Chapter 93
"Biarkan kami berdua di sini dan biarkan Sudra melaksanakan tugasnya." Kedok Hitam berpikir sejenak. Bola matanya bergerak dua kali, tetapi akhirnya ia mengangguk. Rupanya kata-kata itu dapat diterima dan ia pun setuju.
Ketika ia berkata "baiklah," Kedok Hitam segera berkelebat pergi. Dua kakek India itu berdebar karena ingin tahu siapa saja orang-orang suruhan Chu Wen itu setelah mendengar seruan kawan mereka.
"Mindra, tengah malam ini diperkirakan belasan orang akan menyelinap. Bunuh mereka dan jangan diberi ampun!" Dua kakek itu saling pandang. Mereka mengangguk dan sama-sama tak menjawab. Rasa penasaran sekaligus kagum mereka masih belum lenyap. Kedok Hitam itu sungguh luar biasa.
Namun, begitu lawan menghilang dan Kedok Hitam kembali ke istana, dua kakek itu pun melemparkan tubuh dan bersandar dengan sikap lunglai.
"Sial, si Kedok Hitam ini semakin pandai saja. Kita menjadi bukan apa-apa!"
"Ya, tapi sikapnya juga berubah, Mindra. Sekarang kita cukup dihargai meskipun kepandaian kita masih kalah olehnya!"
"Barangkali atas suruhan Coa-ong. Sebenarnya lebih baik lagi kalau sikap ramahnya itu timbul dari hatinya sendiri, bukan perintah orang lain!"
"Sudahlah, kita mendapat perlakuan yang manis, Mindra. Bagaimanapun Kedok Hitam itu tidak seperti dulu. Dia sudah tidak merendahkan kita lagi!"
"Hm, baiklah. Kita harus tahu diri, tapi penasaranku ini akan kutumpahkan kepada pendatang-pendatang yang malam nanti akan datang mengacau!"
"Ya, aku juga. Penasaran dan kemarahanku ini akan kuhabiskan kepada mereka. Mari beristirahat dan kita bersamadhi!"
Dua orang itu bersila. Mereka memejamkan mata dan bersamadhi. Tenaga yang sudah dikuras untuk menghadapi si Kedok Hitam tadi kini harus dipulihkan. Begitu keduanya tidak bercakap-cakap lagi dan fokus mengembalikan tenaga, mereka pun diam tak bergerak seperti patung.
***
Kentongan tanda larut malam mulai dipukul. Lonceng berdentang sebelas kali dan gerimis tiba-tiba mengguyur. Istana yang semula gemerlap tiba-tiba meredup karena lampu-lampu besar dipadamkan; hanya menyisakan lampu-lampu kecil. Malam menjadi dingin dengan datangnya gerimis.
Ketika angin berdesau tajam menyapu kulit dan beberapa penjaga mulai mengantuk, beberapa bayangan bertopeng merah berkelebat di timur istana, meloncati tembok-tembok tinggi.
"Sst, hati-hati. Berpencar dan jangan membuat berisik, Pacul Sakti. Ingat dan patuhi kata-kataku tadi dengan anak buahmu. Kita semua tidak boleh gegabah!"
"Baik, aku mengerti, Dewa Hitam. Kami akan melaksanakan tugas dengan penuh kecermatan. Kita berpencar dan sampai bertemu lagi di titik tengah!"
Satu di antara bayangan hitam itu memisahkan diri. Dia seorang laki-laki tinggi tegap dengan sebuah pacul tersampir di pundak. Mata paculnya berkilat tertimpa sinar lampu, tajam dan mengerikan.
Dewa Hitam, laki-laki tinggi besar yang berada di tengah, memberi aba-aba kepada empat temannya yang lain—sehingga total mereka berjumlah enam orang—agar berpencar ke kiri dan kanan.
"Kau," katanya kepada seseorang di sebelah kiri. "Pergi dan laksanakan tugasmu di bagian utara, Tombak Maut. Beri tanda anak buahmu begitu para penjaga berhasil kau lumpuhkan. Hati-hati, jangan membuat suara!"
Lalu ia menuding tiga yang lain. "Kalian berdua menuju barat dan timur. Sedang Papan Besi bersama aku. Nah, masing-masing laksanakan tugas dan cepat mulai!"
Bayangan-bayangan itu bergerak. Mereka menyergap para penjaga yang terkantuk-kantuk di depan pos ronda. Para penjaga itu tidak menyangka adanya sergapan; pisau atau golok segera mengiris cepat, menguak leher, dan merobohkan enam penjaga seketika. Sebelum sempat menjerit, mulut mereka sudah ditutup. Mayat-mayat tanpa nyawa itu dilemparkan ke dalam semak belukar.
Bayangan-bayangan ini terus bergerak maju. Belasan penjaga telah dibunuh hingga akhirnya para pendatang bertopeng merah ini berhadapan dengan selapis penjaga lain yang lebih banyak.
"Hei, siapa itu!" Seorang penjaga melihat salah satu bayangan. Ia berteriak dan teman-temannya segera menoleh. Pemandangan mengerikan terlihat ketika pisau bergerak cepat menggorok leher penjaga itu. Gemparlah tempat itu. Penjaga lapis kedua memanggil penjaga lapis pertama, namun tak ada jawaban.
Dewa Hitam dan teman-temannya terus masuk ke dalam. Suasana yang semula sunyi mendadak riuh oleh jerit dan kemarahan. Di bagian utara, sebatang cangkul membabat leher lawan dengan gerakan luar biasa.
"Hayo, kalian maju! Kubunuh kalian, anjing-anjing buduk. Mana majikan kalian, biar kucangkul batang lehernya... crat!"
Sebuah kepala mencelat dari tempatnya. Laki-laki itu memutar tubuhnya dan menghadapi tiga pengeroyok; dengan mudah ia merobohkan ketiganya secara beruntun. Darah memuncrat deras. Penjaga lain terbelalak dan mundur ketakutan.
Di bagian lain, sebatang tombak menari-nari, menusuk perut penjaga. "Ha-ha, mari maju. Kalian makanan empuk. Mari nikmati tombakku... cus!"
Usus terburai dari perut dua penjaga. Si Tombak Maut tak kalah ganas dengan si pembawa pacul; gagang tombaknya digunakan untuk menghantam penjaga di belakangnya. Sementara itu, seorang laki-laki pendek gempal yang dijuluki Papan Besi menumbuk-numbukkan badannya ke arah penjaga hingga mereka jatuh bangun.
Tiga puluh pengawal tewas dan amukan enam orang ini sudah masuk ke dalam gedung. Si pendek gempal itu ternyata kebal; golok dan tombak yang menghantam tubuhnya justru patah-patah. Ia bergerak bagaikan tank yang tak dapat dipukul mundur.
Ketika bala bantuan dari penjaga lapis ketiga yang berada di lantai atas gedung datang, tiga bayangan meluncur masuk ke tengah ruangan. Pacul Kilat, yang berada paling dekat dengan pintu, mendadak berubah wajah saat melihat dua kakek Thian-tok berdiri di hadapannya.
"Mindra dan Sudra...!"
Dua kakek itu tertegun. Mereka adalah Sudra dan Mindra, dua kakek India yang baru saja menyelesaikan samadhi. Mereka mendengar ribut-ribut di luar dan segera datang bersama Kedok Hitam yang meluncur di belakang.
Melihat musuh bertopeng merah, Pacul Kilat menerjang sambil berseru, "Awas, dua kakek India ada di sini, teman-teman. Rupanya Sudra dan Mindra kembali menjadi anjing Coa-ong!"
Sudra berkelit, namun pacul itu terus menyambar Mindra. Mindra segera mengelak, tetapi serangan itu terus datang bertubi-tubi. Begitu dua kakek itu mendengus dan Mindra menggerakkan nenggala-nya, terjadi benturan keras yang membuat laki-laki itu terhuyung dan nyaris terpelanting.
"Crangg!" Pacul Kilat mendelik.