Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 77

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 77

Han Han tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Dia tidak menyadari bahwa wanita di depannya adalah Siluman Kucing Mao-siao Mo-li, seorang wanita cabul yang amat berbahaya. Wanita itu biasanya menggunakan tubuh dan kecantikannya untuk merobohkan lawan laki-laki jika tidak mampu menaklukkan mereka dengan kepandaiannya.

Ketika Han Han mampu bertahan dan berhasil menarik jarum dengan cepat, Eng Hwa nyaris menjerit kagum. Ia terbelalak lebar melihat Han Han tidak tergerak oleh kemolekan dadanya. Napas wanita itu memburu, ingin menguji sang pemuda sekali lagi.

"Han Han, aku... aduh, terima kasih. Namun, masih ada sebatang jarum yang menancap di pangkal pahaku. Cepat, tarik dan sedot keluar itu!"

Wajah Han Han merah padam. Ia baru saja menutup kembali baju wanita itu dan tidak berani memandang terlalu lama bagian tubuh yang merangsang birahinya. Namun, ketika Eng Hwa mengeluh dan roboh terguling, pakaian di pahanya tersingkap. Wanita itu sengaja menguakkan pakaiannya, merintih bukan karena sakit, melainkan oleh nafsu. Han Han hampir tidak mampu bernapas.

Eng Hwa menyingkap semua pakaiannya hingga seluruh pahanya tampak. Memang benar ada setitik jarum merah menancap di situ. Namun, bagi Han Han yang seumur hidup baru kali itu melihat paha wanita yang gempal dan mulus, ditambah dengan aksi Eng Hwa yang menggeliat menggoda, guncangan batinnya tak terelakkan. Eng Hwa tidak malu-malu, mempertontonkan bagian tubuh yang mulus dan menggairahkan.

Karena Han Han adalah murid Im Yang Cinjin yang memiliki kekuatan batin cukup besar, ia memejamkan mata dan menarik napas kuat-kuat untuk menindas hawa birahinya. Han Han memang masih terlalu hijau menghadapi tipu daya Mao-siao Mo-li yang mengerahkan segala daya tariknya. Setelah gagal dengan jebakan di bagian dada, wanita itu mencoba cara terakhir dengan mempertontonkan paha dan bentuk kakinya.

Biasanya, laki-laki mana pun akan roboh melihat bagian yang dianggap "paling berbahaya" dari wanita ini. Han Han sempat menggigil dan gemetaran, namun ia mengerahkan segenap kekuatan batin dengan membayangkan wajah gurunya untuk menahan rangsangan tersebut. Eng Hwa justru mengerang kepanasan karena terbakar oleh gejolak perasaannya sendiri. Saat Han Han membungkuk siap mencabut jarum dengan mata terpejam, tiba-tiba terdengar bentakan dan dua sosok bayangan menyambar.

"Anak muda, jangan lakukan itu!"

Han Han tersentak kaget. Muncul sepasang pria dan wanita yang menyambar punggungnya. Pria gagah itu membentak, sementara wanita di sebelahnya yang berusia sekitar empat puluh tahun memaki dan menghantam Eng Hwa. Konsentrasi Han Han pecah. Ketika pria itu menariknya berdiri, Eng Hwa yang diserang wanita tersebut terlempar dan menjerit.

Pria gagah itu mencekal lengan Han Han agar tidak bergerak. Eng Hwa atau Mao-siao Mo-li melengking. Ketika wanita itu meloncat bangun dan menyambar payungnya, pria gagah tersebut menjelaskan kepada Han Han bahwa ia telah ditipu oleh seorang Siluman Kucing. Wanita cantik yang bersama pria itu pun segera mengejar Eng Hwa.

"Mao-siao Mo-li, dari dulu sampai sekarang kau tetap sama. Dulu mengganggu dan merayu pemuda-pemuda tampan, sekarang pun begitu. Mampuslah kau, tak tahu malu!"

Eng Hwa melompat tinggi menghindari pukulan itu. Ia segera mengenal sepasang suami istri tersebut. Terjadi pertarungan sengit; payung Eng Hwa beradu dengan pedang sang wanita berbaju merah. Eng Hwa sempat terdesak namun berhasil menguasai keadaan setelah kegugupannya hilang. Ia bahkan mampu mendesak lawannya hingga pedang wanita berbaju merah itu sering terpental.

"Hi-hik, kiranya kau, Bhi Pui. Ah, kuingat sekarang siapa dirimu. Kiranya kau dan suamimu, Keng Han, murid si tua bangka Pek-lui-kong. Ada apa kalian datang ke mari? Minta gebuk?"

Saat payung Eng Hwa menusuk pangkal lengan wanita itu, Keng Han berkelebat membantu istrinya. "Mao-siao Mo-li, kau cabul dan hina. Setelah dulu kau mengganggu dan mempermainkan diriku, masih juga kau mencari dan menjebak pemuda-pemuda tampan. Mampuslah!"

Sebuah pukulan dahsyat bersinar putih menghantam punggung Mao-siao Mo-li. Ia terlempar, namun karena sinkangnya kuat, ia masih bertahan. Keng Han terus menyerang dengan jurus Pek-lui-ciang atau Tangan Halilintar. Eng Hwa mulai pucat dan memanggil Han Han untuk meminta bantuan.

Namun, Han Han tak bergerak. Ia terguncang melihat kenyataan ini. Kemarahan besar melanda pemuda itu saat menyadari julukan "siluman" yang disandang Eng Hwa, serta mengingat kekejaman wanita itu membunuh para pengemis. Ia sadar bahwa jarum yang menancap di dada dan pahanya adalah rekayasa wanita itu sendiri untuk memerangkapnya. Setelah tidak lagi diguncang nafsu, Han Han mendusin bahwa ia telah dibohongi oleh iblis berwujud wanita cantik.

"Mao-siao Mo-li, kiranya kau wanita cabul dan tak tahu malu. Terkutuk kau! Hadapi lawanmu sendiri dan jangan panggil aku lagi sebagai sahabatmu!"

"Kau ditipu orang-orang ini, Han Han. Mereka musuh-musuhku. Yang laki-laki ini bekas kekasihku dan si wanita cemburu. Tanya dan buktikan itu kepadanya!"

"Bohong!" bentak pria gagah itu, dan Han Han lebih mempercayainya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment