Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 01

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 01

Hari itu adalah dua hari setelah hari raya manis Galungan di ujung barat Jawadwipa. Matahari pagi bersinar begitu cerah, memutihkan udara langit di atas Sungai Cisadane ketika dua ekor elang muda melintas jauh ke ujung batas pandang di bawah lengkung langit biru terang.

Dua orang pemuda menatap air sungai yang hijau jernih di atas sebuah perahu sampan didayung dua orang prajurit muda melawan arah arus air menuju hulu Sungai Cisadane.

"Perjalanan panjang menuju arah jalan pulang," berkata seorang pemuda kepada kawannya di atas perahu sampan itu.

"Pangeran dapat selalu mencari arah jalan pulang, sementara aku setiap saat selalu mencari ujung perjalananku yang tidak pernah sampai," berkata kawannya masih menatap riak air sungai jernih di ujung kayu dayung seorang prajurit muda.

Siapakah dua orang muda di atas perahu sampan itu yang tengah didayungi oleh dua orang prajurit muda itu? Kedua anak muda di atas sampan itu adalah Pangeran Jayanagara dan Gajahmada yang baru saja meninggalkan Kotaraja Rakata.

Sudah hampir dua kali Hari Raya Galungan mereka berada di Istana Rakata. Berat hati Gajahmada harus meninggalkan Istana Rakata, berpisah dengan kakeknya Raja Pulau Api dan ayah kandungnya sendiri, Pendeta Darmayasa.

"Aku begitu yakin bahwa di dalam dirimu telah bersemayam jiwa seekor raja elang perkasa yang akan menemukan sarangnya di puncak tebing tinggi. Pergilah wahai elangku, jadilah penguasa samudera menyatukan nusa dan daratan yang terpisah lautan, lengkingmu akan terus bergema sepanjang masa," berkata Raja Pulau Api kepada Gajahmada ketika melepasnya pergi meninggalkan istana Rakata.

"Wahai putraku, bawalah bersamamu segenggam tanah Rakata ini, agar kamu selalu ingat bahwa disinilah darah dagingmu berasal, di atas tanah terapung ada dan kadang menghilang. Janganlah bersedih manakala kamu tidak melihat lagi Gunung Api Rakata berdiri di atas selat sunda ini, karena tanah Rakata telah kamu bawa, telah kamu simpan bersama hati dan kerinduan kami," berkata Pendeta Darmayasa kepada putranya, Gajahmada, ketika melepasnya meninggalkan istana Rakata bersama Pangeran Jayanagara.

Sementara itu, perahu sampan yang dinaiki oleh Gajahmada dan Pangeran Jayanagara terlihat sudah mendekati dermaga Pangkalan Jati. Sebuah dermaga di tepian Sungai Cisadane yang biasa digunakan para pedagang memulai pelayaran mereka ke berbagai tempat hingga ke ujung muaranya.

"Terima kasih telah mengantar kami," berkata Pangeran Jayanagara dan Gajahmada bersamaan sambil melompat ke atas dermaga kayu kepada dua orang prajurit muda yang mengantar mereka menyusuri Sungai Cisadane itu.

"Kami akan merindukan tuan-tuan," berkata salah seorang prajurit muda itu kepada mereka berdua.

Terlihat Gajahmada dan Jayanagara melambaikan tangannya kepada dua orang prajurit muda itu di atas sampan perahu mereka yang terus bergerak meluncur mengikuti air Sungai Cisadane menuju muara.

Mata Gajahmada dan Pangeran Jayanagara masih tetap memandang perahu sampan dan kedua prajurit itu sampai tidak terlihat lagi menghilang di ujung sebuah tikungan sungai yang dirimbuni rumpun bambu memenuhi tepian Sungai Cisadane.

Matahari merangkak perlahan ke arah puncaknya, namun sinarnya terhalang kerimbunan rumpun bambu di atas tanah yang menaik curam, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara berjalan mendaki menjauhi dermaga Pangkalan Jati itu.

Demikianlah, mereka berdua terlihat berjalan menyusuri arah hulu Sungai Cisadane lewat jalan darat. Sungai Cisadane yang luas itu terlihat seperti seekor naga besar tengah merayap di bawah dua buah tebing perbukitan.

Jalan tanah keras yang tengah dilalui oleh Gajahmada dan Pangeran Jayanagara adalah jalan tanah keras di sebuah perbukitan menuju hutan Rumpin. Mereka kadang bertemu bersisipan jalan dengan beberapa orang pedagang yang berjalan secara berkelompok.

Setelah gerombolan Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi yang telah ditumpas habis, jalan perdagangan dari pedalaman menuju arah pesisir barat Jawadwipa nampaknya telah menjadi jalan yang aman.

Namun bukan berarti para perampok sudah tidak ada lagi, mereka adalah orang-orang pemalas yang melihat kesempatan. Berbekal ilmu kanuragan dan sedikit kekebalan mereka menghimpun kawan menjadi para perampok kambuhan.

Namun ada beberapa pedagang yang pandai mencoba berdamai dengan mereka, memberikan sebuah upeti agar barang dagangan mereka aman. Jadilah para perampok ini sebagai raja-raja kecil menguasai beberapa tempat dan daerah di sepanjang jalan perdagangan itu.

Teduh dan sepi manakala mereka mulai memasuki daerah hutan Rumpin. Suara kicau burung memenuhi suasana udara hutan Rumpin ketika kedua anak muda ksatria Majapahit itu semakin memasuki hutan lebat itu.

"Suara pertempuran," berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara manakala mereka mendengar suara denting senjata dan teriakan orang-orang yang tengah bertempur.

Ternyata dugaan mereka tidak meleset, kedua anak muda itu telah melihat sebuah pertempuran di hutan Rumpin itu.

"Nampaknya dua kelompok perampok memperebutkan wilayah," berkata Pangeran Jayanagara menilai dua kelompok yang tengah bertarung itu, melihat sikap kasar sebagian besar orang-orang yang tengah bertempur itu.

"Aku ingin memberi sedikit pelajaran kepada mereka," berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara sambil terus melangkah mendekati arah pertempuran itu.

Terlihat Gajahmada perlahan melepas pendek yang melingkar di pinggangnya. Cambuk Gelegar!!! Gelegar!!! Gelegar!!! Tiga kali Gajahmada menghentakkan pendeknya dengan sentakan sendal pancing.

Suara itu benar-benar memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Juga semua orang yang tengah bertempur itu. Suara gelegar cambuk pendek Gajahmada telah menghentikan pertempuran, orang-orang itu seperti terkejut dan segera melompat mengambil jarak dengan lawan masing-masing.

Gajahmada melihat sekitar dua puluh orang dari dua kelompok yang tengah bertempur itu seketika berhenti bertempur, arah pandang mereka semua tertuju kepada dirinya.

"Kalian telah berbuat onar di wilayah kekuasaanku," berkata Gajahmada dengan wajah dan suara keren penuh wibawa.

"Siapa kamu mengaku-ngaku sebagai penguasa wilayah hutan ini?" berkata salah seorang di antara mereka.

"Ketika Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi masih hidup, kalian bersembunyi. Ketika kedua orang itu mati, kalian keluar seperti tikus-tikus pengecut keluar dari lubang persembunyian," berkata Gajahmada sambil bertolak pinggang.

Mendengar perkataan Gajahmada yang menyebut nama Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi, semua orang nampaknya membenarkan, dan nama kedua orang itu memang masih membekas di hati mereka, terutama kekejamannya yang tidak mengenal ampun.

Namun salah seorang di antara mereka nampaknya punya kebencian tersendiri, merasa muak dengan nama Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi terdengar ditelinganya.

"Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku, atau mulutmu kusumpal dengan golok ini," berkata salah seorang di antara mereka maju beberapa langkah mendekati Gajahmada dengan sikap mengancam.

"Benar Ki Badra, kita habisi satu orang ini, baru kita selesaikan kembali urusan kita," berkata seorang dari kelompok lain yang berseberangan dengan kelompok orang yang dipanggil dengan nama Ki Badra itu.

"Mari mendekatlah, kalian akan tahu bahwa aku lebih kejam dari pada Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi," berkata Gajahmada dengan sikap menantang.

"Habisi anak muda sombong ini!!" berteriak Ki Badra sambil menunjuk ke arah Gajahmada.

Teriakan Ki Badra itu telah menggerakkan dua puluh orang melangkah langsung mengepung Gajahmada dengan golok panjang terangkat ke atas, siap mencincang tubuh Gajahmada.

Namun Gajahmada telah mendahului gerakan mereka. Gerakan Gajahmada begitu cepat, mata orang biasa tidak dapat mengikutinya. Hanya dengan sekerdipan mata saja, semua orang yang hendak mencincang Gajahmada beramai-ramai itu terlihat tercengang merasakan tangan mereka tergetar panas dan dengan terpaksa melepas golok panjang dari genggaman tangan mereka, membiarkannya jatuh ke tanah.

Ternyata Gajahmada dengan gerakan yang sangat begitu cepat telah melecut satu persatu golok di tangan mereka melambari cambuknya dengan sedikit tenaga sakti sejatinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment