Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 98

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 98

Laki-laki itu terbelalak, namun menggeram dan menerjang maju lagi. Setelah dua jurus berlalu dengan kejadian yang mengejutkan masing-masing pihak, Giam Liong semakin melebarkan matanya karena jurus-jurus itu merupakan Ilmu Silat Golok Maut milik ayahnya.

"Pencuri hina! Keji!" Giam Liong membentak dengan penuh amarah. "Ini Im-kan To-hoat milik mendiang ayahku, Kedok Hitam. Kau mempergunakannya dan ternyata memilikinya. Kau pencuri!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa terbahak-bahak. "Im-kan To-hoat atau Im-jin To-hoat, aku tidak peduli, bocah. Yang jelas inilah ilmuku. Kalau ayahmu memiliki ilmu yang sama, jangan-jangan dialah yang mencuri dan mendapatkannya secara gelap dari guru-guruku!"

"Siapa kau? Buka kedokmu itu!"

"Ha-ha, kau ingin tahu? Nanti saja setelah kuantar ke akhirat!"

"Sing!" Golok menyambar cepat dari kiri ke kanan, lalu tiba-tiba meliuk dan turun ke bawah. Lawan mempergunakan jurus Menabas Hati Memapas Kaki, gerakan yang dilanjutkan dengan serangan mencuat dari bawah ke atas. Jika sudah begini, tujuh tusukan bertubi-tubi akan menyusul. Giam Liong mengetahui bahayanya dan segera menjejakkan kaki untuk berjungkir balik. Ketika benar tujuh tusukan menyusul dengan cepat, Giam Liong sudah membebaskan diri, namun ia tetap terbelalak melihat ilmu silat lawannya.

Pemuda itu berkelebatan ke sana kemari menghitung jurus-jurus berikutnya. Ia tidak boleh membalas karena sudah berjanji untuk memberi "keringanan". Untung ilmu silat itu ia kenali sehingga tidak terlalu merepotkannya. Namun, pada jurus kedelapan, Kedok Hitam mengeluarkan seruan panjang. Goloknya berubah bentuk seperti gumpalan awan, membuat pemuda itu tertegun karena lawan telah mengubah gerakan dan tidak menggunakan Im-kan To-hoat lagi.

Jurus-jurus berikutnya adalah ciptaan laki-laki itu sendiri karena gerakan golok segera diiringi pukulan tangan kiri. Angin menyambar dingin, dan pukulan tiba-tiba berubah menjadi totokan. Dua jari Kedok Hitam melejit di balik bayang-bayang golok. Giam Liong dicegat dari segala penjuru. Ketika pemuda itu terpaksa menangkis dan mengerahkan sinkang untuk menerima totokan, Giam Liong pun segera membalas dengan totokan ke arah kulit tubuh laki-laki itu.

"Tuk!" Keduanya tergetar dan terkejut. Giam Liong menerima totokan sekaligus "membayarnya" dengan totokan pula. Kedok Hitam mendesis, namun jari pemuda itu mental. Giam Liong merasa seolah bertemu gelembung hawa aneh yang membuat jarinya tertolak, sementara lawan mendesis sakit karena jarinya bertemu kulit Giam Liong yang sekeras besi. Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya hingga tubuhnya menjadi atos.

Ketika keduanya terbelalak dan Giam Liong merasa mengenali daya tolak lawannya, ibunya yang melengking-lengking di luar berseru agar pemuda itu mencabut Golok Mautnya.

"Bodoh, sombong, dan pongah! Kau melebihi ayahmu, Giam Liong. Lawan seperti itu tak perlu diberi kesempatan sebanyak sepuluh jurus. Dua atau tiga saja cukup. Hayo, cabut golokmu dan bunuh dia!"

"Hm!" Kedok Hitam kembali menyerang pemuda itu, kembali memainkan golok dan tangan kirinya.

"Aku terlanjur berjanji, Ibu. Aku akan menepati janjiku. Tinggal dua jurus lagi dan setelah itu aku akan membunuhnya!"

"Goblok, sombong!" sang ibu membanting-banting kaki. "Sekarang dia mengeluarkan ilmu-ilmunya yang lain, Liong-ji. Kau tidak kenal. Lawanmu itu jahat dan cerdik sekali. Akalnya melebihi siluman. Hayo cepat cabut golokmu atau kau mampus!"

"Bret!" Giam Liong tiba-tiba berseru kaget karena perhatiannya terpecah oleh makian ibunya. Pada jurus kesembilan, Kedok Hitam melancarkan pukulan baru. Goloknya tiba-tiba bergetar di tangan dan tidak bergerak, yang bergerak adalah tangan kirinya yang menampar atau melecut, gaya serangannya mirip ekor ular atau naga. Karena memperhatikan hal itu dan tidak waspada terhadap golok, senjata itu tiba-tiba menyambar dan menuju ke batang lehernya tanpa suara.

Ibunya menjerit, namun golok sudah benar-benar dekat. Giam Liong melempar kepala, namun pada jurus kesepuluh, laki-laki itu terkekeh dan melepaskan senjatanya. Golok itu terbang seperti bernyawa!

Ketika Giam Liong tersentak, tangan kiri lawan mencengkeram dan bertemu tangan kirinya sendiri. Ia tidak dapat melepaskan diri dan terpaksa menerima sambaran golok itu dengan batang lehernya. Giam Liong terkesiap, namun ia segera mengerahkan sinkang. Batang lehernya tiba-tiba menggembung terisi tenaga sakti. Ketika golok merobek leher bajunya dan menusuk batang lehernya, senjata itu tertahan oleh gelembung sinkang sehingga goloknya patah. Giam Liong segera menarik tangannya seraya melepas tendangan berputar.

"Dess!" Kedok Hitam terpelanting dan terkejut. Pangkal pahanya bertemu tendangan kuat; jika bukan dia yang menerima, tentu tulang-tulangnya sudah hancur. Giam Liong berhasil membebaskan diri, dan ibunya segera berkelebat menyambar anaknya karena Giam Liong terhuyung dua tindak dengan wajah pucat. Ia juga merasakan kokohnya paha lawan ketika ditendang. Paha Kedok Hitam bagai batang besi yang kokoh di samudera, tanda bahwa lawan memiliki sinkang luar biasa. Terpelantingnya lawan bukan semata karena kekuatan Giam Liong, melainkan juga karena keterkejutan Kedok Hitam melihat golok terbangnya patah saat bertemu leher pemuda itu.

Laki-laki itu terbelalak karena Giam Liong ternyata luar biasa. Di samping hebat ilmu kepandaiannya, sinkangnya pun hebat. Golok itu patah menjadi dua, padahal orang lain tentu sudah terkapar jika terkena serangan tadi. Ketika laki-laki itu meloncat bangun melihat Wi Hong melengking-lengking mencengkeram putranya dengan cemas, ia segera berkedip dan berbisik pada dua kakek India rekan-rekannya melalui ilmu mengirim suara, "Mindra, Sudra, aku kehilangan senjataku dua kali. Kalian tahan dulu pemuda ini sementara aku mengambil pusakaku!"

Kedok Hitam tiba-tiba berkelebat dan meninggalkan pertempuran. Giam Liong yang sedang dicaci maki ibunya hanya bisa diam, namun begitu ia melihat Kedok Hitam lenyap, ia segera mendorong ibunya.

"Heiii!" Giam Liong berkelebat, membuat ibunya terpelanting. "Pengecut kau, Kedok Hitam! Jangan lari!"

Dua kakek India itu menghadang. Mereka mengira Kedok Hitam benar-benar akan kembali. Begitu Giam Liong membentak dan hendak mengejar, dua kakek itu melompat dan berseru keras. Sudra menggerakkan sisa cambuknya, sementara Mindra menggerakkan sisa nenggalanya.

Giam Liong menggerakkan tangan ke punggung. Sinar putih menyilaukan mata berkelebat, dan tiba-tiba nenggala serta cambuk di tangan kedua kakek itu putus sebatas pergelangan tangan.

"Kalian minggirlah!" Giam Liong tidak menghiraukan mereka dan mengelebatkan goloknya yang kembali lenyap ke punggung. Senjata itu hanya digerakkan sekali, namun sudah cukup untuk memutus cambuk dan nenggala mereka, nyaris membabat pergelangan tangan mereka hingga buntung.

Giam Liong terus mengejar lawannya. Wi Hong menyusul putranya, diikuti orang-orang bersaputangan hitam yang bersorak-sorai.

"Horee! Tangkap dan seret si Kedok Hitam itu, Naga Pembunuh! Biarkan kami ikut mencincangnya!"

Giam Liong menggeram dan berkelebat masuk ke gedung Coa-ongya. Lawan melarikan diri, sementara Sudra dan Mindra bergulingan bangun dengan pucat pasi. Si Naga Pembunuh itu benar-benar mengerikan; sekali mengeluarkan golok, mereka pun terpelanting. Bocah itu melebihi ayahnya.

Ketika orang-orang bersorak mengikuti Si Naga Pembunuh, para pengawal dibabat tanpa ampun. Dua kakek itu pun diterjang dan menerima kemarahan mereka.

"Bunuh kakek-kakek siluman ini! Tebas batang kepalanya!"

Kedua kakek itu terkejut karena telah kehilangan senjata, sementara orang-orang itu beringas menyerang. Golok, tombak, dan pedang silih berganti menyambar bagai hujan. Meski mereka kakek-kakek yang lihai dan berhasil menghalau senjata dengan tangan atau kaki, mereka tetap terdesak dan memanggil Giam Liong.

"Naga Pembunuh, bantu kami dulu! Dua kakek ini melawan!"

Sudra dan temannya tergetar mendengar nama itu. Mereka paling jerih berhadapan dengan Giam Liong. Begitu membentak dan berjungkir balik, kedua kakek itu lenyap melarikan diri karena tidak ingin bertemu pemuda tersebut.

"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya mengandalkan pemuda itu. Baiklah, kami pergi namun kelak kami akan datang menghajar!"

"Plak-plak-plak!" Orang-orang itu menjerit dan bergulingan, terlempar roboh oleh kibasan pukulan kedua kakek itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment