Chapter 99
Mindra dan Sudra memang masih terlalu lihai bagi mereka.
Namun, begitu dua kakek itu lenyap melarikan diri dan mereka memasuki gedung, Sudra dan Mindra hendak mencari si Kedok Hitam yang tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Orang-orang itu bangun, mengejar, dan berteriak-teriak hingga suasana menjadi gaduh.
"Kejar, bunuh kakek itu. Tangkap mereka!" Namun, Sudra dan Mindra menghilang di dalam.
Mereka bergerak cepat dan tentu saja tidak mau bertemu orang-orang bersaputangan ini. Mereka mendongkol namun terpaksa menahan marah. Kalau saja tak ada Si Naga Pembunuh, tentu mereka berbalik, menghajar, atau merobohkan orang-orang itu. Namun, karena ada Si Naga Pembunuh dan nama itu menggetarkan hati mereka, maka biarpun dimaki dan disoraki dari belakang, tetap saja dua kakek ini lenyap dan tidak mau melayani.
Mereka hendak mencari si Kedok Hitam dan memaki-maki tokoh itu karena tidak mau keluar lagi. Mereka tertipu dan sekarang menyadari bahwa Kedok Hitam menyelamatkan dirinya sendiri. Karena hal itu membuat mereka marah dan geram, dua kakek ini pun mencaci maki dan mengutuk habis-habisan si Kedok Hitam.
Giam Liong sendiri mengobrak-abrik tempat itu diikuti ibunya. Pemuda ini pun marah dan geram karena setelah menyerangnya habis-habisan, ternyata musuhnya itu melarikan diri. Begitu enaknya! Tapi setelah seluruh kamar ditendang dan dibuka, ternyata Kedok Hitam tidak ada di situ, entah ke mana laki-laki itu. Ibunya membanting kaki penuh sesal.
"Lihat, lihat kegoblokanmu. Kau ditipu mentah-mentah dan tidak menuruti nasihat Ibu, Liong-ji. Kalau saja kau tidak sombong dan memberinya sepuluh jurus cuma-cuma, tentu siluman yang licik itu dapat kita bunuh. Ah, kau tidak tahu betapa sulitnya mencari laki-laki ini. Ayo, cari saja Coa-ongya dan kita bekuk pangeran celaka itu!"
Giam Liong tidak menjawab, wajahnya merah padam. Memang sekarang dia menyesal mengapa sikapnya begitu lunak. Dia terlalu mengalah kepada musuh besarnya itu. Baru sekarang dia tahu bahwa si Kedok Hitam itu benar-benar manusia yang amat licik dan licin. Sepak terjangnya curang!
Namun, ketika Coa-ongya pun tidak dapat ditemukan dan ibunya gusar membanting-banting kaki, seorang pelayan ditangkap dan diinjak lehernya.
"Katakan di mana majikanmu. Atau nanti kau kubunuh!"
"Am... ampun!" pelayan itu tentu saja tidak tahu apa-apa. "Mu... mungkin di tempat Kaisar, Hujin. A... aku tidak tahu...!"
"Bohong!" Wi Hong membentak dan melepaskan marahnya. "Kau pun licik dan ingin menyelamatkan diri, tikus busuk. Kau persis majikanmu yang tidak tahu malu dan pengecut... krekk!"
Leher yang diinjak itu hancur, membuat pelayan terkulai. Giam Liong terkejut dan berubah mukanya.
"Kau mau marah? Kau mau memprotes? Ayo, bunuh ibumu kalau tidak suka, Liong-ji. Aku akan membunuh siapa saja yang ada di sini!"
Giam Liong tidak jadi mendebat dan tertegun membelalakkan mata. Tiba-tiba ibunya keluar dan berteriak-teriak mencari pelayan atau siapa saja orang-orangnya Coa-ongya. Ibunya gelap mata dan marah sekali karena lolosnya Kedok Hitam itu. Namun, karena semua pelayan sudah melarikan diri dan gedung itu benar-benar kosong, maka meja dan kursi itulah yang menjadi korban. Isi gedung benar-benar porak-poranda dihajar nyonya ini.
Wi Hong kalap dan putranya tertegun. Ketika orang-orang bersaputangan muncul dan melihat kemarahan nyonya ini, tiba-tiba mereka pun bersorak-sorak dan menghancurkan pula segala perabot di situ.
"Bagus, kami bantu, Hujin. Bagus, ha-ha...!"
Giam Liong tidak tahan. Akhirnya ia membentak, namun yang dibentak adalah orang-orang itu. Mereka dilarang ikut-ikutan, namun celaka sekali ibunya justru membentaknya agar membiarkan orang-orang itu. Dua perintah berlawanan membuat orang-orang ini tertegun, tapi ketika Wi Hong berkelebat dan menghajar mereka, mendadak saja orang-orang ini takut. Mereka panik dan mau tidak mau harus menuruti kemauan nyonya itu. Giam Liong terdiam dan membiarkan saja orang-orang itu menghancurkan segala isi gedung.
Ketika ibunya puas dan orang-orang itu mundur, berkelebatlah seorang tinggi besar membuka saputangannya.
"Siauw-hiap, Hujin... terima kasih atas bantuan kalian. Kami adalah pejuang-pejuang setia yang memusuhi istana. Aku adalah Chu Kiang dan ini teman-temanku yang setia kepada mendiang Chu Wen. Kami akan memperkenalkan diri kepadamu!"
Ketika laki-laki itu berseru pada teman-temannya agar membuka tutup muka, tampaklah wajah-wajah yang rata-rata gagah. Si tinggi besar itu ternyata simpatik dengan wajah kemerah-merahan seperti Kwan Kong, tokoh legendaris dari kisah Tiga Negeri.
"Siauw-hiap (pendekar muda) sungguh luar biasa sekali. Kepandaianmu benar-benar seperti ayahmu atau bahkan lebih!"
"Benar!" orang-orang itu berseru hampir serempak. "Kami kagum kepadamu, Siauw-hiap. Kami sungguh gembira kalau mendapat bantuan orang seperti dirimu ini. Kami mengharap Siauw-hiap mau memimpin kami!"
Giam Liong tertegun. Tiba-tiba si tinggi besar berlutut dan mengajak teman-temannya menjatuhkan diri. Mereka telah diselamatkan pemuda ini dan pertolongan Giam Liong sungguh besar.
"Benar, kami mengharap kau mau memimpin kami, Siauw-hiap. Lanjutkan perjuangan ayah dan kakekmu yang gagal dibunuh musuh-musuhnya. Kami keturunan Chu tentu akan berhutang budi besar dan tidak akan melupakan bantuanmu ini!"
"Kau keturunan keluarga Chu?" Wi Hong tiba-tiba berkelebat dan menangkap pundak laki-laki gagah itu, lalu mencengkeramnya. "Kau apanya Chu Wen dan berapa pasukanmu hingga berani melabrak istana?"
"Uh!" Si tinggi besar meringis dan mengerahkan tenaganya, cengkeraman itu serasa menembus tulang! "Lepaskan cengkeramanmu, Hujin. Biarkan kami bicara menjawab pertanyaanmu."
Ketika Wi Hong melepaskan cengkeramannya, laki-laki tinggi besar itu terbelalak kagum. Chu Kiang bercerita bahwa pasukannya sekitar lima ratus orang.
"Kami tidak banyak, namun dengan lima ratus orang tentu kami dapat membuat istana geger. Maaf, kami orang-orang bodoh yang hanya berbekal keberanian dan tekad baja, Hujin. Meskipun kami bukan lawan si Kedok Hitam itu, namun dengan keroyokan tentu kami dapat membunuhnya. Sial, kami tidak tahu bahwa dua kakek India itu ada di sini pula. Perhitungan kami agak meleset!"
"Hm, tapi kalian benar-benar orang-orang gagah yang berani mati. Kalian telah berani datang ke sini!" Wi Hong mau tidak mau kagum juga. "Kalian boleh, Chu Kiang. Tapi apa hubunganmu dengan mendiang Chu Wen?"
"Aku saudara lain ibu, Hujin. Chu Wen adalah kakakku satu ayah, meskipun usia kami terpaut jauh!"
"Bagus, dan sekarang apa rencanamu?"
"Kami akan menyerang dan membunuh Coa-ongya. Dia inilah tulang punggung istana dan penasihat perang. Tapi karena dia dilindungi dan dibantu si Kedok Hitam, maka tentunya Kedok Hitam inilah yang harus kami habisi. Kami siap berkorban asal dapat membunuhnya!"
"Benar," tiga di antaranya berseru nyaring. "Pacul Kilat dan Tombak Maut telah menjadi korban, Hujin. Kami yang lain siap menyusul asal dapat membunuh si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat jahat. Dia pengganjal utama cita-cita!"
"Dan dia pun telah membunuh suamimu," Chu Kiang bicara membakar lawan. "Orang seperti ini tidak layak dibiarkan hidup, Hujin. Kami dan kalian satu musuh, satu keinginan. Biarlah kalian memimpin kami dan kami berdiri di belakang kalian!"
"Cocok!" yang lain berseru dan mengangkat senjata. "Dipimpin putramu selihai ini tentu kami dapat menumbangkan kaisar lalim, Hujin. Ayo, bunuh kaisar dan cari kembali Coa-ongya itu!"
Namun, ketika orang-orang itu mulai ribut dan berteriak-teriak, Wi Hong mulai bersinar-sinar karena putranya bertemu orang-orang Chu Wen. Tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pemuda itu berseru agar mereka semua jangan gaduh karena ada sesuatu yang didengar.
Ketika semua diam, suara yang didengar pemuda itu terdengar juga oleh mereka semua. Terdengar bentakan dan derap kuda di luar gedung, jumlahnya ribuan!
"Chu Kiang, kau biang pemberontak. Berlutut dan menyerahlah baik-baik. Kami pasukan kerajaan mengepungmu!"
Orang-orang itu terkejut. Mereka berlompatan, namun Chu Kiang berseru agar teman-temannya berhenti dan jangan bergerak sendiri-sendiri. Ketika bentakan dan derap kuda semakin dekat, dari mana-mana muncul obor yang ribuan jumlahnya. Gedung Coa-ongya mendadak menjadi terang-benderang sementara hujan di luar sudah reda.
"Kita telah mempunyai calon pemimpin di sini. Biarlah Sinsiauw-hiap atau Sin-hujin memutuskan perintah. Dengar kata-kata mereka dan kita lakukan apa perintahnya!"
"Hi-hik!" Wi Hong tiba-tiba bangga. "Kau telah dipilihnya, Liong-ji. Kau pimpinan di sini dan biar Ibu di sampingmu saja. Katakan, apa yang harus dilakukan dan mereka tentu akan menyerbu seperti laron kesetanan!"
"Apa?" Giam Liong justru mengerutkan kening. "Aku menjadi pemimpin? Aku memimpin orang-orang ini? Ah, tidak. Aku tidak tahu asal mula perjuangan, Ibu. Aku datang untuk urusan Ayah dan mereka ini urusan mereka sendiri. Aku hanya menyarankan untuk pergi dari sini karena si Kedok Hitam telah melarikan diri!"
"Kami akan mengikuti perintahmu!" Chu Kiang tiba-tiba berseru. "Tapi bagaimana dengan pasukan itu, Siauw-hiap? Mereka berjumlah besar dan ribuan orang!"
"Hi-hik, kita bantai saja!" Wi Hong bergerak dan mau mendahului putranya, namun ditangkap.
"Kita tidak usah takut kepada mereka, Chu Kiang. Ada puteraku di sini dan biar Golok Mautnya mencari darah!"
"Nanti dulu!" Sang putra bergetar dan mengerutkan kening. "Aku tidak ada urusan dengan mereka, Ibu. Yang kucari adalah Kedok Hitam."