Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 97

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 97

"Bunuh dan balaskan sakit hatiku!" Wi Hong mencengkeram serta meremas puteranya seraya mengguncang-guncang tubuhnya. Tiba-tiba Wi Hong bergerak hendak merampas golok di punggung puteranya. Giam Liong mengelak, sementara ibunya berteriak histeris, memberi tahu bahwa pedangnya telah dipatahkan dan memintanya membalas dendam dengan Golok Maut.

Namun, ketika Giam Liong menampar dan mencengkeram tangan ibunya, pemuda itu memandang lawannya dengan tatapan berkilat, matanya mencorong mengeluarkan sinar pembunuhan. Ganas dan dingin!

"Ibu diamlah, biarlah aku yang bekerja. Ini si Kedok Hitam yang membunuh Ayah, laki-laki yang membuatmu menderita. Jangan takut. Kau tenang dan berdirilah di sini, Ibu. Akan kudatangi dia dan kulihat kulitnya akan kubeset!"

Semua orang meremang. Kedok Hitam yang baru saja menendang Wi Hong tiba-tiba terkejut ketika pemuda bermata naga itu menghampirinya dengan perlahan namun dingin. Langkahnya tenang, namun setiap hentakan menciptakan getaran. Giam Liong mengayunkan kakinya bagai langkah seekor gajah, berderap dan bergetar karena seluruh *sinkang* di tubuhnya hidup. Pengaruhnya terasa sampai beberapa meter hingga orang-orang bersaputangan merah terhuyung dan nyaris jatuh. Tanah yang mereka injak seakan diguncang gempa dan tak satu pun di antara mereka yang tidak berseru kaget.

Pemuda bermata naga ini telah menggetarkan jantung mereka dengan sikap dan kata-katanya yang dingin. Langkah kakinya terasa membetot sukma karena setiap menapak tanah, seolah sebuah kejadian mengerikan bakal terjadi. Ganas dan menyembunyikan rasa seram yang menakutkan!

Ketika ia sudah berhadapan dengan si Kedok Hitam, mata yang berapi penuh cahaya pembunuhan itu menatap lekat wajah lawan yang tertutup kedok hitam. Pemuda itu bertanya dengan suara berat bagai godam dipukulkan.

"Kedok Hitam, kau yang membunuh mendiang ayahku, Sin Hauw? Bagaimana kau membunuhnya dan menghabisi nyawanya? Benarkah kau merajang dan memotong-motongnya seperti anjing? Jawab, aku ingin mendengar pengakuanmu, manusia iblis. Setelah itu, aku akan mencacah dan menguliti tubuhmu jauh lebih mengerikan daripada perlakuanmu kepada ayahku!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak untuk mengusir kengeriannya. "Kau bocah ingusan mau apa? Anak tak tahu diri! Mendiang ayahmu ternyata menurunkan sifatmu. Ah, ingat aku. Kau tentu bocah haram dari hasil hubungan gelap ayahmu dengan ibumu itu. Ha-ha, Wi Hong ternyata pelacur murahan yang memberikan tubuhnya kepada laki-laki semacam Sin Hauw. Ah, pantas kalau Hek-yan-pang tak mau menerimanya lagi. Hm, kau benar, Anak Muda. Ayahmu akulah yang membunuhnya dan tak perlu aku mungkir. Kejadian itu sudah lewat dan aku melaksanakannya atas perintah kerajaan. Kau mau apa? Apakah ingin mampus seperti ayahmu dulu? Aku tidak takut!"

"Kau merajang dan memotong-motong tubuh ayahku seperti hewan?"

"Benar, ha-ha...!"

"Dan kematian macam apa yang sekarang kauinginkan?"

"Ha-ha, sombong! Kau belum menunjukkan kepandaianmu kepadaku, bocah. Sebutkan dulu namamu dan nanti akan kutiup kau menyusul ayahmu ke akhirat!"

"Aku Giam Liong, Sin Giam Liong."

"Wah, Giam Liong. Berarti Naga Pembunuh..."

"Ya, aku Naga Pembunuh, dan aku akan mulai membunuhmu!"

*Klap!* Sinar putih yang berkelebat menyilaukan mata tiba-tiba mencuat dari punggung pemuda itu, menyambar leher lawan. Kedok Hitam terkejut karena gerakannya amat cepat. Dia mengelak, namun sinar itu tetap mengejar. Ketika dia menggerakkan goloknya pula, tak ada kesempatan untuk menghindar. Terdengar suara nyaring, *cranggg!* Golok di tangan laki-laki itu putus terbabat bagai agar-agar.

Kedok Hitam melempar tubuh bergulingan. Dia sangat kaget karena begitu bergerak, Giam Liong langsung mencabut Golok Mautnya. Senjata itu tadi sudah disimpan, namun tiba-tiba mencuat bagai kilat. Giam Liong menggunakan gerakan *Pek-jit Kiam-sut* saat melakukan serangan pertamanya, yakni silat pedang meski yang dipakainya adalah golok. Pemuda ini telah mewarisi *Pek-jit Kiam-sut* dari ayah angkatnya. Tidak heran jika Kedok Hitam tersentak melihat gerakan golok yang aneh; golok itu tidak menyambar sebagaimana layaknya golok, melainkan mengikuti gaya ilmu silat pedang.

Hal ini mengejutkan sekaligus membuat darah lawannya tersirap. Dia lupa bahwa senjata di tangan pemuda itu adalah Golok Penghisap Darah, senjata maut yang amat berbahaya. Begitu Kedok Hitam bergulingan, Wi Hong yang menyaksikan dari kejauhan tiba-tiba berjingkrak dan bersorak.

"Bagus, bagus! Kejar dan terus serang jahanam itu, Liong-ji. Bunuh dia, hi-hik!"

Kedok Hitam berubah. Dalam gebrakan ini saja, nyaris ia kehilangan segalanya; pertama senjatanya, kedua harga dirinya. Dia adalah tokoh utama yang ditakuti, namun kini dibuat malu. Begitu sekali gebrak dia dibuat terdesak, semangatnya runtuh. Dia menyadari bocah yang dihadapi itu lihai luar biasa. Dengan cepat, laki-laki itu menyambar golok lain.

Kedok Hitam meloncat bangun, sementara Giam Liong berhenti mengejar. Dia telah menjatuhkan mental lawan dalam sekali gebrak. Minimal, Kedok Hitam tak akan sombong lagi. Giam Liong telah memberi pelajaran! Golok Penghisap Darah telah lenyap kembali ke punggungnya.

"Kedok Hitam, majulah dan mari main-main lagi. Aku telah melihat kepandaianmu dan kupikir tak perlu membunuhmu dulu dengan senjataku. Gerakkan golokmu dan mulailah menyerang. Aku memberimu kesempatan sebanyak sepuluh jurus!"

Kedok Hitam memekik. Diejek seperti itu, kemarahannya menggelegak. Dia, tokoh yang telah membunuh Golok Maut, diperlakukan begitu hina oleh pemuda ini. Giam Liong mengatakan kepandaiannya telah diketahui, padahal seharusnya dialah yang berkata begitu karena dia telah merasakan betapa luar biasanya kekuatan Giam Liong. Barangkali, pemuda ini justru lebih hebat daripada mendiang ayahnya sendiri. Dulu Golok Maut hanya menggerakkan goloknya dengan gaya silat golok, tidak seperti pemuda ini yang memainkan golok seperti pedang.

Namun, karena Kedok Hitam memiliki ilmu silat golok dan pernah menyaksikan pertandingan Sin Hauw di masa lalu, dia mulai mengerahkan *khikang*. Tiba-tiba laki-laki itu berkelebat, golok di tangannya menyambar dan mendesing bagai ribuan lebah yang siap menyengat.

"Kuhajar kau!" Golok bergerak menyilaukan mata, langsung mengarah ke tenggorokan Giam Liong. Pemuda itu mengerutkan kening. Golok digenggam dengan empat jari merapat sementara ibu jari ditekuk ke dalam—cara memegang senjata yang sangat kuat. Ketika gerakan menyambar dari atas ke bawah itu membentuk lengkungan panjang seperti bianglala, Giam Liong terbelalak karena itulah jurus *Bianglala Siluman Menyergap Bulan*, salah satu jurus pembukaan *Im-kan To-hoat* (Silat Golok dari Akhirat) warisan ayahnya.

Kedok Hitam melanjutkan serangannya, golok itu mematah di tengah jalan dan menukik ke bawah menuju arah kemaluan Giam Liong.

"Golok Iblis Menyambar Bola Bumi!" Giam Liong tak tahan untuk tidak berseru keras. Tentu saja dia mengenal jurus-jurus dari *Im-kan To-hoat* tersebut karena dia telah mewarisi kitab-kitab peninggalan almarhum ayahnya. Begitu lawan mengeluarkan ilmu silat Golok Maut, Giam Liong berkelit, namun ia terus dikejar. Akhirnya, pemuda itu menggerakkan tangannya menangkis, dan serangkum angin pukulan membuat Kedok Hitam terpekik karena golok di tangannya menyeleweng.

*Crat!* Ranting pohon di belakang Giam Liong roboh terbabat. Sebenarnya yang dituju adalah telinga pemuda itu, namun dengan cepat ia mengibas. *Sinkang* yang dipelajari dari sumur tua dipergunakan, dan Kedok Hitam terhuyung. Itulah *sinkang* yang dimiliki mendiang Sin Hauw, ayah pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment