Chapter 74
Han Han tidak tahu apakah pemuda itu pandai dan mampu menyusul dirinya, tetapi secepat siluman, wanita itu sudah tiba di pintu kota sebelah timur.
Eng Hwa tidak mendengar gerakan dan menoleh. Dikiranya Han Han jauh tertinggal di belakang, hal yang mulai membuat wanita itu kecewa dan marah. Ia berencana kembali secara diam-diam untuk mencari pemuda itu dan menghajarnya.
Namun, ketika Han Han ada di dekatnya dan pemuda itu kebingungan tidak memanggil-manggil lagi, hanya mengikuti seperti bayangan, Eng Hwa terkejut sekali karena pemuda itu sangat dekat dengannya, tak lebih dari satu meter.
"Aih, mau apa mengejar aku?" wanita itu terkejut dan terpekik.
"Pergi kau, Han Han. Pergi dan enyahlah!" Sebuah pukulan yang dilepas untuk menghantam Han Han—guna menguji sekaligus mengetahui sampai di mana kepandaian pemuda itu—tiba-tiba digagalkan oleh Han Han yang berkelit ke kiri tanpa menangkis.
"Cici, aku barangkali salah, maafkan. Tapi tak layak kau meninggalkan tujuh mayat pengemis itu di rumah makan!"
"Apa pedulimu?" wanita itu membentak dan melepas pukulan lagi, lalu berjungkir balik melewati pintu kota yang tinggi. "Aku tidak peduli dengan mereka. Ada pemilik rumah makan dan yang lain di sana. Kalau kau mau menahan aku, silakan kalau mampu!"
Eng Hwa berkelebat dan terbang lagi, meluncur menuju hutan di depan. Ia tiba-tiba ingin mengetahui apakah Han Han mampu menandinginya. Tadi mungkin kebetulan saja pemuda itu ada di belakang karena beberapa kali ia memang agak memperlambat larinya untuk membelok atau melompati wuwungan rumah.
Ketika kini mereka di alam bebas dan Eng Hwa mengerahkan semua ilmu meringankan tubuhnya—terbang dan meluncur seperti kijang betina—wanita itu berharap Han Han tidak mampu mendekati. Namun, dugaan wanita ini keliru. Eng Hwa sudah hampir tiba di tepi hutan itu ketika ia ingin menoleh ke belakang, tetapi tidak mendengar gerakan Han Han. Begitu menoleh, ternyata Han Han tidak ada. Wanita itu tersenyum mengejek dan siap menertawakan pemuda itu sesampainya di hutan.
Namun, alangkah kagetnya wanita ini. Begitu ia membalik dan meneruskan lari ke hutan, siap terkekeh nyaring, tiba-tiba Han Han sudah ada di sana. Pemuda itu tegak di mulut hutan, berdiri menantinya. Dilihat sepintas, pemuda itu sudah lama di situ dan Eng Hwa tentu saja terpekik. Ketika ia berjungkir balik dan melayang turun, Han Han tersenyum memandangnya. Eng Hwa membentak dan menghantam pemuda itu.
"Jahanam keparat, kau jangan menertawakan aku!"
Dess! Han Han yang bergerak secepat kilat mengelak pukulan itu dan menghilang. Pukulan Eng Hwa mengenai tanah, menghancurkannya hingga berlubang, dan Eng Hwa berseru tertahan. Han Han tidak kelihatan batang hidungnya, membuat wanita itu kaget dan celingukan ke sana kemari. Namun, ketika di belakangnya terdengar suara berdehem dan Han Han ada di situ menegurnya kenapa ia menyerang, Eng Hwa terlonjak. Secepat kilat ia membalik dan menghantam pemuda itu lagi.
"Terkutuk, jangan mempermainkan aku, Han Han. Kalau kau berani, terimalah!"
Namun, Han Han lenyap dan berada di tempat lain lagi. Hal ini membuat lawan berulang kali melakukan serangan sia-sia. Eng Hwa mengamuk dan membalik sana-sini, namun Han Han selalu menghilang lebih dulu. Han Han mempergunakan *Huitiauwnya* hingga tidak mungkin Eng Hwa menemukannya. Akibatnya, wanita itu seperti berhadapan dengan iblis atau siluman. Ketika Eng Hwa yang pucat berteriak-teriak dan semua pukulannya selalu gagal, ia menjerit dan melepas satu pukulan lagi yang membuat sebatang pohon roboh.
"Han Han, jangan permainkan aku. Muncullah dan hadapi aku secara jantan!"
Brukk! Pohon besar itu tumbang dengan suara gemuruh, yang akhirnya ditutup oleh kehadiran Han Han yang tidak mempergunakan *Hui-thian-sintiauwnya* lagi.
"Aku di sini, tidak akan ke mana-mana. Asal kau tidak menyerangku, tentu aku tidak akan menghilang. Lihat, kau membuat suara hiruk-pikuk di tempat ini, Hwa-cici. Dan banyak orang rupanya datang mendengar keributan ini!"
Eng Hwa tertegun. "Orang? Banyak orang?"
"Ya, aku mendengar langkah kaki mereka. Masih jauh, tapi semuanya ke sini!"
"Keparat!" Eng Hwa merasa dipermainkan, padahal ia tidak mendengar atau melihat apa-apa. "Kau sombong dengan ilmumu yang tinggi, Han Han. Namun, aku tidak takut. Mari hadapi secara jantan!"
Siutt! Payung hitam yang ditarik tiba-tiba mengembang dan menutup pandangan Han Han, selanjutnya menusuk dan menyodok. Namun, Han Han bukanlah pengemis dari Hek-i Kai-pang tadi. Pemuda ini dengan mudah bergeser sana-sini dan sesekali tangannya mendorong. Payung tertahan dan serangan berikut gagal. Ketika Eng Hwa terkejut namun juga merasa kagum karena Han Han tidak menghilang dan menghadapi serangannya, aneh sekali wanita ini tiba-tiba terkekeh gembira.
"Bagus, begini baru memuaskan, Han Han. Tapi aku akan mengeluarkan semua kepandaianku dan hati-hatilah!"
"Tak apa," Han Han tersenyum. "Aku tahu maksudmu, Hwa-cici. Kau ingin tahu kepandaianku dan menguji. Keluarkanlah semua ilmumu dan juga jarum-jarummu itu!"
"Kau menantang? Awas!" Eng Hwa yang merasa panas dan marah tiba-tiba mengembangkan dan menutup payung di tangannya, bermaksud membingungkan Han Han. Payung menusuk dan membabat seperti pedang; kalau membuka, tiba-tiba menyambar seperti bendera. Namun, Han Han yang tenang dan tertawa saja tiba-tiba mengebutkan ujung lengan bajunya hingga satu saat wanita itu terpelanting!
"Hati-hati, kaulah yang harus waspada, Cici. Tapi betapapun ilmu payungmu tidak buruk."
Brett! Payung yang sobek ujungnya membuat pemiliknya bergulingan. Eng Hwa tiba-tiba berteriak marah. Enam sinar merah menyambar dari tangannya, tetapi Han Han tidak mengelak. Dibiarkannya sinar-sinar merah itu mengenai tubuhnya dan runtuh. Ketika Eng Hwa terkejut melompat bangun, beberapa bayangan hitam kini dilihat wanita itu. Han Han meminta agar tidak usah serang-menyerang lagi.
"Itulah mereka, lihat. Agaknya orang-orang dari Hek-i Kaipang!"
Benar saja, beberapa bayangan hitam muncul dan tahu-tahu sudah mengurung. Eng Hwa tidak menyerang lagi dan tertegun di situ, bukan memandang bayangan hitam ini, melainkan memandang Han Han. Wajahnya penuh takjub dan gembira, bola matanya berseri-seri. Ketika muncul semacam erangan lirih, mirip kucing merintih, Han Han mengerutkan kening. Ia mendengar bentakan orang-orang itu; seorang laki-laki tinggi kurus dengan tongkat yang hanya sekepal panjangnya.
"Siluman betina, apakah kau yang membunuh murid-murid Hek-i Kai-pang? Dan siapa dirimu!"
Eng Hwa terkejut, lalu tertawa. "Aih," katanya sadar. "Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang? Ada apa mencari-cari dan memburuku ke sini? Ah, benar, aku yang tadi membereskan tujuh murid-murid Hek-i Kai-pang itu. Dan kau, hmm... barangkali kau adalah Hek-i Sin-lo-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam)!"
Eng Hwa tidak takut dan memandang pengemis tinggi kurus ini. Ia bertemu dengan sepasang mata berkilat yang mencorong di malam gelap itu, belum lagi kilatan mata dari banyak orang Hek-i Kai-pang yang lain. Ketika laki-laki tinggi kurus itu, Hek-i Kai-pangcu (Ketua Hek-i Kai-pang), belum menjawab, seorang pengemis lain yang bertongkat lebih panjang sedikit maju mewakili.
"Siluman betina, kami belum tahu dirimu, tapi kau sudah berani membunuh anak-anak murid Hek-i Kai-pang. Sebutkan siapa kau dan kenapa kau membunuh murid-murid kami!"
"Hm, kau tentu Ji-lokai (Pengemis Kedua), wakil Hek-i Kaipang yang katanya pandai memainkan silat Kaw-tung (Tongkat Anjing). Apakah nama besarku belum kau ketahui? Aku Eng Hwa, julukanku Siankaw (Dewi Penyembelih Anjing). Kalau kau macam-macam dan ingin mencari perkara denganku, jangan salahkan aku kalau lehermu kutabas!"
"Wanita sombong!" Ji-lokai, pengemis itu tiba-tiba marah bukan main. "Kau besar mulut dan besar nyali, bocah. Kalau suaramu menggelegar, coba buktikan dengan kepandaian!"
Wut! Tongkat bergerak dan menyambar Eng Hwa. Menyusul lompatan panjang, pengemis ini tiba-tiba sudah diiringi suara menderu yang menggetarkan hati.
Eng Hwa memang sombong dan congkak karena adanya Han Han di situ. Ia sudah menguji dan menyaksikan kepandaian pemuda ini yang jauh beberapa tingkat di atasnya. Maka, ketika ia bicara merendahkan dan ketua atau wakil ketua Hek-i Kaipang itu dihina—sengaja mengeluarkan kata-kata yang membakar agar diserang, karena Han Han tentu akan membantu kalau ia terdesak nanti—Eng Hwa berkelit dan tertawa.
Namun, Ji-lokai memburu, tetap membayangi, dan tongkat tiba-tiba berubah tajam menyambar dahi. Sekali kena tentu celaka, paling tidak tulang dahi bisa retak. Karena Eng Hwa tahu ini dan berseru kaget, payung dikelebatkan untuk menangkis ke atas. Benturan senjata tak dapat dihindarkan, tetapi wanita itu terpelanting.
"Trak!" Eng Hwa kaget, bergulingan, lalu meloncat bangun. Nyata ia kalah tenaga dengan wakil ketua itu. Melihat lawan berhenti dan tertawa mengejek, sekali gebrakan itu menyatakan si pengemis di pihak unggul. Tapi karena itu belum memastikan, Eng Hwa melengking marah, maju, dan membentak lagi. Ia ganti menyerang duluan dan payungnya berkelebat tiga kali, menusuk atau membabat.
"Trak-trak-trak!" Eng Hwa tidak mau keras melawan keras. Ia tahu bahwa Ji-lokai memiliki kelebihan tenaga, mungkin karena pengemis itu laki-laki sementara ia perempuan. Maka begitu payung terpental membalik ke diri sendiri, Eng Hwa meliuk atau menggeser kaki, lalu payung dibuat lagi menyerang lawan tiga kali berturut-turut. Ji-lokai pun memuji; betapapun wanita itu memang hebat dan cerdik.