Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 83

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 83

Karena pemuda itu tiba-tiba ingin menggoda dan bermain-main dengan empat orang ahli selam yang kuat, ia memperlambat laju perahunya agar bisa ditangkap. Benar saja, empat orang itu segera mencengkeram perahunya. Dua orang menghilang ke bawah air, sementara dua lainnya bergerak di sisi kiri dan kanan. Han Han hanya tersenyum, sementara wanita berbaju hitam dan murid-murid wanita Hek-yan-pang memperhatikan mereka. Mereka mengetahui rencana itu dan rupanya sengaja memerintahkan para penyelam tersebut untuk menggulingkan perahu Han Han.

Mereka tidak tahu bahwa Han Han mahir berenang karena hidup di Laut Selatan. Bertahun-tahun tinggal di sana membuat pemuda itu tidak takut akan air; ia sendiri adalah perenang jempolan. Namun, karena tidak ingin basah dan ingin tetap berada di perahu untuk mengamati apa yang dilakukan keempat laki-laki itu, ia terkejut ketika tiba-tiba perahunya terangkat tinggi.

"Keluarlah!" Han Han tersenyum. Sekarang dia paham maksud lawan-lawannya; mereka hendak melemparnya dari perahu agar basah kuyup sebelum bertemu dengan wanita berbaju hitam itu.

Han Han tertawa. Ketika empat orang itu berteriak untuk melempar perahu, Han Han mengetukkan dayungnya dan mengerahkan *Jing-kin-kang* (Tenaga Seribu Kati). Mendadak, perahu itu menjadi sangat berat. Keempat orang yang mengangkat perahu tersebut terpekik kaget dan segera menurunkannya. Perahu itu menghantam permukaan air dengan keras. Empat laki-laki itu pun kehilangan keseimbangan, bukan karena berusaha bekerja sama, melainkan karena terkejut dan mencoba menyelamatkan diri. Mereka seolah ditimpa potongan besi yang sangat berat hingga kepala mereka menghantam lantai perahu.

Empat laki-laki itu terbenam ke dalam air. Han Han mengira sudah bisa mengalahkan lawan-lawannya, namun ketika ia hendak mengayuh perahu, ia melihat keempatnya masih mencengkeram sisi perahu dengan tatapan melotot.

"Anak muda, kami akan melemparmu dari perahu. Keluar atau terjun secara paksa!" ancam mereka.

Perahu diguncang-guncang dengan keras. Mereka ternyata cukup kuat meski sempat terhuyung akibat hantaman lantai perahu. Han Han merenggangkan kaki untuk menjaga keseimbangan. Ketika para murid wanita menyaksikan pemandangan itu, Han Han tiba-tiba berseru seraya menyentakkan perahunya.

"Baiklah, kita lihat siapa yang terlempar, sobat. Kalian atau aku. Maaf!"

Perahu itu mendadak terangkat dan terbang, tidak menyentuh air lagi. Han Han mengerahkan tenaganya membuat perahu itu melesat seperti burung bersayap, dipicu oleh dayungan kuat ke permukaan air. Empat orang yang masih menempel di bawah perahu terpaksa ikut terbawa terbang.

"Byur!" Air memuncrat tinggi. Keempat laki-laki itu akhirnya terjatuh. Setelah menjatuhkan perahu di tepi telaga, Han Han meloncat turun dan berhadapan dengan wanita berbaju hitam tersebut.

"Maaf, aku ingin bertemu dengan *pangcu* atau wakilnya, *kouwnio*. Apakah kau orangnya? Bisakah kita bicara baik-baik?" tanya Han Han.

"Siapa kau!" wanita itu tertegun, mengamati wajah Han Han dengan tajam, penuh kekaguman sekaligus curiga. Ia dan murid-muridnya merasa heran melihat kemiripan wajah pemuda itu dengan ketua Hek-yan-pang. Pemuda itu sendiri belum mengetahui hal tersebut. Meski wanita berbaju hitam bernama Ki Bi itu merasa curiga, ia tertarik karena sikap Han Han yang halus dan sopan.

"Siapa namamu dan apa maksudmu datang ke sini? Apakah kau pikir hanya kau yang hebat di dunia ini?" tanya Ki Bi dengan nada dingin.

"Maaf, aku terpaksa karena orang-orangmu yang memulai," jawab Han Han. "Namaku Han Han, aku mencari seseorang bernama Wi Hong."

Begitu nama "Han Han" disebut, suasana menjadi gaduh. Para murid wanita berbisik-bisik. Mereka pernah mendengar bahwa nama Han Han baru saja mengguncangkan Hek-yan-pang setelah peristiwa pertarungan dengan Beng Tan. Ki Bi yang terkejut segera membentak murid-muridnya agar diam.

"Kau benar-benar bernama Han Han atau hanya mempermainkan kami?" tanya Ki Bi.

"Aku memang bernama Han Han. Aku datang dari Lam-hai (Laut Selatan) untuk mencari seorang murid Hek-yan-pang bernama Wi Hong. Dialah yang mengetahui asal-usulku," jelas Han Han.

Ki Bi dan sumoinya saling berbisik sambil menatap Han Han dengan bingung. Belum sempat mereka menjawab, tiba-tiba terdengar jeritan dan keributan dari seberang telaga. Empat orang pendatang baru yang terdiri dari dua kakek pengemis, seorang kakek tua, dan seorang pemuda muncul dengan penuh kekacauan. Mereka mengamuk, melemparkan murid-murid lelaki Hek-yan-pang ke air.

"Hayo, mana Hek-yan-pangcu dan bocah bernama Han Han itu! Keluar kalian untuk menebus dosa!" teriak mereka. "Ini kami, Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai, yang datang memenuhi undangan. Keluarlah untuk ditantang *pibu*!"

Ki Bi dan murid-muridnya terkejut. Belum sempat mereka bertindak, para pendatang itu sudah meluncur membelah telaga menuju ke arah mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment