Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 81

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 81

Namun, ketika Han Han bercerita tentang sepasang suami istri lihai bernama Keng Han dan Bhi Pui, gadis itu mengerutkan kening.

"Apakah mereka murid Pek-lui-kong dari utara?"

"Aku tidak tahu, aku baru turun gunung."

"Hm, pantas, Sobat. Kau begitu mudah diperdayai wanita cabul itu. Eh, omong-omong, bolehkah aku tahu siapa gurumu?"

"Aku sendiri dari Kun-lun, guruku adalah Kim-sim Tojin (Pendeta Berhati Emas)!"

"Ah, kiranya murid Kim-sim Tojin Lo-cianpwe?" Han Han berseru terbelalak mendengar nama yang pernah disebut oleh gurunya.

"Pantas kau dapat mengalahkan Siluman Kucing itu, Nona. Kiranya kau ahli waris Kun-lun Kiam-sut dalam ilmu pedang Jmkiam (Pedang Penyambar Sukma)!"

"Eh, kau tahu ilmu pedangku?"

"Bukan aku, melainkan guruku. Guruku banyak bercerita tentang tokoh-tokoh Kun-lun, dan salah satunya adalah gurumu itu yang terkenal dengan jurus-jurus silat pedang Ini-hong-kiam yang lihai!"

"Ah, Suhuku memang lihai, tapi aku sendiri tidak dapat memainkan ilmu silat itu seperempatnya. Lihat saja tadi, berapa jurus harus kugunakan untuk mengusir siluman betina itu, itu pun sebatang jarum masih mengenai diriku!"

"Hm, benar, tapi itu bukan salahmu, Nona. Itu adalah kelicikan siluman betina tersebut. Kepadaku pun dia juga curang. Tapi sudahlah, betapapun juga, kau hebat dan mampu mengusirnya!"

Gadis itu tersenyum dan bersinar ingatannya, "Ada apa kau tertawa?"

"Maaf, Nona Tang..."

"Eh, kau mengenal namaku?" Han Han terkejut.

"Aku, eh... maaf," Han Han merasa kelepasan bicara, gadis itu memang belum memperkenalkan namanya.

"Aku tahu ketika tadi tanpa sengaja kau memberitahukannya kepada Siluman Kucing itu, Nona. Aku... ah, barangkali lancang!"

"Tidak, aku yang salah," gadis itu sadar dan akhirnya tersipu. "Kau sudah memperkenalkan namamu, Han-siauwhiap (pendekar muda Han), tapi belum gurumu. Bolehkah aku tahu?"

Han Han mengerutkan kening. "Aku, hmmm... guruku orang biasa saja. Aku tidak dapat memberitahukannya, Nona, bukan karena apa-apa, melainkan semata pesan guruku saja. Maaf, jangan dianggap aku sombong. Aku hanya murid seorang biasa, tidak seperti gurumu yang terhormat, Kim-sim Tojin yang sakti!"

Gadis itu heran. Lagi-lagi ada perasaan tidak puas atau tidak suka ketika Han Han tidak memperkenalkan gurunya. Tapi karena pemuda itu menghormati gurunya dan memuji dengan tulus, hal itu membuat gadis itu bangga sehingga ia akhirnya tidak marah dan dapat mengerti perasaan orang lain.

"Baiklah, aku tahu watak orang-orang kang-ouw, Han-siauwhiap. Dan semakin kupercaya bahwa gurumu pasti bukan orang biasa, meskipun kau mengatakannya biasa. Aku hendak melanjutkan perjalanan, kurasa cukup pertemuan kita. Kau hendak ke mana dan apakah ada sesuatu yang mungkin dapat kutolong?"

Han Han kikuk. "Pertama, jangan sebut aku siauwhiap..."

"Kalau begitu kau pun jangan nona-nonaan. Namaku Tang Siu!"

"Hm, baiklah, terima kasih, Adik Tang Siu. Dan kau boleh memanggilku Han Han. Aku juga hendak melanjutkan perjalanan, dan kalau kau bertanya apakah ada sesuatu yang mungkin dapat kau tolong, maka kebetulan ada sebuah pertanyaan. Yakni, apakah kau pernah bertemu dengan seorang wanita gila yang rambutnya riap-riapan tetapi lihai?"

"Wanita gila?" Gadis itu terkejut, benar-benar tidak menyangka. "Wah, kau ini aneh sekali, Han Han. Yang ditanya kok malah itu! Apakah dia temanmu?" Gadis itu tertawa, mengira Han Han hanya bergurau. Namun, ketika Han Han menggeleng serius dan berkata "mungkin", gadis itu tercengang. Han Han kini bicara serius, tidak tertawa seperti sebelumnya.

"Mungkin saja dia temanku, aku serius. Aku bertanya sungguh-sungguh apakah kau pernah bertemu dengan wanita yang kumaksudkan ini, lihai tetapi gila, rambutnya riap-riapan."

"Hm, aku tidak pernah bertemu dengan orang yang kau maksudkan, Han Han. Tapi kalau umpamanya bertemu, apa yang harus kulakukan?"

"Kau bawa dia kepadaku, ada sesuatu yang amat penting dari wanita ini yang kuperlukan!"

"Baik, kalau begitu di mana kau tinggal? Bagaimana caranya aku membawanya kepadamu kalau tidak tahu kau berada di mana?"

Han Han tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa Tang Siu tidak tahu tempat tinggalnya. Bagaimana harus membawa wanita itu jika ketemu, padahal ia sendiri tidak ingin menyebutkan tempat tinggalnya karena gurunya maupun dia sendiri tidak menghendaki orang lain tahu. Maka Han Han menarik napas dalam-dalam.

"Maaf, aku keliru bicara, Tang Siu. Barangkali yang kumaksudkan adalah cari saja aku kalau kau menemukan wanita itu. Aku akan berada di sekitar Hek-yan-pang untuk sementara waktu ini. Kalau kau menemukan wanita itu, tolong cari aku di sana."

"Kau murid Hek-yan-pang?"

"Bukan, tapi... hm, aku calon tamu Hek-yan-pang."

"Aneh!" gadis itu berseru. "Kau merahasiakan diri, Han Han. Gerak-gerikmu misterius sekali. Bagaimana kalau nanti kau tidak ada di Hek-yan-pang juga? Apakah aku harus membawa-bawa wanita gila itu?"

"Hm, kalau begitu ya sudah saja. Tidak usah terlalu merepotkan dirimu. Maaf, aku hendak melanjutkan perjalanan, Tang Siu. Aku berterima kasih kalau kau sudi membantuku. Tapi tidak usah memaksa diri. Kalau kita bertemu lagi tentu kita dapat bercakap-cakap lagi. Selamat tinggal, kita rupanya harus berpisah!"

Namun, ketika Han Han hendak bergerak meninggalkan gadis itu, Tang Siu tertegun dan berkelebat ke depan, "Nanti dulu. Tunggu, Han Han. Bolehkah aku tahu siapa nama wanita yang gila itu?"

"Aku tidak tahu..." Han Han sedih. "Aku juga samar-samar, Tang Siu. Aku hanya hendak mencari wanita ini karena..."

"Hm, apa hubunganmu dengan wanita itu? Dan apa yang hendak kau cari?"

"Aku hendak mencari ayah ibuku, dan wanita inilah yang tahu."

"Apa? Kau... kau tidak tahu ayah ibumu sendiri? Kau seorang anak yatim piatu?"

"Semuanya gelap, Tang Siu. Aku tidak tahu apakah aku yatim piatu atau bukan. Yang jelas, aku ingin mencari ayah ibuku dan si gila inilah yang tahu asal-usulku!"

"Ah, kasihan!" Tang Siu tertegun, matanya membelalak dan berlinang air mata. Gadis itu tampak terharu. "Han Han, aku ikut sedih. Tapi baiklah, aku akan menolongmu dan kalau kutemukan wanita itu akan kucari dirimu. Aku juga hendak melanjutkan perjalanan. Silakan kau ke Hek-yan-pang karena aku sendiri akan ke kota raja!"

"Terima kasih," Han Han mengangguk dengan terharu pula. "Kau benar-benar baik, Tang Siu. Tapi sekali lagi, tidak usah memaksa diri kalau terlalu repot!"

Ketika gadis itu mundur dan Han Han tersenyum, mata mereka beradu dengan detak yang aneh. Kemudian Han Han berkelebat dan melewati gadis itu. Selanjutnya Han Han bergerak seperti iblis hingga lenyap dari tempat itu. Ketika Tang Siu tertegun dan kagum akan kecepatan Han Han yang luar biasa, gadis itu pun menarik napas dalam-dalam dan berkelebat pula melanjutkan perjalanannya.

Dua hari kemudian, Han Han telah tiba di sekitar telaga, markas Hek-yan-pang yang dicarinya. Han Han berhenti dan tidak segera masuk. Ada perkampungan di luar telaga dengan rumah-rumah sederhana namun kokoh. Saat Han Han berhenti di situ mengamati ke dalam, seseorang berkelebat disusul oleh beberapa orang lainnya.

"Hei, anak muda. Apa maksudmu mengintai di sini dan apa yang kau kerjakan!"

Han Han terkejut. Asyik mengamati tempat itu tanpa maksud membuat ribut, Han Han tiba-tiba telah dikepung oleh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang yang menjaga di sekitar situ. Sejak ditinggalkan ketuanya, perkumpulan ini dijaga lebih ketat, bahkan ada yang bersembunyi di balik semak-semak belukar untuk mengintai orang asing.

Karena Han Han tidak terlihat seperti pemuda yang menakutkan—tubuhnya sedang namun tegap dan kuat—para murid itu curiga dan saling memberi tanda. Begitu Han Han menoleh, tujuh orang itu berseru tertahan dan membelalakkan matanya.

"Aih, mirip Pangcu (ketua)!"

Tujuh orang itu mendadak bengong dan memandangnya tanpa berkedip dengan kesan kaget dan heran. Tapi ketika menyadari bahwa pemuda ini bukanlah ketua mereka, mereka kembali maju dan mengurung pemuda itu.

"Siapa kau, dan ada apa mengintai rumah orang!"

"Maaf," Han Han merasa salah, ia membungkuk. "Aku sedang mencari seseorang, Saudara. Ingin ke sana tetapi belum tahu jalan. Siapakah kalian dan apakah kalian orang-orang Hek-yan-pang?"

"Benar, kami anak murid Hek-yan-pang!" seorang di antara tujuh laki-laki itu menjawab dengan suara agak lunak karena Han Han tampak lemah lembut. "Siapa kau, anak muda? Dan kenapa datang seperti maling?"

"Aku bukan maling," Han Han mendongkol. "Aku hanya tidak ingin membuat kesalahan. Aku datang untuk mencari seorang wanita yang katanya ada hubungannya dengan Hek-yan-pang."

Han Han menceritakan maksudnya mencari wanita berambut riap-riapan yang gila. Namun, belum selesai ia bercerita, tujuh murid Hek-yan-pang itu mencabut pedang dan membentak, "Kau ada hubungan apa dengan si gila itu? Apakah temannya!"

"Hm," Han Han terkejut dan mengerutkan kening. "Barangkali betul, Saudara-saudara. Apakah kalian tahu di mana wanita itu? Coba panggilkan untukku, atau..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment