Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 82

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 82

"Sing!" Tujuh pedang tiba-tiba bergerak, menusuk dan membacok. Han Han membelalakkan mata karena tujuh laki-laki itu mendadak marah besar.

Ia tidak tahu bahwa orang yang dicarinya adalah Wi Hong. Wi Hong sendiri pernah menghajar murid-murid lelaki Hek-yan-pang yang dibencinya. Begitu Han Han menyinggung tentang wanita itu—dan tidak ada lagi wanita "gila" selain Wi Hong, meskipun kini telah sembuh dan pergi bersama putranya—tujuh laki-laki yang pernah dihajar Wi Hong itu naik pitam. Mereka membentak dan menerjang dengan tujuh pedang yang menyambar nyaris bersamaan.

Mereka marah kepada Han Han dan ingin menjadikannya pelampiasan kemarahan mereka terhadap Wi Hong. Namun, karena Han Han bukanlah pemuda lemah dan kepandaian tujuh murid Hek-yan-pang itu biasa-biasa saja—gerakan pedang mereka dinilai masih lamban—Han Han dengan mudah berkelit. Tujuh laki-laki itu terkejut melihat betapa mudahnya pemuda itu menghindar di balik sambaran pedang mereka.

"Hei, kalian rupanya gila. Mengapa marah-marah dan menyerangku?"

"Keparat, kau musuh kami kalau kau teman wanita itu, anak muda. Kau akan menemuinya nanti di akhirat!"

"Apa?" Han Han mengerutkan kening sambil terus mengelak. "'Menemuinya di akhirat'? Maksud kalian wanita yang kucari itu sudah tidak ada? Sudah mati?"

"Mati atau tidak, kami tidak peduli, bocah siluman. Yang penting kau mampus dan menerima dosa atas perbuatan wanita itu!"

"Sing-sing-crat!" Pedang yang menyerempet batu besar mengeluarkan bunga api, disusul jerit kaget salah satu laki-laki itu ketika Han Han berkelebat lenyap. Enam temannya ikut berteriak keras karena tiba-tiba pedang mereka berbenturan sendiri. Han Han menggunakan kepandaiannya yang tidak disadari lawan. Saat mereka terbelalak dan tertegun, bayangan putih muncul dan Han Han menjentik pedang-pedang di tangan mereka.

"Kalian orang-orang tidak sopan. Belum selesai diajak bicara sudah menyerang. Baiklah, aku akan mencari ketua kalian, Sobat. Terpaksa aku merobohkan kalian."

"Tring-tring-tring!" Pedang-pedang itu terlepas dari tangan pemiliknya, disusul jerit murid-murid Hek-yan-pang. Han Han menendang mereka karena gemas. Setelah tujuh orang itu terpelanting dengan kaki atau tangan terkilir, Han Han berkelebat menuju telaga.

"Hei, awas! Kita kedatangan musuh!"

Bayangan-bayangan tiba-tiba berkelebat dari balik hutan. Di luar telaga itu memang terdapat hutan kecil, tempat suara gemerincing senjata tadi terdengar oleh murid-murid lainnya. Teriakan dan caci maki itu merupakan tanda bagi teman-temannya. Begitu Han Han merobohkan para murid dan terbang menuju telaga—wilayah yang mendekati perkampungan murid laki-laki, sementara murid wanita berada di tengah telaga—seratus lebih murid Walet Hitam mencegat di depan.

"Berhenti!"

Han Han tertegun melihat ketatnya penjagaan berlapis-lapis. "Sebutkan maumu dan siapa kau, anak muda. Atau kami akan menyerang dan membunuhmu!"

Begitu Han Han berhenti, semua murid terpekik karena pemuda itu mirip dengan ketua mereka. "Aih, pemuda ini mirip Pangcu!" Han Han terkejut untuk kedua kalinya. Namun, ketika ia hendak tersenyum dan menjelaskan tujuannya, dua dari tujuh murid yang terpincang-pincang mengejar dan berteriak bahwa pemuda itu adalah teman Wi Hong.

"Dia antek si iblis wanita, Wi Hong! Datang untuk mengacau. Tangkap dan bunuh saja dia!"

Han Han terkejut mendengar seratus lebih murid laki-laki itu menjadi garang. Han Han tidak tahu bahwa mereka adalah murid-murid yang pernah dihajar Wi Hong karena wanita itu tidak menyukai keberadaan laki-laki di Hek-yan-pang yang dulunya hanya dihuni wanita. Karena nama Wi Hong begitu dibenci, mereka menerjang tanpa banyak bicara.

"Kalau begitu kau pengacau. Daripada hidup, lebih baik kami bunuh!"

"Wut-wut!" Senjata berhamburan menuju Han Han bagaikan hujan. Han Han terkejut sekaligus senang karena kini ia tahu wanita yang dicarinya adalah Wi Hong. Karena diserang beringas, ia pun berkelit menghindari hujan senjata. Han Han berseru agar mereka tidak menyerang, namun dijawab dengan serangan yang semakin ganas. Panah mulai berdesing menyambar-nyambar, membuat Han Han marah. Ia pun mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang istimewa.

Pemuda itu berkelebat lenyap di antara hujan senjata, bayangan putihnya naik turun bagaikan garuda yang menerkam mangsa. Saat jerit kesakitan terdengar disusul patahnya senjata tajam, murid-murid itu menjadi ngeri. Han Han merampas dan menangkis pedang serta panah dengan kecepatan tinggi. Saat ia menampar atau mematahkan senjata lawan, kegemparan terjadi.

"Iblis! Dia pemuda iblis, awas!"

Han Han mendengus. Lawannya kini cerai-berai dan tidak berani mendekat. Terakhir, Han Han mengibaskan lengan bajunya hingga sebelas orang terpental sekaligus. Ketika murid-murid itu tunggang-langgang, dari tengah pulau terdengar suitan dan aba-aba nyaring.

"Berhenti, biarkan pemuda itu kemari!"

Para murid laki-laki tertegun. Dari tengah pulau, bayangan hitam berkelebat disusul bayangan-bayangan lain. Puluhan murid wanita berjajar di seberang sana, sementara seorang wanita berbaju hitam yang cantik dan gagah berseru agar serangan dihentikan. Keributan itu rupanya terlihat dari pulau. Han Han lega karena tidak perlu lagi melukai lawan-lawannya. Ia mengira wanita cantik itu adalah ketuanya.

"Anak muda yang sombong, kami menunggumu di sini. Silakan pakai sebuah perahu dan datanglah kemari!"

Han Han berseri-seri. Ia melompat ke sebuah perahu di tepian. Sebenarnya ia bisa sampai di sana tanpa perahu, namun karena ia berniat bertamu dan ingin bersikap sederhana, ia mengambil dayung dan mengayuh perahu dengan mengerahkan tenaganya.

"Terima kasih. Aku memang tidak bermaksud membuat keributan, Kounio. Kalau anak buahmu tidak menyerang, tentu aku akan datang dengan baik-baik dan meminta maaf!"

"Hm!" Han Han mendengar dengus pendek itu. Ia melaju, yakin bahwa wanita baju hitam itu adalah tokoh penting di Hek-yan-pang. Namun, saat ia mendayung dengan cepat tanpa curiga, perahunya oleng ke kiri.

"Eit!" Han Han menjaga keseimbangan. Ia tidak tahu ada seseorang yang menarik perahunya dari bawah air. Perahunya terbalik ke kanan akibat tarikan yang sangat kuat.

"Hem!" Han Han baru sadar ada yang tidak beres. Seseorang memang sedang mencoba menggulingkan perahunya dari dalam air. Begitu sadar, ia menjejak bagian kiri perahu dengan satu hentakan kuat hingga perahu kembali ke posisi semula.

"Duk!" Seseorang berteriak di bawah sana. Han Han menyesal, namun ia hanya bisa melihat sebuah kepala muncul sekilas sebelum menyelam kembali. Saat ia meluncur lagi, empat punggung hitam tiba-tiba mengejar perahunya dari belakang. Han Han kagum melihat orang-orang itu meluncur secepat hiu di dalam air.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment