Chapter 89
"Hei, kita bawa dia berputar-putar!" Ketika Han Han benar-benar sudah dibawa lari kencang dan berputar-putar, anak-anak murid melonjak kegirangan dan mengikuti Ai Ling; pemuda itu pun diarak keliling pulau.
Sebentar saja, bunyi-bunyian mulai dipukul. Apa saja yang dijumpai murid-murid ini ditabuh dengan gencar. Gembreng dan piring ditabuh dengan riuh, suaranya hingar-bingar. Kentongan atau benda apa pun yang ada di sana dijadikan alat musik darurat yang dipukul sekenanya. Anak-anak murid menyambut kegembiraan itu dengan cara mereka sendiri, sementara Han Han tertegun dan terpaku di pundak Ai Ling, terhenyak tanpa bergerak.
Namun, ketika dua kali putaran sudah dilalui dan Han Han sadar, pemuda ini tiba-tiba melepaskan diri dan menekan pundak Ai Ling. Mukanya merah pucat berganti-ganti. Han Han sedang dilanda keharuan sekaligus kebingungan yang menegangkan. Dia putra ketua Hek-yan-pang!
"Cukup... cukup!" Han Han berjungkir balik dan melayang turun di tempat ketinggian. "Aku bingung tapi girang menerima semua ini, Bibi Ai Ling. Tapi ceritakan kepadaku bagaimana semuanya ini. Benarkah aku putra Hek-yan-pang-cu dan apakah kalian tidak keliru?"
"Tak mungkin keliru!" Ai Ling berkelebat dan mengiringi pemuda itu. "Kau adalah putra pangcu yang hilang, Han Han. Kau adalah bocah yang dulu diculik bekas ketua kami!"
"Benar, kau adalah Han-kongcu yang asli. Kau bukan keturunan Si Golok Maut. Kau mirip dan persis sekali dengan ketua kami di waktu muda!"
"Hm, ceritakan kepadaku... ceritakan cepat bagaimana itu. Aku tak sabar!" Han Han yang menggigil dipeluk Ai Ling, memandang murid-murid di bawah yang berteriak-teriak menyebut namanya. Kemudian, Ki Bi mendekatinya.
"Han Han, kau benar adalah putra ketua kami yang hilang. Setelah kau menyebut-nyebut Wi Hong dan mengatakan ingin mencari orang tuamu lewat wanita ini, maka jelas kau adalah anak yang dulu diculiknya itu. Wi Hong telah membuat malapetaka di sini. Sebaiknya kau dengar ceritaku dan biarlah murid-murid itu kusuruh diam!"
Ketika Ki Bi membentak dan mengayunkan lengannya ke bawah, anak-anak murid terbelalak dan berhenti membuat kegaduhan. Segera Ki Bi menceritakan peristiwa itu, disambung oleh Ai Ling yang tak tahan untuk ikut menceritakan. Dua wanita itu bergantian menjelaskan kepada Han Han. Pemuda itu mendengarkan dengan muka berubah-ubah, sebentar pucat, sebentar merah. Ternyata, Wi Hong menculiknya untuk ditukar dengan anaknya sendiri.
Setelah semua penjelasan selesai dan Han Han berhasil menguasai diri, dia bertanya di mana wanita bernama Wi Hong itu. "Kami tak tahu, tapi mungkin di kota raja."
"Dan Han Han yang dulu ada di sini itu?"
"Dia Giam Liong, putra Si Golok Maut itu, Han Han. Kepandaiannya luar biasa dan ayahmu sendiri sampai kalah. Anak ini ikut ibunya!"
"Kemungkinan mereka ke kota raja, mencari Coa-ong-ya," Ai Ling menyambung dengan muka pucat. "Ibu dan anak ini baru saja ke sini, Han Han. Mereka mengobrak-abrik tempat ini. Ayah dan ibumu dibuat malu!"
"Dan kau harus membalas wanita itu. Wi Hong sungguh membuat susah!"
"Tapi ia bekas ketua di sini..."
"Benar, dua puluh tahun yang lalu. Tapi setelah itu diambil alih ibumu, Han Han. Dan karena ibumu menikah dengan ayahmu, maka ayahmulah yang kini memimpin kami!"
"Dan Wi Hong katanya gila..."
"Itu pun benar, tapi sekarang tidak. Setelah bertemu dengan putranya itu, rupanya wanita itu telah sembuh!"
"Hm, baiklah. Dan sekarang di mana ayah ibuku? Ke mana mereka pergi?" Han Han berdebar cemas. Kerinduan besar mencengkeram hatinya. Sekarang dia mendapatkan titik terang dan ingin sekali bertemu dengan ayah ibunya. Han Han tak sabar dan ingin segera bertatap muka. Semua murid mengatakan bahwa wajahnya mirip dengan ayahnya.
Ketika Ki Bi mengangguk, Ai Ling kembali mendahului, "Ayah-ibumu ke kota raja, menyusul Giam Liong!"
"Untuk apa?" Han Han terkejut.
"Kami tak tahu, Han Han. Tapi yang jelas, agaknya ingin melindungi Coa-ong-ya. Dulu ayahmu adalah pembantu dekat Coa-ong-ya dan kini ingin menyelamatkannya dari tangan Giam Liong. Pemuda itu dingin sekali, dia kejam persis mendiang ayahnya, Si Golok Maut!"
"Dan kau persis ayahmu, lembut dan murah hati," Ki Bi menyambung. "Hati-hatilah kalau bertemu pemuda itu, Han Han. Kami di sini tak ada yang dapat menandinginya, entah bagaimana dengan kau!"
"Hm, baiklah. Terima kasih, Bibi. Aku ingin pergi sekarang juga!"
"Eh, kau mau ke kota raja?"
"Benar, aku tak tahan mencari ayah-ibuku itu, Bibi. Kalau benar aku putra Hek-yan-pang-cu, tentu saja aku ingin mengetahui ayah-ibuku. Aku ingin berangkat sekarang juga!"
Han Han tak dapat dicegah. Anak-anak murid melihat pemuda itu melayang turun ke bawah. Ki Bi dan Ai Ling hendak menyambar, namun pemuda itu sudah turun. Ketika murid-murid kembali gaduh dan Han Han hendak meninggalkan mereka, mereka tiba-tiba maju mengurung dan berseru, "Ju-kongcu, bagaimana kami kalau kakek gundul dan teman-temannya itu datang lagi? Masa kau harus pergi setelah baru saja bertemu dengan kami!"
"Benar, jangan tinggalkan kami dulu, Kongcu. Lindungilah kami dan biarlah kau yang memimpin di sini!"
"Tidak, maaf!" Han Han berkelit dan menghindari kerubungan murid-murid. "Ayah-ibuku menyusul lawan berbahaya, Saudara-saudara. Aku ingin membantunya. Kakek gundul itu tak mungkin berani ke sini setelah tadi kurobohkan. Mata kakinya tak akan sembuh dalam waktu seminggu!"
"Tapi kami butuh pemimpin!" Ai Ling berseru dan melayang turun. "Mereka juga benar, Han Han. Tolong pikirkan itu dan jangan biarkan kami sendiri!"
"Maaf," Han Han tetap teguh. "Keinginanku untuk bertemu ayah-ibuku lebih besar, Bibi. Kalau ada musuh menyerbu, kalian masih cukup banyak di sini!"
"Tapi kalau Pat-jiu Sian-ong dan teman-temannya itu tak dapat kami lawan?"
"Kalian menyingkir sementara waktu, tunggu aku dan ayah-ibuku kembali!"
"Hm, Han Han benar-benar sudah tak dapat dihalangi lagi," Ki Bi berkelebat dan ikut melayang turun. "Baiklah, Sumoi. Kita turuti perintahnya karena bagaimanapun kita adalah bawahan. Semua mundur dan jangan merubung!"
Wajah Han Han memerah. "Maaf," katanya agak tersipu. "Aku tidak menganggap begitu, Bibi. Sementara ini pemimpinnya adalah kau. Aku pendatang baru!"
"Tapi kau adalah putra Pangcu!"
"Aku masih ingin membuktikannya lagi di depan ayah-ibuku!" Han Han berseru. "Sementara ini anggap saja aku pendatang, Bibi. Terima kasih kalian mengerti perasaanku. Sudahlah, aku mau pergi dan tak akan lama meninggalkan kalian!"
"Sungguh?"
"Tentu, Bibi. Bukankah bagaimanapun aku masih harus melindungi tempat ini dari orang-orang macam Pat-jiu Sian-ong itu!"
Tanpa mau dicegah lagi, tiba-tiba Han Han berkelebat dan tahu-tahu sudah duduk di atas perahu. Gerakannya luar biasa cepat. Begitu semua tersentak dan menoleh, Han Han tersenyum lalu mengayuh dayung. Perahu itu tiba-tiba mencelat bagai dilempar tangan raksasa, persis seperti dulu Giam Liong mendatangi tempat itu bersama ibunya.
"Bibi, selamat tinggal. Sampai bertemu lagi!"
Anak-anak murid terbelalak. Mereka mendecak kagum melihat Han Han menggerakkan dayung hingga perahu melompat-lompat atau terbang di atas permukaan telaga. Setiap ayunan dayung membuatnya melesat dua puluhan meter. Bukan main!
Ketika sebentar kemudian pemuda itu sudah berada di seberang dan meloncat keluar, Han Han melambaikan tangan lalu lenyap bagaikan iblis. Semua takjub dan bengong. Jarak telaga yang biasanya ditempuh lima sampai sepuluh menit, ternyata ditempuh Han Han hanya dalam beberapa detik saja.
Begitu pemuda itu menghilang, murid-murid tersadar dan berteriak, "Kongcu, jangan lama-lama. Bekuk musuh-musuh ayahmu!"
"Dan kudoakan tetap selamat, Kongcu. Hati-hatilah, kami rindu...!"
Han Han tak mendengarkan itu. Dia tidak tahu bahwa beberapa murid wanita tiba-tiba menangis. Mereka adalah murid-murid muda yang cantik dan gagah. Mereka itulah yang berbisik dan mengatakan rindu. Kegagahan dan ketampanan Han Han rupanya telah membuat beberapa murid wanita jatuh cinta!
Namun, karena seruan itu diucapkan perlahan dan Han Han tak mendengar, hanya beberapa murid itu saja yang saling lirik dengan pandangan tak senang. Mereka ternyata sama-sama jatuh cinta kepada pemuda itu, namun yang dicinta sudah terbang jauh.
Ki Bi dan sumoinya menarik napas dalam-dalam, namun sinar mata mereka berseri. Han Han, putra yang asli, ternyata muncul. Benar-benar keturunan ketua mereka, dan yang hebat lagi adalah kepandaian pemuda itu. Ah, Han Han memiliki kesaktian menakjubkan yang membuat mereka kagum. Seorang diri, Pat-jiu Sian-ong dan dua temannya dibuat jatuh bangun, padahal di antara mereka tak ada yang mampu menghadapi kakek gundul itu.
Akan tetapi, teringat bahwa putra Wi Hong juga amat luar biasa, dan Giam Liong—putra "palsu" dari ketua mereka—juga amat hebat serta memiliki Golok Penghisap Darah, Ki Bi dan sumoinya ngeri membayangkan bagaimana kalau kedua pemuda ini bertemu. Mana yang lebih hebat dan siapakah yang akan muncul sebagai pemenang? Giam Liong ataukah Han Han?
Saat kedua wanita itu sama-sama berdebar membayangkan hal tersebut, di kota raja terjadi geger yang mengguncangkan dunia kang-ouw. Sudah lama kita tak mengikuti Giam Liong.