Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 79

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 79

Karena Han Han adalah pemuda luar biasa yang terbukti masih mampu mengendalikan diri dari serangan dan kemarahan sebelumnya, Mao-siao Mo-li diam-diam kagum dan menambah takaran arak agar Han Han kehilangan kesadaran.

Jika itu terjadi, tentu pemuda ini akan dikuasai nafsu birahi sepenuhnya. Mao-siao Mo-li merasa bangga karena akan memperoleh inti tenaga seorang pemuda sehebat ini; ilmu awet mudanya akan menjadi semakin luar biasa, bahkan mungkin ia tak perlu lagi mencari seratus pemuda lain. Cukup satu ini saja, dan dia akan awet muda selama dua puluh tahun lagi!

Namun, ketika wanita itu berseri-seri dan menggeliat seperti ular, mendengus, serta menciumi Han Han agar pengaruh arak semakin hebat, ia terkejut. Tubuh Han Han mendadak dingin seperti es!

"Eh!" wanita itu tersentak, kaget sekali. Han Han yang dipeluknya tiba-tiba terasa seperti arca beku. "Kau masih hidup, Han Han? Kau seperti gedebok pisang atau manusia salju?" Tak ada jawaban.

Mao-siao Mo-li terpekik dan meloncat bangun. Ia meraba tubuh Han Han; benar saja, tubuh pemuda itu sedingin es, hingga jari-jarinya pun terasa membeku. Mao-siao Mo-li makin kaget saat menyadari detak jantung Han Han berhenti. Ia tidak tahu bahwa saat itu Han Han tengah menggunakan hawa sakti Im-kang untuk membekukan pengaruh arak.

Sebagai murid Im Yang Cinjin yang mampu membekukan benda cair menjadi es atau sebaliknya, Han Han membuat Mao-siao Mo-li terkejut. Wanita ini terlalu meremehkan murid Im Yang Cinjin yang sakti tersebut. Ia terlampau sombong menganggap Han Han telah dikuasainya hanya karena pemuda itu dicekoki arak, padahal Han Han baru saja turun gunung dan masih minim pengalaman.

"Mao-siao Mo-li, kau keji dan tak tahu malu. Kau ternyata membunuh pemuda itu pula!"

Siluman Kucing terkejut. Ia sendiri heran dengan keadaan Han Han; ia merasa tidak membunuh pemuda itu, tetapi kenapa si pemuda mati?

Tiba-tiba, seseorang menyambarnya dan sebatang pedang membabat kepalanya. Eng Hwa terkejut dan segera menghindar ke kiri. Pedang itu membalik dan menyabet pinggangnya.

"Haiya!" Mao-siao Mo-li melempar tubuhnya dengan panik. Dua kali serangan cepat tersebut membuatnya terpekik. Ia segera menyambar payungnya, berguling, dan meloncat bangun. Saat ia berdiri dan melihat lawannya—seorang gadis berpakaian putih dengan pedang di tangan, cantik dan berkharisma—Eng Hwa merasa asing.

"Siapa kau!" bentaknya. "Dan kenapa mencampuri urusan orang!"

"Hm!" gadis itu mendengus. "Sudah sejak tadi kuamati gerak-gerikmu, siluman cabul. Ternyata pemuda ini adalah orang baik. Sekarang kau membunuhnya, padahal ia tak berdosa kepadamu. Kekejian apa yang tak kau miliki? Aku ingin membunuhmu agar tak ada korban lagi. Mampuslah!"

*Sing!* Pedang menyambar ke arah tenggorokan. Gadis itu berkelebat menyerang, membuat Mao-siao Mo-li marah dan menangkis dengan payungnya. Wanita itu mendelik karena kesenangannya terganggu. Saat payung di tangannya bertemu tenaga yang kuat dari pedang lawan, ia terpental dan berseru marah.

Gadis cantik itu terus menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Mao-siao Mo-li melihat lawannya sangat lihai dan bertenaga kuat; payungnya sering terpental saat beradu. Karena ilmu meringankan tubuh lawan yang gesit bak walet, Siluman Kucing itu merasa penasaran.

"Kau siapa? Sebutkan namamu sebelum payungku meremukkan kepalamu. Atau kuanggap kau pengecut!"

"Hm, aku tak takut kau mencariku untuk membalas dendam, Mao-siao Mo-li. Aku Tang Siu dari Kun-lun. Tapi karena hari ini aku terpaksa membunuhmu, maaf saja, tak usah kau mengingat namaku!"

"Sombong! Siapa takut? Dari Kun-lun atau dari Heng-san, aku tak gentar, bocah. Lihat siapa yang akan terbunuh!"

*Crang!* Payung kembali bertemu pedang dan terpental. Kali ini disusul oleh gerakan tangan kiri Eng Hwa yang menebarkan jarum-jarum beracun. Tujuh sinar merah menyambar, namun Tang Siu memiringkan tubuh dan menangkisnya dengan pedang.

"Hm, benar-benar curang dan tak tahu malu. Pantas, kau sungguh patut menjadi anggota penjahat!"

Mao-siao Mo-li marah. Ia membentak dan payungnya tiba-tiba mengembang. Saat si nona terkejut karena pandangannya terhalang, itulah kelicikan Siluman Kucing; belasan jarum merah berhamburan dari balik payung hitam.

Gadis itu terkejut, namun ia segera menjejakkan kaki dan meloncat lurus ke atas. Gerakannya cepat dan tepat; jarum-jarum tersebut rontok terkena gulungan sinar putih dari putaran pedang yang bagai kitiran. Saat gadis itu melayang turun dengan amarah, ia menusukkan pedangnya ke arah tenggorokan Siluman Kucing.

*Brett!* Wanita itu menjerit tertahan. Leher bajunya tertusuk dan ia pucat pasi saat berusaha menghindar. Saat ia terus dikejar, Mao-siao Mo-li kewalahan menangkis serangan pedang yang amat cepat. Satu tangkisan membuat payungnya patah; habislah harapan wanita ini.

Dalam kondisi terdesak, Siluman Kucing merogoh sekantung penuh jarum beracun dan menghamburkannya ke arah gadis berbaju putih itu.

"Kita boleh sama-sama mampus!"

Gadis itu terkejut. Serangan adu nyawa yang tak menguntungkan itu membuatnya terpaksa memutar pedang untuk menangkis jarum-jarum berbahaya tersebut. Lawan menghamburkan jarum dalam jumlah yang luar biasa banyak.

Saat gadis itu berhasil meruntuhkan semua jarum, kecuali sebatang yang menancap di pangkal lengannya, Mao-siao Mo-li—yang tidak mengetahui hal itu—tiba-tiba melarikan diri sambil merintih seperti kucing diguyur air panas.

"Lain kali kita bertemu lagi. Kutitipkan dulu nyawamu!"

Gadis itu ingin mengejar, namun tiba-tiba lengan kirinya kesemutan dan kejang. Saat menyadari ia terkena jarum beracun, lawan sudah menghilang. Ia terhuyung dan jatuh terduduk menahan sakit.

"Keparat!" umpat gadis itu. "Kau licik dan curang, Mao-siao Mo-li." Ia merobek bajunya untuk melihat luka tersebut. Dengan hati-hati, ia mencoba mencabut jarum itu dengan tangan satunya. Namun, karena ia tergesa-gesa, jarum halus itu patah dan ujungnya tertinggal di dalam daging.

"Keparat! Kenapa harus patah?" Ia gemetar saat racun mulai terasa panas membakar. Setiap kali ia menekan, jarum itu justru semakin membenam. Lengan kirinya terasa lumpuh. Ia mulai menangis karena rasa sakit dan marah bercampur menjadi satu.

Jika jarum tak dapat dicabut, satu-satunya jalan adalah memotong lengannya, atau racun akan menjalar ke jantung dan ia akan tewas. Namun, menjadi cacat terasa jauh lebih hebat daripada mati. Gadis itu terisak. Dua pilihan yang sama berat membuatnya bimbang. Jika dipaksa memilih, mungkin ia lebih memilih mati.

Namun, saat ia mengguguk dan memaki-maki, sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar di depannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment