Chapter 76
Hanya dengan cara ini dia dapat menundukkan kakek itu; begitu ia bergerak, tiba-tiba saja ia lenyap dan hilang dari pandangan mata. Ketika si pengemis terkejut karena lagi-lagi kehilangan sasaran, Han Han tahu-tahu muncul kembali dan menyambar tongkatnya, sehingga untuk kedua kalinya tongkat itu patah.
"Pangcu, kau tidak dapat mengalahkan aku. Dengar kata-kataku dan berhenti menyerang!" seru Han Han.
Namun, kakek itu memekik. Begitu tongkatnya patah lagi, seketika kakek ini menyambar golok, bukan satu, melainkan dua. Ketika ia menerjang dan menyerang dengan kalap dan membabi buta, anak-anak murid yang pucat melihat kepandaian pemuda itu dan tiba-tiba mendengar bentakan Ji-lokai yang memberi aba-aba menyerang.
"Bunuh pemuda itu, bantu ketua!"
Ketika Ji-lokai sendiri menerjang dan menyambar tongkat baru—karena tongkatnya tadi dihancurkan oleh Han Han—pemuda itu pun dikeroyok. Anak-anak murid Hek-i Kai-pang berkelebatan menyerang.
"Hei!" Han Han terkejut. "Berhenti, Ji-lokai! Berhenti, jangan mengeroyok atau terpaksa aku menghajar kalian!"
"Hajarlah!" wakil ketua Hek-i Kai-pang itu menantang. "Kami bergerak membela ketua kami, anak muda. Kalau kau membunuh kami, itu pun tak akan kami elakkan!"
Ketika pengemis itu mengemplang dan menggerakkan tongkatnya, menerjang, dan melancarkan pukulan tangan kiri, *Hek-tung Sin-ciang* menyambar disusul pukulan-pukulan tongkat anak-anak murid yang lain. Suasana menjadi gaduh dan riuh karena Han Han mempergunakan *Huitiauw*-nya untuk menghilang, sehingga senjata atau tongkat-tongkat lawan berbenturan satu sama lain.
Ketika Han Han marah karena orang-orang Hek-i Kai-pang itu mengeroyok, Eng Hwa berkelebat dan terkekeh. "Bagus, kubantu kau, Han. Jangan khawatir.... Des, des, prak!"
Payung yang menghantam kepala anak-anak murid itu disusul teriakan atau pekik ngeri. Dua tubuh terpelanting karena dengan kejam wanita cantik itu telah membunuh lawannya. Eng Hwa merasa mendapat kesempatan membalas dendam setelah tadi ia dikeroyok dan hampir saja celaka. Begitu Han Han dikerubut, pemuda itu mampu beterbangan mendahului lawan, sama seperti saat ia menghadapi serangan kakek tadi. Untuk berikutnya, anak-anak murid Hek-i Kai-pang menjadi korban.
Darah mengalir dan tepi hutan itu pun menjadi tempat yang mengerikan. Eng Hwa mempergunakan kebingungan anak-anak murid yang kehilangan jejak Han Han untuk melampiaskan keganasannya; wanita ini ternyata telengas. Namun, ketika Han Han mengeluarkan bentakan keras hingga hutan serasa digetarkan pekikan gajah, anak-anak murid terpelanting dan Eng Hwa sendiri terkejut hingga terhuyung mundur. Berturut-turut senjata di tangan wanita itu, ketua, dan wakil ketua Hek-i Kai-pang terlepas.
Bentakan atau suara Han Han ini dahsyat sekali. Han Han mempergunakan *Sai-cu Ho-kang* (Pekikan Singa) untuk menghentikan pertempuran. Anak-anak murid sudah roboh terpelanting sementara ketua mereka terhuyung-huyung, nyaris roboh. Ketika semua senjata terlepas dan Han Han sudah berdiri di tengah-tengah, semua orang terbelalak pucat memandang pemuda ini.
"Semua tidak boleh serang-menyerang lagi. Ini bukan tempat pembantaian. Dan kau...." Han Han marah sekali memandang Eng Hwa. "Kau keji dan telengas, Cici. Kalau sekali lagi aku melihat kau membunuh orang, jangan harap aku mau bersahabat lagi denganmu. Cukup, kita pergi dan jangan ada di sini lagi!"
Sambil menarik tangan wanita itu dan berkelebat ke hutan, Han Han menendang payung dan menyambarnya dengan tangan yang lain. *Hek-i Sin-lo-kai* dan anak-anak muridnya tertegun, sadar.
"Hei!" kakek itu berseru. "Temanmu berhutang banyak jiwa, anak muda. Tunggu dan bunuh sekalian kami semua!"
"Tidak," jawab Han Han yang lenyap dan berseru dari jauh. "Kau juga harus tahu diri, Lo-kai. Karena pihakmu yang memulai, jangan menuntut kepada kami. Kalian pulang dan kita tak usah bertemu lagi!"
"Keparat, jahanam! Kami tak takut mati!"
Namun, si kakek yang sia-sia mengejar dan kehilangan Han Han akhirnya menangis dan membanting-banting kaki di situ. Enam muridnya roboh binasa dan tiga belas jiwa melayang dengan cepat. Bukan main keji dan ganasnya si cantik itu, karena si pemuda tak pernah menurunkan tangan maut kepada ia maupun anak-anak muridnya.
Tetapi, karena Han Han melindungi temannya itu dan kakek itu marah, *Hek-i Kai-pangcu* pun mendendam dan mengingat-ingat Han Han dengan baik. Ia telah memerintahkan anak-anak muridnya kembali dan persoalan itu diselesaikan di situ, meskipun kelak akan disusul dan dilanjutkan lagi.
Ketika Han Han lenyap sementara kakek ini dan para pembantunya kembali, Han Han tiba di seberang hutan dan berhenti melepaskan tangan Eng Hwa.
"Kau kejam, kau tak berperasaan," Han Han langsung saja menyemprot kawannya ini. "Sekarang kita berpisah, Cici. Aku tak mau lagi berdekatan denganmu. Maaf dan terima kasih!"
"He!" Eng Hwa mencengkeram, langsung meloncat tak membiarkan Han Han pergi. "Tunggu dulu, Han Han. Kau boleh meninggalkan aku, tapi lihat pukulan ini. Aku terluka!"
Ketika wanita itu merintih dan Han Han terkejut melihat pundak temannya yang dikuak, halus dan putih, Eng Hwa berkata bahwa itulah bekas pukulan Ji-lokai. Ia menggigit bibir dan menangis. "Aku kejam karena mereka juga kejam. Lihat, tongkat jahanam itu dipoles racun, Han Han. Pundakku hangus dan aku butuh pertolonganmu.... Bret!"
Han Han memerah mukanya melihat Eng Hwa tak malu-malu merobek baju pundaknya lebih lebar lagi hingga bukit dadanya tersembul. Kalau bukan Han Han, tentu pemandangan itu sudah membangkitkan berahi. Han Han tergetar, namun pemuda ini dapat menekan perasaannya. Ia sudah diperlihatkan bekas pukulan itu dan Eng Hwa merintih bahwa pundaknya panas. Saat diraba, benar saja pundak wanita itu terasa panas.
Ketika Han Han tertegun karena Eng Hwa tiba-tiba terhuyung dan roboh, wanita itu menangis dan mengerang. "Aduh, sakit, Han Han... panas sekali. Tolong aku atau nanti aku mati!"
Han Han bergerak cepat. Melihat Eng Hwa mengeluh dan terhuyung roboh, tiba-tiba ia menahan dan menangkap lengannya. Han Han heran, tapi keheranannya dikalahkan rasa terkejut karena Eng Hwa sudah pingsan. Ketika Han Han mengeluarkan obat dan menyalurkan *sinkang* di pundak temannya itu, tak lama kemudian Eng Hwa sadar namun merintih menunjuk pundaknya yang lain.
"Aku merasa sakit dan pedih di situ. Oh, tolong, Han Han. Bukakan bajuku itu dan lihat apakah ada bekas pukulan pula di situ!"
"Apa? Di sini?" Han Han terbelalak melihat pundak Eng Hwa sebelah kiri.
"Ya, di situ, Han Han. Aku merasa sakit. Tadi belum kurasa karena pukulan di pundak kanan ini lebih berat. Tolong robek bajuku itu dan lihatlah!"
Han Han tergetar. Selama hidup, dia belum pernah berdekatan dengan wanita. Eng Hwa ini adalah wanita pertama dan selama hidup pula dia belum pernah meraba atau membuka-buka baju wanita. Kini Eng Hwa tiba-tiba menyuruhnya, tentu saja Han Han gugup dan bingung. Tapi ketika Eng Hwa merintih dan menangis menahan sakit, sambil menggigit bibir, Han Han merobek dan menguak baju pundak wanita itu.
"Bret!"
Han Han benar-benar mengalami cobaan berat. Pundak yang mulus putih kembali terlihat jelas dan ia harus menekan guncangan jantungnya melihat itu. Namun, ketika tidak ada apa-apa di situ dan Eng Hwa berkata bahwa ia merobek kurang lebar karena rasa sakit itu ada di bawahnya lagi, si cantik minta agar Han Han membukanya lebih lebar.
"Kurang... kurang ke bawah. Aduh, sedikit lagi ke bawah, Han Han. Aku merasa dadaku nyeri. Di situ!"
Han Han terkejut. "Masih ke bawah? Kurang ke bawah?"
"Ya, cepat, Han Han. Atau aku mati!"
Eng Hwa yang menggeliat dan menahan sakit hebat tiba-tiba membuat Han Han tak pikir panjang lagi. Apa boleh buat, ia merobek baju itu lebih ke bawah lagi. Sebenarnya ia mau memprotes karena melakukan ini berarti membuka dada Eng Hwa. Si cantik menjerit dan merintih-rintih, Han Han merasa hawa panas di situ.
Ketika muka Han Han juga terasa panas karena bukit yang indah terpampang di mukanya, Han Han gemetar dan menggigil. Tampaklah di situ sebuah titik merah dari sebatang jarum yang menancap di tempat yang seharusnya tak boleh dilihat mata laki-laki.
"Ini... ini jarummu sendiri!" Han Han terkejut. "Kau terkena jarummu sendiri, Hwa-cici. Bagaimana bisa begini!"
"Aku ditangkis tongkat si Ji-lokai itu, jarum terpental dan masuk. Aduh, tolong Han Han. Aku tak kuat menahan sakit. Juga... juga di pahaku. Sedot dan tarik keluar!"
Han Han menggigil seperti orang kecemplung di laut es. Kalau saja Eng Hwa tidak berkata bahwa jarumnya terpental oleh tongkat Ji-lokai, tentu ia akan segera curiga karena tadi pun ia sudah curiga. Namun, begitu Eng Hwa berkata dan menerangkan asal-usulnya, kecurigaan Han Han lenyap. Begitu Eng Hwa merintih dan menjerit, tiba-tiba ia memejamkan mata dan membenamkan kepala di bukit yang mengaduk-aduk isi perasaannya itu.
Han Han sungguh diuji hebat, namun luar biasa sekali murid *Im Yang Cin-jin* ini. Bukit lembut yang menyentuh pipinya itu sama sekali tak membobolkan benteng imannya. Han Han telah menarik napas dan kuat-kuat mengonsentrasikan diri kepada jarum beracun, bukan kepada bola yang lunak hangat itu; bola yang sanggup meruntuhkan iman laki-laki.
Ketika jarum tersedot dan Han Han tak mau berlama-lama—karena daerah itu memang berbahaya—dengan muka penuh keringat, Han Han menarik keluar jarum beracun itu dan menyedotnya dengan *khikang*.
"Selesai!" Pemuda ini menarik tubuh dan kepalanya. "Sekarang mana obat penawarmu, Hwa-cici? Kau tentu memiliki obatnya!"
Eng Hwa tertegun. Han Han tidak tahu betapa wanita itu terbelalak, kagum, serta berdebar. Tadi ketika Han Han membenamkan kepalanya di bukit dadanya itu, justru Eng Hwa yang "kepanasan" dan hebat menahan nafsu.