Chapter 96
"Aduh!" Orang-orang itu pucat pasi. Mereka tersentak dan ngeri menyaksikan kejadian itu.
Kedok Hitam telah mencabut senjatanya; sekali cabut, empat nyawa melayang! Ketika orang-orang itu terbelalak dan gentar mundur menjauh, jala sudah terkulai bertumpuk-tumpuk. Kedok Hitam tertawa, berkelebat, lalu membalas.
"Sekarang giliran kalian menerima hajaran. Bersiaplah ke akhirat!"
Dua puluh orang yang tersisa enam belas itu terpekik. Sinar putih menyambar dan tiba-tiba bergerak mengelilingi mereka; sinarnya lebar dan panjang seperti payung. Ketika beberapa orang menjadi gugup dan mencoba menangkis, senjata mereka patah. Sinar putih itu terus meluncur dan lima orang tiba-tiba terbabat.
"Aduh!" Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Kedok Hitam tertawa dan sinar putihnya bergulung naik-turun. Lima orang kembali roboh dan sisanya tentu saja gentar. Lawan sudah membunuh sembilan orang!
Ketika mereka melempar tubuh dan si tinggi besar berteriak menyelamatkan diri, tiba-tiba ia meraih anak panah. Tujuh anak panah sekaligus menyambar saat laki-laki itu sedang bergulingan.
"Ser! Ser! Ser!" Kedok Hitam memuji. "Memanah sambil bergulingan bukanlah hal mudah, apalagi semua anak panah itu tepat menyambar tubuhku. Tiga ke atas sedang empat yang lain ke bawah, semuanya jitu dan telak!"
Namun, saat Kedok Hitam tertawa dan menangkis dengan putaran golok mautnya, sekali sapu tujuh anak panah itu runtuh. Ia mengejek bahwa hujan panah tersebut masih kurang banyak.
"Ha-ha, kau jago panah yang hebat, tikus besar. Namun sayang, tak berhasil. Ayo, lepaskan lagi anak panahmu lebih banyak dan biar kuhancurkan semuanya!"
Si tinggi besar pucat. Dia meloncat bangun dan kembali menjepretkan tujuh batang anak panahnya. Namun, ketika semuanya runtuh dibabat sinar putih itu, laki-laki ini mengeluh. Si pendek gempal tiba-tiba meraup anak panah dan melontarkannya seperti orang melontar lembing.
"Hujani dia dengan anak panah!" seru yang lain.
Mencabut anak panah yang rupanya sudah disiapkan di kantong, mereka mendadak menyambitkan senjata itu ke arah Kedok Hitam. Laki-laki itu diserang dan dihujani puluhan anak panah. Namun, ketika sinar putih bergulung dan meruntuhkan anak-anak panah itu, tiba-tiba patahan panah berbalik dan mengenai orang-orang itu sendiri. Karena panah yang diluncurkan berjumlah banyak, yang membalik pun banyak hingga tujuh di antaranya roboh sambil mengaduh.
"Crep! Crep! Crep!" Si tinggi besar dan si pendek gempal terbelalak. Mereka kaget dan bingung karena diserang dengan cara apa pun, lawan mereka ternyata terlalu lihai. Tadi membabat jala berduri, sekarang membabat anak panah mereka. Jumlah yang semula dua puluh tiba-tiba sekarang tinggal empat orang. Celaka!
Ketika mereka tertegun, pucat, serta marah di balik rasa gentar, Kedok Hitam berkelebat menuju ke arah mereka.
"Ha-ha, sekarang giliran kalian. Mampus dan pergilah ke neraka!"
Si pendek gempal menggerakkan papan besinya. Dia terkejut dan tentu saja tidak mau menerima kematian, karena itu ia cepat mengelak, mundur sambil menggerakkan papan besinya untuk menangkis. Namun, ketika papan besinya terbelah, laki-laki itu berteriak dan melempar tubuh bergulingan. Si tinggi besar yang memegang gendewa juga mengeluh dan melempar tubuh dengan cepat karena gendewanya putus menjadi dua. Dua orang lainnya sudah tidak sempat menghindar karena sinar putih itu berkelebat ke leher mereka; roboh dan tewas karena kepala mereka sudah menggelinding di tanah.
Namun, ketika Kedok Hitam hendak mengejar dan membunuh dua yang terakhir, mendadak terdengar raungan atau pekik kaget dari dua kakek India di sana.
"Aduh, tolong, Kedok Hitam! Ini bocah iblis yang kukatakan itu..."
*Tas-crak!*
Cambuk atau nenggala yang putus dibabat sinar menyilaukan membuat Sudra dan Mindra berteriak dan melempar tubuh sambil mengaduh. Dua pertandingan di sana tiba-tiba berubah ketika seorang pemuda muncul, diiringi kekeh wanita yang membuat kakek-kakek berhidung bengkung itu terkesiap. Mereka sudah menguasai lawan-lawan mereka dan tinggal menamatkan dengan serangan terakhir, tak tahunya terdengar bentakan dan sesosok bayangan hitam berkelebat, menangkis dan mematahkan senjata mereka.
Ketika cambuk dan nenggala putus dibabat cahaya menyilaukan yang berhawa dingin, sebuah dorongan kuat menampar hingga dua kakek itu mencelat!
Sudra dan Mindra terguling-guling dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat siapa yang datang. Kiranya pemuda yang dulu bertemu dengan mereka di luar hutan, yang membantu Wi Hong atau menyelamatkan bekas ketua Hek-yan-pang itu dari tangan mereka. Ketika kekeh itu disusul oleh bayangan kedua, dua kakek ini pucat karena itulah si cantik gila yang dulu mereka ganggu. Mereka tidak tahu bahwa Wi Hong sekarang sembuh dan masih mengira wanita itu gila. Karena itu, kembali perhatian mereka tertuju pada pemuda berpakaian hitam-hitam tersebut.
Mereka terbelalak karena sekarang pemuda ini berambut kemerah-merahan, marong bagai api unggun. Tapi begitu pandangan mereka tertuju ke arah cahaya putih yang berhawa dingin, tiba-tiba semangat dua orang kakek ini seolah terbang karena mengenali benda di tangan pemuda itu.
"Golok Maut!"
"Golok Penghisap Darah!"
Dua kakek ini terguncang. Giam Liong, pemuda itu, sudah berdiri tegak dengan sikap dingin namun gagah. Golok di tangannya yang bergetar dan berkilauan itu tiba-tiba bergerak dan lenyap di balik punggung. Giam Liong telah menolong orang-orang bersaputangan merah ini dengan kilatan senjatanya tadi; cahaya yang lebih dingin dibanding kilatan di tangan Kedok Hitam.
Begitu Giam Liong tidak menyerang lagi dan tegak menghadapi dua kakek India itu, ibunya yang terkekeh dan melengking di sebelahnya tiba-tiba berkelebat dan menusuk Mindra, kakek yang terdekat dengannya.
"Hi-hik, ini Golok Maut putraku. Hayo, kalian lagi-lagi di sini, tua bangka! Mampus dan bayar utang kalian kepadaku dulu..."
*Sing!*
Pedang bersinar merah meluncur menusuk tenggorokan kakek itu. Gerakannya cepat sekali, tahu-tahu telah menyentuh kulit. Mindra yang masih bengong oleh hadirnya Giam Liong tiba-tiba terpekik dan cepat melempar kepala ke belakang. Kakek itu terkesiap karena Wi Hong menyerangnya di saat ia tertegun. Kehadiran pemuda itu memang mengejutkan, apalagi karena membawa Golok Maut atau Golok Penghisap Darah.
Mindra dan Sudra tentu saja kenal akan golok di tangan pemuda itu karena tidak ada senjata, betapa pun tajamnya, mampu mengeluarkan hawa sedingin Golok Maut. Golok itu adalah senjata bertuah dan karenanya tidak heran kalau cambuk atau nenggala mereka putus terbabat, seolah agar-agar atau tahu bagi golok sehebat itu.
Begitu Wi Hong berkelebat dan kakek itu terkesiap, kedatangan Giam Liong masih belum menghilangkan kekagetannya. Ia semakin terkejut karena Wi Hong dengan jurus *Bianglala Menukik ke Bumi* masih terus mengejar dan menyerang tenggorokannya!
"Keparat.... Plak-cring!"
Kakek itu membentak, menangkis atau menjentikkan kuku jarinya. Pedang seketika terpental bertemu kuku jarinya. Wi Hong memang masih bukan lawan kakek ini, namun wanita itu berteriak marah dan berkelebat menyerang lagi. Karena gentar oleh kedatangan Giam Liong yang seolah siluman ganas yang akan menerkamnya, begitu dia mengelak dan menjentikkan kuku jarinya lagi, kakek ini berkelebat dan lari ke arah Kedok Hitam.
"Kedok Hitam, bantu aku! Bocah iblis itu ada di sini!"
Kedok Hitam masih tertegun. Dia menghentikan serangannya ketika mendengar jeritan pertama temannya. Sinar menyilaukan yang lebih hebat dari sinar goloknya sendiri sudah membuat laki-laki itu terkejut. Dua lawannya mundur menjauh dan terbelalak menahan luka. Ketika dia melihat pemuda itu amat tampan namun berwajah dingin, persis si Golok Maut Sin Hauw yang dulu dibunuhnya, tiba-tiba hati lelaki ini bergetar. Dia lupa kepada dua orang lawannya tadi, si pendek gempal dan si tinggi besar.
Begitu Mindra berkelebat ke arahnya dan berteriak, Wi Hong mengejar dan melihat dirinya. Tiba-tiba wanita itu melengking dan membelokkan larinya ke arah Kedok Hitam.
"Keparat, kau ada di sini, Kedok Hitam! Kebetulan sekali, kau berutang jiwa suamiku. Aku memang mencarimu dan kebetulan kau ada di sini... Haiittt!"
Pedang yang membelok itu tidak mengejar Mindra, melainkan menyerang lawan utamanya. Kedok Hitam terkejut namun mengeluarkan suara dari hidung. Dia tahu kepandaian wanita ini dan tangannya bergerak menangkis, sementara tangan yang lain masih memegang golok. Ketika pedang tertampar dan seketika patah, Wi Hong terpekik dan terbawa maju. Kaki laki-laki itu bergerak dan mencelatlah wanita ini oleh sebuah tendangan keras.
"Pergilah kau.... Dess!"
Wi Hong terlempar dan jatuh terguling-guling. Wanita itu menjerit karena hanya dalam sekali gebrakan saja pedangnya sudah patah. Kedok Hitam memang luar biasa. Namun, ketika wanita itu meloncat bangun dan bayangan hitam berkelebat, Giam Liong telah menolong ibunya untuk berdiri.
"Ibu tak apa-apa?"
"Tidak... tidak, dia... dia, ohh!" Wi Hong tiba-tiba histeris. "Inilah pembunuh ayahmu, Giam Liong. Itu si Kedok Hitam yang kita cari-cari. Dia ada di sini, aku ditendangnya!"