Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 09

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 09

Pemimpin rombongan itu adalah seorang wanita.

Para warga di sekitarnya memanggilnya dengan sebutan Nyi Ajeng Nglirip.

Ada beberapa warga yang sakit telah dapat disembuhkan oleh wanita itu.

Namun entah siapa yang menghembuskan berita bahwa wanita itu telah memiliki Mustika Batu Tuban, sehingga sudah sepekan ini banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk merebut benda mustika itu dari tangan Nyi Ajeng Nglirip yang baik hati itu," kata pemilik kedai itu.

"Baru tadi kudengar dari dua orang pengunjung kedai ini, bahwa Nyi Ajeng Nglirip akan menemui para pemburu mustika itu pada hari kedua purnama bulan ini," kata Gajah Mada.

"Beberapa orang pernah datang di hari yang berbeda, namun mereka semua telah kembali dengan tangan hampa karena tidak dapat mengalahkan Nyi Ajeng Nglirip.

Mungkin Nyi Ajeng Nglirip tidak ingin repot menghadapi orang satu per satu, telah membuat sebuah tantangan terbuka, menghadapi semua pemburu Mustika Batu Tuban di hari yang sama, dua hari setelah purnama bulan ini," kata pemilik kedai itu kepada Gajah Mada.

"Terima kasih untuk cerita tentang Mustika Batu Tuban itu," kata Gajah Mada sambil membayar lebih untuk makanan dan minuman kepada pemilik kedai itu.

Memang tidak sulit untuk mencari tahu jalan menuju ke air terjun Nglirip, hampir semua orang di padukuhan itu telah mengetahuinya.

"Lihatlah bukit di seberang itu, di sanalah air terjun itu bersumber.

Ki Sanak harus menuruni lembah untuk mendekatinya," kata seorang lelaki memberikan arah menuju air terjun Nglirip kepada Gajah Mada.

Sebagai seorang yang dibesarkan di lingkungan istana, terutama didikan langsung Jayakatwang, seorang mantan raja besar di Kediri, membuat Gajah Mada mampu berpikir cerdas dan berwawasan lebih luas lagi memahami setiap kejadian.

Gajah Mada menangkap bahwa kabar angin tentang Mustika Batu Tuban itu sengaja dihembuskan agar semua mata dapat tertipu tidak melihat adanya kekuatan yang sedang dipersiapkan.

"Berita mustika itu telah memalingkan semua orang, kehadiran para prajurit dari Sunginep dapat mengalir tanpa diketahui oleh siapa pun," kata Gajah Mada dalam hati yang mampu membaca suasana di sekitar Tuban itu berkaitan dengan sikap Adipati Ranggalawe yang bermaksud memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit.

Demikianlah, Gajah Mada belum keluar dari Kademangan Singgahan, sudah mulai mengamati suasana di beberapa padukuhan.

Terlihat Gajah Mada mulai berkeliling dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya.

Tak seorang pun yang menaruh curiga kepadanya, mereka melihat Gajah Mada hanya sebagai seorang pengembara biasa.

Beruntung bahwa pada zaman itu para pengembara sudah menjadi sebuah pemandangan umum, mereka sudah biasa melihat para pengembara datang dan pergi tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Hari kedua setelah bulan purnama.

Gajah Mada teringat pertemuannya dengan seorang pemilik kedai, bahwa hari ini adalah hari tantangan terbuka dari Nyi Ajeng Nglirip kepada para pemburu Mustika Batu Tuban.

Gajah Mada bergegas mencoba mencari arah untuk menuju ke air terjun Nglirip.

Maka dengan kesaktian ilmunya yang tinggi, tidak ada kesulitan apa pun untuk menuruni sebuah lembah dan mendaki sebuah bukit.

Tubuh Gajah Mada terlihat begitu ringan melesat seperti tidak menyentuh bumi.

"Air terjun Nglirip," kata Gajah Mada dalam hati, manakala menyusuri sebuah sungai telah mendengar suara gemuruh air terjun yang jatuh terhempas ke bawah.

Langkah Gajah Mada terlihat terhenti sejenak, melihat sudah banyak orang berada dekat dengan air terjun Nglirip yang tiada henti bergemuruh.

"Mereka pasti para pemburu Mustika Batu Tuban itu," kata Gajah Mada dalam hati sambil berpikir mencari jalan memutar untuk melihat dari dekat tanpa diketahui oleh siapa pun.

"Salah seorang dari dua wanita itu pasti adalah Nyi Ajeng Nglirip," kata Gajah Mada, manakala sudah dapat mendekati air terjun Nglirip tanpa diketahui oleh siapa pun.

Yang tengah dilihat Gajah Mada adalah dua orang wanita yang berada di dalam sebuah tajuk sederhana.

Namun wajah mereka masih terhalang air terjun dan kabut tipis percikan air terjun.

Tampaknya Nyi Ajeng Nglirip telah mempersiapkan sebuah tajuk sederhana dekat dengan kubangan tempat air terjun jatuh agar para pemburu mustika itu tidak mengusik ketenangan padepokannya.

"Nyi Ajeng Nglirip, serahkan Mustika Batu Tuban itu kepadaku," kata salah seorang dari para pemburu mustika itu dengan suara lantang mencoba mengalahkan suara gemuruh air terjun.

"Mustika Batu Tuban itu bukan milikku, masih ada di dalam gua.

Jika kalian ingin memilikinya, cobalah ambil sendiri," kata salah seorang di antara wanita itu yang lebih tua dari wanita di sebelahnya.

Dan suara wanita itu begitu lembut namun terdengar sangat jelas mengalahkan gemuruh air terjun.

"Ajian Gelap Ngampar," kata Gajah Mada dalam hati, manakala mendengar suara yang dilontarkan oleh wanita itu seperti bergema memenuhi hutan tempat air terjun berada.

"Nyi Ajeng Nglirip, terima kasih telah mengizinkan aku mengambil sendiri benda mustika itu," kata seorang lelaki melangkah mendekati tajuk sederhana dan memberi hormat kepada Nyi Ajeng Nglirip.

Terlihat Nyi Ajeng Nglirip membalas salam hormat orang tua berambut putih itu.

Namun tiba-tiba saja seseorang telah datang menghadang orang tua itu. "Ki Welireng, langkahi mayatku sebelum kamu mendekati gua itu," kata seorang lelaki yang berumur sama tuanya dengan lelaki tua yang dipanggil dengan nama Ki Welireng itu.

"Ternyata penguasa Gunung Raung tidak ingin didahului, bagaimana jika kamu biarkan aku mengambil batu mustika itu, lalu turun melangkahi mayatmu?" kata Ki Welireng sambil tertawa.

"Sebelum kamu melangkah mendekati gua itu, kerisku sudah memenggal lehermu," kata lelaki tua yang disebut sebagai penguasa Gunung Raung itu sambil meraba gagang kerisnya.

"Ki Sembogo, nama besarmu hanya meraung-raung di sekitar Gunung Raung, tidak akan bergema melebihi kabut di bawah lembahnya.

Tongkat kayuku akan menghentikan suara raungmu yang tidak merdu itu," kata Ki Welireng sambil mengangkat tongkat kayunya dengan sikap siap menantang.

"Kusumbat mulut besarmu," kata Ki Sembogo sambil menarik keris di pinggangnya dan sudah langsung menerjang tubuh Ki Welireng.

"Kerismu kurang cepat Ki Sembogo, rasakan pukulan tongkatku!" kata Ki Welireng sambil bergeser cepat menghindari keris Ki Sembogo dan balas menyerang dengan mengayunkan tongkatnya ke arah kepala lawannya.

Tampaknya kedua orang itu sudah saling mengenal satu sama lain, sudah sering bertarung dan seperti telah mengenal keistimewaan jurus lawannya.

Maka terlihat mereka berdua telah langsung bertarung dengan kemampuan puncaknya.

Maka dalam waktu singkat, semua orang telah melihat sebuah pertarungan antara dua orang berilmu tinggi itu, kadang melihat kilatan cahaya keris Ki Sembogo yang datang seperti kilat menyambar-nyambar, kadang juga melihat putaran tongkat kayu di tangan Ki Welireng yang nyaris seperti putaran angin puting beliung menggulung-gulung menutupi semua gerak Ki Sembogo.

Trang!

Gajah Mada yang memiliki penglihatan yang sangat tajam mampu melihat ada dua buah kerikil dengan sengaja dilemparkan dengan kekuatan penuh, telah dengan jitu menggetarkan senjata Ki Sembogo dan Ki Welireng.

Kedua orang yang tengah bertempur itu seketika seperti terdorong mundur beberapa langkah.

"Hanya orang yang berilmu tinggi yang mampu melakukannya," kata Gajah Mada dalam hati dengan hati berdebar ingin melihat siapa gerangan orang berilmu tinggi itu.

Dari tempat persembunyiannya, Gajah Mada telah melihat seorang tua renta dengan badan sedikit bungkuk tengah mendekati Ki Sembogo dan Ki Welireng.

"Ki Seketi!" kata Ki Sembogo dan Ki Welireng bersamaan.

"Kalian adalah dua orang tua yang bodoh, mau saja ditipu oleh wanita," kata orang itu yang dipanggil sebagai Ki Seketi oleh Ki Sembogo dan Ki Welireng.

"Ternyata Ki Seketi dari Alas Rancange jauh-jauh telah datang menikmati alam sekitar air terjun yang indah ini," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada orang tua renta yang baru datang itu.

"Terima kasih telah mengenal namaku yang tidak ternama ini," kata Ki Seketi kepada Nyi Ajeng Nglirip.

"Siapa tidak mengenal pemilik pukulan tanpa bayangan?" kata Nyi Ajeng Nglirip kembali kepada orang tua yang baru datang itu.

"Pengenalanmu atas diriku ternyata sangat mencukupi, namun ada satu yang tidak kamu ketahui, bahwa aku sangat marah jika ada seseorang telah berbuat curang di depan mataku," kata Ki Seketi kepada Nyi Ajeng Nglirip tanpa berpikir bahwa wanita itu akan menjadi tersinggung dengan ucapannya.

Namun ternyata Nyi Ajeng Nglirip adalah seorang wanita yang dapat menguasai perasaannya, tidak ada perubahan dalam warna wajahnya sedikit pun.

"Bagaimana Ki Seketi dapat mengatakan bahwa aku ini seorang penipu?" tanya Nyi Ajeng Nglirip kepada Ki Seketi dengan wajah penuh senyum.

"Caramu telah membuat semua yang ada di sini mungkin akan saling bertempur satu sama lain, di ujungnya kamu dengan mudah dapat melumpuhkan orang-orang yang tersisa dan selamat dalam pertempuran itu, dalam keadaan tenaga yang sudah terkuras," kata Ki Seketi sambil mencoba menilik wajah Nyi Ajeng Nglirip apakah kata-katanya dapat mengena.

Namun sekali lagi Ki Seketi tidak melihat perubahan apa pun di wajah wanita yang terlihat masih cantik itu meski usianya sudah tidak muda lagi.

Dan sambil tertawa renyah, Nyi Ajeng Nglirip berujar, "Aku ingin mendengar apakah Ki Seketi punya usulan yang lebih baik?" kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Ki Seketi.

Perkataan Nyi Ajeng Nglirip datang seperti sebuah pedang mengancam tepat di ujung leher Ki Seketi.

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu telah membuat Ki Seketi terkejut, namun tidak lama, sekejap kemudian terlihat wajah aslinya yang sangat dingin tanpa perasaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment