Chapter 80
"Jangan khawatir, aku dapat menolongmu, Nona. Kalau kau mengizinkan, biarlah jarum itu kusedot!"
Sang gadis terkejut. Duduk dan menangis tersedu-sedu seperti itu membuat ia tidak tahu bahwa seorang pemuda telah berdiri di depannya. Itulah Han Han, yang telah berhasil membebaskan diri dan membekukan arak di dalam tubuhnya.
Sejak tadi dia sudah menguasai keadaan, tetapi tertarik kepada gadis berbaju putih ini. Gadis yang membela dan melindunginya dari tangan jahat Mao-siao Mo-li itu membuat Han Han tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia tertegun dan kagum kepada gadis ini, bukan hanya karena kepandaiannya, melainkan juga kecantikannya. Aneh, Han Han merasa tergetar.
Ketika pemuda itu menyaksikan jalannya pertandingan dan merasa lega bahwa gadis ini dapat menguasai lawannya—ilmu pedang gadis berbaju putih itu setingkat di atas ilmu silat Mao-siao Mo-li—maka hati Han Han bersinar-sinar. Ia pun tidak jadi bangkit berdiri untuk menghajar Siluman Kucing itu. Han Han malah terpesona dan tertegun oleh kehadiran gadis ini, apalagi kedatangannya dapat menyelamatkan diri Han Han karena sekejap saja pengaruh arak itu akan hilang.
Han Han telah membekukan arak tersebut di dalam tubuhnya. Dengan tenaga *Imkang*-nya, ia mengumpulkan arak itu di pusar, lalu dihisap dan dimuntahkan keluar. Namun, karena jalannya pertandingan itu jauh lebih menarik daripada arak perangsang yang dapat dikendalikannya, Han Han tidak begitu menghiraukan dirinya selain pertandingan di depan matanya.
Han Han hampir tidak berkedip menyaksikan ilmu pedang gadis ini; cukup lihai dan cepat. Ketika Mao-siao Mo-li akhirnya terdesak dan wanita itu memaki-maki sambil mengeluarkan jarum-jarum merahnya, si gadis dapat menangkisnya hingga semua jarum runtuh ke tanah. Han Han berseri-seri, tetapi di akhir pertandingan ia terkejut melihat sebatang jarum menancap di pangkal lengan gadis itu.
Mao-siao Mo-li sendiri sedang bergulingan dan tidak melihat hal itu. Kalau saja ia melihatnya, barangkali ia tidak akan melarikan diri dan justru akan tertawa girang menyerang gadis yang lumpuh sebelah lengannya itu. Ketika gadis itu jatuh terduduk sementara Han Han tertegun dan tidak mengejar Siluman Kucing, Han Han melihat gadis itu berkutat mencabut jarum.
Han Han hanya bengong menyaksikan perbuatan gadis berbaju putih ini, sampai kegagalan dan tangisnya yang mengharukan hati itu terjadi. Saat jarum patah dan Han Han tahu apa yang terjadi, gadis itu tampak gelisah dan ngeri akan bayangan masa depan. Han Han segera bergerak dan tahu-tahu telah berdiri di depan gadis itu, yang kaget dan bengong.
"Kau... kau masih hidup?"
"Ya, aku masih hidup," Han Han tersenyum tenang. "Kau terkena jarum beracun, Nona. Kalau tidak cepat-cepat diambil, tentu akan membahayakan jiwamu. Bolehkah kucabut dan kau memberiku izin?"
Gadis ini tiba-tiba sadar. Tentu saja dia girang bahwa ada orang lain di situ. Dia bertanya bagaimana Han Han akan mencabutnya, dan dijawab bahwa jarum itu akan disedot karena tidak ada jalan lain. Namun, ketika gadis ini mengangguk dan Han Han berlutut serta meminta agar baju di lengannya dinaikkan ke atas, mendadak wajahnya merah padam karena tersipu jengah.
"Aku tidak dapat menghisapnya kalau kau tidak menarik ke atas baju di pangkal lenganmu itu. Harap Nona tarik lagi agar jarum itu kelihatan!"
Si gadis merah padam dan tidak menjawab. Han Han tidak tahu karena tidak memperhatikan wajah si nona. Seluruh perhatian dan matanya tertuju ke pangkal lengan itu, bagian yang dilukai jarum. Namun, ketika baju itu tidak bergerak juga dan si nona tampak menggigil tak keruan, Han Han mendongak dan melihat lawannya. Pemuda itu terkejut karena si gadis ternyata menahan tangis dengan mata terpejam dan air mata bercucuran.
"Eh!" Han Han terkejut dan menjadi sadar. "Maafkan aku, Nona. Tapi... tapi aku tidak bermaksud memaksamu. Aku tidak bermaksud menghina. Lukamu berbahaya, jarum itu harus lekas diambil. Atau kau nanti tewas dan seumur hidup tentu aku menyesal tak habis-habisnya!"
"Ken... kenapa kau harus menyesal? Bukankah kita bukan siapa-siapa?"
"Tidak, kau adalah penolongku, Nona. Kau datang ke sini karena ingin menyelamatkan aku dari tangan Siluman Kucing itu. Tanpa itu, tak mungkin kau terluka!"
"Baiklah, tapi... tapi syaratnya maut. Aku tidak biasa memperlihatkan bagian tubuhku kepada laki-laki. Apakah kau bersedia kubunuh setelah ini?"
Han Han tertegun. "Dibunuh?"
"Ya, aku terpaksa membunuhmu, Sobat. Aku tidak dapat menanggung malu dengan membiarkan diri disentuh laki-laki. Kau harus jawab dulu, atau kau biarkan saja aku mati!"
Han Han tiba-tiba tersenyum. Tanpa pikir panjang dan entah mengapa mendadak saja dia mengiyakan permintaan itu. Baginya, gadis ini perlu diselamatkan. Gara-gara menolong dirinyalah maka gadis itu mengalami bahaya. Karena menganggap sudah pantas gadis itu bicara seperti itu—sebagai gadis baik-baik tentu tak mungkin membiarkan diri disentuh laki-laki—maka Han Han membungkuk dan memejamkan mata.
"Baiklah, aku tidak mau berdebat soal ini, Nona. Kalau aku harus mati muda tentu tidak perlu disesali, barangkali sudah nasib. Angkatlah bajumu, dan aku akan menyedot jarum dengan mata terpejam!"
"Kenapa?" Gadis itu tiba-tiba tertegun, heran mengapa Han Han harus memejamkan mata.
Namun, ketika Han Han berkata dengan tenang tetapi sopan bahwa di dunia akhirat dia tidak mau membuat gadis itu menanggung malu, gadis ini pun merona wajahnya.
"Alasanku sederhana saja. Kalau di dunia saja kau merasa malu, tentu kelak di akhirat kau lebih malu lagi. Nah, aku tidak akan membuatmu malu kalau kelak di sana kita bertemu. Biarlah sekarang juga kupejamkan mata agar dapat kujawab bahwa seumur hidup pun belum pernah kulihat pangkal lenganmu!"
Gadis itu bersemu merah. Akhirnya ia menarik baju pundaknya agar Han Han memulai pekerjaannya. Han Han sempat salah pertama kali ketika menempelkan mulut; bukan pangkal lengan yang dihisap, melainkan sikut. Ketika gadis itu geli dan terkekeh tak dapat menahan, Han Han minta maaf dan minta ditunjukkan di mana jarum beracun itu.
"Tidak akan kulihat biarpun salah. Maaf, beri tahu padaku, Nona. Cepat dan jangan perhatikan tingkahku!"
Gadis itu akhirnya mengangguk. Pangkal lengan itu diangkat naik dan ditempelkan ke mulut Han Han. Ketika pemuda itu mulai menyedot, masing-masing merasakan detakan yang aneh; gadis itu berdebar karena mulut Han Han bertemu kulit lengannya, sementara Han Han sendiri juga dag-dig-dug karena baru pertama ini ia menyentuh lengan halus seorang wanita, bukan wanita macam Mao-siao Mo-li, melainkan wanita baik-baik.
