Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 95

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 95

Ketika si pendek gempal membantu dan dua laki-laki kembar ikut mengeroyok Kedok Hitam, mereka tewas seketika. Si pendek gempal kemudian bersuit, memanggil temannya yang bertubuh tinggi besar beserta puluhan orang lainnya. Mereka muncul tiba-tiba dan langsung meluruk ke lokasi untuk mencari lawan masing-masing, hingga akhirnya mengepung Sudra, Mindra, dan si Kedok Hitam.

Ketiga orang itu terlihat paling lihai; mereka memukul mundur bahkan membunuh beberapa penyerbu. Saat si tinggi besar mencabut gendewa dan si pendek gempal mengeluarkan sepotong papan besi, mereka tidak lagi mampu menahan pukulan lawan dengan tubuhnya. Padahal sebelumnya, mereka sanggup menahan senjata para pengawal, namun kini keadaan berbalik; si tinggi besar pun ganti menyerang Kedok Hitam.

Karena Kedok Hitam terlalu lihai dan dorongan pukulannya sangat kuat, mereka sering terhuyung hingga terpelanting. Akhirnya, mereka memanggil bala bantuan—bayangan hitam yang tadinya bertugas menghadang dari luar—untuk membantu si pendek gempal dan si tinggi besar. Kedok Hitam terbelalak. Dua lawan utamanya itu bergantian memberi aba-aba. Semula ia menyangka si tinggi besar adalah pemimpinnya karena dialah yang pertama memberi perintah, namun ketika si pendek gempal juga ikut memerintah, Kedok Hitam bingung siapa pimpinan sebenarnya. Mereka tampaknya setingkat, yang berarti masih ada orang lain di balik semua ini.

Ketika ia mulai marah dan berhasil membunuh dua laki-laki kembar, si pendek gempal dan si tinggi besar terkejut, lalu memanggil bala bantuan. Puluhan bayangan hitam meluruk ke gedung Coa-ongya untuk membantu. Kedok Hitam mendapat lawan terbanyak karena dialah yang paling lihai. Serbuan itu datang bagai air bah, membuat sisa pengawal terpencar. Dalam sekejap, gedung Coa-ongya dipenuhi para penyerbu yang berlalu-lalang mencari Coa-ongya.

"Cari dan tangkap pangeran itu. Seret dia ke sini!" geram Kedok Hitam.

Tempat itu diobrak-abrik dan para pengawal lari cerai-berai karena jumlah lawan yang terlalu banyak. Hanya tiga orang yang mampu bertahan, yaitu Mindra dan Sudra yang bergerak cepat membalas serangan, sehingga merekalah yang menjadi pusat serbuan.

"Bunuh mereka! Antar ke neraka!"

"Hm!" Sudra mendengus, cambuknya menjeletar. "Kalian yang akan kuantar ke neraka, tikus-tikus busuk. Satu per satu boleh menikmati gigitan cambukku ini."

"Aduh!" seorang pengeroyok berteriak saat cambuk itu mengenainya. Bukan gigitan biasa, sentuhan itu menyebabkan kulit luka terbakar. Sudra mengerahkan sinkang ke ujung cambuknya hingga lawan menjerit, roboh, dan kehilangan senjata karena kulit serta tubuhnya hangus. Inilah keistimewaan kakek itu; cambuk bajanya—bahkan tanpa diisi tenaga dalam pun—sudah sangat menyakitkan.

Sudra melindungi tubuhnya hingga kebal. Meskipun ia dikeroyok, sinkangnya cukup kuat menghadapi lawan di bawah kelasnya. Namun, ketika belasan orang mengarahkan senjata ke hidung atau mata—daerah terlemah—sebuah pedang nyaris mengenai mata kiri kakek itu.

"Keparat! Robohlah kau, tikus busuk!" Sudra meluncurkan cambuknya. Orang itu roboh dengan kepala berlubang terkena ujung cambuk.

Di sisi lain, Mindra merobohkan dua lawan dengan nenggalanya. Ia juga marah karena lawan berkali-kali mengincar mata atau lubang hidungnya. Bahkan telinganya hampir tertusuk tombak bercagak jika ia tidak cepat menghindar. Begitu ia melepas Hwi-seng-ciang untuk mendorong lawan, nenggalanya menyambar balik.

"Aughh!" Laki-laki itu berputar, lalu tewas seketika saat nenggala menembus perutnya.

Mindra melukai dan membunuh dengan mata dingin. Saat yang lain kembali menerjang, ia menampar mereka dengan Hwi-seng-ciang hingga terpelanting. Mereka kalah kuat, namun terus bangkit kembali karena sifat nekatnya. Kakek itu pun gusar; nenggala diputar cepat sementara tangan kirinya melancarkan Hwi-seng-ciang. Orang-orang itu pucat karena tamparan hawa panas.

Karena jumlah lawan masih banyak, kakek itu habis kesabaran. Nenggala dan Hwi-seng-ciangnya menjadi senjata maut. Bacokan senjata tajam yang mengenai tubuhnya hanya terpental karena tenaga sakti yang dimilikinya. Dalam sekejap, tujuh orang roboh.

"Ayo, maju lagi. Biar kubunuh habis!"

Lawan pun ngeri. Nenggala kakek itu beterbangan bagai burung menyambar. Mindra kembali merobohkan lima orang lagi. Hal ini menciutkan nyali, membuat belasan orang itu mundur dan mengepung dari jauh.

Sementara itu, di tempat Kedok Hitam, terdengar pekik tertahan.

"Mundur!" si pendek gempal memberi aba-aba dengan wajah pucat. "Jauhi laki-laki ini dan keluarkan jala berduri!"

Dua puluh laki-laki mundur, memberi jarak karena Kedok Hitam menjadi sangat ganas. Pukulan jarak jauhnya yang disertai hawa panas dan tajam seperti bacokan pedang membuat mereka takut. Saat si pendek gempal memberi perintah, mereka mencabut jala yang penuh kaitan baja.

"Siut-siut-wherrr!"

Dua puluh jala mengembang dan menakup Kedok Hitam. Benda itu tidak ditakuti, tetapi kaitan bajanya bisa merobek pakaian dan membuat tubuhnya terancam. Kedok Hitam membentak keras, berkelebat, dan mencabut sesuatu. Sinar putih menyilaukan mata tiba-tiba muncul. Terdengar suara denting logam, dan jala di tangan para penyerbu putus seketika.

"Mundur!"

Seruan itu terlambat. Empat orang yang bengong di tempat disambar cahaya putih tersebut. Leher mereka putus oleh sebatang golok yang luar biasa tajam.

"Crat-crat-crat!"

Empat batang tubuh roboh seperti pohon pisang. Tidak ada jeritan, menunjukkan betapa cepat dan tajamnya golok maut itu. Sinar putih itu masih terus menyambar, membuat pundak si pendek gempal tergurat panjang dan lengan si tinggi besar tersobek.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment