Chapter 87
Han Han tidak tahu apa yang pernah terjadi dengan dua pengemis itu di kediaman Tek-wang-we, karena orang yang berhadapan saat itu bukanlah dirinya, melainkan Giam Liong. Namun, karena Han Han tertarik mendengar namanya disebut-sebut—orang-orang ini kiranya hendak membalas dendam terhadap ketua Hek-yan-pang dan putranya yang juga bernama Han Han—maka dengan tenaga sinkang-nya, Han Han menyedot dua kakek itu.
Pat-jiu Sian-ong masih dilayaninya dengan baik, tetapi matanya mengawasi pula sepak terjang Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai, di mana wanita berbaju hitam yang gagah itu sedang didesak. Karena telah mengukur bahwa para pendatang ini lebih lihai daripada lawan-lawannya, apalagi ia memiliki persoalan dengan Hek-yan-pang terkait wanita bernama Wi Hong, maka Han Han memutuskan untuk membantu anak-anak murid Hek-yan-pang tersebut. Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawan dinilai bertindak tidak beraturan karena tuan rumah jelas sedang pergi, sehingga tidak seharusnya mereka menyerang murid-murid yang tidak memiliki persoalan dengannya. Begitu Han Han bergerak untuk mencegah banjir darah, Toa-kai dan Ji-kai disedotnya dengan sinkang istimewa, lalu ia bergerak mengimbangi Pat-jiu Sian-ong yang sedang murka.
"Hei, kalian! Tak usah ke sini. Tak perlu membantuku, hancurkan saja anak-anak murid Hek-yan-pang itu. Jangan ke mari!" Sian-ong berteriak membentak dua pengemis tua itu.
Dewa Lengan Delapan ini tidak tahu bahwa dua temannya itu terpengaruh oleh sedotan Han Han. Mereka sudah mencoba melepaskan diri, namun aneh dan ajaib, mereka tidak mampu. Betapapun mereka berkutat, tetap saja mereka tertarik ke tempat pertempuran. Sian-ong mengira akan dibantu, padahal Toa-kai dan Ji-kai hanya bisa menggeram saat disedot Han Han. Ketika pemuda berbaju putih itu tertawa dan menangkis satu pukulan Sian-ong hingga lawannya tergetar dan terpental marah, dua pengemis itu pun menggerakkan senjata mereka menghantam Han Han.
"Kau pemuda keparat, siluman!"
Han Han tidak mengelak. Ia baru saja mendorong Pat-jiu Sian-ong dan kini menghadapi dua pengemis itu. Tongkat dan pedang di tangan dua kakek itu menyambar, tapi dengan tenang Han Han menjentikkan kuku jarinya. Saat dua pengemis itu berteriak karena telapak tangan mereka terasa seperti pecah akibat sentilan yang luar biasa kuat itu, Pat-jiu Sian-ong maju lagi. Ia sadar bahwa Han Han sengaja memaksa dua temannya untuk berkumpul agar bisa dikeroyok.
"Keparat, kau sombong dan pongah, anak muda. Tapi aku akan membunuhmu dan melipat punggungmu menjadi dua!"
"Hm, kaulah yang sombong. Kau tidak tahu diri dan hanya mengandalkan kekuatan, Pat-jiu Sian-ong. Kusuruh pergi baik-baik tidak mau, kini malah mengacau di tempat orang. Maaf, aku tidak dapat membiarkan sepak terjangmu."
Des! Dess! Si kakek gundul memekik, terpental karena berkali-kali kalah tenaga. Sinkang pemuda itu hebat sekali hingga ia tidak pernah menang. Kakek itu mendelik. Ketika ia kembali berkelebat dengan tubuh berputaran cepat dan lengan menyambar dari delapan penjuru mata angin, ia berseru agar Toa-sin-kai maupun adiknya menyerang pemuda itu dari kiri dan kanan.
"Aku akan menghadapinya di depan, kalian di kiri kanan saja. Awas, aku akan mengeluarkan semua kepandaianku untuk menghajar pemuda ini!"
Anak-anak murid terbelalak. Pat-jiu Sian-ong tiba-tiba berputar sangat cepat sementara ujung lengan bajunya mendadak kaku, lurus, dan menderu-deru. Setiap pukulan atau kibasan menciptakan angin besar hingga beberapa anak murid terdorong, bahkan Ki Bi yang berada di depan terhuyung-huyung. Sian-ong marah luar biasa; kini bukan hanya lengannya yang bergerak, melainkan juga ujung lengan bajunya. Sekali luput menyambar, sebatang pohon berderak roboh.
Anak-anak murid terpekik melihat kedahsyatan si kakek gundul itu. Namun, ketika Han Han mampu menghadapi semuanya dan lengan pemuda itu juga bergerak naik-turun menangkis atau mengibas, kedahsyatan Pat-jiu Sian-ong mulai tertahan. Mula-mula ujung lengan baju Pat-jiu Sian-ong meledak berkali-kali saat bertemu tangkisan pemuda itu, lalu lunglai dan tidak lagi kaku. Ketika lengan kakek ini mulai menggantung karena setiap adu pukulan membuatnya menyeringai kesakitan akibat hawa panas yang membakar ototnya, orang mulai melihat kakek itu terhuyung-huyung.
Gempuran pukulannya bertemu tenaga mukjizat yang mengejutkan. Kakek itu selalu tersentak karena pukulannya tertahan dinding tenaga bagaikan tembok baja. Saat dari tembok tenaga itu muncul hawa panas yang membakar dan mengembang ke kiri-kanan—membuat Toa-kai dan Ji-kai mandi keringat—ujung baju Pat-jiu Sian-ong tidak dapat diisi sinkang lagi. Setiap kali ia mencoba mengeraskannya, tenaga itu mendadak lembek dan lemas saat bertemu hawa panas tersebut, persis seperti bongkahan salju yang dipanasi matahari.
"Aduh, tongkatku hangus. Terbakar!"
"Benar, dan pedangkupun merah membara, Suheng. Lihat, senjataku tidak dapat dipakai lagi!"
Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai berteriak karena pedang dan tongkat mereka berubah. Tongkat menjadi hitam kemerahan, sementara pedang dari baja itu merah membara. Itulah akibat hawa panas yang keluar dari tangan Han Han. Pemuda ini mengeluarkan Yang-sinkang hingga seluruh udara di tempat itu panas membara. Ki Bi dan anak-anak murid Hek-yan-pang terkejut melihat pakaian Ji-sin-kai hangus dan berkobar.
"Hei, bajumu terbakar!"
"Kau juga! Celanamu berasap, Suheng. Awas, kebakaran!"
Dua orang itu membanting tubuh dan bergulingan. Mereka ngeri karena api berkobar cepat dan melahap pakaian mereka. Karena kebetulan berada di dekat telaga, mereka segera menceburkan diri.
"Byur!"
Semua mata terbelalak. Anak-anak murid tertawa geli melihat dua pengemis tua yang tadi galak kini berubah seperti anjing kecemplung air. Pakaian mereka basah kuyup, namun bagian yang terbakar sudah tidak dapat diselamatkan. Kulit pucat dan keriput dari bokong pengemis tua itu terlihat, apalagi celana Toa-sin-kai melorot saat ia keluar dari air. Kejadian itu memancing tawa para murid wanita.
Han Han mengelak sebuah pukulan dahsyat Sian-ong sambil meliukkan tubuh. Ia merasa sudah cukup melayani lawan dan ingin segera mengakhiri pertandingan. Saat serangan berikutnya datang dan sebatang pohon kembali roboh, Han Han tidak menyambut pukulan itu, melainkan melancarkan dua tusukan jari ke mata kakek tersebut dengan tenaga Yang-sinkang yang mendesis.
"Sian-ong, cukup semuanya ini. Kita hentikan pertandingan dan kau pergilah!"
Dess!
Sian-ong terlempar dan mencelat. Kakek itu sudah berkali-kali merasakan gempuran Han Han. Hawa panas sudah cukup membuat kulitnya merah, apalagi Han Han juga melumpuhkan sinkang di ujung lengan bajunya. Saat tusukan jari itu mengancam biji matanya, Sian-ong berteriak dan menangkis, namun sebuah sapuan membuatnya terpelanting. Ketika Han Han mengarahkan tusukan ke tengah kening, kakek gundul itu meramkan mata karena serangan sudah tidak dapat dihindari.
"Cuss!"
Kakek itu mengeluh dan terlempar. Saat disapu tadi, Han Han telah menyentuh jalan darah di mata kakinya. Rasa sakit dan pedih yang menyengat membuat kakek itu mengerang tertahan. Ia terbanting dan tidak mampu bangun; mata kakinya retak sementara keningnya melesak terkena tusukan Han Han. Murid-murid Hek-yan-pang bersorak melihat kakek itu roboh.
"Hore, kakek iblis itu kalah!"