Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 94

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 94

Dia menggeram dan membentak maju. Mindra akhirnya tahu bahwa lawan yang dihadapi dapat diatasi karena benturan tadi menunjukkan *sinkang*-nya lebih kuat daripada lawan.

Maka, begitu dia berseru pada Sudra agar pergi membantu yang lain dan tidak perlu takut pada lawan berpacul ini, laki-laki itu menerjang dan membabi buta menyabetkan senjatanya.

"Hm, aku serasa mengenalmu," Mindra berkelit ke sana kemari.

"Buka topengmu, manusia busuk, atau kau mampus!"

"Bedebah tak tahu malu!" si Pacul Kilat memekik dan menerjang, semua serangannya berhasil dikelit.

"Kau orang asing yang suka mencampuri urusan orang lain, Mindra. Pulanglah ke negerimu atau kau meninggalkan mayatmu di sini!"

"Hm, jangan sombong. Paculmu tak kutakuti, manusia kerdil. Aku dapat memaksamu, lihat ini!"

*Crang-crang!* Pacul yang terpental tiba-tiba bertemu *nenggala*, mendadak disusul oleh gerakan tangan kiri Mindra yang melepas *Hwi-seng-ciang*. Laki-laki itu terkejut dan mengelak namun tak keburu. Apa boleh buat, dia menangkis, tapi dia malah terbanting.

Ketika laki-laki itu berteriak kaget dan melempar tubuh bergulingan menjauh, Mindra tertawa mengejek sambil mengejar lawannya. Ia ganti melakukan serangan-serangan hingga Si Pacul Kilat terdesak oleh tekanan lawan. *Hwiseng-ciang* masih terus menyambar dan nyata ia tak mampu menandingi pukulan lawannya itu. Hawa panas dan percikan bintang api membakar tubuhnya, mulanya pakaian hingga berlubang-lubang, sampai akhirnya kulit tubuh menjadi matang biru. Si Pacul Kilat menderita.

Namun, ketika ia didesak dan terus diteter lawan, paculnya menangkis *nenggala* sementara tangan kirinya menghadapi pukulan-pukulan Bintang Api, tiba-tiba si Tombak Maut berkelebat dan membantunya.

"Pacul Kilat, jangan takut. Aku membantumu!" Tombak yang menyambar serta mendorong *nenggala* akhirnya membuat si Pacul Kilat bernapas lega dan dapat memperbaiki posisi.

Tombak Maut mencecar lawannya dan senjata yang jauh lebih panjang itu mulanya mampu menekan *nenggala*. Tapi ketika kakek India itu berseru marah dan melepas *Hwi-seng-ciang*-nya ke arah laki-laki ini, Tombak Maut juga tergetar dan terhuyung mundur, tak mampu menahan.

"Kita harus mengeroyok. Kepung saja dari muka dan belakang!"

"Hm!" kakek itu tertawa. "Boleh saja, tikus-tikus cilik. Tapi sekarang aku ingat bahwa kau kiranya si Pacul Kilat, orang yang dulu pernah kuhajar dan lari terbirit-birit!"

Si Pacul Kilat marah, memekik, dan menyerang lagi. Mindra sekarang mengenalnya. Memang dulu dia pernah berhadapan dengan kakek ini dan terpaksa melarikan diri karena bukan tandingannya. Tapi karena sekarang ada Tombak Maut di situ dan dia tak menyangka kakek ini kembali membantu Coa-ongya—padahal dulu kakek ini sudah dikabarkan pergi—ia menjadi marah dan membentak sambil membabatkan senjatanya.

Lawan mengelak, namun Tombak Maut menyerangnya dari samping kanan. Tombak panjang menyambar dan kakek itu terpaksa menggerakkan *nenggala* ke belakang. Ketika tombak terpental namun dua orang itu sudah menyerang lagi, kakek ini harus berhati-hati dan menggeram karena untuk beberapa jurus dia diteter.

Namun, Mindra adalah kakek yang betul-betul hebat. Ditekan dan dicecar dari muka dan belakang, ia tak kelihatan gugup. *Sinkang*-nya masih lebih kuat daripada lawan dan setiap kali ia menangkis, setiap kali itu pula lawan terhuyung ke belakang. Tombak Maut dan Pacul Kilat sama-sama terbelalak dan kagum tapi juga marah. Kakek Thian-tok ini lihai!

Begitu mereka menyerang lagi dan tak takut akan kelebihan lawan, Mindra menjadi geram. Kakek itu teringat pada *Hwi-seng-ciang*-nya lagi dan dikeluarkannyalah pukulan ini ke arah dua orang itu. Pacul Kilat maupun Tombak Maut ternyata sama-sama tak tahan. Mereka silau oleh percikan bintang api itu dan selalu mengelak. Namun, karena lawan terkekeh mengejar dan Pukulan Bintang Api ini amat mengganggu, menyengat, dan membakar kulit tubuh, dua orang itu terdesak; tombak panjang pun tak berguna banyak untuk menyerang.

Tombak Maut sering mengelak kalau pukulan Bintang Api menyambar, di samping tak kuat hawa panasnya, ia juga sengaja menghindari percikan bintang api itu. Pakaiannya juga berlubang-lubang dan ia melotot karena hal itu sama dengan rekannya, si Pacul Kilat. Karena ia sering menghindar dan tombak jadi tak berguna, sementara Pacul Kilat juga begitu karena *Hwi-seng-ciang* memang luar biasa, maka begitu mereka mengelak ke kiri dan kanan, lawan mengejar serta terus melepas pukulan Bintang Apinya, tiba-tiba dua orang ini terdesak dan malah ditekan!

"Ha-ha!" kakek itu terbahak-bahak. "Ayo mana ilmu kepandaian kalian, Pacul Kilat? Mana itu kata-kata kalian yang ingin membunuh aku!"

"Keparat!" Pacul Kilat memekik. "Kau sombong namun kami belum roboh, Mindra. Gerakkan *nenggala*-mu dan tunjukkan pula kepada kami bahwa kau sanggup membunuh kami!"

"Hm, hal itu pasti kulaksanakan. Sekarang akan kumulai, lihat...!"

Ketika kakek itu melepas *Hwi-seng-ciang*-nya lagi hingga dua orang itu mundur, Pacul Kilat membentak karena ia selalu terhuyung. Saat itulah *nenggala* bergerak mengejar dirinya, menusuk atau mematuk. Pacul Kilat terkejut karena posisinya buruk dan belum sempat memperbaiki diri. Ketika *nenggala* tahu-tahu ada di depan hidung dan laki-laki ini berteriak keras, apa boleh buat ia membabatkan paculnya dan *nenggala* itu dihantam kuat-kuat.

Namun, laki-laki ini lupa. Mindra memiliki *sinkang* di atas dirinya dan tangkisan atau hantaman paculnya itu tak berakibat banyak. *Nenggala* tergetar sedikit dan senjata yang semula menuju hidung itu tiba-tiba turun ke bawah, tertekan oleh hantaman pacul. Karena senjata itu masih terus menusuk dan bergerak kuat, perut laki-laki itu tergurat dan Pacul Kilat menjerit karena nyaris perutnya dibelah.

"Aughh!" Jerit atau lengking panjang itu mengiringi robohnya laki-laki ini. Senjata di tangannya terlepas dan kakek India itu terkekeh kejam, membalik, dan melepas *Hwi-seng-ciang*-nya karena saat itu tombak panjang tiba-tiba berkesiur menyambar.

Tombak Maut melihat keadaan bahaya dan ingin menolong temannya, melepas tombaknya yang terbang menyambar dengan cepat. Tapi karena lawan mendengar kesiur anginnya dan *Hwi-seng-ciang* menampar tombak itu hingga patah dan hancur di tengah jalan, *nenggala* tiba-tiba bergerak. Patahan tombak yang akan jatuh ke lantai tiba-tiba dijentik dan terbang menyambar ke arah Pacul Kilat yang sedang roboh di sana.

*Cep!* Ujung atau patahan tombak itu amblas di dada laki-laki ini. Pacul Kilat yang sedang menggelepar oleh sakitnya di perut tiba-tiba roboh dan binasa seketika. Hanya keluhan tertahan sempat terdengar dan setelah itu laki-laki itu terguling. Mindra telah membunuhnya!

Tombak Maut terbelalak dan pucat melihat senjatanya dipakai untuk membunuh temannya sendiri. Tiba-tiba laki-laki ini berteriak histeris dan menerjang lawan.

"Tua bangka, kau keji dan terkutuk!"

"Heh-heh," *nenggala* kembali bergerak. "Kaulah yang tak tahu diri, bocah. Mampus dan susullah temanmu di neraka... *cus!*"

*Nenggala* tepat menyambut pukulan laki-laki ini, tembus di telapak tangan, membuat Tombak Maut berteriak kesakitan hebat. Ia mau menarik tangannya tapi kaki kakek itu bergerak, tepat sekali mengenai selangkangannya. Ketika Tombak Maut menjerit dan terpelanting roboh hingga alat kelaminnya pecah, saat itu di tempat lain terdengar teriakan-teriakan dan puluhan bayangan hitam menyerbu dari luar, seakan sepasukan iblis yang datang menggempur!

"Serbu! Cari Coa-ongya dan bunuh anjing-anjing pembantunya ini!"

Mindra terkejut. Baru saja dia merobohkan dua orang lawannya, tiba-tiba datang belasan bayangan hitam mengeroyoknya. Mereka berteriak marah melihat tewasnya Pacul Kilat dan Tombak Maut. Ketika kakek itu mengelak dan melepas pukulan *Hwi-seng-ciang*-nya, marah karena tiba-tiba tiga belas orang mengerubutnya, di tempat lain saudaranya juga diserbu dan dikeroyok belasan orang, termasuk Kedok Hitam yang baru saja merobohkan dua orang kembar dengan bentuk tubuh yang sama.

"Keparat!" kakek itu melengking. "Siapa kalian ini, tikus-tikus busuk? Kenapa datang mencari penyakit!"

"Mereka bekas orang-orangnya Chu Wen!" Kedok Hitam berseru dari jauh. "Inilah yang kukatakan kepadamu, Mindra. Bunuh dan basmi mereka kecuali pimpinannya. Cari dia!"

Kakek ini terbelalak. Tiga belas pengeroyok yang tiba-tiba menyerang dan begitu beringas menggerakkan senjata itu rata-rata ditutup saputangan merah untuk menyembunyikan wajah. Mereka adalah orang-orang *kang-ouw* yang berkepandaian cukup tinggi, sedikit di bawah Pacul Kilat ataupun Tombak Maut, dan tentu saja kakek ini menjadi sibuk. Satu lawan tiga belas bukanlah pekerjaan mudah.

Ketika dia menggeram dan melepas *Hwi-seng-ciang*-nya, mengiringi *nenggala* yang sudah dipakai menangkis atau menghalau senjata lawan, Sudra saudaranya juga kewalahan oleh serbuan lawan yang begitu banyak, yang meluruk dan menerjang bagai harimau lapar yang kesetanan.

*Tar-tar!* Cambuk meledak-ledak di udara. "Enyah kalian, tikus-tikus busuk! Pergi dan kuantar ke neraka!"

Dua orang roboh terkena *nenggala* dan cambuk dua kakek India ini. Sudra dan Mindra memang lihai. Tapi ketika yang lain datang membantu dan jumlahnya kembali tetap, dua kakek itu marah. Di tempat Kedok Hitam terjadi keroyokan sengit yang bahkan dilakukan oleh hampir dua puluh orang.

"Ini Kedok Hitam, antek Coa-ongya paling lengket. Bunuh dan jangan biarkan ia hidup!" Seorang laki-laki tinggi besar, gagah, dan berperawakan tegap membentak teman-temannya untuk mengurung dan menyerang laki-laki itu. Laki-laki tinggi besar itu sendiri bersenjatakan *gendewa* besar dan dia telah membunuh belasan pengawal, hal yang membuat Kedok Hitam marah dan menyerangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment