Chapter 86
Ketika wanita itu tertegun dan Ji-sin-kai terbelalak kaget, Pat-jiu Sian-ong tiba-tiba berkelebat dan berdiri di depan Han Han.
"Kau curang, membantu lawan?" tanya Ki Bi terkejut.
Sebenarnya, tak ada yang tahu siapa atau apa benda hitam yang menyambar tadi. Itulah batu kecil yang memang diluncurkan oleh Han Han. Pemuda ini meraih dan menjentikkan batu itu karena melihat bahwa Ai Ling tidak mungkin selamat. Wanita itu kalah karena Pek-jit Kiam-sut-nya yang kurang matang. Padahal dengan Silat Pedang Awan Merah hasilnya bisa seri, tetapi Ji-sin-kai memiliki variasi pukulan yang lebih banyak. Jadi, Ai Ling juga tak mungkin hanya mengandalkan Silat Pedang Awan Merahnya itu.
Maka, begitu wanita itu kebingungan karena dengan Pek-jit Kiam-sut dia hanya mampu bertahan empat puluh jurus—ditambah silat ini pun tidak lengkap atau tidak matang—saat dia didesak, terguling-guling, dan menerima empat atau lima kali hantaman tongkat, Ai Ling benar-benar berada di ambang bahaya. Ji-sin-kai tiba-tiba ingin mengakhiri pertandingan dengan menimpukkan tongkatnya. Senjata itu diluncurkan dari jarak dekat dan siapa pun terkejut melihat kekejian itu. Sin-kai tidak mengampuni lawannya sehingga Ai Ling pasti tewas.
Namun, ketika batu hitam itu mendahului pedang dan tongkat hancur berkeping-keping, kini Pat-jiu Sian-ong berkelebat dan menghadapi Han Han, membuat semua mata terbelalak memandang pemuda ini. Ki Bi juga baru tahu bahwa kiranya pemuda inilah yang menyelamatkan sumoinya. Ai Ling sudah meloncat bangun dan gemetar di sana sambil merintih.
Ketika semua orang memperhatikan Han Han dan Ji-sin-kai melotot marah, Han Han menarik napas dalam-dalam menghadapi kakek tinggi besar berkepala gundul ini dengan sikap yang tenang dan mengagumkan.
"Hm, kau awas dan tajam pandangan, Sian-ong. Tapi kau tak dapat menyebutku curang. Aku hanya menolong wanita itu, tidak membokong Ji-sin-kai. Siapa yang curang dan kenapa harus disalahkan? Pertandingan ini katanya bersifat pibu, tetapi pihakmu ternyata ingin membunuh. Kalau kau menyalahkan aku, maka ini tidak benar karena aku hanya membantu yang lemah, berpijak pada keadilan!"
Sian-ong mendelik. "Kau terang-terangan membela Hek-yan-pang?"
"Aku hanya tak suka kepada orang-orang yang berwatak kejam. Kalau kau menganggap pihakmu benar, tentunya kau tak memperbolehkan Ji-sin-kai menimpukkan tongkatnya."
"Keparat, kau lancang, anak muda! Kalau tidak diberi pelajaran, tentu kau akan semakin bertingkah!" Sian-ong menggerakkan lengannya dan tiba-tiba menyerang Han Han dengan pukulan dahsyat. Kakek itu marah dan geram karena dua kali Han Han membuat ulah; tadi merobohkan muridnya, sekarang menghancurkan tongkat Ji-sin-kai.
Tetapi ketika dia bergerak dan melepas sinkang, Han Han menyambut tanpa mengelak, kali ini ingin memberi pelajaran. "Sian-ong, kau rupanya terlalu jumawa, menganggap rendah orang lain. Biarlah kusambut pukulanmu dan setelah itu jangan membuat ribut."
*Dess!*
Sian-ong terkejut. Pukulannya diterima Han Han dan serangkum angin kuat menahan dorongannya itu. Dia terbelalak dan menambah tenaga, tetapi Han Han tetap tak bergeming. Ketika dia membentak dan menjejakkan kaki, tiba-tiba dia terdorong dan terhuyung mundur.
"Maaf, Sian-ong," seru Han Han. "Pergi dan tinggalkan tempat ini secara baik-baik. Aku tak ingin bermusuhan denganmu, kita berdamai saja!"
"Keparat!" Kakek itu menggereng, berkelebat, dan menggerakkan kedua tangannya lagi. "Kau mampu mendorong aku, anak muda. Tapi coba lagi yang ini dan terimalah!"
Han Han mengerutkan kening. Si kakek murka, wajahnya membesi, urat-urat di dahi menonjol, dan sikap Dewa Berlengan Delapan ini sangat menakutkan. Ketika Han Han mengelak, anak-anak murid menjerit karena terlempar oleh angin pukulan yang terus menyambar. Sian-ong mengejar dan bertubi-tubi melepas pukulan. Han Han terkejut dan sadar bahwa di belakangnya banyak terdapat anak-anak murid perempuan. Mereka menjadi korban pukulan Sian-ong, sehingga dia tidak berani mengelak karena khawatir pukulan itu menyambar anak-anak yang tak berdosa.
Ketika Han Han menangkis dan Sian-ong terpental untuk kedua kalinya, Dewa Lengan Delapan itu tiba-tiba mengeluarkan suara dahsyat yang menggetarkan isi pulau. "Anak muda, aku akan membunuhmu!"
Han Han tak dapat berbuat lain. Tiba-tiba dia sudah didesak oleh kakek tinggi besar ini. Sian-ong naik pitam dan tangannya tiba-tiba berubah menjadi delapan pasang, semuanya menyambar dan menghantam dari kiri, kanan, muka, dan belakang. Hebat sekali. Ketika kakek itu terus menyerang meski terpental, Toa-sin-kai memekik dan tiba-tiba menyerang Ki Bi.
"Dan kau pun harus menerima hajaran kami... wut!"
Ki Bi terkejut, tongkat menderu dan kakek itu meloncat mengayun senjatanya. Ki Bi mengelak namun dikejar. Ketika Ki Bi menangkis, pedangnya bergetar karena kalah kuat. Toa-sin-kai menyerang dan mengelilinginya dengan putaran-putaran tongkat yang cepat.
*Des-des-dess!*
Tiga kali tongkat menghajar tanah. Ki Bi melengking. Kakek itu seperti orang kesetanan, mengejar dan menyerangnya lagi bertubi-tubi. Ki Bi cepat menangkis namun kalah tenaga, tertolak, dan terhuyung. Ji-sin-kai pun sudah maju dengan seruan marah, mengobrak-abrik siapa saja yang ada di situ setelah merampas sebatang pedang. Ketika kakek itu memainkan pedang dengan ilmu silat tongkat—lucu namun hebat sekali—tiga anak murid terbabat roboh dan terjungkal mandi darah!
"Heii..!" Han Han terkejut. "Jangan membabi-buta, Sin-kai. Aku akan merobohkanmu kalau berani membunuh lagi!"
"Jangan banyak cakap!" Pat-jiu Sian-ong membentak. "Kau dan aku ada di sini, bocah. Hadapi aku dulu dan lihat pukulanku."
*Des-dess!* Si kakek menekuk kesepuluh jarinya, menghantam dan melepas pukulan dahsyat di mana Han Han lalu mengerahkan sinkang menyambut pukulan lawan.
Lawan tiba-tiba mengamuk dan anak-anak murid Hek-yan-pang kacau balau. Ki Bi menahan Toa-sin-kai, namun si pengemis terlalu lihai; mampu mementalkan pedangnya dan mengikuti gerakan pedang yang dimainkan karena tadi telah memperhatikan atau mempelajari pertandingan sutenya dengan Ai Ling. Maka begitu si kakek bertambah garang dan tongkat menyambar-nyambar, Ki Bi kewalahan, kaget, dan marah. Sumoinya nomor dua, Lin Siu, tiba-tiba menerjang dan membantu dirinya.
"Jangan hiraukan aku. Aku masih dapat menghadapi kakek ini. Tahan dan hadapi Ji-sin-kai, sumoi. Jangan biarkan ia membunuh murid-murid kita!"
"Tapi kau didesak pengemis tua bangka ini, kita harus merobohkannya dulu. Apakah tidak sebaiknya kita mengeroyok kakek ini dan membiarkan Ji-sin-kai menghadapi anak-anak murid kita, suci? Aku khawatir kau celaka, tak ada pimpinan di sini selain dirimu!"
"Tidak, aku masih dapat bertahan. Biarpun aku terdesak, tak mudah tua bangka ini merobohkan aku. Hadapilah Ji-sin-kai itu, sumoi. Jangan biarkan murid-murid yang lain menjadi makanan empuk!"
"Baiklah, kalau begitu aku ke sana. Hati-hati!"
Namun, ketika Lin Siu bergerak dan mau menghadapi Ji-sin-kai, tiba-tiba terjadi hal aneh. Ji-sin-kai berteriak tanpa sebab ketika menerjang anak-anak murid Walet Hitam. Pedang menyambar atau menderu bagai tongkat, kakek itu terhuyung sana-sini, dan pedang di tangannya tiba-tiba terlepas. Anak murid berteriak dan balas menyerangnya, kakek itu tertusuk dan tak dapat menggerakkan tubuh dengan cepat. Lin Siu terheran-heran karena mendadak Ji-sin-kai seperti orang mabuk; kaki dan tangannya kaku.
Lin Siu girang, kakek itu telah melukai banyak anak murid Hek-yan-pang, maka dia menggerakkan tubuh dan pedang di tangannya berkelebat membacok leher. "Kau mampuslah!"
Wanita ini terkejut. Pedang yang menuju leher tiba-tiba melenceng. Sebutir batu mengenainya dan Sin-kai yang terkejut melihat serangannya juga tiba-tiba roboh terguling. Belakang lutut kakek itu juga disambar sebutir batu lain yang akhirnya menotok jalan darah, membuat Ji-sin-kai terguling dan ancaman pedang Lin Siu mengenai bahunya saja.
Ketika dua orang itu sama-sama terkejut sementara Lin Siu marah dan penasaran siapa yang melepas batu hitam, si kakek mengeluh dan bergulingan meloncat bangun. Wanita ini tertegun mendengar seruan Han Han.
"Jangan menumpahkan darah, jangan saling bunuh. Biarkan dua orang pengemis itu ke sini dan bergabung dengan Pat-jiu Sian-ong ini!"
Ajaib, Toa-kai dan Ji-kai tiba-tiba terhuyung-huyung ke arah Han Han. Mereka tersedot sesuatu dan tampaklah bahwa Han Han menggerak-gerakkan tangan kirinya ke arah dua pengemis itu. Ki Bi yang sedang didesak Toa-kai tiba-tiba merasa ditolak tenaga gaib. Toa-sin-kai sekonyong-konyong terbelalak, mengeluh, dan berteriak kaget karena tubuhnya mendadak ditarik sesuatu menjauhi lawannya. Ketika sutenya juga mengalami hal yang sama dan mereka ternyata disedot Han Han—yang bertanding dengan sebelah lengannya yang lain melayani Sian-ong—maka kakek tinggi besar berkepala gundul itu juga terkejut.
Han Han memang menunjukkan kepandaiannya. Tadi, setelah Ji-sin-kai dengan tak kenal ampun menghajar dan mau membunuh Ai Ling, pemuda ini segera tahu bahwa murid-murid Hek-yan-pang masih bukan tandingan pengemis itu, padahal di situ masih ada Pat-jiu Sian-ong yang tampaknya lebih hebat daripada kawan-kawannya. Kakek itu bersikap memimpin dan semuanya tunduk. Ketika hanya kakek gundul ini pula yang tahu akan bantuannya terhadap Ai Ling, lemparan batu hitam tadi, maka Han Han tak ingin lagi bersikap menunggu. Dia melihat para pendatang ini merupakan orang-orang bengis.