Saat Han Han tergetar namun dapat menekan perasaannya, *Imkang* dikerahkan dan jarum tiba-tiba tertarik keluar dengan cepat. Gadis itu berseru kagum, lalu Han Han memuntahkan jarum itu ke tanah, bangkit, dan membalikkan tubuh.
"Selesai, dan selamat. Silakan sekarang kau membunuh aku!"
Gadis itu tertegun. Melihat Han Han menyelesaikan pekerjaannya begitu cepat, mata masih terpejam, dan membalikkan tubuh, gadis ini kagum bukan main. Apa yang diperlihatkan Han Han adalah sesuatu yang luar biasa. Ujung jarum tadi sudah memasuki urat halusnya, namun pemuda itu mampu menyedotnya. Itu tanda bahwa *sinkang* atau tenaga sakti pemuda ini hebat sekali, karena tidak gampang melakukan hal itu bagi orang lain.
Maka ketika Han Han memutar tubuhnya dan meminta agar dibunuh, gadis itu tertegun dan tentu saja tidak menyerang Han Han. Pemuda itu membalik dan keheranan.
"Eh, kenapa diam? Kenapa tidak membunuhku?"
"Ti... tidak!" gadis itu terkejut dan sadar. "Aku... aku hanya main-main kepadamu, Sobat. Kau telah menolong jiwaku, menyelamatkan aku. Tidak mungkin aku membunuhmu!"
Ia tergagap memandang Han Han yang tersenyum lebar. Memang diam-diam Han Han juga tidak mungkin membiarkan gadis itu membunuhnya karena seluruh *sinkang*-nya sudah siap melindungi, namun Han Han yang hendak menguji gadis ini tiba-tiba tertawa melihat wajah orang yang merona merah.
"Maaf," Han Han membungkuk. "Akulah yang seharusnya berterima kasih, Nona. Kau telah menyelamatkan aku dari tangan Mao-siao Mo-li..."
"Tidak, kau ternyata lihai!" gadis itu tiba-tiba berseru, rupanya teringat sesuatu. "Kau mampu menyedot dan mengambil jarum, Sahabat. Dan kau pun tidak mati dicekoki arak. Kau ternyata hebat, aku salah duga!"
"Ah," Han Han terkejut, cepat-cepat menggoyang lengan. "Betapapun, tanpa kedatanganmu mungkin saja aku celaka, Nona. Memang benar tadi bahwa aku mencoba membekukan arak di perutku agar tidak menjalar. Tapi kalau kau tidak datang dan mengganggu siluman betina itu, barangkali usahaku bisa gagal dan sia-sia. Tidak, aku harus berterima kasih dan ilmu pedangmu hebat sekali!"
Gadis itu bersinar-sinar. Melihat Han Han bicara sungguh-sungguh dan tidak tampak sedikit pun kesombongan, gadis ini merasa kagum dan gembira. Semula dia merasa malu dan tidak senang karena mengira dipermainkan, tapi ternyata pemuda itu bicara masuk akal. Memang barangkali tanpa kehadirannya pemuda itu tidak dapat membebaskan diri, jadi kedatangannya memang berguna.
Karena Han Han menjura dan mengucap terima kasih, rasa tersinggung dan malu gadis itu tiba-tiba lenyap. Gadis itu pun tersenyum dan tertawa lebar, menyambut sikap Han Han.
"Ah, kau kiranya di samping lihai dan pandai, juga pintar merendah. Baiklah, aku juga harus berterima kasih kepadamu, Sobat. Karena tanpa pertolonganmu, tentu jarum ini akan tetap mengeram dan membahayakan jiwaku. Siapa namamu dan bagaimana kau bisa tertawan Siluman Kucing yang cabul itu?"
"Hm, aku terpedaya..." Han Han semburat merah. "Semula dia kusangka orang baik-baik, Nona. Tak tahunya cabul dan tidak tahu malu. Pantas dia begitu ganas dan keji membunuh banyak orang. Kiranya Siluman Kucing!"
Han Han kemudian menceritakan asal mula pertemuannya, betapa dia dicurangi dengan bubuk beracun, yang akhirnya membuat gadis berbaju putih itu berulang-ulang mengeluarkan suara dari hidung.