. Han Han tadi juga mempergunakan ilmunya agar suhunya dapat mendengar di bawah. Ia pun bergerak turun ke bawah dengan menggunakan Huitiauw.

Setelah meninggalkan Gua Siluman dan tebing yang dihantam ombak, pemuda itu meluncur meninggalkan Laut Selatan menuju ke barat. Han Han mendapat ancer-ancer agar mencari ke daerah Kwang-si, dekat dengan markas Hek-yan-pang.

Ketika Han Han meluncur terbang dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa, beberapa perampok di hutan melongo dan terkejut. "Setan! Ibliskah itu? Atau siluman terbang?"

Han Han merasa gembira setelah berada di alam bebas. Dia bebas mempergunakan ilmunya setelah meninggalkan pertapaan, bebas melakukan apa saja yang dia suka. Saat melihat perampok di hutan, dia sengaja menggoda dan ingin mempermainkan mereka; dia lenyap dan muncul lagi di hutan sebelah, naik turun gunung seperti siluman terbang.

Namun, ketika malam tiba dan ia kelelahan karena sehari penuh menguras tenaga, Han Han lupa makan dan minum. Ia melihat sebuah kota yang gemerlap. Han Han berhenti dan bertanya kepada seseorang. Ternyata dia memasuki kota Na-ning, kota yang ramai. Tak lama kemudian, ia mencium bau masakan sedap dari rumah-rumah makan.

Perut Han Han berkeruyuk. Saat dua anak kecil terkekeh mendengar bunyi itu, Han Han mendekati sebuah restoran sambil berkali-kali memainkan cuping hidungnya. Namun celaka, seorang pelayan memandangnya dengan mata melotot. Han Han lupa bahwa pakaiannya kotor dan penuh debu, sehingga ia disangka pengemis. Saat ia memasuki rumah makan, pelayan mencegat dan membentaknya keluar.

"Heii, pengemis tak boleh masuk. Keluar dan jangan mengotori tempat ini!"

"Aku bukan pengemis," Han Han terkejut dan menahan marah. "Aku pelancong yang kemalaman di jalan."

"Tapi...."

"Maaf," Han Han mengeluarkan sekeping uang emas pemberian gurunya. "Aku mau masuk, Twako. Beri jalan dan jangan menghina!"

Ketika pelayan itu didorong dan uang emas dilempar ke atas meja hingga menancap dan melesak di kayu, pelayan itu terkejut. Ia sadar sedang berhadapan dengan seorang pemuda kang-ouw. Ia menjadi gugup dan gentar, tetapi bingung karena para tamu tiba-tiba menoleh, mengerutkan kening, dan menutup hidung karena bau pakaian Han Han yang berkeringat sangat menusuk. Han Han tidak menyadari hal itu karena baru kali ini ia memasuki rumah makan di kota besar. Biasanya, dia hanya makan di warung sederhana jika diajak gurunya keluar untuk urusan tertentu, seperti membeli pakaian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment