Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 178

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 178

Namun, di dalam pikiran Kuda Jenar sudah terancang sebuah jalan hitam, menyiapkan seribu dua ratus empat puluh satu anak tangga menuju singgasana untuk seorang Raden Kudamerta.

"Semua orang di akhir permainan ini akan tertuju kepada Nyi Ra Tanca, sementara aku tetap bersih tanpa jejak," kata Kuda Jenar dalam hati.

Demikianlah hari-hari berlalu di istana Majapahit. Kuda Jenar masih menjadi seorang Tanda yang baik dan cakap dalam membantu Ra Tanca menyiapkan beberapa upacara keagamaan di istana Majapahit.

Hingga suatu hari, gemparlah seluruh warga Kotaraja Majapahit manakala mendengar istri Ra Tanca terkena penyakit aneh yang belum pernah ada sebelumnya; seluruh tubuhnya dipenuhi bisul-bisul yang menjijikkan. Setiap hari, Nyi Ra Tanca menangis merasakan gatal yang amat sangat di sekujur tubuhnya.

Semua orang tahu bahwa di samping sebagai anggota Dharmaputra di istana Majapahit, Ra Tanca adalah seorang tabib yang ahli di bidang pengobatan. Namun, menghadapi penyakit istrinya itu telah membuat Ra Tanca menjadi sangat putus asa karena tidak dapat menemukan sebab musabab dan asal muasal penyakit tersebut. Berbagai tanaman obat telah dicobanya, namun tidak ada yang mampu menyembuhkan istrinya. Atas keputusasaannya itu, Ra Tanca mencoba memanggil beberapa tabib yang mumpuni di sekitar Kotaraja Majapahit, namun tidak seorang pun yang dapat menyembuhkannya.

Beberapa orang yang iri kepada Ra Tanca memperkeruh suasana dengan menyebarkan berita bahwa istri Ra Tanca terkena teluh yang sebenarnya ditujukan kepada suaminya. Berita burung itu menyebar menjadi pergunjingan yang memanaskan telinga Ra Tanca, menambah kegelisahan hatinya yang sedang ditimpa musibah.

Hingga pada suatu malam, Kuda Jenar datang menjenguk istri Ra Tanca di rumahnya. "Kuda Jenar, sudah banyak aku mengobati berbagai penyakit, namun baru kali ini aku menemui penyakit aneh menimpa istriku sendiri," ujar Ra Tanca.

"Izinkan aku untuk melihat keadaan istrimu," pinta Kuda Jenar.

Ra Tanca, yang mengetahui bahwa anak muda ini mengenal berbagai jenis tumbuhan obat, menaruh harapan agar Kuda Jenar dapat mengenali jenis penyakit tersebut. Mereka berdua kemudian menemui sang istri yang tengah berbaring di dalam biliknya.

"Bisakah kita keluar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ajak Kuda Jenar.

"Hanya empat persyaratan itu saja, tapi kamu harus berjanji sebagaimana seorang lelaki berjanji," ujar Kuda Jenar dengan sungguh-sungguh.

Saat itu, Ra Tanca memang sudah berada di titik keputusasaan. Karena persyaratan yang diajukan Kuda Jenar dianggap mudah, ia langsung menyetujuinya tanpa bertanya lagi.

"Besok aku akan datang membawa obat untuk penyembuhan istrimu," ucap Kuda Jenar.

Sepeninggal Kuda Jenar, Ra Tanca termangu. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap anak muda itu. Biasanya ia sangat ramah dan santun sebagai seorang bawahan, namun kali ini Kuda Jenar bersikap angkuh dan penuh percaya diri. Meskipun demikian, Ra Tanca tidak memedulikannya selama istrinya bisa sembuh.

Keesokan harinya, Kuda Jenar menepati janjinya. "Air obat ini untuk diminum oleh istrimu, sementara racikan ini untuk dibalurkan ke seluruh tubuhnya," katanya sembari memberikan dua buah mangkuk.

Sebagai ahli tanaman obat, Ra Tanca tahu bahwa isi kedua mangkuk itu berasal dari tanaman yang sama, namun ia tidak bertanya sesuai janjinya. Setelah diberikan kepada istrinya, betapa gembiranya Ra Tanca saat melihat rasa gatal di tubuh istrinya hilang dalam waktu singkat. Bisul-bisul yang bernanah pun mengering sehari setelah dibaluri obat rahasia itu. Tiga hari kemudian, bekas bisul mulai mengering dan menyisakan tanda hitam. Sepekan setelahnya, Nyi Ra Tanca sudah pulih sepenuhnya.

Gemparlah warga Kotaraja Majapahit. Mereka mengagumi Ra Tanca sebagai tabib sakti. Sejak saat itu, nama Ra Tanca semakin dikenal dan ia pun menjadi ringan tangan menolong siapapun. Ia merasa mendapat keuntungan ganda; persyaratan Kuda Jenar terpenuhi, dan namanya pun melambung. Sementara itu, sikap Kuda Jenar kembali santun dan hormat seperti sediakala. Ra Tanca sempat mengira bahwa Kuda Jenar hanya ingin menyembunyikan keahliannya.

Padahal, rencana Kuda Jenar jauh melampaui perkiraan siapapun. Pemberian obat itu hanyalah runtutan kecil dari rencana panjangnya. Ia ibarat serigala malam yang sedang menunggu waktu tepat untuk menerkam.

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, yakni hari upacara Melasti di pantai Tanah Ujung Galuh. Warga berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian serba putih untuk melakukan pensucian diri. Para anggota Dharmaputra dibantu para Tanda memimpin jalannya upacara. Kuda Jenar, sebagai Tanda yang bertugas memercikkan air suci, mengambil posisi di barisan keluarga istana. Tidak seorang pun yang menaruh curiga, bahkan Raja Jayanagara sendiri, saat Kuda Jenar memercikkan air suci ke tubuh sang raja.

Itulah hari terakhir kemunculan Raja Jayanagara di muka umum. Pada hari-hari berikutnya, seperti hari raya Nyepi, Raja Jayanagara tidak pernah lagi keluar dari kamarnya. Hanya Nyi Sarijah, pelayan setia yang merawatnya sejak bayi, yang tahu apa yang terjadi. Namun, ia tidak berani membuka mulut.

Memasuki pekan kedua, Nyi Sarijah mulai gelisah. "Raja Jayanagara harus segera disembuhkan, tetapi ia melarang siapapun masuk ke kamarnya," keluhnya di dalam gubuk. Akhirnya, karena kasih sayangnya yang mendalam, ia terpaksa bicara saat Mahapatih Arya Tadah datang menanyakan keadaan raja.

"Baginda Raja telah melarang hamba berkata kepada siapapun tentang keadaan dirinya," ujar Nyi Sarijah kepada Mahapatih Arya Tadah.

"Kesetiaan Bibi tidak kusangsikan lagi. Bibi adalah pengasuh yang amat dipercaya oleh ayah bundanya, dan aku yakin Bibi sangat menyayanginya sebagaimana putra kandung Bibi sendiri," ucap Mahapatih Arya Tadah dengan hati-hati.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment