Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 84

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 84

Sepak terjang mereka luar biasa cepat. Anak-anak murid Hek-yan-pang tiba-tiba sudah terlempar dan disapu bersih.

Sesaat kemudian, empat orang itu melompat turun ke pulau. Kakek gundul itu bersinar-sinar matanya dan mendengus keras. Ki Bi segera berkelebat diikuti yang lainnya, sejenak melupakan keberadaan Han Han.

"Para pengacau dari mana ini? Berani sekali membuat onar!"

"Ha-ha, kalian siapa?" Pemuda itu—yang bergerak menyambut Ki Bi mendahului tiga temannya—tampak sombong dan mengandalkan teman-temannya, terutama gurunya, kakek gundul yang matanya berkilat-kilat sebagai tanda memiliki *sinkang* yang hebat.

"Mana Han Han, ketua Hek-yan-pang yang terhormat? Aku Sing Kok, dan ini guruku, Pat-jiu Sian-ong. Dulu kami dihina dan sekarang ingin menebus kekalahan!"

"Hm, kau Sing Kok?" Ki Bi tiba-tiba mengerutkan kening. Ia teringat cerita ketuanya bahwa dulu pernah bertemu dengan anak muda ini, juga dengan Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai yang kini berdiri di depannya. Saat memandang dua pengemis itu dan beradu pandang dengan Pat-jiu Sian-ong yang tatapannya berkilat menyeramkan, Ki Bi tergetar, namun seketika kemarahannya memuncak.

"Bagus sekali. Rupanya kau dan dua pengemis tua bangka ini adalah orang-orang sombong di pesta Tek-wangwe itu. Apakah kalian datang untuk mencari mati? Ketua kami sedang keluar, tetapi kami dapat melayani kalian dan mengantarkan kalian ke akhirat jika mau!"

"Ha-ha, sombong sekali. Tapi sebutkan siapa kau dan apa kedudukanmu di sini!"

"Aku wakil ketua, pimpinan sementara di tempat ini!"

"Bagus, kalau begitu panggil Han Han dan suruh dia menghadapi aku!"

"Aku Han Han," ujar Han Han sambil melangkah maju. Ia merasa heran dan bingung mengapa namanya disebut berkali-kali. Karena sejak tadi hanya mendengarkan, dan pemuda bernama Sing Kok itu mencarinya padahal ia berada tepat di sana, Han Han merasa aneh dan memutuskan untuk maju dengan santai.

Begitu ia maju dan menyebutkan namanya, pemuda itu tertegun dan dua pengemis di sebelahnya mengerutkan kening.

"Kau siapa?" bentak Sing Kok. "Aku tidak mencari dirimu!"

"Tapi aku Han Han," jawab pemuda itu tenang. "Kau berkali-kali menyebut namaku. Nah, aku di sini, kau mau apa?"

Sing Kok terdiam. Tentu saja ia terkejut karena Han Han—pemuda yang tidak ia kenal—maju menerima tantangannya. Yang ia maksudkan bukanlah pemuda ini, melainkan Giam Liong, keturunan Si Golok Maut. Karena tidak tahu perubahan di tempat itu, ia menjadi marah dan mengibaskan lengannya.

"Aku bukan mencari kau, melainkan pemuda sombong yang lain, putra Hek-yan-pangcu. Minggirlah!"

Han Han tersenyum. Ia tidak mengelak saat dikibas, ia diam saja, namun *sinkang* di tubuhnya bekerja melindungi diri. Ketika pukulan itu mengenai tubuhnya, hawa sakti dalam tubuh Han Han menolak serangan tersebut secara gaib, membuat Sing Kok terpental sendiri.

"Dess!"

Semua orang terkejut. Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai terbelalak karena mereka tidak melihat pemuda itu menangkis. Sing Kok tahu-tahu terpental dan berteriak. Saat ia melompat bangun dengan muka merah padam karena marah, Sing Kok kembali membentak dan menerjang.

"Kau kira aku takut? Jangan sombong, kepadamupun aku tak gentar!" Ia melepas bacokan-bacokan berbahaya. Murid Pat-jiu Sian-ong itu menyerang Han Han dengan sengit. Namun, Han Han mengelak ke sana kemari. Ia tidak menangkis karena dari satu gebrakan saja ia tahu bahwa lawannya masih memiliki kepandaian rendah.

Sing Kok menjadi marah besar karena Han Han terus-menerus menghindar. "Hei, jangan pengecut! Sambut pukulanku dan jangan lari-lari!"

"Aku tidak lari-lari," jawab Han Han tenang. "Kepandaianmu saja yang masih rendah, Sing Kok. Kalau aku menyambut pukulanmu, jangan-jangan kau terpental lagi!"

"Keparat, kau menghina! Ayo terima pukulanku kalau jantan... haitt!" Sing Kok yang kalap menerjang dengan kedua tangan secara bersamaan. Tangannya diputar cepat hingga membentuk delapan pasang lengan, mengurung Han Han dari segala penjuru.

Han Han kagum, namun tidak terkejut. Karena lawan memaksa, ia menggerakkan tangan kirinya. "Baiklah, kau memaksa, Sing Kok. Dan ini barangkali pelajaran pertama... plak!"

Sing Kok menjerit ngeri saat terbanting oleh tangkisan Han Han. Ia roboh dan terguling-guling dengan muka pucat sambil mengaduh. Pat-jiu Sian-ong segera berkelebat ke depan. Melihat muridnya tidak dapat bangun dan memegangi lengan yang dikira patah, kakek itu marah besar. Namun, saat diperiksa, ternyata Sing Kok hanya terkilir. Anak-anak murid Hek-yan-pang bersorak melihat betapa mudahnya Han Han merobohkan lawan.

"Keparat!" Pat-jiu Sian-ong menatap Han Han dengan amarah, lalu menoleh ke dua pengemis itu. "Kalian tak berbuat apa-apa, Sin-kai? Hanya menonton dan senang melihat muridku dipermalukan?"

"Maaf," Ji-sin-kai bergerak mencabut tongkatnya. "Kami tak kenal pemuda ini, Sian-ong. Tentu saja kami tak akan tinggal diam. Namun, kami mencari Hek-yan-pangcu, bukan orang lain!"

"Pangcu tidak ada di sini," seru Ki Bi tegas. "Kalau kalian ingin mencari keributan, kami yang akan menghadapimu, Sin-kai. Jangan anggap kami meminta pertolongan orang lain!" Ia membalikkan badan menghadapi Han Han dan berterima kasih. "Kau telah menghajar pemuda ini, terima kasih. Tapi harap kau mundur agar orang tak menyangka Hek-yan-pang sudah minta bantuan orang lain!"

Han Han menarik napas dalam. Ia mengangguk dan mundur. Sing Kok, meski marah besar, kini merasa gentar. Apa yang diperlihatkan Han Han mengejutkan hatinya, dan gurunya berbisik bahwa lawan itu bukanlah tandingannya.

Pat-jiu Sian-ong menggeram menatap Han Han. "Kau menghina aku dan mencari penyakit. Majulah kalau ingin membantu Hek-yan-pang!"

"Tidak!" seru Ki Bi lantang. "Dia tamuku, Pat-jiu Sian-ong, tak akan mencampuri urusan kita. Nah, siapa yang akan maju menghadapi aku!"

Ki Bi mencabut pedangnya dengan gagah. Ia memberi isyarat kepada dua adik seperguruannya. Tiga wakil Hek-yan-pang itu bersiap menghadapi lawan, sementara Sing Kok masih menahan sakit di kedua lengannya yang membiru.

"Hm, kalian benar-benar mewakili ketua kalian? Berani maju menghadapi kami?" Ji-sin-kai mengejek dan menyeringai. Diam-diam ia tetap heran dengan kepandaian Han Han, sehingga ia merasa lebih baik menghadapi para wanita Hek-yan-pang tersebut.

Melihat Ji-sin-kai maju, Ki Bi dan dua rekannya bersiap. "Kenapa hanya tua bangka ini saja? Kami bertiga siap menghadapi kalian bertiga pula!"

"Hm, Ji-sin-kai ingin menghadapi kalian, siluman betina. Hadapi saja dia, nanti kami maju kalau diperlukan!"

"Benar," Ji-sin-kai tertawa sombong. "Pat-jiu Sian-ong dan suhengku tidak akan maju kalau aku masih hidup. Majulah saja, kalian boleh mengeroyokku!"

"Sombong!" bentak Ki Bi marah. "Kami tak suka main keroyokan, Ji-sin-kai. Biar kami berdua mundur dan sumoi-ku, Ai Ling, yang akan menghadapimu!"

Ki Bi dan satu rekannya mundur, sementara Ai Ling maju dengan pedang terhunus.

"Kalian tamu, mulailah dulu. Aku akan menunjukkan kepadamu cara menerima pelajaran dari tuan rumah!"

"Keparat!" wajah kakek itu memerah. "Kau hanya anak murid, tikus betina. Jangan bertingkah atau kau akan mampus dihajar tongkatku. Kau wanita, aku laki-laki. Nah, mulailah!"

Ai Ling mendengus. Tanpa banyak bicara, ia bergerak dan pedangnya menyambar ke depan. "Baik, kau yang minta. Awas dan jaga lambungmu... sing!"

Pedang yang menusuk ke arah perut tiba-tiba dikelit, lalu berbalik menyambar leher. Saat dikelit lagi, pedang itu menukik menuju ulu hati. Ji-sin-kai terkejut karena pedang lawan bergerak sangat cepat. Karena terus terdesak, kakek itu terpaksa menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.

"Trangg!" Tongkat besi itu berpijar menyilaukan mata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment