Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 88

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 88

"Pemuda ini menang!" "Ya, dan kedua pengemis sombong ini pun seperti anjing kecemplung air."

"Bunuh mereka, pemuda itu membantu kita!" Han Han terkejut.

Mengusap keringat dan tersenyum memandang Pat-jiu Sian-ong, mendadak anak-anak murid Hek-yan-pang bersorak-sorak dan maju menerjang. Tadi mereka ketakutan, tetapi begitu tiga orang ini roboh, mendadak semuanya menjadi berani dan marah. Tiga orang itu telah membunuhi teman-teman mereka seperti orang membunuhi atau membabat ayam.

Ai Ling, sumoi dari Ki Bi, pun sudah melayang maju dan melepaskan serangan ke arah Ji-sin-kai. Pedangnya menusuk dan siap mencoblos jantung pengemis yang menggigil, pucat, dengan tubuh lemah itu. Maklumlah, hawa panas yang dikeluarkan Han Han telah menguras semua keringat kakek ini hingga Ji-sin-kai seolah-olah "kering".

Namun, begitu pedang berkelebat dan anak-anak murid yang lain juga menghambur ingin membunuh Sian-ong yang retak mata kakinya, tiba-tiba menyambar puluhan batu kecil disertai angin kuat yang membuat mereka mundur. "Jangan membunuh, jangan menyerang lawan yang sudah kalah. Mundur... tak, tak, cring!"

Ai Ling dan yang lain terkejut. Murid-murid Hek-yan-pang tiba-tiba roboh berpelantingan disambar batu-batu kecil itu, terkena lemparan atau totokan jarak jauh. Ketika Ai Ling menjerit karena pedangnya terlepas dan Ji-sin-kai terjengkang menyelamatkan diri, Han Han sudah berkelebat dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dialah tadi yang menghalau murid-murid Hek-yan-pang itu.

"Mundur, jangan menyerang. Tak boleh ada darah yang tumpah lagi di sini!"

Anak-anak murid tertegun. Ai Ling terbelalak, tetapi berseru tak puas. Ia terhuyung menghampiri pemuda itu karena pukulan atau benturan batu hitam tadi membuat tubuhnya seakan disengat listrik, kejang, dan sampai saat itu masih belum dapat memulihkan diri. Ketika wanita itu melotot menghadapi Han Han dan anak-anak murid lain bergerak mengurung, wanita ini berseru sambil menuding dengan pandangan mata berapi-api.

"Han Han, orang-orang ini telah membunuh dan membabat murid-murid Hek-yan-pang. Apakah pantas mereka diampuni dan dibiarkan hidup? Kalau kau melarang kami, justru aku ingin menyerang mereka lagi. Mereka itu iblis-iblis kejam!"

"Maaf, barangkali aku dapat bicara dengan pimpinan sementara di tempat ini. Aku pribadi tak dapat melihat tumpahnya darah. Siapapun yang akan membunuh tentu kucegah, baik orang-orang itu maupun murid-murid Hek-yan-pang."

"Kau mau memusuhi kami?"

"Minggir..." sebuah tangan halus tiba-tiba mendorong wanita cantik itu. Ki Bi tahu-tahu menyeruak maju dan menggantikan sumoinya.

"Anak muda ini betul, Ling-moi. Dia telah membuktikan bahwa siapa pun yang akan membunuh orang lain, maka dia akan mencegahnya. Biarkan aku bicara dengannya."

Ketika Ai Ling mundur dan melotot tak puas, Ki Bi—murid utama Hek-yan-pang yang menggantikan ketuanya—menjura di depan Han Han. "Sebelumnya, biarlah kuucapkan terima kasih atas pertolonganmu kepada kami semua. Kau benar. Darah tak boleh tumpah lagi di sini, Han Han. Dan karena kau telah mengambil alih permusuhan ini, maka kami tunduk kepadamu. Tanpa bantuanmu, tentu sumoiku Ai Ling tadi sudah celaka, mungkin tewas. Tanpa bantuanmu, anak-anak murid kami juga akan banyak yang tewas. Baiklah, kami serahkan Pat-jiu Sian-ong dan teman-temannya itu kepadamu. Tapi kami minta keadilan agar utang di sini juga dibayar setimpal!"

"Hm, Bibi cukup bijaksana," Han Han lega, tersenyum memandang wanita ini. "Ada akibat tentu ada sebab, Bibi. Urusan utang-piutang biarlah diselesaikan nanti oleh yang terhormat Ketua Hek-yan-pang dengan kakek-kakek itu. Aku tak dapat memberi apa yang kau minta. Aku hanya ingin mencegah banjir darah di sini dan meredam keganasan kakek-kakek itu untuk tidak berbuat sewenang-wenang. Karena Pat-jiu Sian-ong telah kurobohkan dan pertikaian ini sudah selesai, biarlah aku yang memutuskan dan mereka jangan dibunuh. Pat-jiu Sian-ong boleh datang lagi kalau ketua kalian datang, aku tak akan mencampuri. Tapi kalau kakek itu tak mau tahu dan ingin membuat onar lagi di sini, tentu aku akan bertindak lebih keras dan tak akan membiarkan dia bersikap kurang ajar. Sekarang dia kubebaskan dan kuminta kalian tak mengganggu. Urusan boleh dilanjutkan lagi kalau Ketua Hek-yan-pang yang terhormat sudah pulang!"

Ki Bi mengangguk-angguk. Akhirnya ia melirik dan memberi tanda kepada sumoinya agar tidak membantah Han Han. Pemuda ini telah menolong mereka dan bagaimanapun kata-katanya benar. Kalau tidak ada pemuda itu, barangkali mereka semua terbunuh. Karena Han Han telah mengancam secara halus agar Pat-jiu Sian-ong tahu diri, wanita itu mundur dan menyuruh yang lain menjauh, berbarengan dengan bangkitnya kakek gundul itu yang terpincang dan merah padam, gusar, namun tak berani menyerang Han Han.

"Anak muda, kau lihai tapi sombong. Baiklah, aku terima kekalahan tapi lain kali tak mungkin aku diam menerima hinaan begini lagi!"

"Hm, aku siap melayanimu kapan pun juga," Han Han membalik dan menghadapi kakek itu. Sian-ong sudah menguatkan hati menahan sakitnya. "Tapi kalau aku sombong, kau salah, Sian-ong. Kaulah yang sombong dan sewenang-wenang. Kau telengas dan berjiwa kejam, mengandalkan kekuatan untuk menindas yang lemah. Sudahlah, kau pergi dan kelak boleh ke mari lagi kalau yang terhormat Ketua Hek-yan-pang ada!"

Pat-jiu Sian-ong mendesis. Murid-murid Hek-yan-pang sudah memberi jalan, namun mata mereka melotot. Kalau saja Han Han tak melarang, tentu anak-anak murid ini akan maju melabrak. Mereka melihat kesempatan baik mumpung si kakek gundul itu terluka. Namun, karena Han Han telah melarang dan Ki Bi pun menyuruh mereka mundur, Ai Ling dan yang lain akhirnya mengaku bahwa tanpa Han Han tak mungkin kakek itu pecundang. Begitu si kakek menggeram dan memutar tubuhnya, berturut-turut Toa-sin-kai, Ji-sin-kai, serta Sing Kok berkelebat pergi menyambar perahu. Mereka mengambil perahu milik Hek-yan-pang dan tak malu-malu mempergunakan barang orang.

Ketika perahu meluncur dan anak-anak murid menonton, Pat-jiu Sian-ong tak dihalangi dan akhirnya tiba di seberang. Kakek itu dan teman-temannya sudah berlompatan tanpa menoleh lagi ke belakang. Mereka telah pecundang dan hadirnya Han Han membuat niat mereka hancur. Kekalahan itu terasa bahkan lebih menyakitkan ketimbang bertemu yang terhormat Ketua Hek-yan-pang sendiri. Maklumlah, mereka tak kenal siapa pemuda itu dan dari mana asalnya. Sungguh sial kalah di tangan seorang pemuda tak ternama!

Begitu orang-orang itu lenyap dan Ki Bi memandang Han Han, wanita itu membungkuk dan mengucap terima kasih. "Sungguh kedatanganmu bagai dewa penyelamat. Terima kasih, kau telah menyelamatkan kami semua, Han Han. Dan sekarang, mari kita kembali ke persoalan kita sendiri. Siapa kau ini dan bagaimana pula memiliki nama yang sama dengan putra ketua kami?"

"Aku mencari wanita bernama Wi Hong."

"Tadi sudah kudengar. Dan maaf, apa perlumu mencari wanita ini?"

"Hm," Ai Ling tiba-tiba memotong. "Persilakan dia masuk ke dalam, Suci. Aku melihat Han Han ini seperti ada hubungan rapat dengan ketua kita!"

"Benar," sebuah suara lain tiba-tiba melengking, suara seorang murid wanita yang tak dapat menahan kagumnya kepada Han Han. "Pemuda ini mirip pang-cu kita, Suci. Lihat wajah dan bentuk tubuhnya, begitu persis!"

"Ya, persis sekali. Mirip. Han-kongcu ini mirip ketua kita. Jangan-jangan dia adalah Han Han yang dulu diculik si Wi Hong itu!"

Ketika semua menyahut dan anak-anak murid menjadi ribut, wajah Han Han sebenarnya sudah menarik perhatian karena benar-benar mirip dengan ketua mereka. Han Han sendiri tertegun dan terkejut mendengar seruan atau lengkingan pertama tadi. Bahwa dia diculik Wi Hong dan mungkin putra Ketua Hek-yan-pang itu!

Ketika keributan semakin menjadi karena anak-anak murid mengiyakan, Ki Bi dan Ai Ling memandang Han Han lekat-lekat. Pemuda ini tiba-tiba mengangkat kedua tangannya dan menggigil, mukanya pucat. "Saudara-saudara, berhenti, jangan berisik. Biarkan aku bicara dengan Bibi ini dan kalian diam!"

Lalu ketika semua orang diam dan Han Han menghadapi Ki Bi, pemuda itu bertanya dengan suara jelas serak dan ditahan-tahan, "Tolong beritahukan kepadaku siapa wanita bernama Wi Hong ini. Aku mencarinya karena ada urusan pribadi denganku!"

"Hm, mari masuk ke dalam..."

"Tidak, aku hanya mencari wanita ini, Bibi. Setelah itu akan pergi!"

Ki Bi saling lirik dengan sumoinya, juga mulai terpengaruh. Namun, mengangguk dan menarik napas dalam-dalam, wanita ini menjawab, "Baiklah, tapi sebelum itu bolehkah kutanya apa keperluanmu dengan wanita itu, Han Han? Apa maksudmu mencari dia..."

"Aku mencari ayah ibuku!"

"Astaga!" Ai Ling kini menjerit. "Kalau begitu benar dugaan kami, Han Han. Kaulah putra pang-cu. Ah, kau adalah Han Han yang dulu diculik bekas ketua kami. Benar, kau adalah Ju Han atau Han Han!"

Ketika wanita itu melonjak dan menubruk Han Han, tak dapat menahan dirinya lagi, Han Han tiba-tiba "diserbu" dan diteriaki anak-anak murid yang lain. Mereka bersorak dan meneriaki bahwa inilah putra pang-cu yang hilang. Han Han sekonyong-konyong sudah dipeluk dan dirangkul puluhan orang, sebagian besar murid wanita yang tentu saja membuat Han Han jengah, juga terkejut. Ketika pemuda itu diangkat dan disoraki berulang-ulang, kegembiraan tiba-tiba meledak dan pecah di tempat itu, Ai Ling sudah meloncat dan membawa Han Han berjungkir balik tinggi, melepaskan diri dari serbuan.

"Hore, ini adalah Ju-kongcu! Dia adalah Han Han asli!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment