Chapter 92
"Barangkali kau takut mendengar berita yang kubawa kepada Ongya!"
"Ha-ha, kenapa kau menduga begitu? Aku tak pernah takut kepada siapa pun, Mindra. Dari dulu atau sekarang!"
"Tapi kau takut kepada mendiang Si Golok Maut itu, juga kepada ketua Hek-yan-pang sekarang, Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!"
"Hm, tak usah membuka-buka masa lalu, Mindra. Kau pun pernah takut kepadaku. Dari dulu atau mungkin juga masih sekarang!"
"Siapa bilang? Kau ternyata masih saja sombong..."
Wut! Nenggala yang kembali ditarik dan ditusukkan ke depan tiba-tiba membuat Mindra gusar dan melotot menyerang lawannya itu. Bukan Kedok Hitam yang dibangkitkan kemarahannya, melainkan dirinya sendiri! Namun, begitu lawan berkelit dan tertawa, Kedok Hitam menghindar sehingga tusukan menyambar angin kosong dan laki-laki itu berseru sambil mengangkat kedua tangannya.
"Hei, tak perlu marah-marah, Mindra. Aku hanya main-main, jangan dimasukkan hati!"
"Tapi kata-katamu membakar!" Kakek itu tak mau sudah, bergerak dan membentak lagi. "Terima dulu senjataku ini, Kedok Hitam. Baru setelah itu aku mau bicara..."
Wut-trik! Kedok Hitam yang menangkis dan tak dapat menghindar lagi akhirnya menjentikkan kuku jarinya. Mindra terpekik karena nenggalanya tergetar hebat, tertolak, nyerong ke kiri, dan menyambar saudaranya sendiri. Sentilan atau jentikan kuku jari itu ternyata hebat bukan main. Kedok Hitam rupanya tambah perkasa!
Marah serta penasaran, Mindra melengking dan berjungkir balik ke atas. Akhirnya, ia menendang butir-butir dadu untuk menyerang lawannya pula, membantu nenggalanya setelah tadi dikelit atau diegos saudaranya. Maklumlah, Sudra harus menghindar kalau tak mau tertusuk!
"Kedok Hitam, kau lama-lama akhirnya mau pamer kepandaian. Baiklah, coba kelit ini dan jentik lagi dengan kuku jarimu..."
Trang-trang! Kuku jari yang kembali benar saja menolak nenggala yang datang menusuk naik-turun. Hal itu membuat Kedok Hitam mengerutkan keningnya dan mulai marah. Pembantu paling lihai dari Coa-ongya ini tiba-tiba membentak dan berkelebat pula mengiringi nenggala dengan berputaran, tapi ruangan itu terlalu sempit sehingga hampir saja dada kirinya menjadi korban.
Ketika ia menampar hingga lawan terpelanting, Mindra kaget dan berteriak panjang. Tiba-tiba saja laki-laki berkedok ini telah menindih dan menekan serangan nenggala, melakukan tamparan berat atau pukulan miring yang selalu menolak atau mementalkan nenggala itu. Mindra selalu berteriak karena senjatanya seolah ditekan batu berat ribuan kati. Hal itu begitu hebat hingga tangannya gemetar dan lelah, hampir saja tak kuasa memegang senjatanya lagi.
Namun, ketika kakek itu memekik dan mengeluarkan kata-kata bantuan dalam bahasanya sendiri, tiba-tiba Sudra meledakkan cambuknya dan menerjang maju.
"Kedok Hitam, kau semakin sombong dan congkak. Minggir dan jangan tekan saudaraku... Tarr!"
Cambuk baja menyambar kepala, dikelit, dan menghancurkan tembok yang seketika berlubang. Ketika cambuk itu kembali menyerang dan mengejar lawan, Kedok Hitam dikeroyok. Tiba-tiba lelaki itu marah dan berseru keras.
"Sudra, kalian selalu ingin mengeroyok. Baiklah, ruangan ini sempit. Mari keluar dan main-main di sana..."
Plak-plak! Nenggala dan cambuk dikibas satu tamparan miring, terpental dan pemiliknya menjerit. Namun, Kedok Hitam sudah menendang pintu, melesat keluar langsung ke halaman, dan dua kakek ini berkelebat mengejarnya.
Ketika Kedok Hitam tersenyum mengejek dan dua kakek itu mengejar tanpa banyak cakap, menggerakkan senjata masing-masing untuk menusuk dan melecut, maka nenggala dan cambuk akhirnya bertubi-tubi menyerang orang nomor satu di istana ini. Kedok Hitam melayani lawan dengan cepat. Laki-laki itu bergerak naik-turun dan cambuk akhirnya diikuti gerakan tubuhnya yang terbang bagai burung besar, menyambar-nyambar, dan kedua tangannya bergerak ke kiri-kanan menghalau dua senjata itu. Ketika Sudra merasa betapa pukulan lawan terasa berat menyambar, menahan, atau mementalkan cambuknya, maka kakek itu baru maklum kenapa saudaranya tertekan dan tertindih. Kiranya lawan memang semakin lihai!
"Mindra, lawan kita ini ternyata memang semakin lihai saja. Pantas dia begitu sombong!"
"Hm, atau kita yang memang semakin tua, Sudra. Kita tak sekuat dulu sementara orang ini sebenarnya tetap!"
"Ha-ha, tak perlu mencari-cari alasan. Kalau kalian semakin tua, justru kalian harus semakin matang, Mindra. Kelemahan tenaga dapat ditutup dengan kematangan ilmu kepandaian!"
"Jadi kau menganggap kami kendor?"
"Tidak juga, melainkan akulah yang lebih maju sementara kalian tetap!"
"Sombong, kau memang pongah... Dess!"
Nenggala yang menusuk bertemu telapak tangan lawan, ditangkap, dan dicengkeram. Tiba-tiba Mindra terkejut karena tak dapat melepaskan diri. Senjata itu bertemu tangan lawan dan Kedok Hitam tak terluka, padahal ia menusuk dengan sekuat tenaganya. Jangankan manusia, kulit badak pun akan tembus ditusuk!
Begitu lawan memperlihatkan kesaktiannya dan Mindra merasa lengannya tergetar hebat, ada semacam tenaga yang membuatnya menggigil dan serasa melumpuhkan lengan, kakek ini terkejut bukan main. Tiba-tiba ia menggerakkan kakinya dari bawah, menendang kemaluan lawan. Namun celaka, Kedok Hitam tertawa perlahan dan lutut kirinya tiba-tiba diangkat naik, menyambut atau bertemu dengan kaki lawan.
Ketika nenggala tiba-tiba hancur ujungnya, Kedok Hitam mengerahkan sinkang hingga lawan kehilangan keseimbangan. Saat itulah lututnya bertemu dengan tendangan Mindra yang sudah miring dan tak tepat.
"Aduh!" kakek itu menjerit. Ujung kakinya seakan bertemu lapisan baja yang tebal dan kuat, begitu kuatnya hingga jari kelingkingnya berkeratak dan patah! Ketika kakek itu terpekik dan roboh, lawan berputar dan menggerakkan kakinya yang lain, maka Mindra terlempar dan terbanting, tak mampu bertanding lagi.
"Dess!" Sudra terbelalak melihat kejadian cepat itu. Hal ini memang terjadi beberapa detik saja dan berlangsung selama ia terhuyung ditangkis cambuknya. Kedok Hitam telah mendorong mundur kakek ini hingga dapat melayani Mindra secara berdepan. Itulah sebabnya Mindra tak dapat mengharap bantuan temannya karena saat itu pun Sudra tertolak mempertahankan diri. Namun, begitu saudaranya terbanting dan merintih-rintih di sana, kakek ini marah dan gusar. Tiba-tiba ia melompat panjang dan tangan kirinya pun bergerak melancarkan pukulan Bintang Api (Hwi-seng-ciang).
"Kedok Hitam, kau pun robohlah... Klap!"
Kedok Hitam tersenyum. Dia telah mengenal dua kakek ini seperti mengenal dirinya sendiri. Begitu pun akan pukulan Bintang Api itu, yang menyambar dan melesat dari tangan kiri lawan dan memuncratkan enam cahaya menyilaukan seperti bintang-bintang berapi. Pukulan itu hebat dan berhawa panas, sementara cambuk pun masih menjeletar menuju kepalanya. Serangan ini berbahaya dan ganas, intinya adalah mengarah jiwa.
Tapi ketika Kedok Hitam mengegos dan ujung cambuk meledak di sisi kepala, cepat dan luar biasa tiba-tiba disergap dengan mulut, Sudra terpekik karena ujung cambuknya sudah digigit lawan. Saat itu pula, Kedok Hitam menggerakkan kedua tangan untuk "menangkap" bunga-bunga api sebanyak enam buah itu.
"Ces-ces-cess!" Pukulan Bintang Api hancur bagai bertemu es dingin. Kedok Hitam memperlihatkan kepandaiannya dan Sudra terbelalak. Waktu ini cukup bagi laki-laki itu melakukan gerakan mengejutkan; mulut dibuka dan ujung cambuk pun ditiup menyambar muka Sudra. Ketika kakek itu terkejut karena tak sempat lagi menghindar, cambuk menjeletar dan mengenai mukanya hingga segores luka panjang membekas di pipi kakek itu.
"Cukup... crat!" seruan itu mengakhiri jalannya pertandingan. Sudra terbanting dan roboh pula sambil menjerit tertahan. Cambuk melukai dirinya sendiri dan dua kakek itu pucat menyaksikan kelihaian lawan. Kedok Hitam ternyata semakin hebat saja!
Namun, ketika laki-laki itu tertawa dan membungkuk menolong mereka serta meminta maaf, dua kakek ini tertegun dan melihat perubahan watak si Kedok Hitam yang pandai menarik hati.
"Maaf, kalian memang sudah mulai tua, Mindra. Kalah di tangan orang yang lebih muda tak usah dibuat penasaran. Kalaupun aku kelak tua, tentu tenagaku juga lemah dan tak sekuat sekarang. Bangunlah, dan kita sudahi main-main ini. Ada tugas untuk kalian!"
"Hm!" Mindra terpincang-pincang membelalakkan mata, merah padam. "Kau sekarang rendah hati, Kedok Hitam. Pandai memuji orang lain. Baiklah, kami memang kalah padahal kau belum mengeluarkan ilmu golokmu!"
"Ah, sesama teman sendiri tak berani aku mempergunakan senjata. Lebih baik begini dan biar saja kalian mempergunakan cambuk. Mari dengarkan perintah Ongya karena sebentar lagi kita akan disatroni musuh!"
Dua kakek itu menarik napas. Mereka akhirnya mengakui bahwa lawan memang terlampau hebat. Kedok Hitam ini belum mengeluarkan ilmu goloknya, padahal tokoh itu pun menandingi mendiang Si Golok Maut dengan ilmu golok yang luar biasa, mirip yang dipunyai mendiang Si Golok Maut itu. Ketika mereka bertanya siapa musuh yang akan datang menyatroni itu, Kedok Hitam berkilat marah memberi tahu.
"Mereka adalah bekas orang-orangnya Chu Wen. Malam nanti kita harus waspada dan satu di antara kalian mendapat tugas mencari putri Ongya!"
"Ah, putri Ongya? Siapa ini?"
"Yu Yin namanya, Mindra. Dan sekarang satu di antara kalian harus mencari dan membawanya kembali. Anak itu melarat!"
"Hm-hm!" Sudra tiba-tiba bersinar dan bercahaya pandang matanya. "Bagaimana ciri-ciri bocah ini, Kedok Hitam? Apakah dia masih belasan tahun?"
"Ya, usianya tujuh belas lebih sedikit, nakal dan suka menggoda orang. Cantik dan kadang-kadang suka berpakaian lelaki!"
"Hm, kalau begitu siapa yang harus mencari? Aku atau Mindra?"
"Terserah, pokoknya satu di antara kalian. Aku harus menjaga tempat ini!"
"Tapi kita akan disatroni musuh, masa harus pergi?" Mindra tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Sebaiknya tunda dulu pekerjaan itu, Kedok Hitam."