Chapter 85
Ai Ling tergetar namun mampu menahan diri, tanda wanita itu memiliki *sinkang* kuat dan tenaganya tak kalah dengan laki-laki. Ji-sinkai terkejut karena lawannya ternyata hebat; hal itu wajar karena Ai Ling adalah murid senior di perkumpulan Walet Hitam.
Ketika wanita itu membentak dan bergerak cepat, pedang sudah naik turun menyambar. Jisin-kai pun terkepung dan dihujani serangan kombinasi, baik berupa tusukan maupun babatan miring.
"Trang! Trangg!" Semua yang melihat terbelalak.
Ji-sin-kai akhirnya marah karena *Ang-in Kiam-sut* (Silat Pedang Awan Merah) sudah menekan dari segala penjuru. Pedang di tangan lawannya itu tampak ringan dan telah berubah menjadi gulungan awan putih yang membungkus dirinya. Sang pengemis sibuk menangkis, bahkan tongkat di tangannya tak sempat membalas serangan.
Ji-sin-kai memekik gusar. Ketika gulungan pedang lawan kian merapat tanpa jalan keluar, wajah kakek itu pucat dan merah bergantian. Ia mengeluarkan seruan panjang, lalu dengan berani mendobrak gulungan pedang lawan menggunakan tongkatnya, meski harus menanggung risiko terserempet serangan.
"Crik! Crangg!" Benar saja, kakek itu berhasil lolos.
Sambil membentak dan memutar tongkat mengikuti gulungan sinar putih, Ji-sin-kai bergerak cepat agar tidak terdesak. Pengemis itu melepaskan pukulan kiri mengiringi gerakan tongkat yang mendobrak serbuan lawan. Pedang bertemu tongkat, namun lengan kakek itu terserempet; meski tidak berbahaya, hal itu membuat Ji-sin-kai meradang. Ia telah memandang rendah lawan yang dianggapnya hanya seorang murid biasa, tanpa tahu bahwa ia menghadapi seorang senior yang kepandaiannya sudah tinggi.
Saat kakek itu marah karena merasa diremehkan setelah berhasil dilukai, ia menggereng dan tiba-tiba memainkan silat tongkatnya, *Koai-tung* atau Tongkat Gila.
"Sute, jangan ceroboh. Lawan ternyata cukup lihai!"
"Ya, aku salah. Tapi sekarang tak mungkin dia mendesakku, Suheng. Aku akan membalas dan membuatnya jatuh bangun!"
*Trak! Trak!* Tongkat yang bergerak liar itu memukul dan meliuk, menahan serbuan pedang dengan irama yang menekan hingga pedang Ai Ling terpental. Ji-sin-kai menambah tenaganya dan bertempur dengan buas. Tongkatnya menderu bagai kesurupan. Ketika Ai Ling mencoba menangkis namun kembali terpental, *Ang-in Kiam-sut* miliknya seolah mati langkah, tak dapat berkembang menghadapi serangan tongkat yang gencar.
Ji-sin-kai balas mendesak! "Ha-ha, ayo mana kepandaianmu, tikus betina? Sekarang aku membalas dan menindihmu. Awas tongkat kalau tak ingin kepala pecah... Dess!"
Semua terkesiap. Tongkat menyambar kepala, namun pedang yang baru saja terpental berhasil melakukan tangkisan kuat. Ketika Ai Ling mampu melemparkan tubuh ke belakang dan berguling menjauh, tongkat itu menghajar tanah hingga berlubang. Ji-sin-kai tertawa mengejek dan terus memburu dengan serangan tongkatnya yang gencar. Si kakek ternyata mampu mengubah keadaan.
Namun, ketika lawan melengking dan berseru marah, tiba-tiba Ki Bi membentak *sumoi*-nya agar mengeluarkan Silat Pedang Matahari (*Pek-jit Kiam-sut*). "Keluarkan *Pek-jit Kiam-sut*, tinggalkan *Ang-in Kiam-sut* dan mainkan gerakan-gerakan menyilang!"
Sang *sumoi* mengangguk. Memang Ai Ling tidak mungkin membendung serangan lawan dengan ilmu pedang Awan Merah. Ia harus cepat mengganti jurus. Begitu menghindar dari satu serangan tongkat, pedang di tangannya tiba-tiba melakukan gerak menyilang seperti gunting.
"Crangg!" Ji-sin-kai terbelalak. Tongkatnya tergetar karena tenaga lawan tiba-tiba berlipat ganda. Ai Ling pun memperoleh semangat baru. Ketika wanita itu melengking dan memutar pedangnya dalam gerak menyilang, tongkat tertahan dan pertempuran kembali imbang.
"Ayo pentang bacotmu!" ejek Ai Ling. "Keluarkan semua kepandaianmu, Ji-sin-kai. Lihat nonamu akan memberimu pelajaran bermain pedang!"
"Keparat!" Kakek itu mendelik. "Kau boleh juga, tikus betina. Tapi kita akan adu kuat siapa yang lebih tahan... Traktrak!"
Tongkat kembali bertemu pedang. Ji-sin-kai melotot karena lawannya mampu memperbaiki diri. Pedang kembali bergerak naik turun dengan gerakan menggunting yang sangat berbahaya. Kakek itu menggeram memaki, namun Ai Ling tertawa dan terus membalas. Keduanya bertanding seru tanpa ada yang kalah atau menang. Anak-anak murid bersorak, sementara Ki Bi dan yang lain tersenyum gembira karena Ai Ling mampu menandingi lawan.
Namun, saat Ji-sin-kai mendesis dan mengerotokkan buku jarinya, tangan kirinya tiba-tiba menyambar dengan pukulan *sinkang*. Ai Ling lengah sekejap karena harus memecah perhatian. "Plak! Dess!" Ai Ling terhuyung oleh satu tamparan miring karena saat itu tongkat lawan menderu dari arah kanan.
Ai Ling memekik dan mengayunkan pedangnya dalam jurus "Matahari Memecah Bianglala", bergerak di tiga penjuru untuk mengecoh lawan, hingga satu guratan kecil mengenai pundak kakek itu. Sama-sama terluka. Ji-sin-kai mendelik, sementara Ai Ling berusaha memainkan *Pek-jit Kiam-sut*. Sayangnya, jurus yang dimiliki Ai Ling kurang banyak. Dia harus mengulang gerakan yang sama, sehingga akhirnya Ji-sin-kai hafal.
Kakek itu tertawa aneh dan mampu berkelit dari setiap tusukan atau sambaran pedang. Ai Ling pun terdesak karena kalah pengalaman. Ki Bi dan yang lain mulai khawatir melihat *Pek-jit Kiam-sut* yang seharusnya hebat itu ternyata hanya setengah matang dikuasai Ai Ling.
"Ha-ha, keluarkan semua kepandaianmu, tikus betina! Perlihatkan *Pek-jit Kiam-sut* yang hebat itu!" Ai Ling menggigil. Jika saja silat pedangnya sempurna, tentu dia bisa melancarkan serangan yang bervariasi. Namun, Beng Tan memang tidak memberikan semua kepandaiannya. Ilmu itu hanya pelengkap dari *Ang-in Kiam-sut*.
Ji-sin-kai, yang cerdik dan awas, segera melihat kelemahan itu setelah puluhan jurus. Tongkatnya menderu, menyodok, menusuk, hingga satu tipuan tongkat mengenai paha wanita itu. "Dess!" Ai Ling terpelanting. Ia bergulingan diburu lawan yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Saat pedang Ai Ling diputar dengan bingung, kaki pengemis itu menendang. "Dess!" Ai Ling mengeluh terlempar lagi.
Karena kakek itu terus mengejar dan Ai Ling tidak bisa bangun, pukulan tangan kiri pengemis itu mengenai dada Ai Ling. Wanita itu memuntahkan darah. Murid-murid yang menonton menjadi pucat. Keadaan sungguh buruk. Ji-sin-kai semakin ganas, tongkatnya menggebuk punggung lawannya dengan kejam. Ia tertawa bergelak dan bersiap mengeluarkan satu jurus berbahaya di mana tongkatnya ditimpukkan dengan keji.
"Telengas!" Seruan itu muncul dari mulut Ki Bi. Ia tak tahan melihat *sumoi*-nya menjadi bulan-bulanan. Ketika tongkat itu meluncur ke arah dada Ai Ling, Ki Bi melengking dan berkelebat ke depan, melemparkan pedangnya untuk menyambar tongkat lawan.
Namun, sebelum pedang Ki Bi mencapai sasaran, sebuah benda hitam lain meluncur lebih cepat. "Tak!" Tongkat Ji-sin-kai hancur berkeping-keping. Pedang milik Ki Bi sendiri akhirnya meluncur dan menancap di pohon, sementara tongkat itu sudah hilang.