Chapter 91
Pangeran berusaha menenangkan diri. Setelah kepercayaan dirinya kembali, ia berkata bahwa hal itu tak mungkin terjadi.
"Cerita kalian tak dapat kuterima. Semua orang tahu bahwa Golok Maut telah terbunuh, ribuan mata menyaksikan. Mana ada manusia yang hidup lagi? Kalian terpengaruh kejadian dulu, Sudra. Cerita ini akan menjadi bahan tertawaan. Sebaiknya tidak usah mengatakan itu dan lebih baik katakan bahwa seseorang yang berwajah mirip Golok Maut telah bertemu dengan kalian. Nah, mungkin baru aku bisa percaya."
"Benar," dua orang itu tertegun. "Kami hendak mengatakannya seperti itu, Ong-ya. Namun, kalau wajah atau bentuk tubuhnya sama, tentunya Paduka maupun kami akan amat terkejut karena hal yang seperti ini rasanya sungguh tidak mungkin!"
"Maksud kalian?"
"Kami bertemu pemuda yang mirip segala-galanya dengan mendiang Golok Maut, Ong-ya. Wajah dan bentuk tubuhnya. Dan kami kalah!"
"Apakah kepandaiannya juga seperti Si Golok Maut?"
"Ini... ini tidak!" Sudra tergeragap. "Namun, betapapun cukup menggetarkan, Ong-ya. Pemuda itu amat lihai dan luar biasa sekali. Kami khawatir dia adalah jelmaan Si Golok Maut. Orang yang mati penasaran dapat hidup di dunia lagi dengan memakai tubuh atau wadag orang lain!"
"Aku tak percaya reinkarnasi," sang pangeran mengerutkan kening. "Segala kepercayaan itu hanya ada pada bangsa kalian, Sudra. Orang-orang Thian-tok yang penuh khayal. Ceritakan saja kepadaku bagaimana asal mulanya!"
"Kami bertemu seorang gila..."
"Ha-ha, dan kalian ikut-ikutan gila!" sang pangeran memotong, tak dapat menahan geli.
"Nanti dulu," dua kakek itu menyergap. "Si gila ini bukan orang gila sembarangan, Ong-ya. Dia adalah istri Si Golok Maut, Wi Hong, si bekas ketua Hek-yan-pang!"
"Hm!" Coa-ong-ya terkejut, tiba-tiba tak lagi mengolok-olok dua kakek itu. "Wi Hong? Si cantik berbaju merah itu?"
"Benar, dari sinilah awal mula cerita ini, Ong-ya. Sampai akhirnya kami bertemu pemuda itu, yang juga dianggap Golok Maut."
"Lalu?" sang pangeran tampak berdebar tegang. "Apa yang terjadi, Mindra? Kalian kalah dan melarikan diri?"
"Paduka tahu," Mindra tersipu namun berusaha menyombongkan diri. "Di dunia ini hanya segelintir saja yang dapat mengalahkan kami, Ong-ya. Tiga orang saja yang benar-benar membuat kami takluk luar dalam. Yakni Si Golok Maut Sin Hauw itu, ketua Hek-yan-pang sekarang, serta pembantu Paduka, Si Kedok Hitam. Lainnya, bukan apa-apa bagi kami!"
"Ya, aku tahu. Tapi kalian kalah dengan bocah yang seperti Si Golok Maut itu?"
"Benar, Paduka. Kami sungguh menanggung malu. Agaknya, hanya Kedok Hitam pembantu Paduka itulah yang mampu menandinginya. Hamba ke sini karena khawatir jangan-jangan pemuda itu akan melabrak Paduka!"
"Tapi aku tak kenal padanya..."
"Tapi si Wi Hong yang gila itu telah akrab dengan pemuda ini. Bisa saja dia minta bantuan dan datang mengancam Paduka!"
"Hm, kalian menakut-nakuti, membawa-bawa berita jelek!"
"Maaf, kami tak berusaha menakut-nakuti Paduka, Ong-ya. Sebaliknya, justru ingin mengingatkan Paduka untuk bersikap waspada, meskipun ada Kedok Hitam yang melindungi."
"Benar, dan kalau Kedok Hitam sedang bertugas dan keluar seperti ini, tentunya Paduka harus memasang kewaspadaan ekstra. Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang!"
Coa-ong-ya berkilat pandang matanya. Mendengar sikap dua kakek ini, tiba-tiba ia menjadi tidak tenang. Betapapun berita itu memang tidak baik. Wi Hong, istri mendiang Si Golok Maut, tiba-tiba mengancam masa depannya. Mengapa dulu ia tidak membunuh wanita itu? Mengapa dibiarkan hidup dan kini datang lagi? Namun, teringat bahwa wanita itu bekas ketua Hek-yan-pang dan kakak seperguruan dari istri ketua Hek-yan-pang sekarang, Swi Cu atau Ju-hujin (Nyonya Ju), maka pangeran itu mengepalkan tinju dengan gemas.
"Kalian memang benar, pemberitahuan ini memang penting. Baiklah, terima kasih, Sudra. Apa sekarang yang hendak kalian lakukan?"
"Kami tak hendak melakukan apa-apa. Kami hanya sekadar mengingatkan Paduka, yang barangkali akan menyuruh atau menemukan Golok Maut muda itu!"
"Hm, aku sudah tua, Mindra. Aku tak akan mencari permusuhan dengan siapa pun. Aku sudah tenang."
"Tapi kalau Paduka diganggu..."
"Itu lain, aku tentu saja tak akan tinggal diam!"
"Nah, itu yang kami maksud. Paduka memang harus waspada. Baiklah, keperluan kami sudah selesai, Paduka. Kami mohon diri."
"Nanti dulu!" sang pangeran mencegah dan menyambar dua orang itu. Gerakannya mengejutkan, lagi-lagi membuat Sudra dan temannya tertegun. "Kalian datang tidak usah terburu-buru pergi, Mindra. Bagaimana kalau di sini dulu menemani aku!"
"Maksud Paduka?" Mindra melepaskan diri.
"Aku ingin ditemani, Mindra. Tunggu sampai Kedok Hitam datang. Dua tiga hari ini aku kesunyian!"
"Tapi kami berdua kurang senang dengan pembantu Paduka itu. Paduka tahu!"
"Hm, lain dulu lain sekarang, Mindra. Kalian jangan berkecil hati karena pembantuku itu tak sesombong yang kalian sangka. Aku dapat memberitahu agar dia menghargai kalian. Tempat ini perlu orang-orang pandai seperti kalian berdua!"
"Tapi kalau dia tetap sombong?"
"Kalian boleh pergi, Sudra. Aku tak melarang. Ah, aku lupa memberi hadiah untuk laporan kalian ini. Terimalah!" Sepundi-pundi uang berkerincing dilemparkan. Sudra menangkapnya dengan mata berkilat dan berseri-seri. Biasanya, pangeran itu pelit dan mahal!
Begitu uang diterima, kakek itu tertawa dan berseru kepada temannya, "Mindra, kalau pangeran benar, tentu tak apa kita sehari dua di sini. Lihat saja nanti. Kalau tidak kerasan boleh pergi. Bukankah begitu, Ong-ya?"
"Benar, tapi kepergian kalian harus dengan alasan. Kalian sanggup? Aku masih mempunyai sepundi-pundi lagi. Lihatlah!" Pangeran mengeluarkan tumpukan uang emas di atas meja. Sudra terbelalak melihat harta yang begitu menggiurkan.
"Baiklah, hamba tak menolak, Pangeran. Tapi kalau Kedok Hitam tetap sombong dan tinggi hati, kami akan pergi dan uang ini kami kembalikan!"
"Boleh, Kedok Hitam tak akan sombong kepada kalian. Jangan pergi dan bersenang-senanglah di sini!"
Coa-ong-ya berhasil menjinakkan kembali dua bekas pembantunya. Mindra dan Sudra diminta tinggal di istana dan diberi penghormatan berlebih. Ada kesan bahwa pangeran betul-betul membutuhkan dua orang ini. Entah karena berita itu atau karena istana memang membutuhkan orang pandai.
Namun, ketika dua orang itu kembali berjaya sebagai pengawal pribadi, hari ketiga Kedok Hitam tiba-tiba muncul.
"Mindra, selamat datang. Pangeran memberi tahu dan terimalah hormatku!"
Dua kakek itu terkejut. Mereka sedang duduk-duduk di kamar, belum ada tugas, dan tiga hari ini hanya bersenang-senang. Empat botol arak terguling dan mereka asyik bermain dadu. Begitu bayangan hitam berkelebat dan pintu kamar terbuka, Kedok Hitam muncul. Dua orang itu segera menyambar senjata; Sudra meledakkan cambuknya sementara Mindra mencabut nenggalanya, bersikap siap bertempur.
"Ah, kita orang-orang sendiri!" Kedok Hitam berseru dengan tawa ramah, matanya bercahaya. "Simpan senjata kalian, Sudra. Aku menganggap derajat kita sama. Ong-ya telah memberitahu agar aku baik-baik menghargai kalian. Tenanglah, aku bukan datang untuk bermusuhan!"
"Hm!" Sudra mengejek. "Kau boleh bilang begitu, Kedok Hitam. Tapi biasanya kau memandang sebelah mata kepada kami. Ayo buktikan iktikad baikmu dengan berlutut meminta maaf!"
"Eh!" Mindra terkejut, namun segera mengerti maksud temannya. "Bukan hanya berlutut, Sudra. Tapi juga mencium telapak kaki kita. Dulu dia pernah menendang kita sebanyak dua kali!"
"Hm, tidak usah kalian bergurau," laki-laki itu tertawa, aneh sekali tidak marah. "Kalau aku mencium kaki kalian, apakah kalian juga mau balas mencium kakiku? Sudahlah, jangan berolok-olok, Sudra. Ada tugas dari Ong-ya untuk kalian. Malam ini akan ada orang-orang menyatroni istana!"
Dua kakek itu tertegun. Biasanya, jika mereka bersikap congkak, lawan akan lebih congkak lagi. Belum pernah mereka melihat laki-laki misterius ini tertawa, apalagi begitu bebas dan lebar. Setelah mendengar pesan Coa-ong-ya, dua kakek itu saling pandang dan akhirnya menyimpan senjata.
Sudra tidak dapat menahan rasa herannya. "Kedok Hitam, kau benar-benar lain dengan dulu. Rupanya sekarang sudah dapat menghargai orang lain dan tidak sombong!"
"Hm, kesombongan hanya akan menjatuhkan orang itu sendiri, Sudra. Aku dari dulu tak pernah sombong. Kalau dulu aku kurang menghargai kalian, barangkali karena waktu itu kita sama-sama menghadapi ketegangan dengan adanya Si Golok Maut! Sudahlah, mari sama-sama membagi tugas dari Ong-ya!"
"Hm, kau sudah dapat bersahabat dengan orang lain."