Chapter 78
"Kalaupun kekasih, maka itu paksaan, anak muda. Dia melolohi arak atau obat perang kepadaku. Kau pun pasti akan dicekokinya kalau pameran paha atau dada tadi gagal. Aku akan membunuhnya karena dia wanita berbahaya!"
"Benar," wanita di sebelah laki-laki gagah itu juga menyambung dengan suara melengking. "Tanya siapa saja bagaimana sepak terjang si cabul ini, anak muda. Dia pernah melolohi dan mempermainkan suamiku ini dan juga pemuda-pemuda lain. Aku akan membunuhnya karena dia berutang sakit hati kepadaku!"
Wajah Han Han memerah. Tanpa diterangkan lagi seperti itu pun, dia sudah dapat menilai watak Eng Hwa. Pantas begitu kejam dan tak tahu malu. Maka, ketika Eng Hwa melengking marah kepada suami-istri itu karena gagal membujuknya, tiba-tiba wanita itu menangkis pedang di tangan si wanita berbaju merah. Lalu, ketika lawan terhuyung dan Eng Hwa merogoh bajunya, tiba-tiba belasan sinar merah berhamburan.
"Awas...!" si wanita berbaju merah memekik. Teriakan atau seruan suaminya tadi sudah dimengerti; dia melempar tubuh untuk menghindarkan diri dari belasan jarum merah itu. Ketika suaminya pun bergerak melepas pukulan, menghantam Eng Hwa dari belakang, Eng Hwa mengelak dan jarum-jarum itu pun tersapu runtuh.
Eng Hwa membentak dan melepas lagi jarum-jarum merahnya, namun dipukul atau disampok runtuh. Ketika berkali-kali wanita itu gagal dan wanita berbaju merah yang diincarnya selalu dilindungi sang suami, Eng Hwa marah dan putus asa hingga tiba-tiba wanita itu berkelebat ke arah Han Han.
"Biar aku menyerahkan diri saja kepadamu!" Mao-siao Mo-li berkata seraya terisak dan tiba-tiba menangis.
Ketika Han Han terkejut karena wanita itu menubruknya, tidak disangka, mendadak saat Han Han mengelak dan menjauhkan diri, sekonyong-konyong sebuah sapu tangan mengebut di mukanya. Han Han tak dapat mengelak dan tiba-tiba ia pun pusing lalu roboh. Ketika kesadarannya gelap—karena Han Han memang masih hijau dan mentah oleh pengalaman—Mao-siao Mo-li terkekeh dan menyambar tubuhnya.
"Hi-hik, lain kali kita bertemu, Keng Han. Selamat tinggal dan sampai jumpa!"
"Heii!" Keng Han terkejut, tak menyangka.
"Tinggalkan pemuda itu, Mao-siao Mo-li, atau kau mampus.... Dess!" Pukulan halilintar kembali menyambar, namun dikelit lawan. Akhirnya, Mao-siao Mo-li tertawa dan melarikan diri.
Han Han sudah dipanggul dan dibawa wanita ini. Han Han pingsan karena menghirup bubuk pelumpuh sukma, hal yang memang tidak disangka dan merupakan kelengahan pemuda ini karena murid Im Yang Cinjin itu belum banyak berpengalaman di dunia kang-ouw, lika-liku, atau kelicikan orang-orang jahat. Saat pemuda itu dibawa lari dan "Siluman Kucing" ini menyelinap keluar-masuk hutan, Keng Han mengejar, namun harus menunggu istrinya yang tertinggal di belakang. Akhirnya, wanita itu kabur dan Han Han tak ingat apa-apa lagi.
"Hi-hik!" Pagi itu, Mao-siao Mo-li telah melepaskan diri dari suami-istri gagah itu dan menotok Han Han. "Tak boleh kau lepas begitu saja, anak manis. Kalau kau mampu bertahan dan tak roboh oleh keindahan tubuhku, maka hari ini kau harus roboh oleh arak surgaku. Hi-hik, kau akan kubuat panas dari dalam!"
Han Han tak sadarkan diri. Dibawa dan dipanggul semalam suntuk, sebenarnya pemuda itu mau siuman juga. Tapi begitu Mao-siao Mo-li mengebutkan dan menyebarkan bubuk pelumpuh sukmanya, Han Han tak berdaya melawan, sehingga pemuda itu pingsan lagi hingga pagi itu Mao-siao Mo-li membawanya ke sebuah gua.
Pagi itu wanita ini berseri-seri. Bagi pembaca yang telah membaca kisah *Si Golok Maut*, tentu telah mengenal wanita ini. Dialah wanita cabul yang amat jahat dan keji. Wanita ini tak segan-segan mempergunakan segala tipu daya untuk merobohkan lawannya. Karena dia amat doyan wajah-wajah tampan serta anak-anak muda yang kuat dan masih gagah-gagahnya, maka Siluman Kucing atau Mao-siao Mo-li itu mempermainkan korbannya dan sering mengisap saripati tenaga muda untuk mengawetkan dirinya. Itu terlihat dari wajahnya; wanita ini sebenarnya sudah berusia empat puluh lima tahun lebih. Tapi karena sering mengisap saripati tenaga muda—hawa yang biasanya diambil dari ubun-ubun—maka wanita ini masih tampak muda dan kelihatannya seperti berumur dua puluh limaan saja. Itulah sebabnya Han Han memanggilnya "Cici" karena disangkanya wanita itu sedikit di atas usianya, padahal sebenarnya wanita itu sudah sebaya dengan ibunya.
Pagi itu, Mao-siao Mo-li sudah berseri-seri karena dia akan mampu mengisap saripati tenaga pemuda ini. Pemuda yang hebat dan luar biasa itu hingga dia tak mampu mengalahkannya, maka begitu meletakkan Han Han di dalam gua, segera wanita ini mengambil arak dan mencekokkannya ke mulut Han Han. Karena Han Han masih pingsan sementara wanita itu bernafsu sekali membayangkan apa yang akan diperoleh, arak sudah masuk dan membuat wajah Han Han merah. Dengan berani, wanita ini akhirnya menyadarkan dan membebaskan totokan Han Han.
Biasanya, seberapa lihai dan hebat pun pemuda yang dihadapinya, kalau begitu dicekoki arak pasti akan segera limbung. Han Han pun juga begitu. Pemuda ini segera membuka mata ketika disadarkan dan totokan sudah dibebaskan. Ketika dia bangkit berdiri dan limbung menahan dinding, Mao-siao Mo-li terkekeh dan memanggil Han Han. Pemuda itu menoleh dan melihat wanita itu sudah hampir tak mengenakan pakaian apa-apa!
"Hi-hik, lihatlah ke sini, Han Han. Siapa aku dan kenalkah kau kepadaku?"
Han Han terbakar. Melihat wanita itu hampir tak berpakaian sama sekali, tiba-tiba saja pemuda itu mendengus. Han Han baru sadar dan karena itu pikirannya masih belum pulih benar. Dia merasa tubuhnya panas dan muka serta telinga rasanya seperti dijalari api. Dia tak tahu bahwa pengaruh arak sudah bekerja; arak itu bukan sembarang arak, melainkan arak berahi, arak kotor!
Ketika Han Han terkejut karena Eng Hwa ada di situ, tentu saja dia kenal, tapi kenapa tiba-tiba tak mengenakan pakaian lengkap—bagian-bagian tubuh yang merangsang sengaja ditonjolkan sedemikian rupa—maka Han Han menggigil dan gemetaran hebat.
"Eng Hwa, kau.... kau kenapa seperti ini?"
"Ah, hi-hik?" Siluman Kucing terbakar dan mabuk oleh nafsunya sendiri. "Aku begini karena ingin bersenang-senang denganmu, Han Han. Aku mencintaimu. Kau tentu tak menolak kalau kita bercinta... cup!"
Eng Hwa yang sudah memeluk dan mencium pemuda itu terkekeh, tiba-tiba sudah menggeliat dan menggeleser-geleserkan tubuhnya seperti ular. Han Han terkejut, tapi gemblengan batin yang sudah diterimanya bertahun-tahun masih cukup tangguh, terbukti karena pemuda itu tiba-tiba mengguncang dan mendorong tubuh itu kuat-kuat. Ketika Eng Hwa terlempar dan Han Han sendiri terjatuh dengan pusing, Mao-siao Mo-li terbelalak dan terkejut.
"Han Han, kau..."
"Keparat!" Han Han memaki, bangkit terhuyung. "Kau... kau siluman cabul, Eng Hwa. Kau Mao-siao Mo-li seperti kata laki-laki gagah itu. Kau apakan aku... wut!"
Han Han menubruk dan menyerang wanita itu, tentu saja membuat Mao-siao Mo-li terkejut dan kaget, tiba-tiba mengelak dan menendang Han Han. "Dess!" Han Han terlempar dan terbanting. Eng Hwa membentak dan berkelebat ke arahnya, mencaci maki. Ketika Han Han bangkit berdiri dan terhuyung dengan kepala pening sementara nafsu berkobar-kobar, tiba-tiba wanita itu menampar dan menotoknya.
"Robohlah, kau tak tahu diri!"
Marah karena Han Han rupanya masih dapat bertahan (sesloki arak rupanya kurang), Eng Hwa menyambar dan mencekoki lagi arak ke mulut Han Han.
"Apa.... apa yang kau lakukan itu? Apa yang kau maui!"
"Hm, arak ini arak penghangat cinta, Han Han. Kalau kau masih ingin menyerangku lagi, maka kau harus meminumnya seteguk. Kau di bawah kekuasaanku, di bawah pengaruhku. Jangan macam-macam atau nanti kau kubunuh!"
Han Han menolak. Di bawah gelombang berahi dan nafsu yang berkobar-kobar, ternyata pemuda ini masih memiliki kekuatan batin yang kuat. Dia menutup mulut rapat-rapat ketika cawan arak itu dipaksa memasuki mulutnya, hal yang membuat Mao-siao Mo-li terbelalak. Tapi ketika wanita itu terkekeh dan menotok rahang pemuda ini, Han Han kesakitan dan berteriak tertahan. Saat itulah arak meluncur dan lenyap ke dalam perutnya.
"Hi-hik, tak perlu sombong, Han Han. Jangan coba-coba bertahan. Belum pernah selama ini seorang laki-laki mampu melawan pengaruh arak. Kau akan kubawa menikmati surga yang indah, jangan bodoh dan ikuti saja. Atau aku nanti akan memaksamu menghabiskan sebotol!"
Han Han mendelik. Baru turun gunung tahu-tahu berhadapan dengan seorang wanita cabul, ditawan, dan dicekoki arak, tiba-tiba membuat pemuda itu menyesal kenapa dia demikian bodoh. Suhunya tak pernah menceritakan tentang ini—tentang adanya wanita cabul dan arak pemabuk. Sebagai pertapa, memang Im Yang Cinjin enggan menceritakan tentang wanita, termasuk tokoh-tokoh cabul seperti Mao-siao Mo-li itu. Karena Han Han tak pernah mendengarkan kisah-kisah tentang ini—Im Yang Cinjin hanya menasihati dan berpesan agar hati-hati karena di dunia kang-ouw banyak orang jahat—maka Han Han yang masih hijau dan mentah pengalaman kini tertangkap oleh Siluman Kucing itu.
Han Han memang tak menduga akan adanya bubuk perampas ingatan, bius yang dikebutkan lewat sapu tangan wanita cabul itu. Dan karena Han Han selalu dilumpuhkan setiap sadar, kecuali sekarang ini setelah dicekoki arak surga—arak dahsyat yang akan membakar berahi laki-laki—maka Han Han yang sadar dan kecewa akan kebodohannya menyesali dirinya sendiri. Waktu itu, dua cawan atau dua sloki arak telah memasuki mulutnya. Mao-siao Mo-li sendiri jarang mempergunakan dua cawan, karena biasanya hanya dengan secawan atau beberapa tetes saja, korban sudah dapat dikerjai.