Chapter 72
Duduk dan berkumpul dengan kaum tani atau orang-orang sederhana yang hidupnya bersahaja. Mereka biasanya berpakaian kumal dan bau keringat bukanlah masalah, karena mereka adalah petani yang baru selesai membajak sawah atau bercocok tanam.
Begitu Han Han memasuki rumah makan ini, ia menjadi pusat perhatian banyak orang karena kebiasaan rumah makan di kota besar tentu berbeda dengan di kota kecil, apalagi dusun. Namun, dengan tenang, pemuda itu memilih sebuah meja dan duduk. Buntalannya diletakkan, dan Han Han mengebutkan ujung bajunya untuk merontokkan debu yang menempel.
"Celaka!" pelayan itu terburu-buru menghampiri, tampak pucat dan gugup. "Maaf, Tuan Muda, Anda sebaiknya ke belakang dulu. Jangan duduk di sini!"
"Kenapa?"
"Tamu-tamu lain tiba-tiba menyingkir. Mereka tak tahan dengan bau tubuhmu. Tuan Muda, mandilah dulu!"
"Hm, begitukah?" Han Han memerah mukanya. Mendengar suara cekikikan, ia segera menoleh ke kiri. Di sana ada seorang wanita cantik yang membawa payung. Wajahnya jelita, dan entah mengapa, jantung Han Han berdegup kencang. Ada rasa malu dan gugup karena ia merasa ditertawakan.
Saat Han Han tertegun, pelayan cepat-cepat menunjuk ke arah kamar mandi. "Mari, Tuan Muda, kuantar. Lima tail saja untuk sekali mandi!"
Han Han mengangguk. Ia akhirnya sadar bahwa bau keringatnya menjadi perhatian. Tamu-tamu di sekitarnya memang menyingkir, dan beberapa di antaranya bahkan membayar rekening lalu keluar karena merasa terganggu. Saat Han Han kembali setelah mandi, ia tampak gagah dan tampan dengan baju yang bersih.
"Ih, tampan dan mengagumkan. Persis seperti yang kuduga!"
Han Han terkejut. Suara itu nyaring namun merdu. Wanita cantik pembawa payung itu terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya tanpa malu-malu. "Mari, Tuan Muda. Duduk dan semeja saja denganku. Aku yang mentraktir!"
Wajah Han Han bersemu merah. Seumur hidup, ia belum pernah berdekatan dengan wanita karena sehari-harinya hanya bergaul dengan gurunya, seorang pertapa. Pelayan yang melihat perubahan penampilan Han Han kini meyakini bahwa pemuda itu bukanlah pengemis, lalu memberikan isyarat agar Han Han menerima ajakan tersebut.
"Ah, benar. Silakan duduk dan makan di sana, Tuan Muda. Nona itu rupanya juga ingin berkenalan denganmu. Sst...!" bisik pelayan itu. "Gadis itu wanita lihai. Tadi ia merobohkan dua pengemis yang datang mengganggu!"
Han Han tertegun. Ia salah tingkah karena baru saja keluar dari gua dan langsung berhadapan dengan wanita cantik. Darah mudanya berdebur kencang. Wanita itu memang menggairahkan dengan tubuh yang padat dan berisi. Namun, karena tawaran itu membuatnya gugup, Han Han terpaku. Tiba-tiba, wanita cantik itu melenggok berdiri dan menghampirinya.
Langkah wanita itu sangat memesona, mirip ular yang meliuk-liuk. Ketika lengan Han Han disambar dan wanita itu merangkul pundaknya, Han Han merasa panas dingin lalu segera melepaskan diri.
"Tuan Muda tidak usah takut, aku pun bukan harimau. Mari, kebetulan kita sendiri-sendiri. Duduk dan perkenalkan, namaku Eng Hwa!"
Han Han benar-benar gugup. Dipeluk seperti itu adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Meski ada sengatan yang menyetrum tubuhnya, ia segera mundur menjauh. Saat si cantik tersenyum lebar, Han Han membungkuk sopan dan kembali ke bangkunya sendiri.
"Maaf, aku tidak dapat menerima kehormatanmu, Nona. Terima kasih, tapi biarlah aku di bangkuku saja," jawab Han Han, lalu segera memesan makanan. "Aku minta air putih dan sayur bening. Boleh dengan beberapa bakpao!"
"Apa? Tuan Muda memesan sayur bening dan air putih?"
"Ya, itu kesukaanku. Sediakan dan cepat karena perutku lapar!"
Pelayan itu melongo, namun segera pergi. Melihat kesederhanaan Han Han, si cantik kembali melangkah menghampiri. "Bolehkah aku duduk bersamamu?"
Han Han tertegun.
"Maaf, aku bukan serigala atau harimau yang galak. Aku wanita biasa, namaku Eng Hwa. Aku perlu duduk di sini karena butuh perlindunganmu. Lihat, di luar ada tujuh pengemis yang melototiku. Mereka pasti akan menghajarku kalau aku keluar nanti!"
Han Han menengok. Benar saja, ada tujuh pengemis berdiri di depan pintu dengan sikap mengancam. Pelayan terkejut dan buru-buru menyingkir. Saat Han Han menerima pesanannya dan wanita itu duduk di sampingnya, Eng Hwa berbisik merapat.
"Itu orang-orang Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Dua di antara mereka tadi kuhajar karena mengganggu. Sekarang mereka memanggil teman-temannya. Mereka bertujuh!"
Han Han merasa terganggu dengan sentuhan tubuh wanita itu, namun ia segera menekan guncangan hatinya. "Nona tidak usah khawatir, ada aku di sini. Kenapa mereka mengganggumu tadi?"
"Mereka menyodor-nyodorkan piring sebelum makanku habis!"
"Hm, namaku Han Han, jangan panggil Tuan Muda. Aku tentu melindungimu. Jangan takut dan mari temani aku makan. Tapi maaf, pesananku amat sederhana!"
Han Han mulai menyantap sayurannya. Eng Hwa terbelalak melihat ketenangan Han Han. Ia menjelaskan bahwa tujuh pengemis itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah murid tingkat tinggi yang ditentukan oleh panjang tongkat mereka.
"Aku tidak takut," ujar Han Han tenang. "Mari makan, Nona. Biarkan saja mereka. Nanti aku yang menemui dan memberi penjelasan."
"Namaku Eng Hwa, jangan sebut Nona! Kalau kau menyuruhku memanggil Han Han, biarlah kau panggil namaku juga. Jangan panggil Nona agar aku tidak kikuk!"
"Baiklah, aku akan memanggilmu Cici. Kau tampaknya lebih tua dariku. Makanlah, Hwa-Cici. Sayur ini nanti keburu dingin."
Han Han terus menikmati makannya, bahkan menawarkan bakpao kepada Eng Hwa. Di luar, ketujuh pengemis itu tetap berjaga dengan tatapan tajam yang penuh ancaman. Ketika Eng Hwa selesai makan, Han Han berdiri.
"Hitung berapa yang kuhabiskan. Ini uang pembayarannya!" namun Eng Hwa terkekeh dan mendahului membayar.