Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 73

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 73

Pelayan yang dipanggil segera diberi sekepal uang perak, sementara uang Han Han dikembalikan. Ketika Han Han terkejut karena pembayarannya ditolak, Eng Hwa berkata bahwa pembelaan dan perlindungan Han Han jauh lebih berharga daripada sekadar hidangan di atas meja, membuat Han Han tersenyum tak berdaya.

"Aku tak dapat merepotkanmu untuk urusan sekecil ini. Pembelaan dan perlindunganmu jauh dari sekadar harga makanan. Lihat, mereka sudah bersiap-siap menyambut kita, Han Han. Mari temui mereka; aku jadi berbesar hati setelah berada di dekatmu!"

Han Han mengangguk. Pelayan mundur dan menjauh ketika tujuh pengemis itu mulai bergerak. Mereka tidak memasuki restoran karena rupanya memang tidak mau mengganggu pemilik. Setiap bulan, mereka sudah menerima semacam "upeti" dari rumah-rumah makan seperti ini. Ketika Han Han dan temannya melangkah keluar, para tamu tiba-tiba menyingkir dan beberapa di antaranya bersembunyi untuk menyaksikan kejadian itu. Di luar tentu terjadi keributan, namun dengan langkah tenang dan meyakinkan, Han Han tiba di pintu luar lalu membungkuk.

"Sobat-sobat agaknya menunggu kami. Baiklah, ada keperluan apa dan bolehkah aku bicara? Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang?"

"Tutup mulutmu!" seorang pengemis membentak, berkelebat, dan sudah berkacak pinggang di depan pemuda itu. Gerakannya ringan dan mengejutkan, tanda bahwa ia benar-benar pengemis lihai. "Kami tidak ada keperluan denganmu, anak muda. Yang kami perlukan adalah si sundal betina ini. Minggir, dan berikan dia kepada kami!"

Eng Hwa tampak ketakutan. "Tolong..." katanya. "Mereka pengemis-pengemis galak, Han Han. Ah, mati aku kalau dibentak-bentak begini!"

Han Han mengerutkan kening. Melihat gerak dan sikap lawan di depannya, ia segera tahu bahwa pengemis itu memang memiliki kepandaian cukup. Namun, karena itu belum ada apa-apanya dibandingkan *Huitiauw*-nya—*ginkang* yang diwarisi dari sang guru—Han Han tersenyum dan menjura, sekali lagi memberi hormat.

"Maaf, lo-kai. Agaknya setiap urusan dapat dibicarakan dan diselesaikan baik-baik. Kalau kalian ingin berurusan dengan Hwa-cici ini, tentu saja boleh, tapi harap kalian tidak mengeroyok seorang wanita. Tujuh laki-laki mengancam seorang wanita kukira kurang patut. Harap kalian tidak marah dan bersabar menahan diri..."

"Cerewet!" pengemis itu tiba-tiba bergerak, tangannya menyambar dan mencoba membanting Han Han. "Kusuruh minggir harap minggir, anak muda. Tak perlu banyak omong atau kau mampus... aduh!"

Teriakan itu mengejutkan teman-temannya. Pengemis yang tadi menyambar dan hendak menangkap Han Han justru terbanting sendiri. Dengan kecepatan kilat, Han Han menggerakkan kaki dan menggaet kaki si pengemis itu dengan cepat dan luar biasa hingga tak satu pun yang melihat, bahkan Eng Hwa yang ada di belakangnya pun tidak menyadarinya.

Saat semua orang terkejut dan Eng Hwa membelalakkan mata, ia merasa geli melihat pengemis itu terjatuh. Ia terkekeh-kekeh dan terpingkal. "Hi-hik, lucu dan menggelikan. Kalau tidak bisa menyerang, lebih baik jangan menyerang. Eh, minggir, Han Han. Biar orang-orang ini kuhadapi karena kalau hanya sekian saja barangkali aku mampu!"

Eng Hwa meloncat ke depan, ingin menunjukkan kepandaian dan pamer di depan Han Han. Ia membentak dan menusuk seorang pengemis. Pengemis-pengemis itu sedang terkejut oleh terbantingnya teman mereka; tiga orang menolong, sementara tiga lainnya tertegun melihat keadaan temannya. Maka, begitu Eng Hwa terkekeh dan menyerang dengan jari yang mencolok mata, pengemis yang diserang berteriak kaget dan cepat bergulingan, sementara tongkatnya menangkis.

"Tak!" tongkat itu terpental. Si pemilik terkejut namun segera melompat bangun dengan muka merah padam. Ketika ia membentak dan teman-temannya melotot, Eng Hwa menyerang di saat mereka tidak waspada. Terjadi saling serang; tongkat digerakkan bertubi-tubi, namun Eng Hwa lincah berkelit, belum satu pun pukulan mampir di tubuhnya.

Eng Hwa terkekeh dan berkelebatan ke sana-sini hingga satu ketika kakinya bergerak dan pengemis itu terjungkal. Selanjutnya, Eng Hwa membalas menyerang dan lawannya bergulingan menjauh karena kaki si cantik itu bertubi-tubi menendang tubuhnya. Nyata, Eng Hwa lebih tinggi kemampuannya. Namun, ketika Eng Hwa terus mendesak dan Han Han tersenyum melihat sepak terjang kawannya, enam pengemis lain bergerak dan menerjang Eng Hwa.

"Wanita busuk, biarlah kami menggebukimu sampai mampus... wut-wut-wut!" enam tongkat yang susul-menyusul bergerak ke arah Eng Hwa, mengepung wanita itu dari segala penjuru hingga ia kewalahan. Akhirnya, satu pukulan mengenai pundaknya.

Ketika Eng Hwa menjerit karena sakit, Han Han siap membentak. Namun, wanita itu justru bergerak dan mencabut payung yang tadi disisipkan di pinggangnya. "Kalian pengecut, mengeroyok seorang wanita. Baiklah, aku akan menghajar kalian dan lihat payungku ini... siap!"

Payung yang membuka-menutup tiba-tiba mengejutkan tujuh pengemis itu karena pandangan mereka terhalang. Payung hitam di tangan wanita itu bergerak cepat naik-turun, dan terdengar jeritan dua kali di sebelah kiri. Eng Hwa telah beraksi. Saat yang lain terkejut dan Eng Hwa tertawa, tangan kirinya bergerak di balik payung hitam. Lima sinar merah berturut-turut menyambar lima pengemis itu yang seketika terjungkal dan roboh.

"Aduh...!"

Han Han terkejut. Pertandingan selesai; tujuh pengemis itu terkapar di tanah dengan mata mendelik dan tubuh berkelojotan sebelum akhirnya diam, tewas. Saat Eng Hwa menyimpan payungnya dan tertawa, Han Han terbelalak.

"Hwa-cici, kau membunuh mereka. Kenapa kau lakukan ini? Kau bersikap demikian kejam?"

"Ah," tawa wanita itu aneh dan membangkitkan berahi. "Kau tahu sendiri siapa yang kejam dan siapa yang tidak, Han Han. Tujuh laki-laki mengeroyok wanita, apakah pantas? Kalau aku tidak membunuh, tentu aku yang dibunuh. Itu jamak. Aku tidak kejam, melainkan sekadar membela diri agar orang-orang Hek-i Kai-pang tidak lagi menghina aku!"

"Tapi... tapi..." Han Han masih tergetar, kaget dan marah. "Tujuh jiwa bukanlah main-main. Kau serampangan dan ganas!"

"Hm," Eng Hwa membalik, melipat payungnya. "Kau rupanya baru turun gunung, Han Han. Tak tahu siapa yang ganas dan siapa yang tidak. Kalau aku membiarkan diri saja, apakah mereka-mereka ini tidak menggangguku? Kalau aku tidak cepat-cepat merobohkan mereka, apakah mereka tidak akan semakin kurang ajar? Lihat ketika tadi kau bicara baik-baik, apa jadinya saat kau diserang dan mau dibanting? Mereka tak ada yang menggubris dan langsung menyerangku! Pantaskah orang-orang semacam ini diberi ampun? Kalau mereka dibiarkan hidup, mereka akan semakin berani, mungkin memanggil kawan-kawannya. Kalau tertangkap, aku tentu dibunuh dan diperkosa. Itu adalah watak orang-orang Hek-i Kai-pang!"

Han Han tertegun. Mendengar bahwa Hek-i Kai-pang suka membunuh atau memperkosa wanita, pemuda itu diam. Ia memang sudah membuktikan kekasaran mereka sendiri. Ia akhirnya diam saja tak membantah, meskipun tetap merasa tak puas dan kaget melihat betapa gampangnya Eng Hwa membunuh. Ia melihat sinar-sinar merah tadi dan terkejut karena itulah jarum-jarum berbahaya, mungkin malah beracun. Ketika ia membungkuk memeriksa mayat pengemis dan merasakan hawa panas pada jarum tersebut, Han Han seketika tak senang karena jarum itu benar-benar beracun.

"Kau seperti orang sesat!" Han Han memandang penuh selidik dengan muka merah. "Kau memiliki jarum beracun, Cici. Dan ini tak pantas dipunyai orang baik-baik. Kau rupanya wanita jahat!"

Eng Hwa terbelalak. Melihat Han Han marah dan menegurnya kasar, ia pun menjadi marah. Tapi, begitu beradu pandang dengan wajah Han Han yang tampan dan gagah, kemarahannya lenyap. Wanita itu terisak dan berkelebat pergi.

"Han Han, kau kasar dan tidak menghiraukan perasaan wanita. Kalau aku jahat, biarlah tak usah kaudekati aku lagi. Aku akan menghadapi orang-orang Hek-i Kai-pang yang tentu akan mencari aku!"

Ia lenyap meninggalkan pemuda itu beserta tujuh mayat pengemis yang membuat geger rumah makan. Han Han terkejut dan sadar. Ia mendengar teriakan dan seruan kaget di sekitar rumah makan itu. Karena ia menjadi ragu akan dugaannya sendiri—bahwa orang-orang Hek-i Kai-pang mungkin lebih jahat daripada Eng Hwa—ketika wanita itu menangis dan meninggalkannya, Han Han merasa tak enak dan bersalah. Ia berkelebat mengejar.

"Hwa-cici, tunggu....!"

Namun, Eng Hwa tak mau dengar. Wanita itu berlari cepat, melayang ke wuwungan sebuah rumah, dan terus bergerak seperti terbang dari satu rumah ke rumah lainnya, diam-diam menguji Han.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment