Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 90

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 90

Kini, meninggalkan sejenak Han Han yang juga pergi ke kota raja, marilah kita lihat bagaimana keadaan di istana kekaisaran, karena di tempat ini juga Giam Liong dan ibunya membuat ulah. Seperti diketahui, di samping kaisar sebagai pucuk pimpinan negara, ada orang kedua yang juga berkuasa di tempat itu. Orang ini tidak lain adalah adik tiri Sri Baginda Kaisar, Pangeran Coa atau yang biasa disebut Coa-ongya.

Pangeran ini, bersama mendiang adiknya yang juga sama-sama keluarga dekat kaisar, adalah orang yang amat berpengaruh di istana. Demikian besar pengaruh dua orang ini hingga dulu Coa-ongya maupun Ci-ongya, adiknya yang tewas terbunuh Golok Maut Sin Hauw, memimpin pasukan besar-besaran untuk menumpas pemberontak. Di masa itu kekacauan masih timbul di sana-sini. Lima orang yang sama-sama memperebutkan kekuasaan tak henti-hentinya berperang.

Namun, setelah Li Ko Yung berhasil menguasai Honan dan Shan-si, empat pihak yang lain tergeser dan akhirnya Li Ko Yung inilah yang menonjol dalam memegang kekuasaan. Apalagi setelah Chu Wen, musuh paling berat dari Li Ko Yung ini tewas dalam pembunuhan, para pembantunya melarikan diri dan terpecah-pecah tak keruan. Karena kaisar yang sekarang tetap harus berhati-hati sebab kelompok-kelompok "radikal" juga terus menunggu kesempatan untuk merebut dan menumbangkan kekuasaan, maka kaisar melalui Coa-ongya dan Ci-ongya membujuk banyak orang pandai untuk ditarik sebagai pembantu.

Usaha itu berhasil untuk beberapa waktu, sampai akhirnya muncul Golok Maut yang mengobrak-abrik istana habis-habisan, membunuh ratusan orang serta puluhan orang pandai yang membantu kaisar. Namun, setelah Golok Maut sendiri tewas terbunuh di Lembah Iblis, maka untuk beberapa waktu suasana di kota raja aman dan tidak ada kerusuhan. Beberapa orang lama meninggalkan istana, yakni Sudra dan Mindra yang dulu bertemu Giam Liong. Yang lain ada yang terbunuh, tetapi kepergian dua orang dari Thian-tok ini lebih disebabkan oleh adanya ketenangan di kota raja. Mereka ini memang kakek-kakek yang suka bermusuhan, suka adu kepandaian, dan kalau tidak ada tokoh yang menonjol lagi, maka mereka biasanya pergi mengembara.

Itulah sebabnya ketika dulu mereka bertemu Giam Liong, tiba-tiba saja mereka gatal untuk mencoba kepandaian pemuda ini, yang justru dapat mendorong dan memukul mundur mereka. Namun, karena mereka akhirnya kalah dan melarikan diri, Sudra dan Mindra diam-diam pucat melihat kemiripan wajah lawannya dengan mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, maka suatu hari mereka pergi ke kota raja untuk menemui Coa-ongya guna melaporkan hal itu.

Sebenarnya, dua orang ini enggan ke kota raja. Masalahnya, di sana "bersembunyi" seorang tokoh misterius yang membantu Coa-ongya. Justru karena orang inilah mereka menjadi tidak betah dan meninggalkan tempat itu. Namun, karena sekarang mereka menjadi pecundang di tangan Giam Liong—hal yang sungguh membuat mereka penasaran karena di dunia ini hanya beberapa orang saja yang dapat mengalahkan mereka—maka dua orang kakek itu ingin melapor sekaligus ingin mengadu tokoh misterius yang bersembunyi di tempat Coa-ongya itu dengan Giam Liong.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini ada seorang tokoh amat lihai yang membayangi Coa-ongya. Tokoh itulah yang dulu membunuh Si Golok Maut. Namun, karena tokoh ini sombong dan congkak, tidak memandang sebelah mata kepada dua kakek Thian-tok itu, maka Mindra dan Sudra akhirnya meninggalkan istana karena rasa tidak sukanya kepada Si Kedok Hitam, yang memang kepandaiannya masih di atas mereka. Dan karena kebetulan mereka dikalahkan Giam Liong, bocah ingusan yang belum punya nama, maka tiba-tiba dua orang kakek itu ingin membalas dendamnya kepada Si Kedok Hitam maupun Giam Liong dengan cara mengadu mereka. Untuk itu, mereka harus menghadap Coa-ongya.

Maka begitulah, ketika pagi hari itu mereka menunggang keledai dan berhenti di gedung Coa-ongya, para penjaga tertegun tetapi segera mengenal dua kakek berhidung mancung ini. Mindra dan Sudra turun untuk minta diantar menghadap bekas majikannya.

"Kami ada keperluan penting. Tolong beri tahu bahwa kami ingin menghadap!"

Para penjaga mengangguk. Mereka sudah mengenal dan tahu siapa dua kakek lihai ini. Sudra dan Mindra adalah tokoh-tokoh India yang kepandaiannya amat tinggi, hanya di bawah Si Kedok Hitam saja. Maka begitu mereka datang dan minta menghadap, penjaga berlari melapor, dan tidak lama kemudian dua orang kakek itu sudah diperintahkan masuk.

"Kalian berdua ditunggu di ruang tengah. Ongya ada di sana!"

Dua kakek ini mengangguk. Mereka berseri karena tahu di mana ruang tengah itu; mereka sudah pernah bekerja di tempat ini dan tentu saja tidak perlu diantar lagi. Namun, mereka berkerut khawatir karena takut bertemu Si Kedok Hitam, orang yang tidak mereka sukai. Diam-diam Mindra berbisik apakah tidak sebaiknya mereka pergi saja kalau bertemu si sombong itu.

"Kalau ongya mewakilkan Si Kedok Hitam, barangkali kita kembali saja, tidak usah bertemu!"

"Sst, jangan begitu. Justru itu kebetulan, Saudaraku. Kalau Kedok Hitam ada, justru kita dapat mengadu agar dia menghadapi bocah siluman itu, biar tahu rasa!"

"Jadi, tidak usah pergi?"

"Tidak, ini sama saja. Tapi, sst... lihat itu. Ongya."

Mindra berseri. Sudra sudah menuding dan orang yang mereka cari duduk memandang mereka yang menyingkap tirai. Ruang tengah itu memang diberi tirai sutra sebagai penyekat dengan ruang yang lain. Mereka sudah melihat bayangan pangeran itu, dan kini sang pangeran bangkit berdiri begitu mereka datang. Ketika sang pangeran tertawa dan Sudra serta Mindra cepat membungkuk dari jauh memberi hormat, Coa-ongya yang masih tampan dan berpakaian indah ini menegur.

"Hai, ada apa kalian datang, Mindra? Apa yang kalian bawa dan tumben mau ke sini lagi? Ha-ha, pasti berkeperluan penting. Mungkin kehabisan bekal di tengah jalan!"

"Maaf," dua kakek itu agak merah mukanya. "Kami datang bukan untuk minta sumbangan, Pangeran. Melainkan sesuatu yang lain yang tentu mengejutkan Paduka. Kami minta maaf kalau sekiranya mengganggu!"

"Hm, tidak. Tapi apa itu dan bagaimana bisa mengejutkan aku? Mari, duduk dahulu dan bagaimana sebelumnya kabar kalian?"

"Kami baik-baik saja, sehat-sehat tak kurang suatu apa."

Coa-ongya mempersilakan mereka duduk. Kini pangeran memandang tajam dua orang ini, dan Mindra maupun Sudra terkejut melihat sinar mata pangeran itu yang berkilat dan mencorong, seperti orang yang memiliki lweekang tinggi, padahal pangeran itu tidak bisa silat—setidaknya bukan orang yang ahli. Dan ketika mereka saling bertatap pandang, namun dua kakek ini tidak kuat dan cepat menunduk, diam-diam mereka heran dan kaget apakah sinar mata itu berkat tenaga sakti atau karena perbawanya sebagai seorang bangsawan agung. Dua orang itu saling lirik dan menjelajah seluruh ruangan dengan sudut mata mereka, mencari apakah pengawal pribadi pangeran ini, Si Kedok Hitam, bersembunyi di situ.

