Chapter 75
Ketika Eng Hwa mengerahkan *gin-kang* dan berkelebatan menyambar-nyambar untuk mencoba mendahului lawan dengan kecepatan tubuhnya, Ji-lokai sibuk menangkis dan menghindar ke sana kemari. Eng Hwa mempercepat gerakannya, namun lawan tiba-tiba juga berkelebatan mengimbangi. Keduanya pun terlibat dalam pertarungan cepat.
Ketika Eng Hwa menang cepat dan payung di tangannya menusuk atau membacok, Ji-lokai sebagai pihak bertahan hanya bisa menggeram karena diserang bertubi-tubi. Namun, Hek-i Sin-lo-kai tiba-tiba berseru keras. Ia memerintahkan wakil ketuanya itu mengeluarkan *Hek-tung Sin-ciang* (Tangan Sakti Tongkat Hitam) untuk mengiringi gerakan *Hek-hoat* (Silat Tongkat Hitam), yakni ilmu silat yang tadi diejek Eng Hwa sebagai silat anjing.
Ji-lokai mengangguk dan membentak sambil menggerakkan tangan kirinya yang menderu lurus seperti tongkat hitam. Ia berani menangkis payung di tangan Eng Hwa. "Plak!" Payung itu pun terpental. Sekarang Eng Hwa kaget, dan tangan kiri lawannya mulai bergerak-gerak mengikuti gerakan tongkat. Eng Hwa merasa seolah diserang dua senjata karena lengan lawannya itu menyerupai kayu hitam yang keras, tidak lentur saat dipukul payungnya.
Saat Eng Hwa terkejut dan raut mukanya berubah, Ji-lokai terkekeh dan mendesak payungnya. Tak lama kemudian, Eng Hwa keteteran dan ruang gerak payungnya menyempit karena dikurung oleh tongkat serta *Hek-tung Sin-ciang* lawannya.
"Ha-ha!" si pengemis terbahak. "Mampus kau, bocah. Tahu diri sekarang. Ayo berkaok-kaok dan bermulut besarlah lagi!"
Eng Hwa pucat. Didesak dan dikurung pukulan lawannya, ruang geraknya mengecil. Satu-satunya jalan adalah menangkis, namun *sinkang* si pengemis lebih kuat. Tiga kali ia mencoba, namun tiga kali itu pula ia terhuyung, bahkan nyaris terpelanting.
Eng Hwa yang pucat namun tak mau kalah segera merogoh senjata rahasianya berupa jarum-jarum merah. Sekali lempar, belasan jarum menyambar lawan, berkeredep bagai kunang-kunang berbahaya. "Hayaa!" si pengemis membentak dan menangkis dengan tongkatnya. Belasan jarum terpukul runtuh, dan beberapa anggota pengemis lain berseru marah. Ji-lokai terkejut dan memaki karena segera menyadari bahwa itulah senjata yang membunuh tujuh murid Hek-i Kaipang.
Ketika pengemis itu melengking dan merangsek lagi, Hek-i Sin-lo-kai menggeram melihat jarum-jarum beracun itu. "Sebaiknya tangkap wanita ini hidup-hidup. Kalian maju dan bantu Ji-lokai!"
Empat pengemis berloncatan maju. Mereka adalah murid-murid tertua dengan tongkat yang lebih panjang. Eng Hwa terkejut dan berteriak meminta bantuan Han Han karena merasa tidak kuat melayani Ji-lokai sendirian. Ia melempar tubuh bergulingan sambil melemparkan jarum-jarum beracun lagi. "Licik, curang. Kalian tak tahu malu!"
Namun, empat pengemis itu sama lihainya. Mereka menggunakan tongkat untuk meruntuhkan jarum-jarum merah tersebut. Eng Hwa meloncat bangun, namun saat mereka menyerang lagi, Eng Hwa kewalahan dan satu pukulan tongkat mengenai pundaknya. "Dess!" Wanita itu terjungkal.
Keadaan benar-benar berbahaya bagi Eng Hwa. Han Han, yang sejak awal menonton dan tidak setuju dengan penggunaan jarum beracun Eng Hwa maupun pengeroyokan oleh Hek-i Kaipang, akhirnya memutuskan untuk turun tangan.
"Tahan, berhenti semua!" Plak-plak-plak!
Han Han berkelebat mengebutkan ujung bajunya hingga tongkat di tangan lima pengemis itu patah. Para pemiliknya berteriak kaget dan terguling, tak menyangka akan hal itu. Eng Hwa melompat bangun, payungnya robek-robek, namun ia girang melihat Han Han menolongnya.
Eng Hwa bangkit percaya diri dan berseru menantang, "Ayo, kalian laki-laki curang. Maju dan kalahkan kekasihku ini!"
Han Han terkejut mendengar ucapan itu, namun Eng Hwa tidak peduli. "Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya menyerang wanita saja. Ayo, tandingi temanku ini. Kalau kalian dapat memenangkannya sepuluh jurus saja, biarlah aku menyerah dan membuang payungku. Kaki kalian kucium!"
Ji-lokai dan murid-muridnya mendelik. Wakil ketua itu masih terguncang oleh tindakan Han Han yang mematahkan tongkat mereka hanya dengan kebutan baju. Hek-i Kaipangcu maju sendiri dengan jari berkerotok menahan marah. "Anak muda, kau kekasih siluman betina ini? Kau akan maju membelanya? Baik, hadapi kami. Kau rupanya cukup hebat, namun seranganmu tadi tidak diduga mereka. Aku ingin menguji. Cabut senjatamu dan mari kita bermain sejenak. Kalau sepuluh jurus aku tak mampu mendesakmu, biarlah kuanggap aku yang kalah. Awas!"
Han Han terkejut. Belum sempat ia menjawab, ketua Hek-i Kaipang itu sudah menyerangnya. Tongkat bergerak menusuk ulu hati dengan tenaga *sinkang* yang hebat. Karena Han Han melihat gerakan itu masih lambat, ia dengan mudah berkelit. Sang ketua membentak dan menerjang lagi. "Haittt... des-dess!" Han Han meloncat dan tongkat lawannya menghajar tanah, membuatnya berlubang dan kerikil berhamburan.
Hek-i Kaipangcu semakin marah. Ia berkelebat menyerang dengan ilmu silat *Hek-hoat*. Ke mana pun Han Han pergi, tongkat itu terus membayangi. Han Han berseru agar ketua itu sabar, namun tidak digubris. Kakek itu justru mempercepat serangannya. Ketika kakek itu kalap dan menghentakkan tongkat dengan pengerahan *sinkang* istimewa, tongkat itu terlepas dan terbang menyambar Han Han.
"Ah!" seru Han Han. "Kau nekat dan keras kepala, Pangcu. Baiklah, aku terpaksa menangkap tongkatmu, maaf!"
Han Han mengeluarkan *Hui-thian-sintiau* (Rajawali Terbang ke Langit) dan tubuhnya lenyap ke atas. Tongkat kehilangan sasaran. Saat Hek-i Kaipangcu tertegun mencari lawannya, Han Han muncul dari atas. "Krekk!" Tongkat itu terpotong dua karena Han Han menjepitnya dengan dua jari. Lawannya berteriak kaget.
Setelah turun ke tanah, Han Han menjura. "Maaf, sudah kukatakan tadi, Pangcu. Aku tidak membela temanku, melainkan membela yang benar. Anak buahmu memulai keributan ini di rumah makan."
"Bedebah jahanam!" pengemis itu membentak tanpa membiarkan Han Han menyelesaikan kata-katanya. "Kau sudah berani mematahkan tongkatku. Ini tantangan mati hidup untukku. Mampuslah!"
Kakek itu mencabut tongkat cadangan dan menyerang Han Han dengan kalap. Han Han hanya bisa mengelak kembali karena kakek itu terlanjur naik pitam oleh rasa malu di depan anak buahnya. Han Han terpaksa mengeluarkan *Huitiau* miliknya kembali untuk menanggapi serangan tersebut.