"Ia tidak ada di sini," dua kakek itu terkejut karena Coa-ongya dapat membaca isi hati mereka. "Kedok Hitam sedang kutugaskan di luar, Mindra. Tidak perlu kalian cari dan tidak usah takut-takut. Bicaralah, apa yang hendak kalian bicarakan!"

Dua kakek itu benar-benar kaget. Tiba-tiba saja mereka merasa ada sesuatu yang luar biasa yang dimiliki Coa-ongya ini. Pangeran itu seolah seorang ahli silat pandai yang dapat menangkap gerak-gerik atau isyarat tamunya. Namun, menganggap itu kebetulan saja karena pangeran ini memang pandai dan cerdik sebagaimana layaknya pembesar tinggi, maka Mindra batuk-batuk menekan keterkejutannya.

"Maaf, kami tidak mencari pengawal Paduka itu, Pangeran, melainkan mencari Paduka dan kini sudah bertemu di sini. Kami hendak melaporkan sesuatu yang amat penting bagi Paduka, sesuatu yang juga tidak kami sangka!"

"Hm, apa itu? Dua kali kalian menyebut-nyebut namun masih juga belum memberi tahu."

"Tentang Si Golok Maut. Dia hidup lagi!"

Sudra kali ini bicara dan kata-katanya meluncur tidak dapat ditahan lagi. Kakek ini gatal mulutnya untuk segera memberi tahu dan membuat kejutan. Dan ketika benar saja tuan rumah tersentak, mengeluarkan teriakan kaget, terlonjak, dan berubah air mukanya mendengar seruan itu, maka kakek itu melanjutkan, "Benar, Golok Maut hidup lagi, Pangeran. Dan kami berdua baru saja bertemu, bahkan dikalahkan!"

"Ah, tapi... tapi dia sudah kubunuh!"

"Bukan Paduka yang membunuh, melainkan Kedok Hitam!"

"Eh, ah... benar. Tapi sama saja, Sudra. Kedok Hitam pun orangku, seperti juga kalian yang menjadi pembantuku di sini. Berita kalian mustahil, bohong. Ha-ha...!"

Coa-ongya tertawa bergelak melepas kejutannya. Tiba-tiba dua kakek itu tertegun karena ruangan tiba-tiba tergetar dan meja kursi berderak-derak. Tawa itu dilepas oleh seorang ahli khi-kang (tenaga suara)!

"Pangeran..!" Mindra dan Sudra melepas kekagetan mereka dengan pekik tertahan. "Paduka sekarang seorang ahli silat?"

"Eh!" Pangeran itu sadar dan menghentikan tawanya. "Aku bukan seorang ahli, Mindra, melainkan bisa sedikit-sedikit saja, seperti yang kalian tahu..."

"Tapi tawa Paduka penuh getaran tenaga sakti. Meja dan kursi ini berderak-derak!"

"Lupakan itu," Coa-ongya tiba-tiba mengerutkan kening, berusaha menyembunyikan sesuatu. "Kalaupun benar, maka aku belajar dari pembantuku, Mindra. Kedok Hitam memberiku pelajaran sedikit-sedikit sekadar penjaga diri. Sudahlah, bagaimana dengan tadi dan apakah cerita kalian benar?"

"Tentu saja benar, kami tidak bohong. Dan justru karena ini kami datang ke mari dan ingin memberitahukan Paduka agar berhati-hati. Golok Maut hidup lagi!"

Wajah sang pangeran berubah. Rupanya, dari semua pengalaman atau kejadian yang pernah menimpanya, maka Golok Maut itulah yang paling mengesankan, juga menakutkan. Coa-ongya tampak pucat dan gemetar mendengar ini. Nama itu memang menyeramkan, terlampau menyeramkan!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment